Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 20 Amnesia


__ADS_3

Happy Reading..!!


Disebuah rumah sakit, terlihat Alan dan Ziyan sedang bolak-balik seperti setrika didepan ruang rawat. Mereka berdua terlihat sangat gelisah menunggu dr Vian yang tak kunjung keluar sedang memeriksa keadaan Yoona. Alan sudah sangat khawatir sekaligus kesal karena Yoona sudah setengah jam yang lalu masuk kedalam IGD, setengah jam menurut Alan sudah sama seperti setengah tahun begitu pula dengan yang Ziyan rasakan.


Brukk


"Aduh papa kenapa kau menabrak ku.?" tanya Ziyan sambil mengelus bokongnya yang terhentak kelantai karena Alan tidak sengaja menabraknya.


"Kenapa aku yang disalahkan, kau yang menabrakku." ketus Alan yang juga terhentak kelantai karena dia lengah menabrak Ziyan.


"Papa jelas-jelas kau yang menabrakku," ucap Ziyan dengan nada yang sedikit menekan dan tatapan mencekam.


"Tidak,jelas-jelas kau yang menabrakku.!!" tegas Alan lagi tidak kalah mencekam.


Mereka berdua saling tatap satu sama lain dengan tatapan yang tajam dan sangat mencekam hingga seperti ada sengatan listrik diantara tatapan tajam mereka. Sam yang sejak tadi duduk dikursi tunggu sambil memperhatikan mereka berdua menjadi pusing tujuh keliling. Lagi-lagi Ayah dan anak ini bertengkar saling menyalahkan siapa yang salah duluan.


"Hey, biar aku jelaskan." ucap Sam sambil berdiri ditengah-tengah mereka. "Kalian berdua sejak tadi mondar-mandir berlawanan arah wajar saja jika kalian bertabrakan dan kalian berdua sama-sama salah,oke..!" Sammuel berteriak membentak Alan dan Ziyan karena sudah sangat gemas melihat kelakuan mereka berdua.


"Huuh," Alan dan Ziyan pun saling membuang muka sambil melipatkan kedua tangan mereka didada.


Ceklekk..


"Kenapa kalian bertiga sangat berisik, apa kalian tidak tau betapa mengganggunya suara kalian bertiga membuat gendang telingaku seperti mau pecah..!!" bentak dokter Vian yang baru saja keluar dari ruang rawat.


Alan,Sam dan Ziyan pun langsung menciut karena dibentak oleh dokter Vian, mereka bertigapun langsung meminta maaf atas keributan yang mereka buat.


"Maafkan kami," ucap mereka serempak dan menjadi sangat penurut seperti kelinci putih didalam penglihatan dokter Vian.


"Cepat ikut keruangan ku, biar aku jelaskan masalah kesehatan Yoona.!" ucap Vian sambil berjalan menuju ruangannya dan langsung diikuti oleh Alan.


"Biar aku berjaga disini bersama Ziyan,!" ujar Sam dan langsung diangguki oleh Alan, dia pun langsung berjalan mengikuti Dokter Vian keruangannya.


Setelah sampai diruangan Vian, Alan langsung memasang wajah seriusnya begitu pula dengan dr Vian.


"Alan, kau ingin mendengar tentang kepalanya atau tentang masalah pendengarannya??" tanya Vian sambil duduk dikursinya.


"Yang mana saja, jelaskan saja satu persatu..!!" jawab Alan sambil membuka tirai dan menatap keluar jendela.


Vian termenung sejenak sambil memikirkan masalah mana dulu yang akan dia jelaskan,


"Oke aku akan menjelaskan mulai dari sakit kepala yang tiba-tiba dia rasakan, diagnosaku mengatakan sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu dia mengalami kecelakaan, terlihat dari bekas luka ditengkorak kepala belakangnya, dia juga mengalami 95% Amnesia." jelas Vian sambil memutar-mutar penanya.


"Ya, dia sebelumnya juga sudah pernah mengatakannya kepadaku tentang dia yang hilang ingatan 5 tahun lalu," gumam Alan.


"Kalau begitu sudah jelas, menurut diagnosa ku pembuluh darah disekitar otaknya mengalami kelainan,otak kecilnya cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi. Jika cedera akibat benturan hanya mencederai dinding otak, amnesia yang terjadi akan mudah disembuhkan." jelasnya lagi sambil melihat hasil pemeriksaan Yoona.


"Apa maksudmu dia bisa segera mengingat semuanya?" tanya Alan sedikit ada rasa senang diraut wajahnya.

__ADS_1


Namun dr Vian hanya menggelengkan kepalanya tidak tau apa maksud dari gelengan kepalanya itu membuat Alan langsung merasa down dan jantungnya berdebar kencang.


"Apa amnesianya tidak bisa disembuhkan??" tanya Alan lagi dengan wajahnya yang terlihat putus asa.


Dr Vian hanya menghela napasnya sambil meletakkan beberapa lembar kertas yang dia baca tadi.


"Hmm, Yoona mengalami cidera cukup parah dan mengenai bagian otak besar,kecil dan otak tengahnya. Pengidap amnesia seperti ini membutuhkan waktu cukup lama untuk sembuh. Apalagi ini sudah 5 tahun yang lalu sulit sekali kemungkinannya untuk sembuh, belum lagi jika ditambah trauma psikologis yang membuatnya sama sekali tidak ingin mengingat masa lalunya yang menakutkan," jelas Vian.


Seketika Alan langsung tertunduk lemas, dia sangat ingin mengembalikan ingatannya Yoona agar dia bisa mengingat semua tentang keluarganya. Dia juga sangat ingin tau kejadian apa yang sebenarnya dulu terjadi hingga membuat dia kecelakaan dan juga harus kehilangan Adnan William.


"Alan bukan berarti Yoona tidak bisa disembuhkan, kau harus selalu membimbingnya, bawa dia ketempat-tempat yang penuh dengan kenangan indah. Jangan biarkan rasa takut terus menghantuinya." ucap Vian mencoba untuk membuat Alan sedikit tenang.


"Vian, saat Yoona tiba-tiba sakit kepala, waktu itu paman Frenki tiba-tiba datang menyapaku dan saat itu juga reaksi Yoona langsung ketakutan dan merasa sakit dibagian kepalanya ketika melihat dia. Apa ada kesimpulan dari itu semua??" tanya Alan kepada Vian.


Vian termenung sejenak sambil memegang dagunya, "Hmm, kau tau saat orang mengalami amnesia ingatanya akan bereaksi ketika melihat kenangan yang mendalam dihatinya, entah itu kenangan yang indah atau kenangan yang begitu pahit." jelas Vian membuat Alan semakin yakin bahwa semua ini ada hubungannya dengan paman Frenki.


"Hmm, tidak salah lagi dugaanku, kematian kakak dan kecelakaan Ellie lima tahun yang lalu pasti ada hubungannya dengan situa busuk ini," gerutu Alan dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"O ya Alan, untuk masalah pendengarannya aku rasa dia mengalami Hyperacusis," jelas Vian lagi.


"Hah, Hyperacusis?? Maksudmu phobia dengan suara berisik??" tanya Alan sambil mengkerutkan keningnya.


"kalau aku tidak salah bisa saja dulu saat kecelakaan terjadi mungkin telinganya mendengar seperti dentuman atau mungkin suara keras lainnya sehingga membuat luka yang mendalam secara mental. Sebaiknya kau bawa dia ke ahli psikiater atau psokolog karena ini berhubungan dengan trauma mental yang sangat mendalam." jelas Vian.


"Hem, aku mengerti, aku akan mengesek keadaannya dulu sekarang," ucap Alan lalu berbalik keluar dari ruangan.


"Papa, apa yang terjadi kenapa lama sekali?" tanya Ziyan yang melihat Alan baru masuk menemui mereka.


Alan hanya melewati Ziyan tanpa menjawab pertanyaan putranya itu, dia sangat lemas karena perasaanya dipenuhi dengan rasa takut dan khawatir terhadap keadaan Yoona. Dia langsung saja menghampiri Yoona yang sudah sadarkan diri.


"Apa kau baik-baik saja??" tanya Alan dengan sangat lembut.


"Hehe, aku baik-baik saja mungkin aku hanya kelelahan," jawab Yoona sedikit gugup.


"Sukurlah jika kau tidak apa-apa," ucap Alan sambil memeluk Yoona dengan erat.


Yoona langsung membelalakan kedua matanya setiap kali dipeluk oleh Alan. Alan selalu saja membuat jantungnya berdegup sangat kencang hingga serasa mau keluar dari dada.


"Ups, jika papa memeluknya, apa ini berarti dia benar-benar akan menjadi mamaku.??" tanya Ziyan dalam hati sambil menepuk kedua pipinya seperti tidak percaya.


"Tu...tuan Alan, bos Alan.. Jika kau seperti ini terus kau akan menyakiti jantung ku," ucap Yoona sangat gugup sambil mendorong tubuh Alan.


"Aku hanya memelukmu karena khawatir, bukan untuk menyakiti jantung mu," ucap Alan sambil memeriksa detak jantung Yoona.


"Laki-laki tidak tau malu, apa yang barusan kau sentuh hah? Bukkk" Yoona mendaratkan tonjokannya kepipi Alan hingga membuatnya merasa sakit.


"Aw dasar wanita galak," ketus Alan sambil mengelus pipinya.

__ADS_1


Sam dan Ziyan hanya puas menertawakan Alan karena merasa lucu dengan sikapnya itu. Alan hanya diam saja dan memasang wajah dinginnya, matanya langsung tertuju dengan buket bunga dan beberapa buah-buahan diatas nakas.


"Siapa yang membawa ini?" tanya Alan tidak senang.


"Aku tidak tau, saat aku bangun itu sudah ada diatas nakas," jawab Yoona sambil mengangkat bahunya.


Alan langsung memicingkan kedua matanya dan langsung menatap Ziyan dan Sam.


"Ohh itu tadi saat paman Sam pergi ketoilet, ada seorang bibi datang menjenguk mama dia bilang dia ibunya mama jadi aku mengizinkannya untuk masuk,dia hanya datang mengecup kening mama setelah itu dia pergi," jelas Ziyan.


"Sam..!!" panggil Alan dan menatap Sammuel dengan tatapan mau membunuh.


"A..aku sudah memeriksanya tidak ada yang mencurigakan, dan juga tidak ada racun didalam makanan dokter sendiri yang memeriksanya." jawab Sam sangat gugup.


"Apa kau percaya kalau yang datang adalah ibumu?" tanya Alan kepada Yoona.


Yoona terdiam sambil berpikir, dia mengkerutkan keningnya seperti tidak percaya, "Hmm, entahlah kalau memang ibuku kenapa dia tidak menungguku hingga aku tersadar," jawab Yoona sedikit ragu.


"Dan juga siapa yang memberitahu kalau kau sedang dirawat dirumah sakit ini," gumam Alan ragu.


"Kau benar, ibuku sekarang sedang berada didesa tidak mungkin secepat ini tau kalau aku sakit," ucap Yoona tambah tidak percaya.


"Sial, jangan-jangan dia mata-mata yang dikirim oleh seseorang.!" pikir Alan merasa sangat khawatir.


"Sam cepat periksa kamera CCTV..!!"


"Baik," Sam langsung berlari keluar untuk menuju keruang keamanan.


Alan pun langsung membawa Yoona untuk pulang kerumahnya, dia merasa dimana-mana semua tempat tidak aman untuk Yoona. Jika musuh yang sebenarnya sedang memperhatikan mereka pasti sudah ada rencanan licik untuk menghancurkan semuanya.


Yoona yang terlihat bingung dengan sikap Alan hanya menurutinya untuk pergi kekediman pribadinya, dia takut untuk menolak karena melihat mood Alan yang sedang sangat buruk.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa Like and comment ya..!!


__ADS_2