
Ziyan dan Alan hanya terkesima saat Yoona mengatakan bahwa dia membenci mereka berdua. Mereka saling tatap dengan tatapan sendu dan sekaligus bingung. Mata Ziyan mulai berkaca-kaca karena usahanya gagal untuk membuat Yoona tinggal bersamanya.
"Jangan menangis, jika kau menangis papa tidak akan mengejarnya," ancam Alan. Ziyan dengan sigap langsung merubah ekspresinya. Dia langsung membulatkan matanya dan meloncat berdiri diatas kasur.
"Papa semangat..!!! Cepat kejar dan dapatkan Mama kembali.!!" Teriak Ziyan menyemangati papanya.
Alan pun langsung berlari secepat kilat seperti kilat kuning. Dia langsung mencari Yoona karena Yoona sudah tidak ada dihalaman rumahnya.
Yoona terus berlari tak tentu arah, hatinya terasa sakit saat dia mengatakan bahwa dia membenci Alan dan Ziyan. Faktanya dia sangat menyayangi mereka berdua. Walau selalu terasa merepotkan saat bersama mereka, tapi semuanya terasa menyenangkan saat bersama Alan dan Ziyan.
"Alan, Ziyan maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain." Batin Yoona.Tidak terasa air matanya lolos membasahi kedua pipinya.
Karena merasa lelah dia pun berhenti disebuah taman lalu duduk dikursi dibawah lampu. Yoona menaikan kakinya lalu memeluk lututnya sendiri. Dia membenamkan wajahnya sambil terus terisak. Hati dan tindakannya sungguh sangat bertentangan, tapi dia benar-benar tidak punya pilihan lain selain menjauhi keluarga William.
Alan yang juga terus berlari mencari Yoona merasa sangat kelelahan. Dia juga berhenti di taman dimana Yoona sedang terduduk menangis. Alan mengatur napasnya sambil memegang kedua lututnya. Matanya memandang kesegala arah untuk mencari Yoona yang sangat cepat hilang dari pandanganya.
"Huuft, wanita itu kecil dan sangat lincah, aku bahkan kesulitan mencarinya," gerutu Alan.
Saat Alan memandang kearah lampu taman dari kejauhan, matanya sekilas melihat sosok hitam dibawah lampu. Dia ingat bahwa Yoona tadi memakai baju berwarna gelap. Saat Alan mendekatinya ternyata benar itu adalah Yoona, Alan pun merasa sangat gembira karena tidak sia-sia dia berlari sepanjang jalan.
"Yoona akhirnya aku menemukan mu.!!" Seru Alan dari arah belakang dengan napas yang masih terengah-engah.
Yoona pun terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. Dia menoleh kebelakang dan langsung memalingkan lagi wajahnya saat tau bahwa Alan datang menghampirinya.
"Buat apa kau kesini???" lirih Yoona tanpa menatap lawan bicaranya.
Alan pun mendekat dan duduk disamping Yoona. Dia memperhatikan Yoona yang menaikan kakinya dan memeluk lututnya sendiri, dan Alan pun mengikutinya.
"Yoona jika kamu masih marah padaku bencilah aku, tapi jangan membenci Ziyan.!" Seru Alan.
Yoona hanya terdiam, sebenarnya dia juga tidak ingin bersikap seperti itu karena faktanya dia sama sekali tidak membencinya. Tapi takdir berkata lain, Yoona merasa memang tidak pantas dia masuk ke dunianya mereka berdua. Belum lagi ayahnya Alan tidak menyukainya sehingga harus membuat surat perjanjian untuknya.
"Mau percaya atau tidak, malam itu sebenarnya aku hanya sakit Magh, tapi Vian terlalu lebay hingga aku diberi obat tidur agar bisa istirahat." Jelas Alan dengan nada suara yang sangat pelan.
Yoona langsung mengangkat kepalanya, dia sangat tidak percaya dengan apa yang Alan katakan.
"Kau berbohong kan?? Kau tidur bersama seorang wanita malam itu." Ketus Yoona dengan tatapan sinis.
"Kalau kau tidak percaya aku akan menghubungi Vian dan kau tanyakan sendiri padanya.!" Ucap Alan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dan langsung menghubungi dr. Vian.
__ADS_1
Setelah terhubung Alan langsung memberikan ponselnya kepada Yoona, dia membiarkan Yoona bertanya apapun kepada Vian.
"Halo Alan ada apa lagi? Kenapa kau selalu mengganggu waktu istirahat ku.!" Omel Vian dari balik telepon.
"Halo dr. Vian ini aku Yoona.!"
"Heh, ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Alan kenapa kau yang menelepon ku memakai ponsel Alan?" tanya Vian entah khawatir atau hanya penasaran saja.
"Itu... Ada yang.. Ingin aku tanyakan.!" Ucapnya putus-putus karena ragu.
"Katakan saja.!"
"Malam itu apa Alan benar-benar sakit, kalau benar sakit lalu siapa yang menjawab telepon ku saat itu??" tanya Yoona dengan sangat cepat.
"Ya malam itu Alan memang sakit, tapi dia bersikeras akan keluar rumah dia bilang ada urusan penting. Aku tidak mau sakitnya tambah parah karena akan sangat merepotkan jika dia tambah sakit. Lalu aku memberinya obat tidur untung bukan obat mati saja. Masalah siapa yang menjawab telepon mu aku lupa, saat itu hanya ada aku, perawat dan Ziyan. Sudahlah jangan tanya lagi aku mau tidur.!!" Tuutttt..
Setelah panjang lebar menjelaskannya kepada Yoona, Vian langsung mematikan sambungannya. Yoona merasa sangat lega saat mengetahui kebenarannya. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum tipis setelah mendengar penjelasan dari dr. Vian. Alan yang melihat Yoona tersenyum spontan langsung memeluknya dengan erat.
"Percaya kan, jadi tolong maafkan aku.!!" Bisik Alan membuat Yoona merasa merinding.
"Ihh apaan sih jangan peluk-peluk.!!" Yoona berontak memukul-mukul dada Alan. Pipinya menjadi memerah karena merasa sangat malu.
"Yoona saat itu aku mempersiapkan semuanya untuk mu, menghias taman, menyiapkan tempat romantis. Aku ingin melamar mu.!!" Ucap Alan dengan sangat sungguh-sungguh.
"Yoona, will you marry me??" ucap Alan dengan tatapan mata yang sangat tulus dan terlihat serius. Tangan kirinya menggenggam tangan Yoona dengan sangat lembut.
Degh..
Jantung Yoona seketika langsung berdebar kencang, matanya membulat karena tidak percaya dengan apa yang barusan Alan ucapkan. Pipinya terasa panas dan jantungnya sudah seperti mau meledak.
Yoona memejamkan kedua matanya erat-erat, dia mengingatkan dirinya sendiri agar tidak tergiur oleh ucapan Alan. Perlahan dia membuka matanya lagi sambil melepaskan genggaman tangan Alan.
"Atas dasar apa aku harus menerima mu, aku tidak mencintaimu." Ketus Yoona sambil memalingkan wajahnya kesamping.
Padahal Yoona sendiri tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Alan. Dia terlihat cuek, namun sebenarnya dia selalu ingin berada disamping Alan dan Ziyan. Tidak tau itu perasaan yang bagaimana, rasanya sangat nyaman bagi Yoona saat bersama Alan dan Ziyan.
"Atas dasar kau adalah ibu kandung Ziyan, dan aku sudah mencintaimu sejak 10 tahun yang lalu.!" Ucap Alan dengan sangat lantang.
Yoona terkejut mendengar penuturan Alan dan berkata: "Tidak itu tidak mungkin, kita baru kenal beberapa bulan yang lalu dan Ziyan... Bagaimana mungkin dia anak kandung ku.!" Yoona terduduk lemas dan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
__ADS_1
Kepalanya berdenyut sakit dan sangat terasa pusing, keringat dingin pun sudah mengalir keluar dari setiap pori-porinya. Yoona masih kebingungan memproses kata-kata Alan dikepalanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu karena menurutnya itu sangat tidak mungkin.
"Alan sepertinya kau salah orang, dr. Vian pernah berkata bahwa ibu Ziyan bernama Ellie dan dia menghilang tidak tau kemana. Aku Yoona bukan Ellie." Yoona mempertegas kata-kata terakhirnya.
Alan hanya tersenyum tipis saat mendengar penjelasan Yoona. Dia lalu berdiri dan kembali duduk disamping Yoona.
"Ya Ellie memang ibu kandung Ziyan dia menghilang 5 tahun yang lalu. Kau sudah melihat wajah Ellie dan sangat mirip dengan mu bukan??" jelas Alan membuat Yoona tambah merasa bingung.
Yoona berpikir, memang benar foto yang waktu itu dia lihat memang sangat mirip dengannya. Tapi seberapa pun miripnya tetap saja Yoona merasa bahwa itu bukan dirinya. Dia yakin bahwa dia dan Ellie hanya kebetulan mirip dan bukan orang yang sama.
Yoona merasa sangat pusing memikirkan tentang itu. Dia pun beranjak dari kursinya dan ingin langsung pulang kerumah untuk menenangkan pikirannya.
"Kepala ku sakit aku ingin pulang.!" Keluh Yoona sambil berjalan memegangi kepalanya.
Namun saat berjalan keseimbangan Yoona hilang karena penglihatanya seperti berputar-putar. Alan dengan sigap langsung menopang tubuh Yoona agar tidak jatuh ketanah.
"Yoona kenapa dengan mu??" tanya Alan terlihat sangat khawatir.
"Arghh kepala ku sakit sekali.!" Rintih Yoona sambil mencengkram erat kepalanya.
Alan langsung memanggil Alex agar segera mengirim mobil menuju taman. Setelah mobil datang Alan langsung menggendong Yoona dan membawanya masuk kedalam mobil meninggalkan taman.
Didalam mobil Alan terus saja memangku Yoona yang setengah sadar. Dia berpikir jika setiap apapun yang bersangkutan dengan masa lalu Yoona membuat kepalanya akan menjadi sakit. Kalau begitu terus dia menjadi khawatir dan lebih baik tidak memberitahu apapun tentang masa lalunya agar dia tidak sakit. Biarlah semua berjalan apa adanya dan biar ingatan itu kembali dengan sendirinya, pikir Alan.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komentarnya ya..!!
RATE AND VOTE