
Waktu sudah menunjukan jam 8 malam, hari ini Alan menyuruh Yoona untuk membantunya mengerjakan dokumen-dokumen hingga larut. Yoona sudah terlihat sangat lelah dia sudah berkali-kali meregangkan tangannya sambil melirik Alan yang masih fokus dengan kerjaannya.
"Dia kan Bosnya kenapa tidak menyuruh karyawannya saja untuk lembur, malah dia sendiri yang lembur dan masalahnya adalah kenapa aku juga diajak," gerutu Yoona sambil memonyongkan mulutnya karena kesal.
Alan tau bahwa Yoona sudah terlihat kesal menemaninya lembur, tapi dia tidak ingin ditinggalkan oleh Yoona sendirian.
"Apa kau sudah siap menyalin Dokumen itu??" tanya Alan sambil melepas kacamatanya.
"Tentu saja sudah, kau sengaja kan menyuruhku hanya untuk terus menyalin dokumen tidak penting ini. Padahal niat mu hanya untuk menemanimu lembur??" cetus Yoona sambil berdiri dan langsung menghampiri Alan.
Alan hanya diam sambil tersenyum tipis menatap Yoona yang ekspresi wajahnya sudah sangat kesal.
Dia pun berkata "Tidak tau kenapa aku lebih suka dengan sikap mu yang sekarang ketimbang yang dulu," ucapnya.
Yoona langsung mengkerutkan keningnya ketika mendengar kata-kata Alan yang selalu membandingkan dia dengan seseorang yang tidak Yoona pahami. Dia sudah tidak tahan lagi dengan Alan yang selalu berpikir bahwa Yoona adalah orang yang dia kenal.
"Hey dengar.!! Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan mu itu yang jelas diriku tetaplah diriku jangan dibandingkan dengan siapapun, paham..!!" jelas Yoona dengan nada yang sangat menekan.
Lagi-lagi Alan hanya tersenyum tipis mendengar celoteh Yoona yang terlihat menggemaskan dimatanya. Dia menyembunyikan senyumnya dengan jari-jari yang ia silangkan didepan wajahnya.
"Aku tidak mau lagi menemanimu lembur.!!" Ketus Yoona sambil melipatkan kedua tangannya didada.
Alan pun langsung berdiri sambil membereskan beberapa dokumen dimejanya, "Baiklah ayo kita pulang.!" Ucapnya dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Yoona. Mereka pun langsung meninggalkan kantor dan langsung menuju rumah Alan.
Di sepanjang perjalanan Yoona terus saja bersikap cuek kepada Alan, dia bahkan tidak mengajaknya bicara dan selalu mengabaikan setiap kata yang keluar dari mulut Alan. Yoona hanya memandang kosong jalanan yang terlihat tidak pernah sepi walau sudah sangat malam.
"Hey, apa begitu sikapmu kepada orang yang sudah menolongmu..!!" gerutu Alan.
"Memangnya apa yang kau lakukan??" tanya Yoona sambil mengkerutkan keningnya.
"Aku baru saja menyelesaikan skandal mu didalam berita, apa kau tidak tau itu??" ucap Alan sambil mengerucutkan bibirnya.
Karena pekerjaan yang diberikan Alan membuat Yoona sibuk seharian sampai melupakan kasusnya yang sedang viral diberita dalam TV atau pun Media Sosial. Yoona kembali terkejut ketika mengingat tentang skandalnya yang difitnah sudah tidur bersama pria lain. Dia langsung menatap Alan dengan wajah serius sambil mencengkram kuat tangan Alan.
"Astaga aku melupakan kasusku sendiri, bagaimana ini aku pasti jadi bahan pembicaraan seluruh dunia.!!" teriak Yoona dan tidak sadar membuat Alan kesakitan.
"Kaget sih boleh tapi tanganmu sudah seperti sedang menggigit tangan ku, aduhh..!" Rengek Alan dan Yoona langsung melepaskan cengkramannya.
"Maaf, haduh bagaimana ini..!!" ucap Yoona berpindah mencengkram kepalanya sendiri.
"Apa kau sungguh sudah melupakannya seharian ini??" tanya Alan sambil menarik tangan Yoona agar tidak menyakiti kepalanya sendiri, Yoona pun hanya mengangguki pertanyaan Alan.
Alan tersenyum tipis, ternyata dia berhasil membuat Yoona melupakan masalahnya. Dia dengan sengaja memberikan Yoona setumpuk berkas untuk di salin dan diperiksa kembali. Dia tidak ingin membuat Yoona stres gara-gara skandal yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
"Sudah-sudah, apa kau tidak mendengarnya bahwa aku tadi bilang masalah itu sudah selesai," ucap Alan sambil mengelus rambut Yoona.
"Apa kau serius??" tanya Yoona lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Alan pun langsung menganggukinya sebagai jawaban iya dari pertanyaan Yoona.
"Huuaaa.. Kau memang penyelamatku..hikss." Yoona memeluk tangan Alan dan menumpahkan tangisannya.
Alan langsung menghembuskan napas leganya melihat Yoona yang sudah terlihat baik-baik saja. Sebelumnya dr. Vian pernah berkata kepada Alan bahwa Yoona tidak boleh sampai stres agar tidak mempengaruhi kinerja otaknya. Jika lobus temporal otaknya terpengaruhi lagi maka akan sulit baginya untuk mengingat sesuatu di waktu yang sudah terlewati.
"Sebagai balasannya kau harus selalu tinggal bersama Ziyan.!" ucap Alan.
Yoona langsung terdiam memikirkan kata-kata Alan,
"Ini permintaan atau pemaksaan??" tanya Yoona.
"Dua-duanya..!!" jawab Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Yoona hanya bisa diam tidak bisa membantah kemauan bos besar itu. Walau Yoona menolaknya Alan kapanpun bisa menyeret dia agar bisa menuruti semua kemauannya.
__ADS_1
Setibanya dirumah Alan, saat Yoona turun dari mobil terlihat seseorang sedang berdiri didepan mobil sambil bertolak pinggang. Ya dia adalah Carolin yang sedang menunggu Alan diluar rumah.
Ketika melihat Yoona dia sedikit terkejut karena Yoona semobil dengan Alan dah bahkan Alan mengajaknya kerumah secara pribadi.
"Kenapa kau kemari??" tanya Carolin dengan wajah sinis.
"Kenapa aku kemari?? Tentu saja karena Alan memaksaku," jawab Yoona dalam hati.
Yoona tidak peduli dengan pwrtanyaan Carolin dia langsung berjalan melewatinya dan hendak masuk kedalam rumah. Namun dengan sigap Carolin langsung mencengkram bahunya untuk menghentikan langkah Yoona.
"Tunggu kau belum menjawab pertanyaanku,.!" ketus Carolin.
"Dia tingal disini," jawab Alan singkat sambil menepis tangan Carolin dari bahu Yoona.
Carolin terkejut bukan main, pasalnya dia tidak pernah sekalipun diajak atau diizinkan masuk kerumahnya oleh Alan. Namun dia tidak menyangka dengan santainya dia bilang bahwa Yoona tinggal dirumahnya.
"Haha.. Alan kau bercanda kan??" tanya Carolin tidak percaya.
Namun dengan sikap dinginnya Alan berjalan bersama Yoona tidak memperdulikan keberadaannya Carolin. Carolin merasa sangat kesal dan langsung melempar Alan menggunakan tasnya.
Bukkk..
"Carolin kau jangan keterlaluan..!!" Bentak Alan yang dengan sigap langsung menangkis tas yang dia lempar.
Tidak sengaja sesuatu jatuh dari dalam tas Carolin, Alan melihatnya dan langsung mengambil botol yang berukuran sangat kecil berisi bubuk obat.
Alan menjadi sangat marah saat mengetahui bahwa botol kecil itu berisi bubuk obat bius. Dia langsung menatap Carolin dengan tatapan seolah-olah mau membunuhnya. Alan langsung menghampiri Carolin dan langsung mencengkram lehernya.
"Arghhh Alan sakittt..!!" Rengek Carolin sambil mencoba untuk melepas cengkraman tangan Alan.
"Katakan padaku apa malam itu kau yang mencoba untuk mencelakai Yoona??" tanya Alan dengan suara pelan namun sangat mencengkam.
"Uhukkk.. Uhukkk.. Bukan, bukan aku," Carolin kesakitan hingga dia terbatuk-batuk.
Yoona yang melihat Alan seperti sudah mau membunuh Carolin langsung menghampirinya dan langsung mencoba untuk menghentikan Alan. Dengan kekuatannya Yoona melepaskan cengkraman tangan Alan yang mencekik leher Carolin.
Carolin langsung terjatuh ketanah dan tubuhnya terasa sangat lemas. Betapa menakutkannya Alan ketika sedang marah membuat siapapun yang dihadapannya menjadi mati rasa.
"Saat itu kau berpura-pura mabuk kan agar perhatianku teralihkan, karena setelah itu aku kembali sudah tidak melihat Yoona lagi dan ternyata dia sudah diberi obat. Jika aku terlambat sedikit saja dia akan celaka seperti yang rencanakan, dan jika itu terjadi aku juga tidak akan mengampunimu.!!" Kata-kata Alan membuat Carolin merinding hingga ketulang.
"Bukan aku..." ucap Carolin dan..
Plaakkkk
Alan langsung menampar Carolin hingga dia tersungkur ketanah.
"Dengan seberapa pun kau membela diri bukti sudah ada didepan mata.!!" Bentak Alan.
Alan langsung menarik tangan Yoona dan membawanya kedalam rumah. Sedangkan Carolin masih terisak menangis bukan hanya tidak dipedulikan lagi oleh Alan, namun Alan sekarang sudah sangat membencinya.
"Alan, lihat saja nanti kau akan menjadi milikku cepat atau lambat.!!!" Gumam Carolin lalu pergi dari kediaman Alan.
Yoona yang terlihat sedikit terkejut langsung berjalan menuju kamarnya. Alan membiarkan Yoona untuk pergi istirahat dan tidak membiarkan satu pun boleh mengganggunya. Sedangkan dia juga kembali kekamarnya untuk beristirahat.
Drrtttt..drrtttt
Baru saja dia mau merebahkan tubuhnya keatas kasur, ponselnya bergetar membuatnya harus terbangun lagi untuk melihat siapa yang meneleponnya diwaktu yang tidak tepat.
"Halo"
"Aku mau 5 menit kau sudah sampai dihadapanku tidak peduli kau sedang berada dimana.!!" ucap seseorang dari dalam telepon.
"Kau mabuk??" tanya Alan sambil mengkerutkan keningnya.
Tuttt.. Tuutttt
__ADS_1
Sambungan tiba-tiba saja terputus, Alan pun langsung memakai baju casualnya ditambah dengan jaket untuk melindunginya dari hawa dingin dan langsung bergegas menuju bar.
🍃🍃🍃
Disisi lain di sebuah bar, Yandha William terlihat sedang minum seorang diri diruangan VIP. Dia hanya ditemani oleh seorang pelayan yang berdiri disebelahnya. Sambil meneguk segelas anggur sedikit demi sedikit dan tangan kirinya memutar-mutarkan setangkai bunga mawar merah.
"Tuan muda, jika anda terus memainkan mawar merah itu tangan anda bisa terluka..!!" Ucap seorang pelayan dengan sangat hati-hati memperingatinya.
"Kalau begitu bantu aku jaga mawar ini," balas Yandha sambil menyodorkan setangkai bunga mawar yang dari tadi selalu dia perhatikan.
Pelayan itupun dengan ragu langsung mengambil bunga mawar yang diberikan oleh Yandha. Namun dengan sengaja Yandha seperti menggoreskan sendiri jari telunjuknya keduri bunga tersebut sehingga membuat pelayannya ketakutan.
"Tu..tuan maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja..!!" Ucap pelayan itu dengan gugup lalu mengambil sapu tangan untuk mengelap darah yang keluar dari jarinya.
"Cantik namun berduri, terlihat lemah namun menyakiti," gumam Yandha membuat pelayannya kebingungan.
"Bukankah duri itu hanya sebagai pelindung bagi dirinya sendiri..!!" jawab Alan yang tiba-tiba saja datang membuka pintu.
Perhatian Yandha langsung tertuju kearah pintu, terlihat Alan sedang berdiri diambang pintu sambil melipatkan kedua tangannya didada. Dia pun lalu berjalan menghampiri Yandha kemudian duduk disebelahnya.
"Kau terlambat aku sudah menghabiskan sebotol Anggur ini sendirian.!" ketus Yandha sambil meneguk segelas anggur terakhirnya.
Alan memicingkan kedua matanya ketika mendengar dia mengatakan sudah menghabiskan sebotol anggur sendirian. Faktanya Yandha sudah menghabiskan beberapa botol anggur sehingga membuatnya menjadi mabuk.
"Aku sangat membenci mu Alan.!!" ucap Yandha sambil menodongkan botol kosong kewajah Alan.
"Ya aku tau kau membenciku," balasnya sambil mengambil botol yang dipegang Yandha.
Yandha terlihat sangat menyedihkan, dia akan banyak minum dan mengajak bertemu Alan jika sedang merindukan kakaknya yaitu Adnan. Saat tinggal di luar Negeri pun seperti itu dia tidak pernah menelepon Alan, namun jika dia meneleponnya itu tandanya dia sedang mabuk dan merindukan kakaknya.
Hubungan Alan dengan Yandha menjadi sedikit tidak baik ketika insiden yang sama yaitu kejadian 5 tahun yang lalu. Dia merasa Adnan meninggal gara-gara Alan dan Ellie, itu yang menyebabkan Yandha sangat membenci Alan dan juga Ellie.
Namun karena wajah Alan yang sangat mirip dengan Adnan, Yandha akan melampiaskan kerinduannya kepada Alan. Walaupun setelah itu dia akan membencinya kembali setelah rasa rindu terhadap kakaknya menghilang.
"Aku jauh-jauh pergi ke NewYork untuk membunuh Ellie tapi aku tidak bisa menemukannya, dan kau yang santai dirumah malah bertemu duluan denganya." Gumam Yandha sambil merebahkan tubuhnya kesofa.
Alan terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan Yandha. Dia tidak menyadari bahwa Yandha sudah bertemu dengan Yoona dan Yoona juga tidak mengatakannya.
"Yandha jangan macam-macam dengannya dia bukan Ellie.!!" ucap Alan dengan suara yang tegas.
Hahahahahah..
Yandha langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Alan.
"Kau... Kau sungguh munafik, kau bilang kepada ayah bahwa kau akan balas dendam kepada Ellie atas kematian kakak. Tapi mana buktinya kau lagi-lagi malah jatuh cinta kepadanya. Biar aku beritahu mau Ellie hilang ingatan seratus kali pun dia tidak akan pernah mencintaimu." ketus Yandha lalu berjalan sempoyongan meninggalkan Alan.
Alan terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Dia merasa benci dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi kakaknya dan tidak bisa melindungi Ellie. Dia memang pernah berjanji kepada ayahnya untuk membalaskan dendam kepada Ellie orang yang paling kuat diduga sebagai pelaku pembunuhan kakaknya 5 tahun lalu.
Namun disisi lain dia sejak dulu selalu mencintai Ellie hingga saat ini pun tidak ada yang berubah. Saat ini Ellie yang sudah menjelma menjadi Yoona tidak akan tau apa-apa tentang dosanya di masa lalu. Dia seperti terlahir kembali dan memiliki sifat yang berbeda dari sebelumnya. Dari yang lemah lembut menjadi kasar, dari yang ramah menjadi cuek, dan dari yang baik menjadi jahat. Walau semuanya tampak berbeda namun Ellie yanh sekarang terlihat tidak munafik dimata Alan.
.
.
.
.
Bersambung
Halo reeders walau author masih pemula, author lagi mencoba buat ikutan lomba #You_Are_A_Writer_Ss4
Gak ada salahnya kan author nyoba ikut lomba,
__ADS_1
Jadi buat kalian semua tolong dukung author ya terus ikutin novel ini sampai tamat. beri vote,rate,like dan comment itu gratiskan jadi pliss kasih author dukungan tersebut.🙏🙏
Terimakasih.