
Alarm jam weker di kamar Gled berbunyi, membuat ia terbangun dari tidurnya.
Saat ia hendak bangun dari ranjang empuk miliknya, tiba tiba pandangan mata Gled menjadi kabur, semua benda yang ia lihat tampak samar samar.
Gled mencoba untuk duduk dan berdiri menuju kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti saat kepalanya terasa pusing, ia jatuh dan pingsan.
Beberapa menit kemudian Gled sadarkan diri, saat ia membuka mata ia berada di kasurnya, seingatnya tadi kepalanya pusing dan ia jatuh ke lantai.
Mata Gled menerawang dan pandangannya tepat berada di tubuh gadis kecil yang tembem itu, ia juga melihat Dad dan Momnya berada disana.
Gled juga melihat seorang pria yang memakai seragam putih, tampaknya ia adalah seorang Dokter.
"Mom aku kenapa Mom?" tanya Gled kepada Mommy, Gled merasa masih pusing dan memegangi keningnya.
"Kamu demam sayang" balas Mommy mengelus lembut rambut Gled.
"Kamu kecapekan sayang" timpal Daddy dengan raut wajah cemas.
"Tadi aku pingsan ya Mom, padahal kemarin aku baik baik aja?" tanya Gled menatap Mommynya.
"Kamu mungkin lelah trus nggak kamu rasain dan baru sekarang terasa capeknya, yaudah kamu istirahat dulu ya, nggak usah sekolah lagian ini udah telat, Mommy udah izinkan kamu ke gurumu" tegas Mommy tersenyum.
Dokter pun juga tersenyum kepada Gled "Cepat sembuh ya Nona Gled" ucap Dokter muda itu dengan tersenyum manis kepada Gled.
"Makasih dokter" balas Gled tersenyum di bibirnya, walaupun bibirnya tampak pucat.
"Masama" sambung Dokter itu membereskan alat medisnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Kemudian Daddy dan Mommy mengantarkan Dokter itu sampai keluar rumah.
Gled menghela nafas lelahnya dan melihat gadis kecil yang sedari tadi melihatnya.
"Aku cemas lo Kak, tadi pas aku datang ke kamar Kakak, Kakak udah jatuh ke lantai" ujar Nola memeluk tubuh Gled yang sedang berbaring.
"Makasih ya kamu udah tolongin Kakak, kamu jangan peluk Kakak ntar demamnya pindah ke kamu" ucap Gled melihat ke arah Nola dan mencoba melepaskan pelukannya.
"Nggak apa apa kok Kak, aku kan sayang Kakak" sambung Nola dengan tersenyum dan mencoba melepaskan pelukannya dari Gled karena Gled memaksa untuk melepaskan pelukannya.
"Kamu nggak boleh sakit, Kakak tau kamu sayang dengan Kakak, Kakak juga sayang kok sama kamu, tapi Kakak lagi sakit" ucap Gled tersenyum dan menggenggam tangan Nola yang sudah duduk.
"Iya aku ngerti kok Kak. Kakak istirahat dulu ya" balas Nola tersenyum manis dan mencoba turun dari ranjang Gled
__ADS_1
"Kamu nggak sekolah sayang?" tanya Gled melirik Nola yang sudah turun dari ranjangnya.
"Nggak Kak, aku kan khawatir sama Kakak, jangan khawatir sama aku Kak, Mommy juga udah izinin aku" jawab Nola tersenyum kecil dan menutup pintu kamar Gled.
Gled tersenyum melihat tingkah Adik kecilnya itu, walaupun Nola masih kecil tetapi ia sangat perhatiaan kepada Gled.
***
Di sekolah, jam istirahat
"Vil ayo kita ke Kantin" ajak Kiki menarik tangan Villa.
"Iya" ucap Villa berdiri dari kursinya.
"Sepi juga ya Ki kalau nggak ada Gled" ucap Villa mengiringi langkah Kiki.
"Iya, nggak lengkap aja gitu kalau nggak ada Gled, mau gimana lagi dia kan sakit, gimana kalau kita jenguk Gled pulang sekolah nanti" ajak Kiki melirik Villa yang berada disampingnya.
"Oke juga tuh, masa kita sahabatnya nggak lihat dia" sambung Villa tersenyum.
"Gue juga ikut" ucap seseorang dari belakang mereka yang tidak lain adalah Haqqi.
"Lo bikin gue kaget aja" ketus Villa melihat Haqqi.
"Lo nggak sopan banget dengerin pembicaraan kami" ucap Kiki tanpa menolehkan pandangannya kepada Haqqi.
"Nggak usah marah Ki" sahut Haqqi berjalan di depan Kiki.
"Ngapain berjalan depan gue, awas gue mau lewat" ketus Kiki dan mendorong tubuh Haqqi.
Villa hanya bisa diam karena yang ia ketahui jika Kiki sudah mulai ketus saat bicara, maka akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Haqqi memegang tangan Kiki yang mencoba mendorongnya.
"Pliss jangan jutek ke gue, gue nggak mau lo jauhin gue" pinta Haqqi menatap Kiki.
Tingkah mereka cukup menarik perhatian beberapa siswa di koridor tersebut.
Kiki tak bisa berkutik saat ia menatap mata Haqqi, entahlah ia sudah berulangkali ia mencoba agar tetap pada pendiriannya, tetapi alhasil ia luluh dengan Haqqi.
"Yaudah lepasin tangan gue" ucap Kiki membuang muka dari Haqqi.
__ADS_1
Haqqi melepaskan tangan Kiki dan mencoba memikirkan tingkah apa yang ia lakukan.
Kiki melihat siswa yang berada di koridor tersebut dengan tatapan ketus.
"Apa lo lihat lihat gue" ketus Kiki mulai melangkah.
Beberapa siswa itu cuman diam dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Vil ayo kita pergi dari sini" ucap Kiki melirik Villa yang berada di belakangnya.
Villa mengikuti langkah Kiki menuju kantin. Haqqi juga mengikuti langkah Kiki dan Villa menuju kantin dengan tidak menghiraukan tatapan beberapa siswa yang berada di koridor tersebut.
***
Di Kantin
Kiki dan Villa telah memesan makanan mereka, mereka membawa nampan tersebut dan duduk di meja.
"Udah Ki wajah lo nggak usah kek gitu" ucap Villa sambil menyumpit mienya.
"Gue juga nggak mau kek gini, tapi tuh anak nyebelin banget" balas Kiki mengaduk teh esnya.
"Besok lo juga bakal tau kok, maksud dari Haqqi saat dia udah ngungkapin perasaannya ke lo" ucap Villa tersenyum mengejek.
"Lo ngomong apaan sih Vil, mau gue sentil tuh kepala" ucap Kiki menatap Villa.
"Hehehe lo nggak berubah dari dulu ya, jangan ngambek dong baby" balas Villa tertawa mencubit pipi Kiki.
Kiki menghela nafas lelahnya, ia tidak habis fikir dengan tingkah sahabatnya ini, Villa sangat mudah membujuk seseorang yang sedang ngambek dengan dirinya.
Sementara disisi lain, Haqqi membawa nampan makanannya, ia melihat dari kejauhan Kiki dan Villa sedang duduk memakan makanan mereka.
Haqqi bingung mau duduk dimana, kursi kantin tampak sudah mulai penuh, ia ragu untuk ikut bergabung dengan Kiki dan Villa karena tidak ingin membuat Kiki merasa tidak nyaman bersamanya.
Tiba tiba ada yang menyenggol tubuh Haqqi dan tertawa kecil, ia juga membawa nampan makanan.
Ia adalah Fandri, teman Haqqi di pelatin karate. Mereka berdua cukup dekat saat di tempat latihan.
"Kita ke tempat mereka aja yuk, udah penuh keknya disini" ajak Haqqi melihat tepat ke arah meja Kiki dan Villa.
"Gue nggak ..." ucap Haqqi terpotong karena Fandri sudah mulai melangkah menuju meja Kiki dan Villa, akhirnya Haqqi juga ikut melangkah menuju meja itu dari pada ia harus mencari tempat lagi untuk makan.
__ADS_1
Haqqi dan Fandri telah sampai di depan meja Kiki dan Villa.