
Gled, Villa dan Kiki mematung tanpa ada ekpresi apapun yang terpancar dari wajah mereka.
Seorang lelaki yang tidak lain, yang berdiri di ambang pintu adalah orang yang saat ini mereka bicarakan yaitu Pak Axell.
Refleks, Kiki tersenyum dan bertanya kepada Pak Axell, ia bersikap tenang tanpa ada ketegangan di wajahnya.
"Ada apa Bapak ke kelas ini?" tanya Kiki kepada Pak Axell, sambil tersenyum memaksa.
Gled dan Villa tampak tegang, tetapi mereka mengatasi ketengangan mereka dengan tersenyum tipis dan tampak memaksa kepada Pak Axell.
Pak Axell ikut tersenyum membalas senyuman Gled, Villa dan Kiki. Ia berjalan melangkah ke meja guru tanpa mengatakan sepatah katapun.
Pak Axell menemukan benda yang ia cari di meja guru itu, kemudian ia berbicara kepada ketiga gadis itu.
"Bapak kesini karena ketinggalan buku cetak ini. Hehehe maaf telah mengagetkan kalian, tampaknya kalian melihat Bapak seperti melihat hantu, Bapak juga salah sih tanpa berbicara atau mengetuk pintu" ucap Pak Axell memegang buku cetak Bahasa Inggris di tangan kanannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kirinya.
Mendengar penjelasan Pak Axell, Gled, Villa dan Kiki menghela nafas secara bersamaan.
"Oh gitu ya Pak, nggak apa apa kok Pak, santai aja Pak kami nggak ada gejala sakit jantung kok, lagian mana ada hantu di siang bolong kek gini" ujar Gled membalas perkataan Pak Axell.
Villa tampak geram dengan keberadaan Pak Axell di kelasnya, kemudian ia mengeluarkan senjata ampuhnya "Iya nih Pak, mana ada kali hantu setampan Bapak" timpal Villa tertawa. Villa bermaksud ingin membuat Pak Axell merasa malu dan cepat cepat pergi dari kelas mereka.
"Kalian terlalu memuji Bapak, kalau begitu Bapak pergi ke ruang guru dulu" ucap Pak Axell dengan wajah memerah dan langkah kakiknya terlihat berjalan cepat. Tampaknya ia terlihat malu karena muridnya memujinya terlalu berlebihan.
Mereka memastikan Pak Axell benar benar pergi dari kelas itu.
Kiki menepuk kasar bahu Villa "Bisa juga lo ngusir dia" ucap Kiki tertawa.
Villa hanya tertawa, menampakkan gigi gingsulnya.
"Untung dia nggak dengar pembicaraan kita, kalau sampai dengar, bisa terbongkar identitas kita" sambung Gled melirik Villa dan Kiki.
"Yaudah kita bisa tenang, kita ke kantin dulu yuk udah lapar ni" ajak Kiki merangkul Gled dan Villa.
Gled dan Villa ikut bangkit dan melangkah mengiyakan ajakan Kiki.
***
Bel pulang berbunyi
Gled tampak duduk di koridor kelasnya, ditemani Kiki dan Villa juga ikut duduk di sampingnya.
Mereka bertiga belum berniat pulang ke rumah, karena masih memantau pergerakan seseorang.
Saat ketiga gadis itu asyik mempsrhatikan sekitar, tiba tiba ada yang mengagetkan mereka dari belakang dengan membawakan sekantong cemilan.
__ADS_1
Ia adalah Haqqi yang datang dengan tersenyum.
"Hai girls, kalian nggak pulang ke rumah?" tanya Haqqi menaikkan satu alisnya.
Seketika Kiki salah tingkah karena kedatangan Haqqi, entah kenapa akhir akhir ini jantungnya berdetak kencang saat Haqqi berada di dekatnya. Keringat bercucuran di kening Kiki.
Jantung gue kenapa sih, kenapa deg degan kek gini, tenang Ki lo bisa ngntrol diri jangan sampai mereka tau lo kek gini batin Kiki tampak gusar dengan perasaannya saat ini.
"Eh Ki lo keringetan tuh, sini gue lap dulu" ucap Haqqi mengeluarkan tisu dari sakunya dan membersihkan keringat yang ada di kening Kiki.
Kiki menjadi salah tingkah dan cepat cepat menepis tangan Haqqi.
"Gue bisa sendiri, makasih" ucap Kiki tersenyum tipis.
Gled dan Villa menahan tawa, karena mereka tidak ingin Kiki menjadi malu karena di tertawakan.
"Ber ... ber, kalau suka langsung aja jangan di diemin, ntar udah ada yang ambil lo" ledek Gled menyenggol lengan Haqqi sembari tertawa.
Wajah Kiki semakin memerah, tetapi ia tidak mau sampai bertingkah aneh.
"Apaan sih Gled" ketus Kiki yang tau Gled ingin meledeknya.
Haqqi tersenyum membalas perkataan Gled dan tersenyum kepada Kiki dan memberikan tisu kepada Kiki.
Kiki mengambil tisu yang di berikan Haqqi, namun tanpa melihat wajah Haqqi, karena saat ini wajahnya benar benar merah.
"Guys, keknya gue sama Kiki pulang duluan deh, perut gue mules banget ni. Gue mau Kiki anterin gue. Tadi pas ke sekokah gue nggak bawa motor. Karena lagi malas bawa motor" alasan Villa melirik Kiki dan kemudian beralih melihat Gled dan Haqqi.
Villa sengaja berbohong, padahal ia membawa motor ke sekolah.
Gled, seakan paham dengan sikapnya Villa dan ia tadi juga melihat Villa membawa motornya ke sekolah pagi ini.
"Yaudah cepat Vil" tukas Gled.
Villa dan Kiki berjalan secepat mungkin dan meninggalkan Gled dan Haqqi.
Haqqi hanya dia mematung dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Ber, keknya gue mau pulang juga deh" ucap Gled sembari menyandang tas di kedua bahunya.
"Gue anterin ya, lagian sekarang gue lagi libur" ajak Haqqi masih menjenjeng sekantong cemilan di tangannya.
"Seriusan lo libur?" tanya Gled memastikan.
"Iya, karena dalam seminggu itu ada hari liburnya dan gue ambil hari ini untuk libur, makanya gue beli cemilan ini ..." jawab Haqqi tanpa meneruskan perkataannya.
__ADS_1
"Cemilan sebanyak itu lo yang makan sendiri?!" tanya Gled menatap sekantong cemilan yang ada di tangan kanan Haqqi.
"Nggaklah, ini buat anak anak jalanan" jawab Haqqi menatap Gled.
Seketika Gled, tersentak mendengar perkataan Haqqi.
"Baik banget lo Ber, gue selama ini lupa, yaudah gue ikut lo untuk nganterin tuh makanan, sekalian gue juga mau ngasih sesuatu sama mereka" gumam Gled tersenyum.
"Yaudah ayo" ajak Haqqi tersenyum.
Belum selangkah mereka berjalan, Okim berada di depan mereka.
"Hai Gled, Haqqi" sapa Okim tersenyum.
"Hai Okim, kok akhir akhir ini jarang banget ketemu aku" ujar Gled menatap Okim.
Okim hanya diam dan menatap Gled tanpa berkata apapun.
Keadaan menjadi hening.
"Kamu kenapa Okim, apa aku salah bicara ya?" tanya Gled tampak masih menatap Okim.
"Nggak salah Kok, yaudah aku duluan ya" jawab Okim pergi begitu saja.
Gled heran dengan sikap Okim. Gled menatap Haqqi mencoba menjelaskan kepadanya maksud dengan prilaku Okim.
"Okim kenapa ya?" tanya Gled dengan menunduk.
"Mungkin ini soal hati atau dia ada masalah, lo tenang aja ya, besok mungkin dia bakal bersikap seperti biasa ke lo" ucap Haqqi tersenyum.
Gled dan Haqqi berjalan menuju parkiran sekolah, untuk mengantarkan beberapa cemilan untuk anak jalanan.
***
Disisi lain
Villa dan Kiki duduk di taman sekolah. Mereka berdua belum pulang ke rumah.
"Wajah lo merah banget tau, lo bisa juga ternyata salting di depan cowok" ledek Villa tertawa.
"Apaan sih Vil, detak jantung gue kencang banget" ucap Kiki yang kini sudah sedikit tenang.
"Jantung lo berdetak kencang?, trus lo berasa kek gimana gitu kalau didekat dia" tanya Villa.
Kiki mengangguk dengan ucapan Villa, karena Kiki merasakannya.
__ADS_1
"Itu artinya cinta" ucap Villa tersenyum.
"What?!, kok bisa ya" sambung Kiki terkejut.