
Setelah sampai dikediaman pribadinya, Alan langsung membawa Yoona kedalam kamarnya. Dengan sangat hati-hati Alan membaringkan tubuh Yoona yang masih tidak sadarkan diri keatas ranjang. Alan terlihat sangat panik dan langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Vian agar segera memeriksanya.
Tuttt.. Tuuttt..
"Halo, kenapa jam segini kau menelepon ku??" tanya Vian dengan suara malasnya.
"Dalam waktu 5 menit kau harus segera sampai dirumahku.!!" balas Alan dengan sangat tegas dan langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum mendapat jawaban iya dari Vian.
Alan langsung memanggil beberapa pelayannya untuk segera menggantikan pakaian Yoona. Alan dengan sendirinya langsung mengambil air dingin untuk mengelap tubuh Yoona.
"Papa apa yang sedang kau lakukan??" tanya Ziyan sambil mengucek sebelah matanya.
"Tidak apa-apa, kembalilah kekamar mu.!!" jawab Alan lalu membawa Ziyan agar kembali kekamarnya.
Ziyan hanya terdiam melihat Papanya yang terlihat sangat panik, dia pun kembali lagi untuk tidur karena tidak tau bahwa Yoona tidak baik-baik saja. Dia memang tidak pernah peduli dengan urusan papanya, kecuali semenjak kenal dengan Yoona semua apapun tentangnya Ziyan selalu ingin tau.
"Tuan, Nona Yoona sudah sadar..!!" Ucap seorang pelayan yang berlari menghampiri Alan.
Alan pun langsung segera menemui Yoona untuk melihat keadaannya, "Yoona apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit??" tanya Alan terlihat sangat khawatir.
Yoona hanya terlihat gelisah lalu membalikan tubuhnya membelakangi Alan. Alan langsung menyentuh tubuh Yoona untuk memeriksa keadaanya, namun Yoona dengan sigap langsung menepis tangan Alan.
"Jangan menyentuhku..!!" bentak Yoona langsung terduduk dan menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut.
Yoona masih terlihat sangat mengkhawatirkan, wajahnya terlihat memerah seperti kepiting rebus. Alan terlihat tambah panik ketika melihat Yoona yang sepertinya masih dipengaruhi oleh obat. Yoona terlihat sangat gelisah dengan napas yang sudah tidak beraturan dan sesekali dia seperti mau melepas pakaiannya sendiri.
Tidak berapa lama Vian pun tiba dengan ekspresi malasnya langsung menemui Alan.
"Alan, apa sebenarnya yang terjadi kenapa memanggilku??" tanya Vian yang baru saja datang
"Apa ada obat untuk seseorang yang terkena obat bius??" balas Alan sambil mencengkram kerah baju Vian.
Vian terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan Alan, dia dengan wajah serius langsung memperhatikan keadaan Yoona. hanya sekali lihat saja dia langsung tau bahwa obat bius yang dibilang Alan sebenarnya adalah obat perangsang.
"Jika seperti ini kenapa tidak kau saja yang mengibatinya?!" balas Vian sambil tersenyum nakal.
"Sialan kau.!! aku memanggilmu agar ada solusi lain selain itu," ketus Alan sangat kesal.
"Dengar bos ku, jika kau tidak segera menanganinya dia akan gila, aku ada obat tapi akan berakibat buruk untuk kedepannya. jadi..." Vian menghentikan ucapannya dan langsung menepuk bahu Alan.
"Selesaikanlah dengan caramu sendiri, kau laki-laki sejati kan??" sambungnya lagi berbisik ditelinga Alan.
Setelah merasa tidak ada lagi urusannya dengan dia, Vian pun berjalan keluar sambil melambaikan tangan kananya dan tangan kirinya menunjukan jari tengahnya. Dia pun lalu pergi meninggalkan kediaman Alan.
"Vian kau sungguh sialan," ketus Alan terlihat sangat emosi karena merasa percuma memanggil seorang dokter bodoh sepertinya.
Alan pun kembali fokus dengan Yoona, Alan melihat Yoona menggeserkan tubuhnya dan menurunkan kakinya beranjak dari ranjang. Dengan langkah yang tertatih Yoona berusaha untuk menuju kamar mandi karena tubuhnya merasa sangat panas. Dia berjalan menelusuri dinding karena takut terjatuh, namun karena tubuhnya yang semakin lemas dia pun akhirnya merosot kelantai.
"Aarghhh, tubuhku seperti terbakar, siapa yang bisa menolongku.!!" rintih Yoona.
"Yoona aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan untuk meringankan sakit mu?" tanya Alan yang sudah tidak karuan karena sangking paniknya melihat keadaan Yoona.
"Astaga, Laki-laki ini sangat bodoh bagaimana bisa ada Ziyan lahir didunia ini," pikir Yoona dengan ekspresi anehnya.
"Biar aku bantu kau kekamar mandi," ucap Alan sambil menggendong Yoona.
Ketika Alan menyentuh tubuh Yoona dia merasakan kenyamanan disekujur tubuhnya. Darah terasa mengalir dengan lancar dari atas kepala hingga kaki. Yoona pun mendongakan kepalanya untuk menatap wajah Alan. Yoona melihat wajah Alan dari jarak yang sangat dekat, terlihat putih bersih dan sangat tampan dengan keringat yang sedikit menjalar dari pori-pori wajahnya yang menambah keseksiannya.
"Alan..!!" panggil Yoona dengan nada yang sedikit manja.
__ADS_1
"Ada apa??" jawab Alan sambil Menundukan wajahnya menatap wajah Yoona, dengan sigap Yoona langsung merangkul leher Alan dan..
Cuupp...
Mata Alan terbelalak ketika Yoona yang tiba-tiba mengecup bibirnya, kini jantungnya langsung berdegup kencang serasa mau loncat dari dada. Alan pun membalikan badannya dan langsung membawa Yoona kembali keatas ranjang. Yoona masih mengecup bibirnya dan Alan pun membalas kecupan Yoona. Mereka berduapun akhirnya tidur bersama dan melewati malam yang panjang berdua hingga tidak ada yang berani menganggu mereka. :D
°°°°°
Keesokan harinya, Alan terbangun membuka matanya dan langsung memalingkan wajahnya melihat seorang wanita yang masih terbaring disamping kanannya. Dia tersenyum sambil mengelus rambut Yoona dengan sangat lembut dan menutupi lagi tubuhnya dengan selimut.
Setelah puas menatap wajah Yoona, Alan beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Dia menghentikan langkah kakinya didepan cermin dan melihat tubuhnya sediri didalamnya. Terlihat banyak titik merah kecil bekas semalam dileher Alan.
Dia menghelakan napasnya sambil memegang pinggiran westafel dan menatap cermin.
"Fiuhh,, untung saja semalam aku bisa menahan diri, jika tidak pagi ini pasti Yoona akan mengamuk seperti singa betina dan menelan ku bulat-bulat," ucapnya.
Ya faktanya semalam tidak terjadi hal diluar batas, karena mereka hanya berciuman dan walaupun Yoona dalam pengaruh obat, Alan bisa menahannya karena dia tidak mau melakukan itu dibawah pengaruh obat.
Setelah selesai mandi, Alan langsung bersiap-siap memakai baju kantornya lalu menuju ruang makan untuk sarapan. Disana sudah ada Ziyan yang bersikap sangat manis karena dia diberi tau pelayan bahwa ada Yoona dirumah mereka. Dengan tubuh mungilnya Ziyan berjalan kesana kemari menyiapkan semua makanan kesukaan Yoona. Setelah merasa sudah siap, dia lalu duduk sambil memegang sendok dan garpunya menunggu Yoona datang untuk sarapan.
Setelah hampir 30 menit menunggu, Yoona tidak kunjung datang membuat Ziyan menjadi cemberut. Alan yang sudah selesai makan langsung berdiri dan menghampiri Ziyan.
"Biar papa panggilkan Yoona untuk sarapan," ucap Alan sambil mengelus rambut putranya dan langsung diangguki oleh Ziyan.
Disisi lain Yoona yang menatap dirinya sendiri didepan cermin terlihat sangat kesal. Pasalnya sudah sepuluh kali lebih dia mencoba baju dan terus menggantinya namun satupun tidak ada yang cocok yang sesuai dengan tubuhnya.
"Sialan ini semua gara-gara laki-laki brengsek itu semua baju tidak ada yang cocok untukku.!!" ketus Yoona sambil menginjak-nginjak baju yang berserakan dilantai.
"Ada apa dengannya??" tanya Alan kepada salah satu pelayannya.
"Maaf tuan, Nona Yoona marah karena baju didalam lemari semuanya terlihat seksi, dia menginginkan baju yang sedikit tertutup untuk menutupi....." jawab seorang pelayan menghentikan ucapannya dan melanjutkannya dengan bahasa isyarat menunjuk kelehernya.
Alan pun hanya tersenyum dan mengerti apa yang dimaksud oleh pelayannya. "Pesankan baju yang sesuai dengan keinginanya, dalam waktu 5 menit harus sudah sampai," ucapnya kepada pelayan.
Alan langsung menghampiri Yoona dan duduk ditepi ranjang sambil mengambil salah satu baju yang berserakan dilantai.
"Kasihan sekali baju ini.!!" ucap Alan sambil membeberkan baju.
Yoona langsung menolehkan pandangannya kearah Alan dan menunjukan tatapan yang sangat tajam.
"Pria ini sungguh tidak tau malu," ketus Yoona dalam hati sangat emosi.
"Hmm, aku tidak melakukan apa-apa semalam tapi tatapannya sudah seperti mau membunuhkan," pikir Alan dalam hati.
Alan lalu tiba-tiba melontarkan senyum tipisnya dan membuat Yoona langsung segera membuang pandangannya.
"Apa kau sungguh marah karena kejadian semalam??" tanya Alan sambil berdiri menghampiri Yoona.
"Kau dasa tidak tau malu..!!" bentak Yoona sambil melempar beberapa baju kewajah Alan.
"Ayolah jika ingin marah seharusnya aku yang marah, aku yang sebenarnya korban pemerkosaan.!" rengek Alan seperti kucing penakut.
"Ihh dasar kau memang tidak tau malu, dasar laki-laki cabul" teriak Yoona sambil memukul-mukul Alan dengan bantal guling.
Alan hanya menghindari serangan Yoona dan dengan sigap dia langsung menarik tangan Yoona dan mendekap tubuhnya kedalam pelukan. Dengan wajah kesal Yoona mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Alan. Dia terus menatap wajah Alan dengan tatapan yang benar-benar sangat marah.
__ADS_1
"Rasamu semalam sangat manis, aku mau lagi.!!" bisik Alan ketelinga kanan Yoona.
"Arghh brengsekk..!!" Yoona langsung menggigit dada Alan sehingga dia tersentak kesakitan dan langsung melepas pelukannya.
"Aww,, kau sudah menjadi anjing kecil yang liar," ketus Alan sambil mengelus dadanya yang kesakitan.
"Huh, rasaka saja itu.." Ucap Yoona dengan tatapan sinisnya.
Alan hanya terdiam sambil menatap Yoona dengan tatapan anehnya, ya Yoona adalah satu-satunya wanita yang selalu berani kepadanya. Yoona yang ditatap oleh Alan langsung membalasnya dengan tatapan yang lebih mencekam, dia membuka matanya lebar-lebar hingga terlihat bulat dan menyeramkan. Seketika suasana didalam kamarpun menjadi hening karena mereka yang hanya saling tatap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Tokk...tokk
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat perhatian mereka saling teralihkan melihat kesumber suara. Alan langsung merapikan pakaiannya dan berjalan menuju pintu. Sedangkan Yoona kembali duduk didepan cermin masih sambil memoleskan bedak disekitar lehernya.
"Ada apa??" tanya Alan singkat sambil membuka pintu.
"Tuan ini baju yang anda pesan sudah sampai.!!" balas seorang pelayan sambil memberikan beberapa baju.
Alan kemudian mengambil baju itu dari pelayannya dan langsung menghampiri Yoona.
"Cobalah baju ini mungkin akan membuatmu nyaman.!!" ucap Alan sambil memberikan beberapa baju.
Yoona langsung mengambilnya dan lagi-lagi menatap Alan dengan tatapan sinis. Dia langsung menuju kekamar mandi untuk mencoba baju yang diberikan Alan.
"Ck, kenapa jadi dia yang marah, semalam dia yang memulai duluan,untung saja aku menahannya jika tidak dia pasti akan marah lebih dari ini," gerutu Alan sambil menggelengkan kepalanya.
"Yoona jika sudah siap segeralah keruang makan, Ziyan sudah menunggumu sejak tadi.!!" sambungnya lagi.
"Ya," teriak Yoona singkat dan kasar.
Alan langsung kembali menemui putranya yang masih menunggu diruang makan. Ziyan dengan sabar masih menunggu Yoona dan tidak mau sarapan duluan.
"Papa dimana mama kenapa belum kemari??" tanya Ziyan ketika melihat Alan kembali tanpa Yoona.
"Dia terlambat bangun dan sekarang masih siap-siap, kau sarapanlah duluan.!!" jawab Alan sambil memasukan telur mata sapi kesukaannya kedalam piring dihadapannya yang masih terlihat kosong. Ziyan terus menggelengkan kepalanya dan tetap menunggu Yoona.
"Pagi Ziyan..!!" Sapa Yoona dengan ekspresi cerianya.
"Mama, kenapa kau lama sekali??" Ziyan langsung beranjak dari kursinya dan langsung loncat kepelukannya Yoona.
"Haha.. Maaf ya, ayo cepat makan sarapanmu.!!" ucap Yoona.
Mereka pun langsung menikmati sarapan pagi mereka dengan sangat lahap, sedangkan Alan langsung pergi kekantornya karena dia sudah lebih dulu selesai sarapan.
Setelah selesai sarapan Yoona langsung bergegas mengantar Ziyan untuk pergi kesekolahnya. Dia terlihat sangat menunjukan perhatiannya kepada Ziyan didepan semua orang. Ziyan sangat bahagia karena dia bisa menunjukan bahwa dia juga memiliki seorang ibu. Karena selama ini walau dia terus saja disegani oleh teman-teman yang lainnya, tidak jarang dia mendengar orang tua mereka yang bergosip mengatakan bahwa Ziyan hanyalah anak pungut. Ziyan selalu merasa kesepian tidak punya teman yang benar-benar bisa mengerti dia, namun semenjak kehadiran Yoona walau dia terlihat galak, Ziyan sangat menyukai karakternya yang terlihat alami dan tidak berpura-pura baik kepadanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Tinggain jejak kalian ya, buat author semangatt..!!