
"Lepaskan tanganku.!!" Ketus Yoona sambil menepis tangan Alan.
Alan hanya tersenyum tipis sambil menatap wajah Yoona dengan seksama. Dia merasa Ellie yang dulu sangat pemalu dan mudah ditindas sekarang berubah menjadi pemberani dan tidak mudah untuk ditindas.
"Kenapa sih lihatin aku sampai segitunya??" tanya Yoona sambil mengkerutkan keningnya.
"Kau benar-benar sudah berubah tidak seperti dulu lagi," ucap Alan sambil mengacak-acak rambut Yoona lalu pergi memilih gaun.
Yoona hanya terdiam kaku sambil menyentuh kepalanya yang tadi disentuh oleh Alan. Kata-kata Alan barusan membuat banyak pertanyaan dikepala Yoona. Dia berpikir apa mungkin sebelum kecelakaan Alan memang sudah pernah mengenalinya, atau sudah ada hubungan lain antara dirinya dan Alan.
"Sepertinya aku perlu bicara dengan si boss aneh ini," pikirnya sambil berjalan menghampiri Alan.
Alan yang sedang sibuk memilihkan gaun secara langsung untuk Yoona terlihat bingung, dia tidak tau gaun seperti apa yang disukai oleh Yoona.
"Apa kau menyukai gaun ini??" tanya Alan sambil menunjukan gaun biru langit berhias permata.
Yoona tercengang melihat gaun yang dipegang oleh Alan, "Waw gaun ini sangat cantik pasti harganya juga mahal," pikir Yoona.
"Kau tidak perlu memilihkan aku gaun," jawab Yoona sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alan hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Yoona, "Aku tau kau menginginkan ini.!!" Ucapnya dan langsung menyuruh pelayan untuk membantu Yoona mencoba gaunnya.
"Mari nona lewat sini.!!" Ucap para pelayan sambil menarik Yoona masuk keruang ganti.
"Hey, kalian tidak perlu melakukan ini.!!" Teriak Yoona mencoba untuk menolak namun para pelayan langsung saja menariknya.
Setelah menunggu beberapa menit, Yoona keluar dengan memakai gaun yang tadi dipilih langsung oleh Alan. Dia keluar sambil memasang wajah galaknya karena kesal para pelayan itu memaksanya untuk memberi riasan diwajahnya.
Alan berbalik ketika pelayan datang sambil memapah Yoona, dia tercengang setelah melihat penampilan Yoona yang sangat cantik.
"Walau sifatnya berubah,tapi wajahnya tidak pernah berubah," pikir Alan sambil menunjukan senyum tipisnya.
Yoona masih dengan ekspresi kesalnya karena Alan memaksa dia untuk memakai gaun. Namun saat dia melihat senyum Alan yang sangat jarang dia tunjukan, jantungnya langsung berdegup dan hatinya serasa jadi luluh.
"Ehm, aku tidak mau pakai gaun ini," ketus Yoona sambil mengalihkan pandangannya karena Alan terus menatapnya.
"Kau bilang mau merebut laki-laki yang Carolin suka, jadi kau harus berpenampilan cantik." Ucap Alan.
"Aku akan menjadi pelakor dengan caraku sendiri, tidak perlu menggoda laki-laki dia juga pasti akan menyukai ku, ha..ha..ha.." balas Yoona menunjukan wajah garangnya dan tentunya dia hanya asal bicara.
Alan tertawa kecil mendengar ucapan Yoona yang sudah benar-benar seperti ingin menjadi pelakor, dia langsung menghampiri Yoona dan memasangkan jepit rambut dikepalanya.
"Kalau begitu kau tidak perlu merebutnya lagi karena sepertinya hati orang yang dia suka sudah menyukai mu.!!" Balas Alan sambil membelai rambut Yoona.
Yoona hanya mengkerutkan keningnya ketika mendengar kata-kata Alan. Dia bingung apa maksud dari perkataannya itu, karena dia juga tidak sungguh-sungguh ingin menjadi wanita pelakor dan dia juga tidak tau memangnya siapa orang yang di sukai oleh Carolin.
"Hey, aku hanya bercanda tau," ucap Yoona sambil mendorong Alan dengan perlahan.
"Nanti malam kau harus pakai gaun ini, biar aku yang akan menjadi pasangan mu.!" ucap Alan lalu pergi meninggalkan Yoona.
Yoona hanya terdiam sambil menatap punggung Alan hingga tidak terlihat lagi. Dia berpikir tidak mungkin rasanya pergi kepesta bersamanya. Secara Alan adalah orang besar yang sangat terpandang jika bersanding dengannya rasanya tidak akan cocok.
"Ck, aku akan pergi bersama teman-temanku saja," ucapnya sambil masuk keruang ganti.
Setelah selesai berganti pakaian, Yoona keluar dengan membawa bingkisan gaun tadi. Karena pelayan bilang bahwa gaun itu sudah dibayar dan harus dibawa oleh Yoona, jika tidak maka mereka yang akan dihukum oleh Alan. Yoona pun pergi ketempat dimana teman-temannya tadi berada, namun saat Yoona tiba ternyata semua temannya sudah pulang dan tinggal dia sendiri didalam Mall.
"Haishh, punya teman semuanya tega banget ninggalin aku sendiri," keluh Yoona sambil melihat kekanan dan kekiri.
Dia pun memutuskan untuk pulang sendiri dan menunggu kendaraan umum disebuah terminal bus. Yoona duduk sambil sesekali memainkan ponselnya, sudah hampir 30 menit tidak ada kendaraan umum yang lewat terminal itu. Yoona pun beranjak dari kursinya dan berdiri ditepi jalan.
"Aduh, sial banget pasti aku ketinggalan bus ni," ucap Yoona sambil terus melihat jam tangannya.
__ADS_1
Saat Yoona memutuskan untuk berjalan pulang ke Apartemennya, dari arah belakang mobil Sport hitam mengklaksonnya dan berhenti tepat disamping dia berdiri.
"Kenapa sih mobil ini??" pikir Yoona dalam hati.
"Hey, mau kemana??" tanya seorang pria sambil menurunkan kaca jendela mobilnya.
Yoona terdiam sambil mengingat siapa pria yang menyapanya itu, dia memang mudah lupa namun mudah juga untuk mengingatnya kembali. Pria dalam mobil itu langsung merubah ekspresi senyumnya menjadi cemberut.
"Sepertinya aku memang sangat mudah untuk dilupakan," ketus Yandha sambil memonyongkan bibirnya.
"Oh aku baru ingat, tuan Yan maafkan aku ya aku memang sedikit pelupa," ucap Yoona sambil membungkukan badannya.
"Kau jangan terlalu sopan denganku, BTW mau kemana ni kenapa jalan kaki??" tanya Yandha sambil membuka pintu mobil dan langsung menghampiri Yoona.
"Aku baru saja mau pulang ke Apartemen ku, tapi sepertinya aku ketinggalan bis," jawab Yoona.
Yandha terus saja memperhatikan Yoona sambil melipatkan kedua tangannya didada.
"Apa ada yang salah dengan wajahku??" tanya Yoona sambil mengusap-ngusap wajahnya.
"Haha, tidak kok aku hanya terpana sejak dulu kecantikanmu tidak pernah luntur," jawab Yandha sambil mengusap-ngusap kepala Yoona seperti anak kecil.
Yoona hanya bengong mendengar kata-kata Yanda dan perlakuannya itu, tidak tau kenapa dia merasa bahwa Yandha sudah seperti terlihat akrab kepadanya.
"Sejak dulu??" tanya Yoona sedikit heran, "Aku rasa kita baru kenal minggu lalu.!" sambungnya lagi membuat Yanda terdiam.
"Hmm, ada apa dengannya, kenapa terlihat linglung." Pikir Yanda sambil mengangkat alisnya.
Mereka berduapun jadi sama-sama terdiam membuat suasana menjadi canggung. Hanya terdengar suara kendaraan dan keributan orang-orang yang lalu lalang berjalan melewati mereka.
"Ehm, ayo biar aku antar pulang.!!" ucap Yandha.
"Aku harus ikut dengannya, banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan," pikir Yoona dan tanpa ragu langsung mengangguki ajakan Yandha.
"O ya apa sebelumnya kita sudah saling kenal sehingga membuatmu menolongku waktu pingsan di Restaurant??" tanya Yoona sedikit ragu.
"Hmm, ya sepertinya kita memang saling kenal sebelumnya," jawab Yandha yang juga sedikit ragu.
"Apa kau juga mengira bahwa aku ini Ellie??" tanya Yoona lagi membuat Yandha terkejut.
Yandha terdiam sambil memikirkan jawaban apa yang akan dia ucapkan, dia bingung sebenarnya kenapa dengan gadis ini. Kenapa setiap kali selalu bersikap linglung dan juga sangat pelupa.
"Kau ini pikun atau memang hilang ingatan??" tanya Yandha penasaran.
"5 tahun yang lalu aku mengalamai kecelakaan dan menjadi Amnesia gara-gara kecelakaan itu," jawab Yoona sambil menatap Yandha.
"Jadi kalau kau sebelumnya sudah mengenalku, ceritakan semuanya siapa tau aku bisa mengingatnya," sambungnya lagi dengan sangat antusias.
Yandha hanya tersenyum mendengar penuturan Yoona, dia lagi-lagi lalu mengelus kepalanya dan memberikan perasaan yang akrab.
"Haha, jika kau tidak bisa mengingatku biarkan saja ingatan itu hilang dan kita buat ingatan yang baru," balas Yandha dengan senyum manisnya dan Yoona hanya mengangguk dengan ekspresi bingung.
Yandha memberhentikan mobilnya didepan Apartement Yoona, Yoona lalu turun dari mobil dan diikuti oleh Yandha.
"Kau tidak mengajakku untuk mampir,?" ucap Yandha.
"Hehe, dirumah tidak ada siapa-siapa, lain kali kau boleh mampir." balas Yoona.
Yandha pun mengerti maksud Yoona dia lalu pamit untuk pulang dan langsung melajukan mobilnya.
•••••
__ADS_1
Saat ini jam sudah menunjukan pukul 07:30 PM, Yoona sudah bersiap-siap menggunakan gaun dan memoleskan make up natural kewajahnya. Saat sedang mengenakan heelsnya terdengar suara bel pintu membuat Yoona langsung berdiri dan mihat siapa yang datang.
Tingg tongg tingg tongg..
"Iya tunggu sebentar.!!" Saut Yoona sambil berjalan menuju pintu.
Yoona membuka pintu dan langsung memperlihatkan sosok tampan memakai jas berwarna dongker dan terlihat sangat menawan. Ya pria itu adalah Nathan Adric.
"Senior Nathan..!!" ucap Yoona sedikit terkejut.
"Waw Yoona kau sangat cantik," puji Nathan sambil masuk kedalam rumah.
"Hehe, biasa aja kok," jawab Yoona tersipu malu,
Nathan langsung saja masuk dan mengambil heels yang belum sempat Yoona pakai. Dia lalu berjongkok dan menyentuh kaki Yoona hendak memasangkannya. Namun Yoona seketika langsung memundurkan langkahnya dan langsung berjongkok mengambil heels yang dipegang Nathan.
"Biar aku sendiri yang memakainya," ucap Yoona.
"Tidak, sini biar aku yang memakaikannya untukmu," balas Nathan dan langsung memakaikan sepatu heels kekaki kanan Yoona.
Yoona hanya terdiam patuh ketika Nathan tetap memaksanya untuk memakaikan sepatu di kaki kanan Yoona. Saat Natha hendak memakaikan sepatu dikaki kirinya Yoona, tiba-tiba seseorang lagi datang dan langsung membuka pintu. Perhatian Nathan dan Yoona pun langsung tertuju kepada seseorang yang baru saja datang.
Terlihat Alan sudah berdiri diambang pintu dan menatap tajam kearah mereka berdua. Nathan masih dengan posisinya yang berjongkok hendak memakaikan sepatu dikaki Yoona, namun Yoona seketika langsung berdiri karena terkejut melihat Alan yang tiba-tiba datang.
"Alan.!! Ke...kenapa kau disini??" tanya Yoona sedikit gugup.
"Kenapa memangnya, apa kehadiran ku menganggu kalian berdua yang sedang bermesraan?" tanya Alan dengan ekspresi yang sudah seperti mau membunuh membuat Yoona jadi takut.
"Ti..tidak seperti yang kau pikirkan.!!" Jelas Yoona dengan nada terbata-bata.
Nathan dengan santai langsung berdiri dan langsung merangkul bahu Yoona, "Tuan Alan kata-kata mu itu sangat benar, kau menganggu moment kami berdua." ucap Nathan sambil tersenyum.
Yoona langsung membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan Nathan. Dia langsung menepis tangan Nathan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang semakin dalam. Tidak tau kenapa Yoona tidak ingin Alan salah paham tentang hubungan mereka yang hanya teman saja.
"Aku juga tidak peduli dengan kalian," Ketus Alan lalu berbalik meninggalkan mereka.
Yoona terdiam melihat kepergian Alan, tidak tau kenapa rasa dihatinya sangat tidak nyaman mendengar ucapan Alan yang tidak peduli dengannya dan melihat dia yang pergi begitu saja.
"Sudahlah ayo kita berangkat.!!" ucap Yoona dan langsung diangguki oleh Nathan.
Sesampainya ditempat pesta, Yoona datang dengan menggandeng tangan Nathan. Disana ada Alan juga yang sudah datang berpasangan dengan Carolin. Yoona tidak peduli dengan Alan mau berpasangan dengan siapapun, dia dan Nathan berjalan melewati Alan tanpa menoleh sedikitpun. Alan merasa sangat kesal karena perlakuan Yoona terhadapnya. Dia pun terus memperhatikan setiap langkah Yoona agar tidak berbuat macam-macam dengan Nathan.
Carolin tau bahwa sejak tadi Alan terus saja memperhatikan Yoona tanpa memperdulikan dirinya yang sejak tadi berdiri disampingnya. Dia pun menghubungi seseorang agar membuat masalah untuk Yoona.
"Berikan ini kepada gadis bergaun biru permata itu, dan jangan lupa masukan ini kedalamnya.!!" Bisik Carolin kepada salah satu pelayan sambil memberikan beberapa uang tips dan bubuk obat, pelayan itu pun langsung mengangguki perintah Carolin.
"Yoona lihat saja nanti kau akan malu sampai ingin mati," pikir Carolin sambil melipatkan kedua tangannya didada dan menatap sinis kearah Yoona.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like, comment dan beri rate 5 🌟 ya readers..!!!😊😊