
Didalam kantor terlihat Alan sedang serius mengerjakan dokumen-dokumen penting yang diberikan oleh Sekretarisnya. Dia sangat fokus sampai tidak menyadari bahwa Yoona sudah mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam ruangan. Yoona menatap Alan dengan tatapan kagum, diusiannya yang masih sangat muda tanggung jawab perusahaan sudah dibebankan kepada dirinya. Kalau saja jika otaknya tidak pintar pasti perusahaan sudah bangkrut dan tidak ada lagi Group STARIN.
"Ehm." Yoona berdehem memberi tanda bahwa ada orang didalam kantor selain dia.
Alan mendongakkan kepalanya lalu memicingkan kedua matanya," Kenapa tidak mengetuk pintu??" tanya Alan.
"Aku sudah mengetuk pintu, tapi aku juga tidak bisa mendengar kau menyuruhku masuk atau tidak jadi aku masuk saja sendiri," jawab Yoona sambil menunjuk telinganya.
"Hmm." Alan hanya diam sambil memperhatikan Yoona tanpa mengedipkan matanya.
"Ada apa??" tanya Yoona sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Puuft, ada apa dengan dadamu kenapa kau menutupinya?" tanya Alan sambil menahan tawanya.
"Dia tertawa?" guman Yoona dalam hati.
Ya Alan sebenarnya adalah pria yang ramah dan mudah tersenyum, Alan terlihat dingin dimata orang-orang semenjak dia kehilangan kakaknya dan memikul tanggung jawab perusahaan sendirian.
Kakaknya yang bernama Adnan William, 5 tahun yang lalu meninggal dengan dugaan sementara motif pembunuhan terencana. Tidak ada bukti kuat siapa dalang penyebab kematian yang sebenarnya, membuat Alan depresi dan merasa bersalah kerana tidak bisa menemukan siapa tersangka pembunuhan.
"Ehm.. Ada yang ingin aku bicarakan, aku tidak mau tinggal dirumah mu lagi karena aku punya rumah sendiri." ucap Yoona sambil memajukan langkahnya dan berdiri dihadapan Alan.
Alan hanya menatap Yoona dengan tatapan yang sangat dingin tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tidak pernah berpikir untuk memaksa Yoona tetap tinggal dikediamannya, namun tidak tau dengan Ziyan dia pasti akan melakukakan berbagai cara untuk memaksanya tetap tinggal.
"Kalau kau diam tandanya kau setuju, aku akan pergi sekarang karena jam kerja ku juga sudah habis," ucap Yoona.
Yoona lalu berbalik meninggalkan Alan yang masih diam seribu bahasa. Tidak tau apa yang Alan pikirkan dia tidak bisa mengatakan apapun atau mencegah Yoona untuk tetap tinggal bersamanya.
"Cih Yoona bodoh, kau berpikir dia akan mencegahmu untuk pergi, mimpi saja halu mu terlalu tinggi." gumam Yoona dalam hati berbicara kepada dirinya sendiri.
Yoona masuk kedalam Lift, didalam ada 2 karyawan yang tampak kaget melihat Yoona. Mereka lalu berbisik membicarakan Yoona karena kejadian sore tadi yang menindas Lina. Namun karena Yoona menggunakan Headset peredam suara dia sedikitpun tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, dia juga tidak berniat untuk membaca gerakan mulut mereka karena Yoona sudah bisa menebak bahwa mereka akan membicarakannya.
Tlingg..
Pintu lift terbuka Yoona pun langsung keluar dari dalam lift tanpa sepatah katapun membuat 2 karyawan didalamnya terlihat sangat kesal.
"Cih dasar bermuka tebal, dia bahkan tidak menghiraukan kata-kata kita walau kita membicarakannya dengan sengaja," ucap salah satu karyawan terlihat emosi.
"Ya benar, sombong sekali dia aku tambah membencinya.!"
Yoona keluar sambil menarik napasnya dalam-dalam sambil meregangkan kedua tangannya. Dia berpikir bisa berjalan disamping ceo ternyata bukan impian yang mulus. Akan banyak masalah dan musuh yang terlihat iri dan mencoba untuk mengusirnya dari posisi itu. Namun demi impiannya untuk sukses diperusahaan STARIN dia tidak akan gentar walau hujan badai menghalangi langkahnya.
"Langsung pulang kerumah aja deh," Ucap Yoona sambil memberhentikan Taxi.
Baru saja mau melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil, Yoona menghentikan langkahnya karena seseorang yang terus memanggil.
"Mamaaa..!! Kau mau pergi kemana?" teriak Ziyan yang baru keluar dari dalam mobil dan langsung berlari menghampirinya.
"Nona, apa kau tidak dengar anak itu terus memnggilmu," ucap supir Taxi sambil melihat kearah Ziyan.
Yoonapun menoleh kearah Ziyan yang sedang berlari menghampirinya, "Ziyan kenapa kau disini?" tanya Yoona sambil berjongkok dan menyentuh pipi Ziyan.
"Kenapa? Jika aku tidak disini kau pasti sudah pergi kan??" ucap Ziyan membuat Yoona tersenyum kaku.
Setelah mendapat telepon dari Alan yang memberitahu Ziyan bahwa Yoona akan pergi meninggalkannya, Ziyan langsung menuju Kantor untuk menghentikan Yoona. Benar saja untung Ziyan tepat waktu dan langsung menghentikanya.
"Aku hanya pergi kerumah ku sendiri, lagian kita masih satu kota dan masih bisa sering bertemu." jelas Yoona meyakinkan Ziyan.
__ADS_1
"Lagi pula aku bukan ibumu, kenapa kau terus memanggilku Mama dan membuat ku harus tinggal bersama mu Ziyan.!" gumam Yoona dalam hati.
Ziyan hanya memasang wajah dingin dan terlihat sangat marah sambil menatap wajah Yoona tanpa berkedip.
"Haish mereka Ayah dan anak memang sangat mirip," gumam Yoona lagi dalam hati.
"Baiklah mari ikut denganku tapi kau harus meminta izin dulu kepada papamu.!" ucap Yoona sambil mengusap kepala Ziyan.
Ziyan langsung mengeluarkan senyum bahagianya, tanpa pikir panjang dia langsung masuk kedalam mobil yang tadi hendak dinaiki oleh Yoona. Yoona hanya menggelengkan kepalanya dan merekapun melaju menuju Apartement Yoona.
Sesampainya di Apartemen mereka langsung menuju kelantai 15, ketika Yoona hendak mengambil kunci didalam tas ternyata pintu sudah terbuka.
"Ma, apa kau lupa mengunci pintu?" tanya Ziyan sambil menunjuk pintu yang sudah sedikit terbuka.
Yoona langsung mengkerutkan keningnya dan langsung menggenggam tangan Ziyan dengan erat. Dia khawatir akhir-akhir ini Apartement nya menjadi tidak aman, kemarin saja ada orang yang menghancurkan isi rumahnya dan sekarang pintu pun terbuka.
"Ziyan, kau tunggu disini ya biar aku yang masuk kedalam untuk memeriksa," tutur Yoona sambil manarik Ziyan untuk menjauh dari pintu.
Namun Ziyan langsung menepis tangan Yoona dan langsung menghampiri pintu lagi, "Mama tenang saja aku anak laki-laki, biar aku yang melindungimu.!" ucap Ziyan sambil mendorong pintu.
"Anak ini masih kecil sudah pandai berbicara," gumam Yoona sambil menggelengkan kepalanya.
Ziyan dan Yoona memasuki Apartement dengan sangat berhti-hati sambil melihat kekanan dan kekiri. Terlihat dari balik sofa, ada sosok laki-laki paruh baya sedang duduk membelakangi pintu masuk. Yoona langsung menghentikan langkahnya dan menarik Ziyan untuk berdiri dibelakangnya.
"Paman Ling.??" panggil Yoona sambil mengkerutkan keningnya.
"Sudah lebih dari 24 jam aku menunggumu, kemana kau pergi??" tanya seseorang yang dipanggil Paman oleh Yoona.
Yoona langsung menunjukan ekapresi tidak senang dan jantungnya langsung berdegup kencang ketika melihat paman Ling, karena tidak ada yang baik jika sudah berurusan dengan paman satu itu.
"A..ada apa paman sampai repot-repot datang kemari sendiri??" tanya Yoona sedikit gugup.
"Aku hanya datang untuk mengunjungi keponakanku.!" jawabnya sambil melebarkan tangannya.
Yoona langsung memundurkan langkahnya dan langsung menggenggam erat tangan Ziyan. Yoona takut pamannya itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadapnya, dulu dia berulang kali berniat untuk menjual Yoona kepada orang hidung belang.
"Yoona kau tau sendiri bukan, adikmu dikampung perlu perawatan yang canggih agar nyawanya tidak melayang, sedangkan ibumu sangat miskin, bagaimana kalau kita bekerja sama?" jelas Paman Ling.
"Paman tidak perlu bertele-tele sebutkan saja apa maksudmu??" tanya Yoona sedikit menekan.
"Hehe, mari kita bekerja sama terimalah lamaran dari Tuan Yenchu, walau dia gemuk dan sudah memiliki dua istri tapi duitnya sangat banyak, kau bisa mendapat uang untuk segera mengoperasi adik mu.!" jelasnya lagi sambil menggosok-gosokan kedua tangannya.
Yoona terdiam dan langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, benar saja setiap apapun yang berkaitan dangan pamannya tidak akan berujung baik.
"Bukankah sama saja kau seperti menjualku, sebenarnya itu demi keuntungan mu sendiri kan??" tanya Yoona dengan sangat emosi.
"Hahahaha" Paman Ling tertawa hingga terbahak-bahak dia sudah seperti orang gila yang sangat ambisius terhadap uang. Ling lalu duduk kembali kekursi sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Bagaimana jika aku beri 2 keuntungan.!! Pertama aku akan membawa adikmu berobat, kedua aku akan memberi tau tentang rahasia terbesar mu yang selama ini dirahasiakan oleh ibumu," jelas paman Ling sambil tersenyum licik.
Namun Yoona sama sekali tidak tergiur dengan tawaran pamannya, dia langsung menuju pintu dan membukakannya.
"Paman jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan segeralah pergi dari rumahku..!!" tegas Yoona sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Ya kau seharusnya pergi dan jangan ganggu mamaku.!!" ketus Ziyan sambil menunjuk Ling dan menatapnya dengan tajam.
Paman Ling langsung terdiam ketika dia sadar ternyata Yoona datang bersama anak kecil. Dia langsung menunjukan senyum liciknya dan merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Yoona langsung berhati-hati ketika melihat tangan pamannya merogoh sesuatu didalam saku.
__ADS_1
Paman Ling langsung mendekati Yoona dan Ziyan sambil menyembunyikan sesuatu didalam saku, Yoona langsung menarik Ziyan untuk bersembunyi dibelakangnya.
"Paman apa yang kau lakukan?" tanya Yoona dengan wajah tegas.
"Hehe, bukan apa-apa aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan anak ini.!!" jawabnya sambil menodongkan sebuah pistol kearah kepala Ziyan.
Sontak Yoona langsung terkejut dia langsung menghadang senjata api itu dengan tubuhnya.
"Paman urusanmu dengan ku.!" ucap Yoona sambil membentangkan tangannya.
"Ziyan cepat pergi.!!" bisik Yoona kepada Ziyan.
Namun Ziyan tidak mendengarkan perintah Yoona dia langsung berdiri didepan Yoona dan sama-sama menodongkan pistol kekepala paman Ling.
"Paman jangan main-main denganku, aku juga punya senjata yang sama.!" ucap Ziyan dengan ekspresi yang mencekam sambil mengeluarkan pistol dari tasnya dan menodongkan senjata itu kepada wajah Ling.
Seketika Ling yang tadi sangat percaya diri dia langsung menciut melihat pistol Ziyan yang terlihat sangat asli, sedangkan senjata dia hanya pistol mainan yang dia beli dari sebuah toko.
"Hey kau jangan main-main senjata ku ini asli," ucap Ling sedikit gugup.
"Paman aku tidak pernah bilang kalau pistolmu itu palsu, ayo adu kekuatan peluru mana yang lebih cepat.!" tutur Ziyan sambil memasukan peluru kedalam senjatanya.
"Ssiapa kau sebenarnya??" tanyanya lagi ketakutan.
"Baiklah sebelum kau mati biar aku beri tau, aku adalah cucu dari keluarga William." jawab Ziyan dengan tatapan membunuh.
Matanya seketika langsung terbelalak, tentu saja dia tau tentang keluarga besar William. Keluarga yang sangat berpengaruh dalam dunia hiburan, bisnis dan juga mafia. Ling langsung menjatuhkan pistolnya dan langsung berlari keluar dari rumah Yoona.
"Tunggu saja Yoona aku pasti akan kembali..!!" ucapnya lalu berlari tunggang langgang.
"Fiuuhh,, akhirnya pergi juga..!" ucap Yoona lega sambil mengelus dadanya.
"Ohh jadi pistolnya palsu pantas saja dia ketakutan." gumam Ziyan sambil mengambil pistol yang tergeletak.
Yoona langsung teringat bahwa Ziyan membawa senjata api, dia langsung mencubit pipi Ziyan hingga dia kesakitan.
"Kenapa anak seusia mu bisa membawa senjata api yang berbahaya??" tanya Yoona dengan tatapan seperti nenek sihir.
Namun Ziyan hanya tersenyum licik sambil mengelus pipi Yoona, "Mama tenang saja ini sama-sama palsu, bedanya kualitas mainanku sangat tinggi bahkan harga pistol mainan ini sekitar 5jutaan," jawab Ziyan dengan wajah santainya.
Yoona tercengang mendengar penuturan Ziyan, bahkan harga mainannya seperti gaji dia selama setahun. Sangking mahalnya pistol yang dibawa Ziyan terlihat sangat asli hingga membuat pamannya ketakutan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
mohon dukungannya ya readers..!!
Beri Rate, Like dan Comment..!!