Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 42 Meninggal


__ADS_3

Karena merasa Ayahnya sudah baikan, Alan pun keluar untuk mencari udara segar. Dia merasa tidak nyaman saat Carolin berada di dekatnya, itulah kenapa dia lebih memilih pergi walau tau Ayahnya akan salah paham tentangnya. Alan berjalan dengan sangat santai menuju loby dan tidak sengaja dia bertemu lagi dengan Nathan. Nathan yang masih berada di dalam lift dengan beberapa kantong makanan di kedua tangannya hanya menatap Alan tanpa sebuah kata. Begitu pun dengan Alan dia masih berdiri di depan lift dalam keadaan diam.


Karena sama sekali tidak ada sapaan dari Alan, Nathan pun memutuskan untuk keluar dari dalam lift. Saat dia berjalan melewati Alan tiba-tiba saja ponselnya berdering dan dia pun langsung meletakkan satu kantong makanan dari tangan kanannya. Nathan langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya, setelah dia tau bahwa Yoona meneleponnya dia pun langsung bergegas menjawab telepon dari Yoona.


"Halo Yoona ada apa? Aku sebentar lagi sampai," jawab Nathan sambil berjalan meninggalkan lift.


Sontak Alan yang mendengar Nathan menyebut nama Yoona, dia langsung menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam lift. Alan langsung berbalik dan menghentikan langkah Nathan.


"Tunggu..!!"


Nathan terkejut dan langsung berbalik menghadap Alan dengan posisi masih menjawab panggilan dari Yoona.


"Tuan muda Alan apa kau memanggilku??" tanya Nathan sedikit heran.


"Barang mu.!!" Balas Alan cuek sambil memberikan kantong pelastik yang tadi tidak sengaja Nathan tinggalkan. Sebenarnya Alan tidak peduli dengan kantung pelastiknya, tapi dia sangat ingin tahu saat Nathan tiba-tiba menyebut nama Yoona.


"Ohh aku melupakanya, terimakasih Tuan muda Alan.!" Balas Nathan disertai senyuman ramah. Namun lawan bicaranya bahkan tidak berekspresi sedikitpun.


Setelah menerima dan mengucapkan terimakasih, Nathan pun berbalik dan menyambung kembali pembicaraannya dengan Yoona. Sedangkan Alan masih berdiri menatap punggung Nathan sambil melebarkan telinganya untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Yona kenapa kau menangis??" tanya Nathan.


Alan pun terkejut saat mendengar Nathan bertanya kenapa Yoona menangis. Dia langsung mengejar Nathan dan menarik tangannya untuk bertanya langsung sebenarnya apa yang terjadi.


Grebbb..


"Hey ada apa ini??" tanya Nathan terkejut saat Alan tiba-tiba menarik tangannya.


"Apa yang terjadi dengan Yoona? Kenapa dia menangis??" tanya Alan dengan wajah serius.


"Sebelumnya lepaskan dulu tanganku.!! Dan apa kau juga mengenal Yoona??" tanya Nathan. Mereka terus saja melontarkan pertanyaan tanpa ada yang menjawab salah satu pertanyaanpun.


"Aku bertanya dan kau jangan bertanya balik.!!" Tegas Alan sambil menghempaskan tangan Nathan.


Nathan langsung merubah ekspresinya menjadi serius, dia lalu merapikan lengan bajunya yang kusut karena tadi dicengkram oleh Alan.


"Hiks.. Nathan apa kau masih mendengarkan aku, hiks"


Suara Yoona dari balik telepon terdengar sangat menyedihkan dengan isak tangis yang memburu. Alan dan Nathan langsung terfokus kepada ponsel yang ada di genggaman Nathan.


"Yoona maaf aku akan segera kesana, kau berhentilah menangis.!!" Ucap Nathan dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Dengan sangat tergesa-gesa Nathan langsung berjalan menuju ruang Operasi, sedangkan Alan mengikutinya dari belakang.


Nathan sadar dan merasa tidak nyaman saat Alan terus mengikutinya, namun karena sangat mengkhawatirkan Yoona dia pun tidak peduli jika Alan terus mengikutinya. Saat sampai di ruang operasi terlihat Yoona sedang duduk di kursi koridor, dia terisak menangis sambil membenamkan wajahnya kedalam pelukan ibunya. Nathan dan Alan pun terlihat sangat khawatir dan langsung menghampiri Yoona yang sedang menangis.

__ADS_1


"Yoona apa yang terjadi??" tanya Alan dan Nathan serempak sambil berjongkok dihadapan Yoona.


Yoona mengangkat kepalanya, dia terkejut saat melihat Alan sedang berjongkok dihadapannya. Yoona mengucek kedua matanya karena penglihatannya tidak jelas tertutupi air matanya.


"Alan??" lirih Yoona tidak percaya bahwa dihadapanya benar-benar ada Alan.


"Yoona kenapa?? Apa yang terjadi??" tanya Alan sambil berdiri lalu duduk disamping Yoona dan langsung memeluknya.


Yoona pun langsung menumpahkan lagi tangisnya didalam pelukan Alan. Dia terus terisak hingga dadanya terasa sesak. Alan langsung mengelus rambut Yoona mencoba untuk menenangkan perasaan Yoona.


Nathan hanya terpaku saat melihat Yoona tiba-tiba membalas pelukan dari Alan. Pasalnya dia tidak tau jika Alan juga ternyata mengenal Yoona. Nathan hanya bisa menahan cemburu saat wanita yang ia cintai berada dipelukan laki-laki lain. Jika keadaan Yoona sedang tidak sedih bisa saja Nathan bertindak memisahkan mereka, namun dia lebih merasa khawatir dan mengesampingkan rasa cemburunya.


"Bibi sebenarnya apa yang terjadi??" tanya Nathan kepada Bu Hana yang juga masih terisak.


"Operasinya, hiks hiiks" jawab Bu Hana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi??" tanya Alan sedikit menegaskan pertanyaannya dan langsung mendapat tatapan tajam dari Nathan.


"Orang ini apa tidak bisa bertanya lebih lembut sedikit," pikir Nathan tidak senang.


"Hiks, operasinya gagal,"


Brukk,


"Hiks, ibu..!! Ibu bangun bu jangan buat Yoona khawatir.!!" isak Yoona sambil menggoyangkan tubuh ibunya.


"Yoona ibu mu hanya pingsan biar Dokter yang memeriksanya terlebih dahulu," ucap Nathan meyakinkan Yoona agar sedikit tenang.


Tubuh Yoona terasa sangat lemas, cobaan ini terasa sangat berat menimpa hidupnya. Yoona menyenderkan tubuhnya kedinding dia masih menangis tak tahan menahan kesedihannya.


"Yoona ayo duduk dulu di kursi.!!" Ajak Alan sambil memapah tubuh Yoona untuk duduk di kursi.


"Hiks, jika tau akan seperti ini lebih baik Haris tidak usah di operasi dulu," isak Yoona menyesali keputusannya.


Mendengar Yoona yang putus asa Alan langsung menyeka air mata Yoona dan menangkupkan tangannya di kedua pipi Yoona.


"Yoona semua orang akan mengalami mati setelah kehidupannya, kita hanya tidak tau kapan mereka akan pergi dan dengan cara apa mereka akan pergi. Semua sudah diberi garis kehidupan masing-masing oleh Sang Pencipta. Jadi kau harus mengikhlaskan kepergian adikmu itu, oke.!!" ucap Alan sambil menatap kedua manik mata Yoona.


"Hiks, kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan," teriak Yoona dengan isak tangisnya.


"Yoona apa kau lupa, aku pernah cerita bahwa aku pernah kehilangan seorang kakak yang sangat amat aku cintai.!!" Balas Alan sambil membelai lembut ujung kepala Yona.


Yoona langsung terdiam dan hanya isak tangis yang terdengar dari mulutnya. Alan langsung kembali memeluk Yoona karena dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Yoona saat ini. Dia sangat mengerti perasaan Yoona saat ini karena dia juga pernah mengalami betapa sakitnya saat kehilangan orang yang sangat dicintai.

__ADS_1


Nathan memandang Alan dan Yoona dengan rasa cemburu yang mendalam, karena lagi-lagi Alan memberikan pelukan hangat untuk Yoona dan tidak memberikan kesempatan untuknya memberi pelukan.


"Keluarga pasien meninggal.!!" Panggil seorang Suster sambil menghampiri mereka bertiga.


"Saya Sus," balas Yoona dengan suara lirih.


"Nona mari ikut saya untuk mengurus surat keterangan meninggal.!! Jika tidak segera di urus pasien meninggal tidak bisa segera keluar dari Rumah Sakit." Jelas seorang Suster.


Dengan tubuh yang masih lemas Yoona memaksakan dirinya untuk berdiri, namun dengan sigap Alan langsung menghentikan Yoona dan membuatnya duduk kembali kekursinya.


"Ada apa??" tanya Yoona heran.


Alan tidak langsung menjawab pertanyaan Yoona, dia malah fokus kepada Suster yang masih menunggu Yoona untuk mengurus surat keterangan meninggal.


"Apa bisa diwakilkan??" tanya Alan serius.


"Apa anda keluarganya?? Jika anda bersedia untuk bertanggung jawab maka silahkan," jelas suster. Alan pun tanpa basa-basi lagi langsung mengikuti Suster untuk mewakili Yoona mengurus surat-surat yang diperlukan.


"Apa ini Tuan muda Alan yang arogan itu? Kenapa dia mau repot-repot mengurusnya untuk Yoona. Apa sebenarnya hubungan diantara mereka??" pikir Nathan penasaran.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


JANGAN LUPA


LIKE 👍


COMMENT 🗨


RATE 🌟


VOTE 💱

__ADS_1


__ADS_2