
Fandri tetap pada pendiriannya, ia hanya menatap mereka semua dengan tatapan datar dan dingin.
"Biasa aja napa tuh muka!" tegas Okim melirik Fandri dengan menyunggingkan sedikit bibirnya.
"Kalau lo nggak mau cerita Kak yaudah gue nggak maksa!" ujar Gled dengan mata sendu, ia hanya tidak habis pikir kenapa Fandri bersikap seperti itu. Ada masalah apa Fandri dengan Zea.
Sementara Zea hanya diam membeku, tanpa menolehkan pandangannya kepada Fandri.
"Gue akan cerita ..." ucap Fandri pelan.
"Zea adalah orang yang gue sukai waktu itu" ucapan Fandri seketika membuat mereka yang berada disana menjadi tersentak dan menatap Fandri dengan penuh tanda tanya besar di kepala mereka.
"Tapi dia tolak gue" sambung Fandri lagi dengan tersenyum tipis.
"Nggak apa apa kok gue udah bisa move on kok, lo nggak usah mandang gue kek gitu, gue tau alasan lo apa dan mengapa lo selalu ngehindar dari gue" jelas Fandri lagi melihat ke arah Zea.
"Maaf ..." gumam Zea memandang Fandri.
"Nggak apa apa kok Nay, lagian itu udah berlalu gue nggak mau lagi bahas hal yang kek gitu, lo cukup jadi teman gue aja udah bikin gue bahagia, gue cuman nggak suka lo ngehindarin gue terus" jelas Fandri kini raut wajahnya telah berubah 360°.
Senyuman tipis dari bibir Fandri kini terukir dengan tatapan sendu, entahlah Fandri saat ini sudah bisa melupakan Zea, yang ia panggil dengan sebutan "Anayra"
Untuk saat ini Fandri hanya mencintai Gled, wanita yang menolongnya dari keterpurukan akibat bullying.
Keadaan menjadi hening
Zea juga tersenyum mendengar ucapan Fandri, yang tidak dendam dengannnya karena penolakan cinta darinya.
Alasan dari Zea menolak Fandri tentu saja hanya dia dan Fandri yang mengetahuinya.
"Trus sekarang lo masih cinta sama Zea?" tanya Gled to the point, lagi lagi membuat semua orang menatap Gled.
"Nggak!, gue cintanya sama lo" balas Fandri tanpa malu malu, walaupun ada Zea disana.
Mendengar perkataan Fandri Gled hanya terdiam, ia tidak tau mau bersikap seperti apa, ia hanya merasa malu karena Fandri mengatakan itu di depan Zea dan juga merasa canggung kepada Zea karena mengetahui bahwa Fandri dan Zea saling mengenal dan terjebak dalam urusan cinta.
Entah mengapa seorang Gled menjadi salah tingkah di depan mereka.
Senyuman terukir dari bibir Zea, ia merasa senang akhirnya Fandri bisa melupakannya.
"Eh bentar lo jangan lupa, gue juga cinta sama Gled" ujar Okim memecah keheningan.
Fandri tertawa kecil menepuk bahu Okim yang berada di sampingnya "Iya gue tau"
__ADS_1
Gled merasa tidak enak dengan Zea, tetapi Zea kembali membalikkan suasana seperti semula.
"Kalian cuman berdiri aja gitu, nggak mau beli makananku?" tanya Zea tersenyum melirik mereka dan beralih melihat makanan yang di jualnya.
"Iya gue beli kok" sahut Guvi yang dari tadi hanya diam sambil tersenyum.
"Gled kamu nggak mau beli?" tanya Zea karena ingin mengajak Gled berbicara dengan satu alis terangkat dan tersenyum.
"Iya Zea hehehe, yaudah guys lapar nih beli makanan Zea aja" ajak Gled memilih milih cake yang berada di etalase tersebut.
***
Jam 17.00
Jam di dinding Aula tersebut menunjukkan pukul 5 sore, kini acara festival telah selesai diadakan.
Acaranya sangat meriah karena semua siswa tampak bersemangat dalam festival tersebut.
Ada yang menampilkan Dance, musikalisasi puisi, drama, bernyanyi dan tarian.
Fastival tersebut di akhiri dengan beberapa kata dari Kepala sekolah dan di lanjutkan oleh Ketua Osis yang ikut berpatisipasi dalam festival.
***
Gled sedang menunggu jemputannya di pintu gerbang sekolah sendirian.
Saat Gled asyik memainkan handphonenya, ia di kejutkan dengan bunyi klakson motor yang berada di sampingnya.
"Teeet ... teet" bunyi klakson motor seseorang yang berada di belakang Gled.
Gled langsung menolehkan padangannya kepada orang yang berani mengerjainya.
Ia adalah Villa yang menaiki motor metiknya dengan helm di kepalanya, tertawa kecil melihat ke arah Gled.
"Gled bareng yuk, udah seharian gue nggak lihat lo" ajak Villa tersenyum sambil menepuk nepuk kursi belakang motornya.
"Gue nunggu jemputan aja deh" tolak Gled dengan tersenyum karena tidak ingin membuat Villa sedih.
"Nggak mau nih?, yaudah gue ngambek" balas Villa melipat tangan di dada dan menolehkan pandangannya dari Gled.
Gled tidak habis fikir dengan tingkah Villa, tetapi itulah yang menjadi cirikhasnya, berbeda dengan Kiki yang berwatak keras dan ketus.
Akhirnya Gled menerima tawaran dari Villa untuk pulang bareng dia, Gled kembali menelfon Mister Gerry supir pribadi sekaligus bodyguard kelurga wenard, agar berbalik arah dan tidak jadi menjemputnya.
__ADS_1
"Yeiyy ... Gled mau pulang bareng gue" sorak Villa kek orang gila.
"Udah nggak usah kek orang gila gitu" sahut Gled menyentil kening Villa, sambil tertawa menaiki motor Villa.
Saat Gled telah duduk di motor Villa, Villa menggas motornya dengan kecepatan stabil.
"Gue capek banget hari ini" keluh Villa melihat wajah Gled dari kaca spion motornya.
"Lo itu OSIS Vil, jadi sibuk kalau ada acara kek gitu" timpal Gled melihat jalanan kota sore hari itu.
"Kaki gue rasanya mau lepas, lutut gue rasanya mau copot" ucap Villa lagi dengan menghela nafas lelahnya.
"Aduh lebaynya itu loh nggak tahan gue, lo sibuk amat sih sampai sampai nggak ada nyamperin gue sama Kiki dan lagi tadi ada sesuatu lo" ucap Gled melihat Villa dari kaca spion motor, seraya merapikan rambutnya yang menutupi poni.
"Sesuatu apa?" tanya Villa yang memberhentikan motornya.
"Kenapa berhenti Vil?" tanya balik Gled menatap wajah Villa yang menolehkan pandangan ke arahnya.
"Gue kira masalah gede, bagusnya kita berhenti biar enak ngomongnya"
"Nggak usah berhenti Vil, lanjut jalan aja ntar gue cerita kok, lagian ini udah sore lo udah capek juga" tolak Gled memegang bahu Villa.
"Oh yaudah" balas Villa, kembali menyetir motornya.
Gled menceritakan apa yang di ketahuinya tadi kepada Villa, tentang Fandri dan Zea.
"What?!" kaget Villa dengan nada sedikit keras hingga membuat pengendara lain yang berada di jalan itu memperhatikan mereka.
"Gue nggak nyangka aja, hehehe" sambung Villa tertawa kecil, hingga menampakkan gigi kelincinya.
Beberapa menit kemudian Gled dan Villa telah sampai di depan pagar kediaman keluarga Wenard.
Villa memberhentikan motornya dan Gled turun dari motor Villa.
"Vil, makasih ya udah nganterin gue, lo sih repot repot amat buat ngenterin gue padahal ini udah sore menjelang malam" ucap Gled tersenyum manis kepada Villa dan memegang bahu Villa.
"Lo kek anggap gue orang lain aja, gue ini sahabat lo jadi nggak apa apa lah, lagiankan gue yang tawarin" balas Villa tersenyum dan bersiap siap untuk pergi.
"Lo nggak mau ni mampir?" tanya Gled melirik rumahnya.
"Udah mau malam, gue nggak enak kapan kapan aja ya Gled, oke gue pergi ya" tolak Villa meyakinkan dan menghidupkan motornya.
"Oke Vil" balas Gled melambaikan tangan kepada Villa.
__ADS_1
Villa menggas motornya dan menorehkan senyuman kepada Gled sebelum pergi.
Gled tersenyum melihat punggung sahabatnya itu yang perlahan mulai hilang dan Gled memasuki rumahnya.