
Saat jam makan siang, Alan mengajak Yoona untuk makan siang disebuah Restaurant. Namun Yoona menolaknya dan lebih memilih makan dikantor karena lebih asik dan bisa membuat dia lebih dekat dengan teman-teman kantornya.
"Halo semuanya.!! Boleh gabung tidak??" tanya Yoona sambil membawa kotak nasi.
"boleh dong," jawab beberapa keryawan yang terlihat ramah.
Yoona duduk disebelah para karyawan wanita, Yoona melihat kekanan dan kekiri mencari Sisil kalau saja dia ada disini.
"Kau mencari siapa??" tanya Dania yang melihat Yoona seperti mencari seseorang.
"Aku mencari temanku Sisil, sepertinya tidak disini??" jawab Yoona.
"Disini hanya orang-orang yang bekerja dikantor CEO, selebihnya mereka mungkin makan siang dibawah." jawab Roy temanya Dania.
Yoona hanya mengangguk paham dengan apa yang dikatakan mereka, dia pun lalu memakan bekalnya yang dia bawa tadi pagi.
"Hey kau terlihat sangat ramah, aku kira kau sangat menyebalkan.!" ujar Dania disela-sela makannya dan Roy pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Dania.
"Apa aku terlihat seburuk itu?" tanya Yoona menghentikan makannya, "Aku disini bekerja untuk mencari uang bukan untuk mencari musuh," sambungnya lagi membuat Dania dan Roy saling tatap mata.
"Lalu kenapa waktu itu kau menindas Sekretaris Lina?" tanya Roy dengan wajah serius.
"Kalian dengar aku akan membalas seribu kebaikan kepada orang yang baik padaku, begitupun sebaliknya aku akan membalas seribu kejahatan dengan orang yang jahat kepadaku, madu dibalas madu, racun dibalas racun.!!" ucap Yoona dengan sangat tegas sambil berdiri menatap semua orang seolah-olah memberi peringatan agar tidak ada yang berani macam-macam dengannya.
"Dan buat kalian semua jika ada yang menindas kalian karena ada orang yang iri terhadap kemampuan kalian, ayo kita lawan sama-sama.!!" sambungnya lagi sambil mengepalkan satu tangannya.
Semua orang tercengang mendengar kata-kata Yoona, ada yang menatap takut dan ada juga yang menatap kagum dengan sikap tegas Yoona yang hampir mirip dengan Presdir mereka.
Dania dan Roy menatap kagum kepada Yoona, Yoona lalu duduk kembali dan melanjutkan makan siangnya. Semua orang masih menatap Yoona, dia baru sadar kalau semua orang ternyata menatap dirinya.
"Kenapa apa kata-kata ku salah? Apa ada yang merasa tersinggung??" tanya Yoona sedikit menekan.
Tiba-tiba saja semua orang yang berada didalam ruangan bersama Yoona langsung memberikan tepuk tangan. Mereka semua senang bisa satu kantor dengan Yoona, walau dia berada disisi Presdir namun Yoona sama sekali tidak sombong dan mau berteman dengan siapa pun. Akhirnya Yoona memiliki banyak teman terutama Dania dan Roy.
"Asisten Yoona??" panggil seseorang membuat suasana ramai menjadi tiba-tiba hening.
"Ya??" jawab Yoona singkat.
"Dalam waktu 5 menit, Presdir ingin anda agar segera berada dihadapanya.!!" ucapnya lalu berbalik meninggalkan ruangan.
"Mampuslah, apa dia marah gara-gara aku menolak untuk makan siang dengannya, sikapnya hari ini sungguh aneh," pikir Yoona dalam hati.
Yoona lalu membereskan kotak makan siangnya,"Aku duluan ya.!" ucap Yoona kepada teman-temannya.
"Semangat Yoona..!" Dania dan Roy memberi semangat kepada Yoona yang membuat dia merasa tenang karena sudah memiliki teman dikantornya.
Yoona menarik napasnya dalam-dalam menyiapkan mentalnya untuk bertemu Alan yang menurutnya sedang mengalami mood yang jelek.
"Huuft, oke sudah siap," ucap Yoona sambil merapikan diri.
Tokkk..tokkk
Yoona mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam kantornya Alan. Benar saja saat Yoona masuk kedalam, Alan terlihat sangat menakutkan dengan hawa dingin disekitarnya. Dengan memberanikan diri Yoona melangkahkan kakinya untuk berdiri dihadapan Alan.
__ADS_1
"Bos ada apa memanggilku?" tanya Yoona dengan sangat berhati-hati.
"Apa sudah selesai makan siangnya?" Alan malah berbalik bertanya kepada Yoona.
"Ya aku sudah selesai," jawab Yoona singkat.
"Kalau begitu ayo temani aku makan siang.!" ajak Alan sambil berdiri dari tempat duduknya.
Yoona terkejut saat dia menolak untuk makan siang bersamanya, dia kira Alan akan makan siang bersama Sekretarisnya. Namun ternyata tidak, Alan malah menunggu Yoona hingga dia selesai makan siang bersama teman-temannya.
"Boss jadi kau belum makan siang? Kenapa kau tidak makan siang dari tadi??" tanya Yoona dengan nada tidak percaya, "Apa kau benar-benar menungguku??" sambungnya lagi sambil memiringkan wajahnya untuk menatap wajah Alan.
Namun Alan hanya diam tidak menjawab satu pun pertanyaan Yoona. Alan merasa sangat malu untuk mengakuinya bahwa dia memang menunggu Yoona untuk menemaninya makan siang.
"Ini jam makan siangnya Ziyan juga, ayo kita ketempat yang dekat dengan sekolahnya Ziyan.!!" ajak Yoona sambil melebarkan senyumnya.
Alan terkejut walau Yoona hilang ingatan, tapi perhatiannya terhadap Ziyan tidak bisa disembunyikan. Dia berpikir mungkin ikatan batin antara ibu dan anak tidak bisa diingkari.
"Ayo," jawab Alan sambil menunjukan senyum tipisnya dan mereka pun melaju menuju sekolah Ziyan.
Sesampainya disekolah Ziyan, Yoona langsung berjalan menemui guru pembimbing, sedangkan Alan menunggunya didalam mobil. Dia meminta izin kepada guru pembimbing agar mengizinkan dia membawa Ziyan untuk makan siang diluar sekolah. Setelah berbincang-bincang akhirnya Ziyan pun diizinkan untuk keluar dijam makan siang.
"Mama...!!" teriak Ziyan sambil berlari dan mendarat dipelukannya Yoona.
"Oh jadi itu ibunya Tuan muda kecil William, dia sangat cantik dan elegan." ucap seorang guru yang melihat Yoona dari jauh.
"Serasi sekali dengan tuan muda Alan,cantik terlihat tegas namun sangat lemah lembut," ucap seseorang lagi.
"Ayo tunggu apa lagi??" tanya Alan.
"Yey kita makan siang bersama.!" ucap Ziyan dengan wajah bahagia sambil memeluk Alan dan Yoona.
"OMG, aku seperti melihat keluarga pangeran, mereka semua membuat ku meleleh." ucap seseorang yang terlihat kagum melihat keharmonisan mereka.
Yoona hanya terlihat semakin bingung dengan sikap Alan, "Kenapa dia seolah-olah seperti menunjukan bahwa kita ini adalah keluarga bahagia.!" gumam Yoona dalam hati.
Mereka bertiga pun berhenti disebuah Restaurant yang tidak jauh dari sekolah Ziyan. Mereka duduk disebuah tempat ruang VIP yang menyuguhkan pemandangan alam buatan yang terlihat sangat indah.
"Permisi..!! Nona dan tuan muda apa yang anda pesan??" tanya seorang pelayan dengan sangat sopan.
"Apa saja yang penting buka Seafood," jawab Yoona dan Ziyan serempak.
Alan sedikit terkejut mendengar selera makan mereka yang sama, "Kenapa kau tidak menyukai Seafood?" tanya Alan penasaran.
"Aku alergi makanan laut perutku akan sakit jika memakan itu," jawab Yoona.
"Mama, kita sama, perutku juga akan sakit jika memakan makanan laut." Saut Ziyan sambil mengelus-ngelus perutnya.
"Ehh kenapa kita sama ya?" tanya Yoona, mereka pun sibuk berbincang-bincang membicarakan apapun kesamaan mereka dan apa yang mereka tidak sukai.
Ternyata banyak persamaan antara Yoona dan Ziyan, membuat Alan semakin yakin bahwa Yoona adalah Ellie yang tiba-tiba menghilang 5 tahun yang lalu.
"Kak Adnan sepertinya aku sudah menemukan Ellie, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Alan dalam hati.
__ADS_1
Ketika mereka sedang asik makan bersama, dari kejauhan terlihat seseorang melihat Alan dan langsung menghampirinya. Dia adalah paman Alan yang baru saja pulang dari New York. Namanya adalah Frenki, dia adalah adik dari fredy William namun beda ibu satu ayah.
"Hey Alan lama tidak bertemu..!!" sapa Frenki yang langsung menghampiri Alan dan menepuk bahunya.
"Paman??" Alan langsung memasang wajah tidak senang, karena pamannya yang satu ini secara halus diam-diam selalu mencari masalah dengan keluarganya.
"Bagaiman kabarmu??" tanya Frenki berpura-pura ramah.
"Baik," jawab Alan singkat.
Pranggg..
Suara gelas pecah membuat Alan dan Frenki mengalihkan perhatiannya tertuju kepada Yoona, Yoona terkejut sampai tidak sengaja menjatuhkan gelas yang dia pegang, tidak tau kenapa jantung Yoona berdebar kencang dan dia merasa sangat takut ketika melihat pria yang dipanggil paman oleh Alan. Keringat dingin mengguyur dari wajah hingga keseluruh tubuhnya dan membuat wajahnya menjadi sangat pucat.
Frenki langsung memicingkan kedua matanya ketika melihat Yoona, "Siapa dia??" tanya Frenki kepada Alan.
"Maaf paman kami sedang makan siang," ucap Alan secra halus ingin mengusir pamannya.
"Oh hahaha, baiklah, baiklah kalau begitu selamat menikmati makan siang kalian, aku juga sedang ada urusan," ucap Frenki dan pergi sambil melirik Yoona dengan tatapan yang aneh.
Alan langsung menghampiri Yoona dan memeriksa keadaannya, "Yoona kau kenapa??" tanya Alan terlihat sangat khawatir.
"Arghh sakit.. Kepalaku sakit,!!" rintih Yoona hingga terduduk kelantai.
Yoona terus saja merintih kesakitan sambil mencengkram kepalanya karena terasa sangat sakit, sesekali ingatan yang seperti bayangan lewat terus saja berputar didalam kepala Yoona. Didalam kepalanya saat ini seperti ada sepenggal ingatan yang terlihat samar-samar menunjukan seorang pria yang terus mengancam untuk membunuhnya.
"Siapa??. Siapa pria itu dia seperti seseorang yang selalu membuat mimpi ku manjadi mimpi buruk, dan ingatan apa yang terbayang dikepala ku,??" pikir Yoona sambil terus mencengkram kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Mama tolong jangan buat aku takut," rengek Ziyan dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Argghhh kepala ku sakit..!!" teriak Yoona membuat Ziyan ketakutan.
"Papa lakukan seauatu.!!" bentak Ziyan kepada Alan.
"Yoona apa kau bisa mendengarku..??" tanya Alan sambil mendekap tubuh Yoona.
Yoona terus saja merintih kesakitan hingga membuatnya menjadi tidak sadarkan diri. Alan pun langsung membawa Yoona kerumah sakit. Sepanjang perjalanan Alan terus memeluk tubuh Yoona karena dia merasa sangat takut melihat Yoona yang tiba-tiba saja kesakitan. Dia sungguh tidak ingin kehilangan Yoona untuk kedu kalinya.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa kasih dukungan buat Author dengan cara Vote, rate, Like dan Comment ya..!!!🙏🙏
Terimakasih.
__ADS_1