
"Oh ya Gled kita tadi buru buru kesini makanya cuman beli buah, di makan ya," ucap Villa menyerahkan sekantong buah apel.
"Makasih ya guys," sahut Gled tersenyum.
Mereka saling bercerita dan tertawa bersama untuk sejenak rumah Gled menjadi ramai.
Tidak lama kemudian Nola bangun dari tidurnya, ia melangkah menuju pusat suara yang membangunkannya.
Gadis kecil itu telah sampai di ruang tamu, Nola tampak bingung, ia pun juga tidak tau mau bagaimana akhirnya sebelum ia terpanggil, ia melangkah mundur untuk kembali ke kamarnya.
Belum sempat Nola melangkah, Okim telah memanggilnya.
"Princes ....," panggil Okim mengetahui keberadaan Nola.
Akhirnya Nola ikut bergabung dengan mereka semua.
Nola memilih duduk di samping Gled, pipinya yang tembem, berkulit putih dengan lesum pipinya ia terlihat sangat menggemaskan.
"Uwuw sayang kau tambah imut," ucap Villa mencubit pipi Nola, karena ia duduk tidak jauh dari Nola.
Nola hanya tersenyum sebal, melihat Villa karena mencubit pipinya.
"Hai Princes, bagaimana kabarmu?" sapa Okim tersenyum manis menatap ke arah Nola.
"Aku baik kok Abang Okim," balas Nola melihat ke arah Fandri dan Guvi yang tampak asing baginya.
"Abang abang kedua ini siapa kak?" tanya Nola kepada Gled dan melihat ke arah Guvi dan Fandri.
Fandri berinisiatif untuk memperkenalkan diri. "Nama Abang Fandri, salam kenal Dedek imut," ucap Fandri tersenyum manis.
"Iya Abang Fandri," balas Nola tertawa kecil.
"Nama Abang Guvi, moga betah ya temenan sama Abang," ujar Guvi ramah.
"Emang kita temenang Abang?" tanya Nola yang tak terima dengan perkataan Guvi.
Guvi hanya tersenyum menatap ke arah Nola "Jadi kamu nggak mau temenan sama Abang? Yaudah Abang ngambek nih."
"Eh jangan ngambek Abang aku mau temenan sama Abang," ucap Nola tertawa kecil.
Mereka semua ikut tertawa mendengar percakapan Nola dan Guvi.
Kemudian Bi Ida datang membawa sirup dan beberapa cemilan.
Mereka semua bercerita dan melepaskan kerinduan.
***
Jam di dinding menunjukkan pukul 17:00
Villa, Kiki, Fandri, Guvi, Okim dan Haqqi pamit dengan Mommy untuk pulang.
Gled mengantarkan mereka sampai ke pintu.
__ADS_1
"Lo jaga kesehatan ya, biar kita bisa main bareng lagi," ucap Kiki tersenyum tulus.
"Betul kata Kiki, udah kangen nongkrong," timpal Villa merangkul Gled.
"Hehehe thank's ya kalian berdua emang sahabat terbaik gue," ucap Gled dan Kiki pun ikut merangkul Gled.
Kiki berboncengan dengan Villa karena, saat hendak pergi tadi ia telah berboncengan dengan Haqqi.
Haqqi tampak terakhir keluar dari dalam rumah ia menghampiri Gled.
"Cepat sembuh Gled," ujar Haqqi mengelus pucuk rambut Gled.
"Makasih Ber, lo kok diam diam aja tadi nggak banyak bicara lo ada masalah apa? Cerita aja ke gue," tanya Gled bingung dan khawatir melihat sepupunya itu.
"Ntar malam deh gue chat lo ya, yaudah gue pulang dulu habis ini istirahat ya maaf kita udah ganggu," ucap Haqqi melangkah pergi namun sebelum pergi ia sempat menorehkan senyuman kepada Gled.
Gled hanya diam membeku melihat tingkah sepupunya itu, Gled tersenyum menatap kepergian semua temannya. Fandri tampak tersenyum menatap Gled dari jauh.
Okim dan Guvi juga begitu ia juga tersenyum sebelum pergi melihat ke arah Gled.
Motor mereka semua telah keluar dari rumah Gled.
"Sepi lagi nih rumah," gumam Gled melangkah memasuki rumah menuju kamarnya.
Saat tiba di tangga menuju kamarnya, ada yang memegang lengan Gled sontak Gled langsung melihat ke belakang.
ternyata itu adalalah Mommy yang tersenyum menatapnya.
"Why Mommy?" tanya Gled berwajah datar.
"Mereka siapa ya Mom kok aku gak paham?" tanya Gled pura pura nggak tau.
Mommy Gled mengelus pucuk rambut Gled, seraya tertawa kecil melihat putri kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan baik hati.
"Sudahlah kamu nggak usah bohongin Mommy, apapun yang bikin kamu bahagia Mommy support. Tapi ingat semua itu ada batasnya ya sayang, ingat pesan Mommy," jelas Mommy.
"Okey Mommyku tercinta," ucap Gled dengan tersenyum.
Kemudian Mommy Gled mengantarkan Gled ke kamarnya, ia merasakan tubuh Gled masih terasa panas.
Sesampainya di kamar, Gled membaringkan tubuhnya menatap jendela kamarnya yang terbuka, ia ingin keluar namun di cegah oleh Mommy untuk tetap berbaring.
"Aku kok bingung banget ya ini, kenapa nggak bisa milih diantara mereka. Jujur untuk sekarang aku udah buka hati ke mereka tetapi hati ini masih belum tau kemana akan berlabuh," ucap Gled menghela nafas lelahnya.
Seketika ia tertidur pulas, saat sedang memikirkan tentang hatinya.
Tampaknya Gled memang harus istirahat agar kesehatannya membaik dan ia juga bisa berfikir jernih.
***
19:00 Malam
Sejak pulang sekolah tadi sampai sekarang, Fandri masih tetap mengotak atik benda yang di pegangnya itu.
__ADS_1
Sesekali ia menghapus keringatnya dengan tangannya, tampaknya ia sedang berfikir keras.
"Aku berharap ini akan selesai di waktu yang cepat, semoga dia suka dengan ini," ucap Fandri sembari menatap benda yang sedari tadi di otak atiknya.
Seorang Fandri Fadel Putra jika sudah bertekad ingin menyelesaikan sesuatu, maka ia akan bersungguh sungguh dalam mengerjakannya.
Fandri adalah sosok yang lemah dulu, tapi sejak mengenal Gled kini ia telah berubah, bahkan sabuknya kini di tempat pelatihan karate telah naik.
***
Berbeda dengan seorang Okim Catur Elwardo, ia duduk di tepi balkon kamarnya menatap indahnya rembulan, saat itu udara lumayan dingin.
Okim sama sekali tidak merasa dingin, rambutnya ia biarkan tersapu oleh angin.
Matanya masih tetap menatap rembulan, wajahnya tampak cemas seraya matanya tampak sendu.
"Cepat sembuh sayangku, aku akan selalu menyayangimu," ucap Okim, seketika bibirnya tersenyum.
Entah sejak kapan sikap keras kepala dari Okim kini mulai melunak.
Ia mencoba untuk sabar, apakah penantiannya selama ini terbalaskan atau tidak, tetapi ia sudah bertekad apapun itu ia akan selalu menyayangi orang ia sayangi.
Cinta Okim begitu tulus, namun terkadang cara seseorang untuk mencintai itu berbeda beda.
***
Wajah tampan dan kulit putih itu kini tampak sedang tersenyum manis. Dia adalah Guvi William Dozen.
Ia sedang memasak sesuatu untuk di makannya, headset terpasangkan di telinganya. Bahkan sesekali lirik lagu terdengar dari mulutnya.
Guvi tak terlalu pandai dalam bernyanyi, bahkan jika temannya memintanya untuk bernyayi ia akan pura pura di panggil oleh guru atau menghadiri rapat dadakan.
Tidak lama kemudian sebuah omelet akhirnya jadi, di samping omelet itu ada saus sambel sebagai pendamping makananannya.
Guvi duduk di meja makan dan melepaskan headsetnya.
"Dia udah makan apa belum ya, jadi teringat dia kan aku. Aduh aku ini benar benar telah gila. Semoga keadaanya esok membaik," ucap Guvi hening sesaat.
Kemudian ia kembali menyendok makananya, sesekali mereguk air putih.
***
Lo lagi ngapain ni, gue ganggu nggak?
Terdapat notif dari seseorang, Gled meraih handphonenya dari meja kecil di samping tempat tidur.
Gled menggeser hpnya untuk membuka kunci layar handphone, disana tertulis 'Beruang kutub'
Dia adalah Haqqi atau yang biasa di panggil oleh Gled dengan sebutan 'Ber'
Ada apa?
Gled mengetik itu di keyboard handphonenya. Gled penasaran ada apa dengan Haqqi.
__ADS_1
Kemudian panggilan video dari Haqqi tersambung.