
Gled, Villa dan Kiki saling berpandangan, kemudian beralih memandang orang yang menanyakan mereka.
Ia adalah seorang gadis, yang memakai seragam yang sama seperti mereka, tampaknya gadis itu juga seorang siswa di SMK ELIT, tetapi kenapa dia masuk ke dalam kasus mereka bertiga?
Kiki angkat bicara, karena ia tampak geram dengan kasus yang dihadapi.
"Apa kita boleh duduk dekat lo?!" tanya Kiki sedikit ketus menatap gadis itu.
"Tentu" balas gadis tersebut dengan wajah datar, terngiang di pikiran gadis itu banyak pertanyaan yang timbul.
Gled, Villa dan Kiki duduk didekat gadis tersebut, seraya menatap gadis itu.
"Nama gue Gled, ini teman gue Kiki dan Villa. Kami boleh mintak waktu lo sebentar nggak?" tanya Gled dan tersenyum tipis.
Gadis tersebut mengkrinyutkan keningnya, terpikirkan olehnya kenapa ketiga gadis ini ingin menemuinya.
Ia mengangguk dan menatap Gled, Villa dan Kiki.
"Namaku Brizea Anayra, panggl Zea aja. Ada apa?" tanya gadis tersebut yang bernama Brizia.
"Apa lo selama ini menerima tekanan?!" tanya Kiki melipat tangan di dada dan menatap Zea.
Zea tersentak matanya tampak merah penuh amarah dan tangannya mengepal seraya tak sanggup menatap Gled, Villa dan Kiki.
Gled yang duduk di samping Zea, melihat tangan Zea tampak mengepal, Gled mencoba menggenggam tangan Zea dan menenangkannya.
Zea menatap Gled "Kenapa?" Zea tampak bertanya tanya menaikkan satu alisnya.
"Lo nggak usah takut kita disini untuk nolongin masalah lo, lo bisa cerita ke kita" ucap Gled tersenyum tipis.
"Keputusan ada di tangan lo, kita disini mau bantu lo, gue tanya sekali lagi apa lo selama ini menerima tekanan atau diri lo merasa terancam!" tegas Kiki menatap Zea dan sedikit ketus.
__ADS_1
Zea kaget mendengar ucapan Kiki yang menyudutkannya, ia tidak berani untuk menatap ketiga gadis itu.
Badan Zea bergetar, buku yang awalnya terkembang kini ia tutup, jantung Zea berdetak kencang entahlah mungkin saat ini ia berasa di tembak oleh Doi.
Gled kembali mengusap punggung Zea yang terlihat takut.
Keadaan semakin mencekam, Villa tampak memperhatikan sekitar ia tidak mau ada seseorang melihat keberadaan mereka disana.
Ternyata koridor tersebut tampak sepi. Villa tampak bertanya tanya Kenapa Zea duduk sendiri disini?, apa dia nggak ada teman? batin Villa masih memperhatikan sekitar.
"Baiklah aku akan menceritakannya, tapi jika dia mengetahui ini aku akan sengsara" balas Zea menatap Gled, Villa dan Kiki.
"Kamu nggak usah takut, kami berniat baik jadi ceritakan apapun yang menurut kamu sangat mengganggu pikiranmu" ucap Villa sedari tadi hanya diam.
Mata Zea berkaca kaca mendengar ucapan Villa.
"Aku selama ini menerima tekanan dari Pak Axell" lirih Zea menunduk, ia tidak berani melihat Gled, Villa dan Kiki.
"Pak Axell selalu menekanku agar misinya tercapai, kadang ia memukulku jika aku tidak sesuai dengan kriterianya" ucap Zea masih menunduk, Gled tampak tercengang.
"Dasar busuk!" timpal Villa tampak geram.
Kiki hanya diam mendengarkan perkataan Zea.
"Apa yang ia inginkan dari mu?" tanya Villa menatap Zea.
"Dia ingin aku selalu menuruti perintahnya, jika aku salah sedikit saja maka ia tidak mau mengobati pengobatan Ibuku yang berada di rumah sakit" ujar Zea meneteskan air mata.
"Apa ia pernah melecehkanmu?!" tanya Kiki to the point.
Gled melotot ke arah Kiki mencoba untuk tutup mulut, karena belum tentu itu benar.
__ADS_1
"Ia tidak pernah melecehkanku!, tetapi ia melakukan kekerasan padaku, aku ditunjuk olehnya untuk mengikuti olimpiade bahasa Inggris. Saat itu aku kalah dan ia memukulku dengan tangkai sapu, aku tak kuasa menahan sakit pukulannya, saat aku mencoba kabur ia menamparku, pukulan dan tamparan itu masih membekas di hatiku. Bahkan kemarin ia memukul tanganku lagi hingga membiru, karena aku mencoba untuk lari saat ia kembali melatihku untuk mengikuti olimpiade bahasa inggris tingkat pelajar se indonesia" jelas Zea kini kelopak matanya mengeluarkan air mata, tangan kirinya pun tampak membiru.
Gled memberikan sapu tangannya kepada Zea, hati Gled merasa sakit dan ingin sekali membalas perbuatan Pak Axell.
"Dasar lelaki ban*s**" ketus Kiki dengan amarah.
"Lelaki macam apa dia?, demi apa coba dia menekan kamu untuk memenangkan olimpiade?" tanya Villa tampak memegang lengan kiri Zea yang membiru.
Zea menyeka air matanya dengan sapu tangan yang di berikan Gled.
"Ia ingin di puji oleh seisi sekolah ini dan jika ia berhasil mengajariku hingga aku memenangkan olimpiade, maka ia akan diusulkan untuk naik jabatan menjadi kepala sekolah atau jabatan penting di sekolah ini. Olimpiade ini bukan sembarang olimpiade, karena ini tingkat nasional, bahkan dihadiri oleh orang luar negri" jelas Zea.
"Awalnya ia mengetahui bahwa aku sangat pintar dalam bahasa Inggris. Ia juga memanfaatkan kondisi keluargaku, bisa dibilang aku anak orang yang tidak mampu yang bersekolah disini karena beasiswa. Ayahku telah tiada, aku anak tunggal. Ibuku sakit sakitan, kerabatku tidak peduli sama sekali. Pak Axell memanfaatkan kesempatan itu, ia membujukku untuk ikut karena, ia bilang hadiahnya cukup besar. Ia juga mengatakan akan memberikan sepenuhnya hasil hadiah tersebut kepadaku. Wajah tampannya ternyata busuk, aku mendengarkan ia berbicara dengan seorang guru juga ia mengatakan hadiah dari lomba tersebut akan ia berikan kepadaku sekitar seperempat dari nominal yang tertera di hadiah tersebut jika aku memenangkannya" ujar Zea menatap Gled, Villa dan Kiki.
"Dasar lelaki br*n*s*k, manisnya di cover doang eh dalamnya busuk!" ketus Gled tampak sangat geram.
"Trus kenapa dia bisa mengobati biaya Ibumu?" tanya Villa mengkrinyutkan keningnya.
"Waktu itu aku bertemu dengannya di rumah sakit, saat itu ia juga ke rumah sakit karena demam. Ia mengenaliku dan disitulah ia membujukku untuk mengikuti olimpiade dan sebagai balasannya ia mengobati biaya pengobatan Ibuku" jawab Zea.
"Apa lo nggak pernah mengadu kepada pihak sekolah tentang kelakuan dia!" tanya Kiki sedikit menaikkan nada bicaranya, seraya menatap Zea dan Zea tampak terkejut mendengar ucapan Kiki.
Villa yang berada di samping Kiki mencoba melirik Kiki agar sedikit tenang.
"Aku sudah mencoba untuk melapor ke pihak sekolah, saat aku telah sampai di depan ruang guru ia menarik tanganku dan mengancamku untuk tidak mengatakannya, ia mengancam tidak akan mengobati biaya pengobatan Ibuku lagi, saat itu Ibu sangat butuh pengobatan, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk tidak melaporkannya" jawab Zea dengan mata sendu.
"Ini nggak bisa dibiarin!" tegas Gled berdiri.
Kiki dan Villa ikut berdiri, Zea tampak kaget melihat Gled yang refleks berdiri.
"Lo nggak boleh di tindas, dipukul, atau ditekan kek gini!, lo manusia bukan robot, kita harus membalas perbuatan lelaki b*n*s** itu, udah gue nggak tahan lagi denger cewek diginiin, udah Ki, Vil ini udah cukup untuk buktinya" tegas Gled, dengan amarah menatap Zea dan melirik Villa dan Kiki.
__ADS_1
"Aku takut" gumam Zea menatap Gled, Villa dan Kiki.