Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 45 KMM


__ADS_3

Alan berhasil membuat Yoona kehabisan napas, dia langsung melepaskan ciumannya dan langsung membelai dengan lembut pucuk kepala Yoona.


"Kau masih belum mahir berciuman, harus banyak berlatih," goda Alan sambil tersenyum nakal.


Yoona merasa sangat malu, dia langsung memalingkan wajahnya agar Alan tidak melihat wajahnya yang memerah.


"Bukannya kau masih punya satu hutang penjelasan kepada ku?" bisik Alan ditelinga Yoona.


"Ahhh kau membuat ku merinding," elak Yoona sambil mendorong dada Alan.


"Haha, baiklah tidak bercanda lagi, ayo cepat jelaskan kenapa waktu di Rumah Sakit kau berkata seperti itu?" tanya Alan lagi mulai serius.


"Harus dimulai dari mana ya?" gumam Alena sedikit bingung.


"Harus dari awal dan sedetail mungkin!" perintah Alan memaksa Yoona agar menceritakannya dari awal.


Sebenarnya Yoona sudah berjanji untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Dia juga sudah menandatangani surat perjanjian di atas kertas yang tidak bisa di tarik kembali. Yoona pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Alan. Tidak peduli dengan ancaman dari ayahnya Alan, dia sadar bahwa ia tidak bisa jauh dari Alan.


"Sebenarnya saat kita pulang dari pantai, aku bertemu dengan ayah kamu, dia membawa ku masuk ke dalam mobilnya" jelas Yoona secara perlahan.


"Apa?? Apa dia menyakitimu? Dia pasti mengancam mu, kan?" tanya Alan mulai emosi.


"Ayah mu menyuruhku untuk menandatangani surat kontrak perjanjian, isi nya tertulis bahwa aku harus menjauhi keluarga William, jika aku melanggarnya atau tidak menandatanganinya maka aku harus mengganti uang ganti rugi, karena ayah mu terlebih dahulu sudah membiayai operasi Haris. Oleh karena itu, aku tidak punya pilihan lain selain menandatanganinya." Jelas Yoona sambil meneteskan air matanya.


Alan pun langsung memeluk erat tubuh Yoona, dia merasa tindakan ayahnya benar-benar sangat licik. Mencoba untuk memisahkan dia dengan Yoona, sungguh tidak akan pernah terjadi, pikir Alan.


"Yoona kamu jangan khawatir, jangan pedulikan lagi tentang surat perjanjian itu, sekarang ada aku disini jadi aku mohon terima aku dan menikahlah dengan ku!" pinta Alan sambil menggenggam erat kedua tangan Yoona.


"Alan, kamu ingin menikah dengan ku karena kamu kira bahwa aku ini Ellie, bukan?? Bagaimana kalau ternyata aku ini bukan Ellie, apa kamu akan tetap menginginkan aku menjadi istri mu?" tanya Yoona sedikit ragu.


"Awalnya memang seperti itu, tapi semakin kesini semakin aku menginginkan kamu, tidak peduli kamu Yoona atau Ellie aku akan tetap mencintai kamu!" jelas Alan mencoba untuk meyakinkan Yoona.


"Aku... aku juga mencinta mu, Alan!" lirih Yoona sambil tersenyum menatap Alan.


"Apa? Apa kamu serius?" tanya Alan tidak percaya.

__ADS_1


Yoona hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Alan. Sontak Alan pun langsung memeluk erat tubuh Yoona karena merasa sangat puas dengan apa yang baru saja Yoona katakan. Yoona merasa lega karena dia sudah mengatakan semua isi hatinya.


"Apa sekarang kamu bersedia menikah denganku?" tanya Alan lagi.


Yoona tidak langsung menjawab pertanyaan Alan, membuat Alan langsung ikut terdiam dan penasaran dengan jawaban dari Yoona.


"Alan menurutku pernikahan tanpa restu orangtua itu tidak baik, jadi aku akan menikah dengan mu jika semua orang merestui pernikahan kita berdua,"


Kini Alan yang tiba-tiba terdiam, dia mengerti apa yang dimaksud oleh Yoona. Yoona menginginkan bahwa dia akan menikah dengan Alan jika orangtua Alan merestui pernihakan mereka. Tentu saja itu sulit karena ayahnya Alan sangat membenci Yoona karena paras dan rupanya sangat mirip dengan Ellie, bahkan dia percaya bahwa Yoona dan Ellie adalah satu orang yang sama.


"Kalau begitu besok kita sama-sama temui ayahku!" ucap Alan sambil menyentuh kedua pipi Yoona.


Yoona pun hanya menganggukan kepalanya dan langsung memeluk Alan dengan erat.


"Hari sudah sangat larut, kamu kembali ke kamar mu sana!" suruh Alan sambil mengecup kening Yoona.


"Ya, good night, Alan!" balas Yoona sekilas mengecup bibir Alan dan langsung berlari kecil ke dalam rumah.


Alan pun hanya tersenyum sambil memandang punggung Yoona yang berlari ke dalam rumah.


Keesokan paginya, Yoona bangun lebih pagi dari ayam jago. Dia langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat sedang memotong-motong sayuran, tiba-tiba Nathan datang menghampirinya dan langsung merebut pisau yang sedang di gunakan Yoona.


"Biar aku bantu kamu masak," ucap Nathan sambil merajang-rajang sayur.


"Bangunnya kenapa pagi sekali?" tanya Yoona heran.


"Aku tidak bisa tidur semalaman," jawab Nathan sedikit cuek.


Ya, bagaimana mungkin Nathan bisa tidur setelah melihat orang yang dia sukai bermesraan dengan laki-laki lain. Hati dan pikirannya terus saja memikirkan apa mungkin Yoona benar-benar calon istri Alan, dan apakah tidak ada kesempatan lagi untuknya.


Nathan terus fokus dengan pisaunya, dia tidak mengatakan apapun jika bukan Yoona yang bertanya kepadanya. Yoona pun merasa heran karena Nathan yang biasanya banyak bicara sekarang berubah menjadi pendiam.


"Nathan, biar aku saja yang memotong sayur!" pinta Yoona sambil hendak merebut pisau dan sayuran yang belum dipotong.


"Tidak, biar aku saja," jawab Nathan jutek.

__ADS_1


Karena terus merasa tidak enak hati, akhirnya tanpa Nathan sadari dia malah mengiris tangannya sendiri. Dia pun langsung meletakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong sayur.


"Ya sudah, kamu saja yang kerjakan," ucap Nathan sambil menyembunyikan jarinya dan pergi begitu saja.


Yoona melihat ada setes noda darah di pisau yang Nathan gunakan tadi. Dia juga melihat bahwa Nathan baru saja menyembunyikan tangannya.


"Haha, kenapa Nathan seperti anak kecil," gumam Yoona sambil tertawa kecil.


Yoona pun langsung membuka lemari dan mengambil kotak obat. Dia langsung mencari Nathan untuk mengobati lukanya.


"Nathan pergi kemana sih?" gumam Yoona sambil mencarinya hingga keluar rumah.


Saat Yoona mencarinya hingga ke halaman belakang rumahnya, terlihat Nathan sedang duduk di bawah pohon mangga. Nathan sedang memainkan ranting pohon sambil menulis sesuatu di atas tanah.


"Apa yang sedang kau tulis??" tanya Yoona yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Hey, kau membuatku terkejut, kenapa kemari bukannya sedang masak?" tanya Nathan sambil mengusap-ngusap tulisan di tanah menggunakan kakinya.


Yoona tidak menjawab pertanyaan Nathan, dia hanya langsung duduk di sebelah Nathan dan mengulurkan tangannya meminta tangan Nathan. "Ulurkan tanganmu!" pinta Yoona.


Dengan wajah bingung Nathan langsung mengulurkan tangan kanannya. Namun, Yoona langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan, maksud ku tangan kiri mu!" pinta Yoona lagi.


"Buat apa sih?" tanya Nathan tidak mau mengulurkan tangan kirinya.


"Sudah sini berikan tangan kirimu, aku tau kau terluka makanya langsung meninggalkan dapur," omel Yoona sambil memaksa menarik tangan kiri Nathan.


"Ini hanya luka kecil" bantah Nathan. "Karena luka besarnya ada di hati," sambungnya lagi dalam hati.


"Luka kecil jika tidak diobati maka akan menjadi infeksi dan menjadi besar," jelas Yoona sambil mengobati jari Nathan.


Nathan hanya terdiam melihat perhatian Yoona terhadapnya. Dia berpikir betapa senangnya jika wanita dihadapannya itu adalah orang yang mencintainya. Namun, fakta berkata lain bahwa Nathan harus melupakannya mulai dari sekarang.


"Yoona, apa kau sungguh mencintai Alan? apa kau benar-benar akan menikah dengannya?" tanya Nathan dengan suara lirih.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2