Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 25 Pesta Reuni Part 2


__ADS_3

Setelah menyapa beberapa Senior beserta Dosen dan Profesor yang juga ikut hadir, Yoona kembali bergabung dengan teman-teman seangkatanya. Dia tidak bersama Nathan karena Nathan masih sibuk mengobrol dengan para orang-orang besar lainnya.


Dari kejauhan Alan masih sibuk memperhatikan Yoona sambil duduk ditemani oleh para pejabat lainnya. Selain Alan ada sepasang mata genit juga yang sedang memperhatikan Yoona dengan penuh nafsu, dia adalah Jasson Yu yang juga hadir karena keluarganya adalah salah satu keluarga terpandang.


Carolin sangat kesal karena Alan tidak memperdulikannya sedikitpun. Dia pun berjalan lalu mengambil minuman dari seorang pelayan dan tidak sengaja bersenggolan dengan seorang wanita.


"Aduhh..!" rintih mereka berdua serempak.


"Kakak Lin??" sapa Merissa orang yang tidak sengaja dia senggol.


"Siapa ya??" tanya Carolin sedikit sinis sambil memicingkan kedua matanya.


"Kakak Lin lama tidak berjumpa kau malah melupakan ku, ini aku Merissa Adric.!!" jawabnya sambil memeluk tangan kanan Carolin.


"Ohh sigadis manja yang bodoh," balasnya dengan wajah meledek.


Merissa terlihat kesal dibilang bodoh oleh Carolin, namun dia bersikap sabar menahan emosinya karena tidak bisa sembarangan membuat masalah dengan Carolin yang dulu terkenal menjadi calon tunangannya keluarga William. Merissa pun hanya membalasnya dengan senyum terpaksa.


"Kak, kenapa kau terlihat sangat kesal??" tanya Merissa berpura-pura baik.


"Seseorang membuatku sangat kesal," jawabnya sambil melihat kearah Yoona.


Merissa pun melihat kearah sekumpulan wanita yang diperhatikan oleh Carolin. Dia melihat ada 2 orang yang dia kenal dan salah satunya adalah Yoona.


"Apa yang kau maksud adalah Yoona gadis yang memakai gaun biru permata itu??" tanya Merissa sedikit ragu, namun Carolin langsung menganggukinnya.


Merissa merasa sangat senang karena Yoona ternyata sudah membuat si artis internasioanl ini merasa kesal dibuatnya, "Yoona kau sungguh hebat bisa membuat masalah dengan calon menantu keluarga Wililam," pikir Merissa.


"Kau mengenalnya juga??" tanya Carolin.


"Tentu saja, dia waktu kuliah terkenal sebagai wanita penggoda pasti sudah banyak laki-laki yang sudah tidur dengannya, kakak ku Nathan Adric saja bisa terpikat oleh godaannya," jelas Merissa.


"Cih, pantas saja Alan bisa terpikat olehnya," ucap Carolin tambah kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kakak Lin kau harus memberinya pelajaran, aku punya rencana bagus," bisik Merissa dan dia langsung memeberitahu rencana liciknya untuk membuat Yoona malu sampai ingin mati.


Carolin langsung menyetujui rencana yang dibuat untuk membuat Yoona merasakan malu yang luar biasa. Merissa menatap Yoona yang sedang mengobrol dengan temannya dengan tatapan senang karena berhasil membuatnya tambah dibenci oleh Carolin.


Saat itu juga ketika Yoona sedang asik mengobrol, seorang pelayan datang membawa beberapa minuman dan menawarkannya kepada Yoona dan teman-temannya. Yoona pun mengambil segelas minuman karena dia juga merasa sedikit haus. Dia langsung meneguk minuman tersebut sedikit demi sedikit sambil sesekali mengobrol dengan temannya.


Carolin yang memperhatikan Yoona dari jauh merasa sangat puas karena dia masuk kedalam jebakannya. Agar rencananya berjalan mulus dia pun menganggu perhatian Alan yang sejak tadi memperhatikan Yoona.


"Alan, apa kau tidak mau ikut minum??" tanya Carolin sambil menawarkan segelas minuman dan berdiri menghalangi pandangan Alan.


"Aku tidak haus," jawab Alan cuek.


"Ayolah minum sedikit saja.!!" Carolin berpura-pura mabuk dan terus sempoyongan memeluk Alan.


Alan merasa sangat risih dengan Carolin yang menurutnya sudah sangat mabuk. Dia lalu membawanya untuk duduk dikursi diluar ruangan pesta. Yoona melihat Alan yang sedang menggendong Carolin, dia terlihat sedikit cemburu melihatnya. Namun dia mencoba untuk tidak peduli dan mengalihkan pandangannya lagi.


Sepertinya lambat laun Yoona merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa tubuhnya seperti bergetar dan jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaannya tidak karuan, tubuhnya terasa sangat gerah padahal didalam sudah banyak AC yang dihidupkan.


"Aduh aku salah makan apa ya, kenapa tubuhku seperti ini??" pikir Yoona sambil menyenderkan tubuhnya kekursi.


"Yoona apa kau sakit, wajah mu memerah??" tanya Dania terlihat sangat khawatir.


"Tidak apa-apa, aku mau ketoilet sebentar ya," ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka.


Saat Merissa melihat Yoona berjalan keluar, dia langsung menghampiri Jasson yang sedang duduk menikmati minumannya. Dia tau bahwa Jasson terkenal sebagai laki-laki playboy.

__ADS_1


"Tuan Jasson, apa kau mau yang segar-segar??" tanya Merissa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Memangnya apa yang lebih segar dari ini??" tanya Jasson sambil menggoyang-goyangkan gelas minumannya.


"Tuh lihat.!!!" balas Merissa sambil melihat kearah Yoona yang sedikit sempoyongan keluar dari ruangan pesta.


Mata Jasson langsung berbinar-binar melihatnya, air liurnya seperti sudah mau menetes dari mulutnya. Dia pun diam-diam langsung mengikuti Yoona yang terlihat tidak baik-baik saja.


Yoona yang sudah berusaha sekuat tenaga berjalan langsung menuju toilet wanita dan berhenti didepan westafel. Dia langsung membasuh wajahnya hingga beberapa kali dan sedikit membasahi tubuhnya agar terasa lebih dingin. Nafasnya semakin tidak beraturan, tubuhnya semakin bergetar dan semakin terasa panas.


"Ahh, kenapa ini apa seseorang sudah memberiku obat," pikirnya sambil meremas dadanya sendiri.


Dia langsung mencoba untuk mencari ponselnya didalam tas, " Sial, aku harus menelepon Sisil," Yoona langsung menelepon sahabatnya.


Namun belum sempat terhubung seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk langsung menepis tangan Yoona membuat ponselnya terlepas dari tangan Yoona dan tergelincir kelantai. Yoona yang terduduk dilantai langsung mendongakan kepalanya untuk melihat siapa orang yang tidak sopan menepis tangannya.


"Halo manis kita bertemu lagi," ucap Jasson sambil membelai leher Yoona.


Lagi-lagi tubuh Yoona langsung bergetar saat tangan Jasson membelai lehernya. Dia langsung menepis tangan Jasson dan mendorongnya hingga tersentak kedinding.


"Sayang kalau sudah seperti ini, penawarnya hanya ada padaku yaitu adik kecil ini," ucapnya lagi sambil mencoba untuk menyentuh tubuh Yoona.


"Jangan harap bisa menyentuhku..!" Dengan sigap Yoona langsung berdiri dan membenturkan kepalanya kedagu Jasson hingga membuat bibir bawahnya berdarah.


"Bagus sekali tenaga mu masih kuat cukup untuk diatas ranjang nanti," balas Jasson sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Disisi lain Alan yang baru saja kembali langsung bingung ketika melihat Yoona sudah tidak ada ditempatnya berdiri. Dia langsung menghampiri teman-temannya dan menanyakan kemana perginya Yoona.


"Dimana Yoona??" tanya Alan kepada temannya Yoona.


"Tuan Alan?" Dania terkejut ketika melihat Alan bertanya kepadanya, "Tadi Yoona pergi ketoilet," sambungnya lagi.


Alan langsung mencari Yoona disetiap toilet wanita namun tidak ditemukan keberadaan Yoona. Saat dia hendak pergi untuk mencarinya ditempat lain, Alan melihat tas tergeletak dibelakang pintu. Dia ingat tas itu adalah tas yang tadi digunakan oleh Yoona, dia juga melihat ponsel yang tergeletak dibawah westafel.


Alan langsung menghubungi bodyguardnya dan menyuruhnya untuk memblokir siapa pun yang keluar dari area pesta. Dia langsung bergegas untuk memeriksa disetiap ruangan.


"Alan..!!" panggil Caroli berlari menghampirinya.


"Apa yang kau cari, tega sekali meninggalkan aku sendiri," ketusnya sambil memeluk tangan Alan.


Alan hanya diam tidak menhiraukan pertanyaan Carolin, dia langsung menepis tangan Yoona dan bergegas lagi mencari Yoona.


Prangg..


Alan menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah benda pecah saat melewati ruangan yang selalu digunakan untuk ruang rapat. Dia langsung membuka pintu dan ternyata ruangan itu dikunci dari dalam. Dengan sekuat tenaga Alan langsung mendobrak pintu itu hingga berkali-kali sampai pintunya terbuka.


Brakk..


Alan terkejut setelah berhasil membuka pintu ternyata langsung melihat pemandangan yang sangat tragis. Yoona dengan tatapan sadis memegang botol pecah yang baru saja dia pukulkan ke kepala Jasson hingga berdarah. Untuk menahan agar dia tetap sadarkan diri dia berkali-kali menggigit bibirnya sendiri hingga berlumuran darah. Saat ini Yoona sudah seperti Psikopat yang hendak menghabisi musuhnya.


"Tu...tuan Alan tolong aku dia mau membunuhku..!!" rengek Jasson sambil merangkak meminta pertolongan kepada Alan.


Alan hanya terdiam sambil memperhatikan situasi, dia melihat Jasson hanya memakai celana boxnya tanpa memakai baju. Sedangkan Yoona terlihat lusuh dengan baju bagian depannya yang robek, sudah jelas bahwa Jasson hendak memperkosa Yoona dan Yoona hanya membela diri dengan memukul Jasson menggunakan botol bir.


"Yoona apa kau baik-baik saja??" tanya Alan sambil menghampiri Yoona yang masih berdiri ketakutan.


"Jangan menyentuhku.!!" teriak Yoona sambil mengarahkan botol pecah kearah Alan.


Dengan sigap Alan langsung menendang botol yang dipegang oleh Yoona hingga botol itu menjadi hancur. Alan langsung merangkul tubuh Yoona dan menutupinya menggunakan jas yang dia kenakan. Dengan sangat lembut Alan langsung mengusap darah yang keluar dari bibir Yoona dengan sapu tangan yang dia bawa. Sepertinya Yoona masih dipengaruhi oleh obat bius yang dia minum tadi sehingga membuat dia menyentuh dada Alan dan merabanya.

__ADS_1


"Ck, Sial manusia terkutuk beraninya berbuat seperti ini," ketus Alan merasa sangat kesal.


Dia lalu berdiri sambil menggendong Yoona, "Urus anak dari keluarga Yan ini dan putuskan semua koneksi kita untuk perusahaannya, biarkan mereka bangkrut hingga mati kelaparan," perintah Alan kepada bodyguardnya dan kepada Alex orang yang sangat dia percaya selain Sammuel.


"Tuan aku mohon jangan buat keluarga ku mati kelaparan..!!" rengek Jasson, sepertinya kali ini tidak ada lagi pengampunan atas masalah yang dia buat untuk yang kedua kalinya.


"Ck, wanita itu kali ini sungguh beruntung," ucap Carolin berdecak kesal.


Saat dikoridor menuju lift, Sisil bersama Nathan langsung menghampiri Alan yang sedang menggendong Yoona yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Alan langsung memicingkan kedua matanya dan langsung segera masuk kedalam lift ketika melihat Nathan.


"Alan biarkan aku melihat Yoona.!!" teriak Nathan mencoba masuk kedalam lift namun dia sudah terlambat pintu lift sudah tertutup.


Nathan langsung segera menyusul Alan menggunakan lift yang disebelahnya,namun karena tidak segera terbuka dia tidak sabar dan langsung berlari menyusulnya menuruni anak tangga.


Ketika sampai dilantai bawah, Nathan langsung berlari menyusul Alan yang sudah mau masuk kedalam mobil, "Alan tunggu apa hak mu membawa Yoona pergi??" teriak Nathan yang membuat emosi Alan menjadi memuncak.


Bukkk,,


Tidak sempat menghindar lagi tonjokan Alan langsung mendarat dipipi kiri Nathan hingga membuatnya tersungkur kelantai.


"Aku membiarkanmu menjadi pasangan Yoona, tapi aku sungguh sangat menyesal sekarang karena kau laki-laki yang tidak bisa melindunginya..!! Buukkk" teriak Alan dan langsung mendaratkan tonjokannya lagi kepipi Nathan.


Nathan hanya terdiam saat mendengar kata-kata Alan dan tidak membalas pukulan darinya. Dia berpikir memang benar apa yang dikatakan Alan, dia tidak bisa melindungi satu wanita yang sangat berharga dihatinya.


"Kenapa diam? Apa kau sekarang baru menyadarinya hah?? Bukk" lagi-lagi Alan menonjok pipi Nathan hingga babak belur.


"Stop hentikan perkelahian ini..!!" teriak Merissa yang langsung melindungi kakaknya.


"Kalian ini laki-laki bodoh bertengkar hanya memperebutkan wanita penggoda itu," sambungnya lagi dan...


Plakkk


Nathan langsung menampar pipi adiknya yang mengatakan hal sembarangan didepannya dan didepan Alan.


"Jaga ucapanmu..!!" bentak Nathan kepada Merissa.


Merissa hanya menangis sambil menyentuh pipinya yang terasa panas.


Alan hanya menatap tajam kearah mereka berdua dan langsung masuk kedalam mobil. Nathan hanya pasrah melihat Yoona yang dibawa pergi oleh Alan. Dia langsung berdiri sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Yoona maafkan aku, aku memang laki-laki lemah yang tidak bisa melindungi mu," gumam Nathan dalam hati.


Nathan pun meninggalkan pesta dan melajukan mobilnya menuju kediaman pribadinya. Dia sungguh menyesali bahwa dia tadi sempat membuat Yoona sendirian hingga insiden yang menimpa Yoona tidak bisa dihindari lagi.


"Yoona sebagai permintaan maafku aku akan mencari dan menghabisi orang yang merencanakan ini semua," pikir Nathan sambil mengepalkan kedua tangannya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like, comment dan Rate 5 🌟 ya readers..!!!🙏😊😊


__ADS_2