
Saat tiba dirumah pribadi Alan, Yoona langsung dibawa kekamar oleh para pelayannya. Dia diperlakukan seperti permaisuri, segala kebutuhannya semua disediakan tanpa ada kekurangan apapun. Yoona hanya terpaku sambil melihat para pelayan yang membawa beberapa barang seperti orang pindahan.
"Alan, buat apa semua ini??" tanya Yoona dengan wajah bingung.
"Ini semua adalah kebutuhan mu," jawab Alan dengan wajah santai.
"Tapi aku tidak membutuhkan semua ini, aku hanya tinggal 1 hari bukan untuk tinggal selamanya," ucap Yoona membuat Alan langsung menoleh kearahnya.
Alan menatap Yoona sambil memicingkan kedua matanya, "Siapa bilang hanya 1 hari, kau akan tinggal selamanya disini.!" ucapnya sambil memegang dagu Yoona.
"Haha, candaan mu tidak lucu." Yoona hanya menganggap bahwa ucapan Alan barusan hanyalah sebuah candaan.
"Terserah kau saja mau dianggap apa,istirahat lah dan jangan keluar dari rumahku selagi aku pergi," ucap Alan sambil berbalik lalu pergi untuk bertemu ayahnya dirumah besar.
Yoona hanya terdiam melihat Alan yang pergi begitu saja, dia menatap semua pakaian,sepatu dan barang-barang lainnya yang sangat mewah dan mahal. Dia tidak habis pikir dengan sikap Alan yang selalu bersikap aneh kepadanya.
"Nyonya, tuan berpesan jika masih ada yang dibutuhkan anda bisa memberitahu kami," ucap seorang pelayan sambil membungkukan badannya.
"Tidak perlu ini sudah lebih dari cukup,dan lagi jangan panggil aku nyonya.!" ketus Yoona sambil berjalan menuju kamar yang sudah Alan siapkan.
Para pelayan hanya saling tatap dengan tatapan bingung,mereka merasa sedih karena orang yang mereka anggap nyonya seperti merasa tidak puas dengan kinerja mereka. Padahal Yoona bukannya tidak puas,dia hanya bingung harus bagaimana menghadapi sikap Alan yang begitu aneh.
Yoona merebahkan tubuhnya diatas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar dengan berbagai pikiran dikepalanya. Dia masih kepikiran tentang sekilas ingatan yang tiba-tiba terlintas saat melihat orang asing didalam Restaurant. Didalam ingatan Yoona orang yang dipanggil paman Franki oleh Alan itu seperti sedang mengejarnya dan mencoba untuk membunuhnya. Tidak tau itu ingatan atau hanya halusinasinya, dia merasa sangat takut ketika melihat orang itu. Setelah merasa pusing dan lelah, Yoona pun lalu memejamkan kedua matanya dan tertidur tanpa ada yang mengganggu.
Disisi lain dikediaman rumah utama William, Alan yang sedang duduk diruang baca sambil sesekali menyeruput kopi panasnya, sedang menunggu ayahnya untuk membuka pembicaraan. Karena sejak tadi diantara mereka berdua hanya diam tidak ada yang membuka pembicaraan. Pada akhirnya Alan pun bertanya duluan tentang maksud ayahnya yang memanggilnya untuk segera kerumah utama.
"Ayah kenapa kau memanggilku kemari??" tanya Alan sambil meletakkan gelas kopinya.
Fredy yang sejak tadi menunduk karena membaca koran langsung menatap Alan yang tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Bagaimana kabar cucuku??" tanya Fredy sambil melepas kacamatanya dan meletakkan koran keatas meja.
"Tentu saja baik," jawab Alan singkat.
"Ayah kemarin bertanya kepada Alex, dia bilang bahwa kau sudah membawa dia kedalam rumahmu, apa itu benar??" tanya Fredy sambil mengkerutkan keningnya.
"Ya, itu benar," jawab Alan lagi.
"Kenapa? Bukannya kau sangat mencurigainya bahwa dia adalah Ellie yang sudah kembali dari persembunyiannya,.!" ucap Fredy terlihat sedikit kecewa kepada Alan.
"Sepertinya dia memang Ellie, seburuk apapun dia dimasa lalu dia tetap adalah ibunya Ziyan." ucap Alan membuat Fredy terkejut.
Fredy langsung berdiri dari duduknya dan terlihat benar-benar sangat kecewa, "Kau tau kan dia sudah membunuh Adnan kakak mu, dan kau sekarang langsung menerimanya kembali dengan alasan dia adalah ibu kandungnya Ziyan, kau masih mencintainya?? Ingat dia tidak pernah mencintaimu dimasa lalu, dia sudah mengkhianati keluarga kita," ucap Fredy sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
"Dan satu hal lagi, aku akan mencarikan ibu yang lebih baik dari dia untuk cucuku.!" ketusnya dengan napas yang terengah-engah.
"Ayah kau jangan terlalu emosi, aku punya cara ku sendiri," Alan langsung meraih tangan ayahnya namun dia langsung menepis tangan Alan.
__ADS_1
"Pulanglah, lakukan apapun yang kau mau, aku juga masih punya putra yang bisa diandalkan," cetus Fredy lalu berjalan meninggalkan Alan.
Alan hanya menatap punggung ayahnya yang sudah sangat kecewa dengan keputusannya. Dia langsung terduduk sambil menyenderkan tubuhnya kesofa.
"Ayah kau benar dimasalalu dia tidak pernah mencintaiku, tapi kali ini aku akan mebuatnya mencintaiku," gumam Alan dalam hati.
Alan merasa sangat bingung dengan semua masalahnya, dia sejak dulu walau ada rasa dendam dihatinya tapi dia sangat menginginkan Ellie. Walau Ellie dulu tidak mencintainya dan memilih Adnan untuk menjadi suaminya, dia tetap masih mencintai satu orang yang sama hingga saat ini.
Setelah merasa jenuh dia pun kembali kerumah pribadinya, dia tidak peduli dengan sikap ayahnya yang sudah sangat kecewa dengan keputusannya. Menurut Alan biarkan saja dia mengandalkan putra bungsunya kalau memang tidak suka dengan keputusannya.
Sesampainya dirumah, Alan langsung mencari Yoona dikamarnya. Dia melihat Yoona sedang tertidur pulas, Alan langsung mengusap rambut Yoona dan menyibakan rambut yang menghalangi wajahnya. Walau sikap Ellie tidak seperti dulu yang sangat ramah dan lemah lembut, dia tetap menyukainnya dengan perubahan sikapnya yang kasar dan sangat pemarah itu.
"Yoona atau pun Ellie kalian masih satu orang yang sama," gumam Alan sambil mengecup kening Yoona dan juga ikut tertidur disampingnya.
Saat tengah malam Yoona terbangun karena merasa tidak nyaman dengan tidurnya, dia membuka matanya dan menatap langit-langit kamar.
"Huhh, aku tidak mimpi buruk tapi kenapa dadaku terasa sesak," gumamnya sambil meraba dadanya yang terasa sesak.
Betapa terkejutnya ketika dia sadar ternyata seseorang sedang memeluknya dalam keadaan tertidur. Yoona langsung mendorong tangan Alan dan langsung menendang tubuh Alan agar menjauh darinya.
"Gila, kenapa dia tidur dengan ku.!" ketus Yoona sambil memeriksa tubuhnya dan bajunya terlihat masih lengkap.
"Huh, kau dasar laki-laki tidak tau malu," bukk.. Bukkkk
Yoona meninju pipi Alan sebanyak 2 kali, namun sangking lelapnya Alan tidak terbangun dari tidurnya.
Seketika ada perasaan tidak nyaman dihatinya ketika mendengar Alan menyebut nama Ellie didalam tidurnya. Dia berpikir apa mungkin sikap Alan terhadapnya hanya menjadikan pelampiasannya karena ditinggalkan oleh orang yang dia panggil Ellie.
"Huh dasar brengsek, aku kira kau menyukaiku, ternyata tidak." ketus Yoona sambil mencubit kuat pipi Alan, Yoona pun langung beranjak dan pindah kekamar Ziyan untuk melanjutkan tidurnya.
•••••
Dipagi hari yang cerah Ziyan membuka matanya tanpa harus dibangunkan dengan suara alarm. Dia membalikkan tubuhnya karena merasa ada seseorang sedang memeluknya. Setelah dilihat, dia sangat bahagia ketika bangun pagi ada seseorang yang sangat dia sayangi.
"Selamat pagi mama..!! Mmuuaacchh" ucap Ziyan sambil memeluk dan mencium pipi Yoona.
"Hah, apa ini sudah pagi," ucap Yoona sambil mengucek kedua matanya.
Yoona membuka matanya dan langsung melihat wajah Ziyan yang sangat imut. Seketika hatinya langsung terasa sangat bahagia melihat yang seperti ini dipagi hari.
"Ziyan kau sangat imut, muuachh muuaachh" Yoona langsung mencium pipi tembam Ziyan yang sangat menggemaskan itu.
"Hahaha, mama aku sangat menyayangimu.!" Ziyan langsung memeluk erat tubuh Yoona.
Setelah saling mengeluarkan kasih sayang mereka, Yoona langsung menyuruh Ziyan untuk siap-siap sarapan dan pergi kesekolah. Sementara dia kembali kekamarnya untuk mengganti baju.
Yoona terdiam sejenak sambil memegang gagang pintu, "Dia pasti sudah keluarkan??" tanya Yoona kepada dirinya sendiri, dia pun lalu membuka pintu dan terlihat tidak ada Alan didalam kamar.
__ADS_1
Yoona langsung membuka bajunya dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia lalu bergegas pergi kekamar mandi.
Yoona terkejut bukan main ketika melihat Alan sedang berdiri dibawah shower, Alan pun berbalik setelah mengetahui ada seseorang yang masuk kedalam kamar mandi. Alan langsung menatap tubuh mungil Yoona yang hanya ditutupi handuk kecil.
"Arghhhhh.." Yoona langsung berteriak karena terkejut melihat Alan tanpa baju sehelaipun.
Dia langsung berbalik dan karena tidak hati-hati dia malah terpeleset karena lantai yang licin terkena air sabun.
"Hati-hati..!!" teriak Alan sambil mencoba untuk meraih Yoona yang hampir terpeleset, namun karena lantai yang sangat licin Alan pun ikutan jatuh terpeleset.
Brukk
"Aduhh..!" rintih Yoona sambil mengelus bokongnya.
"Aww kau menindihku," ucap Alan dan Yoona langsung berdiri karena merasa sangat malu.
"Kenapa kau mandi disini??" bentak Yoona sambil memalingkan wajahnya karena Alan sedang memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Memangnya kenapa? Ini kan rumahku." jawab Alan dengan wajah santai.
"Hais, baiklah kau bosnya," ucap Yoona sambil melewati Alan untuk keluar dari kamar mandi.
"tunggu, kenapa kau semalam pindah kekamar Ziyan?" tanya Alan sambil meraih tangan Yoona.
"Aku tidak mau tidur dengan laki-laki jomblo, semalam kau terus saja menyebut nama Ellie, aku takut kau mengira aku adalah Ellie dan melakukan sesuatu yang buruk terhadapku," jawab Yoona sambil menepis tangan Alan.
Yoona pun pergi sambil membawa baju gantinya kekamar Ziyan, Alan melihat bekas luka dipunggung Yoona. Bukan hanya ada bekas luka kecelakaan yang dia lihat, dia juga melihat ada bekas luka tembak dibahunya. Alan semakin penasaran dengan masa lalu Yoona sebelum mengalami kecelakaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung