
Yoona berjalan dengan tatapan malas, tubuhnya terasa lemas. Tidak tau kenapa hatinya terasa sangat tidak nyaman. Dia sedikit menyesal karena sudah menandatangani surat perjanjian itu. Namun walau di pikir seribu kalipun dia tidak punya cara lain selain menyetujuinya. Selain tidak punya uang ganti rugi, kesehatan adiknya lebih penting dari apapun.
Yoona keluar dari lift sambil menghela napas dengan sangat kasar. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena merasa ada beban berat dikepalanya.
"Huhh, sudahlah Yoona kau adalah wanita yang tegar, masalah seperti apapun sanggup kau lewati.!!" Ucap Yoona meyakinkan dirinya sendiri.
Sesampainya didepan ruang inap Haris, dikursi tunggu diluar kamar terlihat ibunya Yoona sedang menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tanganya.Yoona yang melihat itu langsung segera menghampiri ibunya.
"Bu ada apa?? Kenapa ibu terlihat murung??" tanya Yoona dengan sangat khawatir.
"Hiks, Yoona.!!" Isak ibunya sambil memeluk tubuh Yoona dengan sangat erat. Yoona merasa sangat khawatir, karena seharusnya ibunya akan senang karena Haris akan segera mendapatkan perawatan yang sempurna.
"Ibu kenapa menangis bukannya seharusnya ibu senang karena Haris akan segera dioperasi?" tanya Yoona sambil melepas pelukan ibunya dan menyeka air mata dari pipinya.
"Yoona maafkan ibu ya, ibu sangat ceroboh karena tidak merundingkannya dulu kepada mu. Sangking senangnya ibu langsung menandatangani surat-surat dari orang asing itu. Dan sekarang ibu baru menyadarinya, kamu..... Kamu tidak berbuat sesuatu yang aneh kan? Kamu tidak menjual ginjal atau apapun??" ucap ibunya sambil lagi-lagi memeluk erat tubuh putrinya.
Yoona langsung tersenyum tipis saat mendengar betapa khawatirnya ibunya saat ini. Dia langsung meneteskan air matanya sambil membalas pelukan ibunya.
"Ibu bilang apa sih, Yoona tidak menjual apapun. Yoona baik-baik saja kok.!" Ucap Yoona.
"Mereka itu siapa kenapa tiba-tiba membiayai operasi adikmu??" tanya bu Hana sangat penasaran.
Yoona terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Dia bingung memikirkan alasan apa yang tepat agar ibunya tidak banyak bertanya lagi.
"Emm, sebenarnya Yoona kemarin tidak pulang karena pergi kerumah teman. Tau gak bu teman Yoona itu kaya banget, waktu Yoona curhat sama dia tentang biaya pengobatan Haris, dia langsung menawarkan bantuan sama Yoona. Tapi ibu jangan khawatir Yoona sedikit demi sedikit nanti akan mengembalikan uang yang dia pinjamkan. Yang penting sekarang Haris akan segera sembuh ya bu.!" Jelas Yoona mengarang cerita.
Benar saja alasan Yoona membuat ibunya langsung percaya dan tidak banyak bertanya lagi. Kekhawatirannya sedikit hilang setelah mengetahui bahwa ternyata teman Yoona yang membiayai semua pengobatan Haris.
"Sayang tolong sampaikan terimakasih ibu kepada teman mu itu ya, terimakasih sudah membantu keluarga kita yang miskin ini." Ucap ibunya sambil menyentuh kedua pipi Yoona. Yoona pun langsung menganggukinya.
Setelah melihat ibunya menjadi tenang, Yoona pamit kepada ibunya untuk pulang ke Apartementnya untuk mengambil pakaian. Saat diluar gedung Rumah Sakit tiba-tiba saja Yoona teringat dengan Ziyan. Dia ingin melihat Ziyan untuk terakhir kalinya. Saat ini jam sudah menunjukan pukul 9 malam, biasanya jam segini Ziyan sudah tidur sedangkan Alan terkadang masih sibuk diruang kerjanya. Dia pun memutuskan untuk pergi kerumah Alan hanya sekedar untuk melihat Ziyan. Yoona langsung memberhentikan Taxi lalu menuju kerumah Alan.
Setibanya dirumah Alan, keadaan rumah sangat sepi. Dia langsung berjalan sambil mengendap-ngendap seperti maling. Dia tidak ingin diketahui siapa pun kalau malam ini dia datang kerumah Alan. Karena dia tau password kunci rumah Alan dengan sangat mudah dia bisa memasuki rumah besar Alan.
"Pasti Ziyan sedang tidur dengan pose imut," gumam Yoona senyum-senyum sendiri sambil membayangkan muka imut Ziyan.
Saat Yoona membuka pintu kamar Ziyan, dia terkejut bukan main karena Ziyan sudah berdiri didepan pintu seolah-olah dia tau bahwa Yoona akan menemuinya. Ziyan berdiri sambil melipatkan kedua tangannya didada dan mengerucutkan bibirnya karena merajuk.
"Ziyan, kenapa berdiri didepan pintu??" tanya Yoona sambil berjongkok dan mengelus pipinya.
"Aku menunggu mama pulang.!" Jawab Ziyan langsung memeluk erat wanita dihadapannya itu.
__ADS_1
Yoona langsung membalas pelukan Ziyan, dia membiarkan Ziyan melepaskan kerinduannya. Karena setelah ini Yoona berniat untuk tidak berurusan lagi dengan keluarga William sesuai dengan surat perjanjian yang ia tanda tangani.
"Kemana saja mama tidak pulang seharian??" tanya Ziyan dengan nada sedikit kesal.
"Maaf ya aku sibuk dengan dunia nyata..." lirih Yoona terhenti. "Yang begitu pahit." Sambungnya lagi dalam hati.
"Berjanjilah jangan pergi terlalu lama lagi!!" Seru Ziyan sambil menunjukan jari kelingkingnya.
Yoona hanya menatap jari kelingking Ziyan yang kecil dan imut itu. Bagaimana mungkin dia bisa berjanji untuk tidak pergi terlalu lama lagi. Sedangkan niatnya kemari adalah untuk bertemu Ziyan yang terakhir kalinya.
"Janji apa sih ini ayo cepat tidur sudah malam." Yoona mengalihkan pembicaraan. Dia langsung nenggendong Ziyan dan membawanya keatas kasur. Waktu dia saat ini sangat singkat, jika terlalu lama dia takut Alan akan menyadari keberadaannya.
"Apa mama akan meninggalkan aku lebih lama lagi??" tanya Ziyan yang berbaring sambil menatap Yoona.
"Kenapa Ziyan bertanya seperti itu??" tanya Yona sambil mengelus kepala Ziyan.
"Mama tidak mau membuat janji dengan ku," Ketus Ziyan.
Yoona berpikir sejenak, mungkin ada baiknya jika dia membuat Ziyan agar membencinya. Karena dengan begitu Ziyan akan melupakannya dan otomatis Yoona tidak akan terbebani dengan rasa khawatir lagi.
"Ziyan dengar..!!" Tegas Yoona sambil membangunkan Ziyan ke posisi duduk.
Tidak ada reaksi dari Ziyan saat Yoona mengucapkan kata yang menurutnya akan membuat Ziyan marah. Ziyan masih tetap fokus menatap Yoona dan hanya bergerak mengedipkan matanya saja.
Setelah hening beberapa menit, akhirnya Ziyan membuka mulut dan berkata: "Kenapa diam, aku sedang menunggu mama untuk mengucapkan apapun yang ingin mama katakan, tapi asalkan mama tau apapun yang mama katakan tidak akan mengubah apapun. Kau tetap akan menjadi satu-satunya mama ku.!!" Ucapnya dengan sangat lantang sambil berdiri dan menepuk-nepuk dadanya.
Yoona langsung mengernyitkan dahinya, dia langsung menyusun kata-kata lagi untuk membalas kata-kata Ziyan dan membuatnya marah.
"Hey kau itu anak nakal ternakal diseluruh dunia siapa yang mau menjadi mama mu, dan lagi aku tidak mau mengurusimu setiap hari itu akan sangat merepotkan.!" bentak Yoona tidak kalah tegas.
"Aku sudah berjanji akan menjadi anak yang sangat baik, dan lagi aku sudah besar. Mama tidak perlu mengurusku cukup ada dipelukanku sudah cukup.!" Balas Ziyan lagi tidak mau kalah.
"Dengar aku bukan istri papa mu, jika kau menginginkan seorang mama suruh papa mu menikah karena orang yang harus menjadi mama mu adalah istri papa mu itu!!" Balas Yoona lagi sambil menunjuk-nunjuk arah pintu.
"Kalau begitu ayo kita segera menikah dan jadilah istri ku.!!" Ucap Alan membuat Yoona kaget setengah mati.
Alan tiba-tiba saja sudah berada didalam kamar Ziyan tanpa Yoona sadari. Sebenarnya saat Yoona mengendap-ngendap masuk kedalam rumah, Ziyan dan Alan sudah mengetahuinya. Merela sengaja membiarkam Yoona merasa aman, itulah sebabnya Ziyan sudah berdiri didepan pintu kamarnya saat Yoona membuka pintu. Sedangkan Alan siap menguping pembicaraan Yoona dan Ziyan.
Yoona langsung menciut dan menurunkan tanganya yang hampir menunjuk Alan. Pasalnya dia hanya sedang berakting dan ingin membuat Ziyan marah lalu melupakannya. Namun Yoona malah merasa seperti terjebak oleh ranjau yang dibuat ayah dan anak nakal itu.
Ehmm.
__ADS_1
Yoona berdehem karena merasa sangat canggung. Dia bingung tidak tau harus berkata apa. Sedangkan Alan dan Ziyan hanya tersenyum puas sambil melipatkan kedua tangan mereka didada.
"Apa aku terjebak ranjau yang dibuat dua monster ini??" batin Yoona sambil memejamkan erat kedua matanya.
"Bagaimana??" tanya mereka berdua serempak.
"Apa.. Apanya yang bagaimana??" tanya Yoona gugup.
"Menjadi mama ku.!!" Ucap Ziyan sambil memeluk tubuh Yoona.
"Menjadi istriku.!!" Ucap Alan juga sambil berjongkok dan menyentuh tangan kanan Yoona.
"Argghhhh apa-apaan ini, niatku kemari adalah melihat Ziyan untuk terakhir kalinya. Kenapa jadi begini??" batin Yoona berteriak sangat kebingungan bagaimana cara menghadapi ayah dan anak yang sangat keras kepala ini.
"Lepas..!!" Bentak Yoona sambil menepis mereka berdua. Ziyan hampir terjatuh dan Alan langsung berdiri meraih Ziyan.
Yoona sebenarnya sangat ingin berada disisi Ziyan. Namun dia sudah berjanji untuk menjauhi keluarga William jika tidak maka dia harus mengembalikan uang sebesar 500 juta. Memangnya dari mana dia harus mencari uang dalam jumlah yang sangat banyak itu. Jika Yoona menceritakan semuanya kepada Alan, memangnya dia siapanya Alan dan juga dia pasti akan bertengkar dengan orangtuanya nanti.
Yoona hanya menghela napasnya dengan kasar, dia langsung berjalan menuju arah pintu lalu menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Aku membenci kalian berdua.!!" Ucap Yoona lalu berlari meninggalkan Alan dan Ziyan.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
LIKE,COMENT, RATE, DAN VOTE.!!!!
__ADS_1