Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 22 Cemburu


__ADS_3

Disebuah ruangan terlihat seseorang sedang menyeruput segelas kopi panas sambil terus menatap ponselnya, ya orang itu adalah Nathan Adric. Dia meletakkan gelas kopinya lalu tangannya beralih menyentuh ponsel yang tergeletak diatas meja didepannya. Dia terus saja memandangi layar ponselnya berharap ada seseorang yang mengirim pesan atau mungkin menghubunginya. Tentu saja orang yang dia harapkan adalah Yoona, Yoona akhir-akhir ini tidak pernah lagi memberinya kabar. Membuat Nathan menjadi khawatir dan ingin segera menemuinya.


Nathan berulang kali menghubungi Yoona namun tidak ada jawaban dan selalu sibuk, "Hmm, apa aku kirim pesan saja ya dan ajak dia buat ketemu?" pikir Nathan sambil memutar-mutar ponselnya karena bingung.


Nathan pun akhirnya memutuskan untuk mengirimnya pesan dan mengajak Yoona ketemuan disebuah Caffe. Setelah selesai menulis pesan, Nathan pun kembali sibuk dengan urusan kantornya sambil sesekali melihat ponsel menunggu balasan dari Yoona.


Disisi lain Yoona yang sedang sibuk menemani Alan rapat tidak sempat menyentuh ponselnya. Dia sadar sejak tadi ponselnya itu terus bergetar didalam saku dan Yoona tidak berani untuk mengambilnya. Hingga akhirnya rapat pun selesai dan dia menghembuskan napas leganya.


"Fiuuhh,, akhirnya selesai juga rapatnya," gumam Yoona sambil membereskan berkas-berkas diatas meja sedangkan yang lainnya keluar dari ruang rapat terkecuali Alan.


Alan terus saja menatap Yoona yang sedang sibuk menyusun berkas dan merapikan semua peralatan diruang rapat. Karena posisinya yang membelakangi Alan, Yoona tidak sadar bahwa Alan masih belum keluar dari ruangan dan terus saja dengan santai bernyanyi sambil berjoget-joget menggoyangkan pinggulnya kekanan dan kekiri. Alan terus menahan tawanya melihat tingkah Yoona yang sangat lucu, hingga akhirnya Yoona menoleh kearah Alan.


Yoona tercengang ketika berbalik ternyata masih ada orang lain selain dirinya dan dia adalah bossnya. Bukan main lagi rasa malu yang dia rasakan saat ini, dia langsung memutar balik badannya menyembunyikan rasa malunya.


"Arghh sejak kapan kau masih disini bos??" tanya Yoona sambil menutup wajahnya membelakangi Alan.


"Ya tentu saja sejak tadi aku masih ada disini," jawab Alan sambil menghampiri Yoona.


Yoona langsung menghindari Alan dan berpura-pura merapikan dokumen yang padahal sudah tersusun dengan rapi diatas meja.


"Kalau kau pintar bernyanyi, kenapa tidak jadi artis saja diperusahaanku.!" ucap Alan terlihat sedikit mengejek.


"Huh, bilang saja kalau suara ku jelek," ketus Yoona lalu berjalan dengan membawa dokumen dan meninggalkan Alan.


Alan hanya tersenyum tipis melihat Yoona yang menahan malunya. Selama ini orang yang selalu membuatnya tersenyum senang hanya Ziyan. Namun semenjak kehadiran Yoona hanya memikirkannya saja sudah bisa membuatnya tersenyum bahagia. Menurutnya permata yang dulu sempat hilang kini kembali walau sudah berbeda warna.


Yoona yang masih sangat malu langsung meneguk sebotol air mineral dalam sekali minum. Setelah merasa tenang dia lalu merogoh ponselnya didalam saku lalu melihat siapa yang sejak tadi membuat ponselnya terus saja bergetar.


"Ya ampun, ternyata senior Nathan menelepon ku hingga lima kali.!" gumam Yoona sedikit terkejut.


Yoona juga langsung membuka satu pesan dari Nathan,


**Pesan Masuk**


Senior Nathan: Yoona jika kau sudah tidak sibuk lagi segeran balas pesanku dan ayo kita ketemu di Caffe Sweet.


Yoona merasa sangat senang ketika membaca pesan dari Nathan yang mengajaknya untuk ketemu, dia langsung membalas setuju untuk bertemunya di Caffe Sweet jam makan siang nanti.


Setelah jam makan siang tiba, Yoona langsung bergegas pergi ketempat yang sudah dijanjikan. Namun sebelum dia pergi Yoona terlebih dahulu mengajak Sisil untuk pergi bersama. Mereka berduapun pergi bersama ke Caffe Sweet yang tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor mereka.


Setelah sampai disebuah Caffe mereka langsung masuk dan mata Yoona langsung melihat kesemua sudut ruangan untuk mencari sosok Nathan. Pandangan Yoona terhenti disebuah sudut Caffe yang tidak ramai oleh pengunjung, dia melihat Nathan sedang duduk dengan santai terlihat seperti bunga segar yang sangat menawan dimata Yoona.


"Senior Nathan.!!" sapa Yoona dan Sisil serempak membuat Nathan langsung menoleh kearahnya.


"Hey, kalian berdua??" tanya Nathan sedikit kecewa karena Yoona ternyata tidak sendiri.


"Iya Nathan, tidak apa-apa kan aku ngajak Sisil,??" tanya Yoona dan Sisil hanya tersenyum sambil menyapa Nathan dengan lambaian tanganya.


"Iya tidak apa-apa," balas Nathan sambil tersenyum.


Mereka pun memesan makanan dan minuman favorite mereka, sambil sesekali bergurau dan mengobrol tentang apapun. Nathan merasa lega karena ternyata Yoona terlihat baik-baik saja. Masih tergurat wajah ceria dan senyum ramahnya Yoona yang selalu dipamerkannya setiap saat.


"O iya Na, kamu akhir-akhir ini sibuk banget ya sampai lupa sama aku?" tanya Nathan membuat Yoona berhenti mengunyah.


Yoona terdiam sejenak dan berpikir, akhir-akhir ini memang banyak hal yang tak terduga dalam hidupnya. Mulai dari masalah kecil yang selalu membahayakan hidupnya, ada anak kecil yang selalu memanggilnya mama, hingga seseorang yang selalu menganggap dirinya adalah Ellie, dan masih banyak lagi hal tak terduga akhir-akhir ini membuat Yoona hampir melupakan Nathan orang yang selalu dia kagumi itu.


"Ssuttt, senior Nathan nanya kamu malah bengong," bisik Sisil sambil menyenggol bahu Yoona dan dia pun langsung tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Ehh maaf kak, itu aku sekarang mulai kerja diGroup STARIN jadi sedikit sibuk," jawab Yoona sedikit gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wahh hebat kamu, selamat ya akhirnya bisa masuk juga keperusahaan impian kamu selama ini,!" ucap Nathan memberi selamat.


Yoona lagi-lagi terdiam dengan senyum hampanya, dia sebenarnya juga tidak tau dan tidak ingat sejak kapan dia sangat ingin masuk keperusahaan STARIN. Saat itu Yoona pernah ingin masuk keperusahaan yang dipegang Nathan, namun tidak tau kenapa hatinya selalu memandang dan sangat ingin masuk keperusahaan STARIN dan ditambah lagi oleh dorongan dari ibunya.


"Kamu masuk Manajement apa??" tanya Nathan penasaran.


"Mmm, aku lagi magang buat jadi Asisten Ceo," jawab Yoona sedikit ragu.


Nathan langsung mengkerutkan keningnya ketika mendengar jawaban dari Yoona, "Sejak kapan STARIN mau mengangkat karyawan yang belum berpengalaman kerja menjadi Asisten CEO langsung, aku pikir orang yang bisa berdiri disamping CEO bukan orang sembarangan," pikir Alan merasa tidak masuk akal.


"Haish, pasti Senior Nathan berpikir bagaimana mungkin orang biasa sepertiku bisa jadi Asisten CEO langsung, tentu saja karena aku ngambil jalan pintas," Gumam Yoona dalam hati.


Sisil yang merasa canggung berada ditengah-tengah mereka yang tiba-tiba saling diam langsung mencoba mengalihkan pembicaraan membuat suasana agar tidak canggung.


"Ehm ehm," Sisil berdehem dan langsung membuat perhatian Nathan dan Yoona tertuju kepadanya.


"Nanti malam ada pesta reunian Alumni semua angkatan loh, hadir yuk.!!" ajak Sisil dengan sangat antusias.


"Aku tidak suka tempat ramai," ketus Yoona sambil menghisap minumanya.


Nathan juga menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak akan ikut jika Yoona tidak ikut juga.


"Ayolah pliss.!! Sekali ini saja ya kan kamu bisa pakai penutup telinga," rengek Sisil kepada Yoona.


Yoona tidak tega melihat sahabatnya yang terus merengek, ingin rasanya dia menolak namun melihat Sisil adalah sahabatnya dia pun tidak tega untuk menolaknya. Akhirnya Yoona pun mengiyakan ajakan Sisil.


"Oke deh nanti malam kita kesana," balas Yoona dan membuat Sisil jadi sangat semangat.


"Kalau begitu aku juga akan mengusahakanya untuk berangkat," ucap Nathan.


Saat tiba didepan gedung, Alan tidak sengaja melihat Yoona turun dari dalam mobil Nathan. Dia langsung menunjukan wajah tidak senangnya, karena dia dari tadi mencari Yoona dan terus menghubunginya untuk mengajaknya makan siang namun dia tidak ada dimana-mana dan nomornya selalu sibuk.


Alan merasa sangat kesal dan langsung berjalan menuju kantornya. Sepanjang koridor Alan memasang wajah dingin yang sangat mencekam tidak seperti biasanya membuat para keryawan menjadi takut untuk menyapanya.


"Sepertinya boss kita sedang dalam mood yang jelek," bisik salah satu karyawan kepada temannya.


"Berani sekali orang itu, siapa yang berani membuat boss jadi marah," balas temannya lagi yang sedikit terdengar ditelinga Alan.


Alan langsung menoleh kepada orang yang berbisik dengan tatapan menakutkan membuat mereka langsung tertunduk karena merasa bersalah sudah berbisik didepannya.


"Ya kalian benar, orang itu sangat berani membuatku menjadi marah," pikir Alan sangat geram.


"Merry, suruh Asisten bodohku itu segera menemuiku.!" perintahnya kepada Merry dan langsung diangguki olehnya.


Setelah beberapa saat Yoona langsung bergegas kekantor Alan dengan langkah yang sedikit menekan dan ekspresi wajah yang ditekuk. Tanpa ragu dia langsung membuka pintu ruangan Alan.


Brakk..


"Siapa yang bilang aku bodoh.!!" bentak Yoona sambil membuka pintu dengan kasar membuat Alan yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak.


Uhukk...uhukk,


"Astaga kenapa gadis ini sangat emosian, dia bahkan tidak ada rasa takut diwajahnya saat membentakku," gumam Alan dalam hati sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.


Yoona masih menatap Alan dengan tatapan yang tajam, tetapi Alan hanya menundukan wajahnya dengan santai sambil menandatangani beberapa dokumen.

__ADS_1


"Emosimu sangat buruk," ucap Alan tanpa menoleh Yoona.


Yoona hanya mengkerutkan keningnya dan dengan santai langsung duduk dikursi didepan meja Alan sambil melipatkan kedua tanganya didada.


"Kalau mau menghinaku jangan menyuruh orang lain," ketus Yoona dengan nada tidak senang dan menatap sinis kepada Alan.


Alan langsung meletakkan penanya dan manaruh tumpukan dokumen disampingnya. Dia mulai mengalihkan perhatiannya kepada Yoona.


"Kenapa kau menatapku begitu??" tanya Yoona heran.


"Kau memang wanita bodoh, pergi kemana kau siang ini??" tanya Alan.


Yoona langsung memalingkan wajahnya dan bersikap tidak peduli. Alan langsung merasa sangat kesal karena tidak dipedulikan oleh Yoona.


"Tanpa seizinku dijam kantor kau berani keluar dengan laki-laki.!" bentak Alan yang tiba-tiba merubah ekspresinya.


"Boss besar ini Moodnya sangat jelek,kenapa sih?" pikir Yoona dalam hati.


"Kau memang bosnya, tapi aku pergi saat jam istirahat jadi tidak ada hubungannya dengan mu, aku bebas pergi dengan laki-laki manapun," balas Yoona sambil mengangkat kedua bahunya.


"Apa, dia bilang bebas pergi dengan laki-laki manapun???" emosinya langsung memuncak saat Yoona mengatakan kata itu. Alan marah, cemburu bercampur aduk perasaan yang sedang dia rasakan saat ini.


Yoona langsung menciut melihat ekspresi Alan yang sangat menakutkan itu, dia berpikir tidak ada yang salah dengan kata-katanya barusan. Bagian mananya yang membuat Alan tersinggung dan menjadi marah.


"Yoona mulai detik ini jangan pergi kemanapun tanpa seizinku, apalagi jika bersama pria lain..!!" ucap Alan dengan nada yang sangat menekan dan tatapan yang menakutkan.


"Kenapa apa kau cemburu jika aku pergi bersama pria lain?" tanya Yoona dengan seenaknya saja dia bertanya.


Degh..


Jantung Alan langsung berdegup kencang saat Yoona bertanya apa dia cemburu? Pipinya langsung memerah dan Alan menjadi salah tingkah. Ya kenyataannya memang benar dia cemburu jika Yoona pergi atau bertemu dengan pria lain. Namun sikap gengsinya untuk mengakuinya bahwa dia cemburu sangat tebal. Dia tidak akan mengaku cemburu walau dipojokan seperti apapun.


"Kau.. Wajahmu memerah, apa yang aku katakan benar??" tanya Yoona sembarangan sambil melebarkan senyumnya.


Alan menjadi tambah salah tingkah dan langsung mengusir Yoona dengan alasan menyuruhnya untuk memberikan dokumen kepada GM Sam.


"Sudah diam.!! Ini waktunya kerja kalau kau tidak ingin ku bilang bodoh, cepat kerjakan dokumen ini dan berikan kepada Manager Sam.!!" ujar Alan.


Yoona pun langsung segera keluar dari kantornya Alan dengan membawa dokumen yang harus dikerjakan.


"Huh, dasar kenapa tidak bilang saja kalau dia cemburu," Cetus Yoona sambil memanyunkan bibirnya.


Tapi tiba-tiba saja jantungnya sendiri juga jadi berdegup kencang memikirkan Alan, "Jika Alan benar-benar cemburu, apa itu tandanya dia menyukaiku?" pikir Yoona dalam hati.


Namun seketika dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyadarkan bahwa mana mungkin Alan cemburu dan menyukainya. Karena masih banyak diluar sana wanita cantik dan kaya yang lebih pantas Alan sukai, bukan dirinya yang merasa seperti figuran diantara Alan dan Ziyan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Like dan Commentnya jangan lupa ya..!!😊


__ADS_2