Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 43 KMM


__ADS_3

Alan berjalan mengikuti Suster menuju ruang administrasi, di sana Alan melihat ada Dokter Alvin sedang mengisi sebuah formulir. Alan pun penasaran dan langsung duduk di depannya, sedangkan dr. Alvin belum menyadari kedatangan Alan.


"Dok, wali dari keluarga pasien atas nama Haris yang meninggal karena gagal operasi sudah datang," ucap seorang Suster kepada dr. Alvin.


"Oke, silahkan tanda ta....ngan," dr. Alvin terkejut bukan main saat melihat ternyata dihadapannya adalah tuan muda Alan yang sangat ia hormati. Dia langsung berdiri dan menjabatkan tangannya menyambut kedatangan Alan.


"Wah Tuan muda Alan anda sangat membuat ku terkejut, apa ada yang bisa saya bantu??" tanya dr. Alvin mencoba untuk seramah mungkin.


"Apa kau tuli, suster itu sudah mengatakannya barusan," ketus Alan tidak senang.


Dokter Alvin sangat kebingungan, dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Alan. Di pikirannya mana mungkin Alan adalah wali dari keluarga pasien meninggal, sedangkan keluarga pasien yang dia tau adalah keluarga miskin dan tidak ada hubungannya dengan keluarga Alan.


Karena dr. Alvin hanya bengong dan terlihat sedikit ketakutan. Alan pun langsung merebut kertas formulir yang dia pegang. Alan mulai membaca satu persatu setiap data yang tertulis di dalam kertas. Saat membaca jam operasi berlangsung dan siapa penanggung jawabnya, Alan langsung marah dan menggebrak meja dihadapan dr. Alvin.


Braakkkk


"Operasi dilangsungkan jam 9 pagi, dan kau adalah penanggung jawabnya?" tanya Alan dengan tatapan yang sangat mencekam.


"I-iya benar tuan," jawab dr. Alvin terlihat sangat gugup.


"Kalau begitu kenapa saat itu kau malah keluar dari ruang operasi dan malah mengobati ayahku, apa kau tidak tau betapa berharganya orang yang sedang kau operasi itu bagi wanitaku.!!?" bentak Alan sambil mencengkram kerah baju dr. Alvin.


"Ma-maaf tuan aku sungguh tidak tau, aku mohon maafkan aku. Gagal operasi bukan karena salahku itu karena memang fisiknya sangat lemah tidak mendukung berjalannya operasi," ucap dr. Alvin mencoba untuk membela dirinya sendiri.


Alan benar-benar sangat marah, kali ini sepertinya dr. Alvin sudah tidak bisa mendapat maaf dari Alan karena kesalahannya. Dia memang benar-benar tidak tau bahwa orang yang dia operasi sangat penting bagi wanitanya dan dia juga tidak tau siapa wanita yang Alan maksud.


"Alan apa yang terjadi kenapa kau lama sekali?" tanya Yoona yang tiba-tiba masuk dan langsung terkejut saat melihat Alan sedang mencengkram kerah baju seorang Dokter.


"Alan ada apa dengan mu??" bentak Yoona sambil menarik tangan Alan agar melepaskan cengkramannya.


"Dia ini Dokter yang bertanggung jawab atas operasi adikmu dan dia juga yang telah meninggalkan ruang operasi saat operasi adikmu sedang berlanjut." jelas Alan sambil menunjuk kasar wajah dr. Alvin.

__ADS_1


Yoona terdiam sejenak, memang benar Dokter itu adalah Dokter yang meninggalkan ruang operasi saat operasi adiknya sedang berlangsung. Yoona pun kembali meneteskan air matanya dia kecewa dan sangat marah saat mengingat Dokter itu berlari meninggalkan operasi.


Bukkk


Tiba-tiba saja Alan mendaratkan tonjokannya kepipi dr. Alvin saat melihat Yoona meneteskan air matanya. Alan sepenuhnya berpikir bahwa gagalnya operasi Haris adalah karena kesalahan dari dr. Alvin yang meninggalkan ruang operasi.


"Alan cukup.!! buat apa kau menghajarnya?" tanya Yoona langsung menghentikan Alan yang hendak memukul wajah dr. Alvin lagi.


"Dia penyebab kematian adikmu, buat apa kau membelanya?" balas Alan sangat emosi.


"Aku bukannya membea dia, tapi bukannya kamu sendiri yang berkata bahwa setiap orang akan kembali kepada sang pencipta dan tidak ada yang tau bagaimana cara orang itu pergi meninggalkan kita. Ini pasti sudah takdirnya Haris harus pergi dengan cara seperti itu." jelas Yoona.


Alan pun langsung menghentikan niatnya untuk memberi pelajaran kepada dr. Alvin. Alan langsung memeluk Yoona yang masih terisak dari tangisnya.


"Tu-tuan muda, sa-saya mohon ma-maafkan saya," Mohon dr. Alvin dengan kata yang terputus-putus karena rasa takut.


"Minta maaflah kepada wanitaku!!" bentak Alan sambil melepaskan pelukannya.


"Nona, Nona aku mohon maafkan aku ini semua memang salahku, apa yang harus aku lakukan agar mendapat maaf dari mu?" dr. Alvin terus memohon agar mendapatkan maaf dari Yoona. Bahkan dia sampai terus membungkukan setengah badannya selagi Yoona belum memberikan maaf untuknya.


"Dokter sudahlah jangan seperti ini, mungkin sudah takdir adikku untuk pergi meninggalkan kami. Aku sudah memaafkan mu, Dok. Saat itu pasti ada alasan yang mendesak sehingga membuatmu buru-buru meninggalkan ruang operasi, kan??" balas Yoona.


"Ya, anda benar Nona. Saya adalah Dokter pribadi keluarga William, saat itu Tuan William kritis jadi sayang langsung buru-buru menanganinya." jelas dr. Alvin.


Yoona langsung menatap wajah Alan, dia terkejut saat baru tau ternyata Alan bisa berada di Rumah Sakit karena ayahnya memang sedang sakit.


Alan pun merasa sangat bersalah karena semua ini berhubungan dengannya. Jika saja dia tidak membuat ayahnya sakit, mungkin Dokter Alvin tidak akan meninggalkan operasi adiknya.


"Yoona ini semua salahku juga, jika aku tidak...."


"Stop, tidak ada yang salah.!" timpal Yoona memotong pembicaraan Alan dengan cepat.

__ADS_1


"Aku tidak mau lagi membahas ini, aku hanya ingin segera membawa Haris pulang," sambung Yoona lagi langsung menandatangani formulir kematian. Alan pun hanya bisa terdiam melihat Yoona begitu sedih atas kematian adiknya.


Setelah selesai mengurus surat kematian, Yoona kembali untuk menemui ibunya yang masih pingsan. Alan mengikuti Yoona dari belakang dia khawatir jika saja Yoona tiba-tiba pingsan karena wajahnya terlihat sangat pucat.


Yoona sadar bahwa Alan terus mengikutinya, dia merasa tidak nyaman karena tau bahwa keluarga Alan juga sedang berada di Rumah Sakit yang sama.


"Alan aku mohon jangan terus mengikutiku.!" keluh Alena sambil berbalik menatap Alan.


"Memangnya kenapa, ada yang salah?" tanya Alan heran.


"Jika ayah mu tau aku dekat dengan mu, maka aku akan habis," jelas Yoona berbicara dengan sangat cepet.


Alan terkejut mendengar kata-kata Yoona barusan, dia tidak mengerti apa makaudnya. "Apa maksud mu??"


Yoona terkejut dengan ucapannya sendiri, dia benar-benar keceplosan karena seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Yoona pun langsung membungkam mulutnya sendiri. "Dasar mulut kenapa harus keceplosan sih." batin Yoona.


"Yoona sebaiknya kau jelaskan semuanya, tapi jika kau tidak mau menjelaskannya juga maka aku akan bertanya sendiri kepada ayahku," ucap Alan, karena Yoona masih saja diam Alan pun lalu berbalik dan berniat untuk menanyakannya langsung kepada ayahnya.


Yoona merasa bimbang saat ini, bicara salah tapi lebih salah lagi jika dia membicarakannya. Yoona pun akhirnya menghentikan langkah Alan untuk berjanji bahwa dia akan menceritakan semuanya.


"Alan tunggu!!" teriak Yoona sambil berjalan menyusul Alan.


Alan pun tersenyum karena akhirnya dia pikir Yoona akan menceritakan sendiri tentang masalahnya.


"Aku... aku akan menceritakan semuanya, tapi setelah pemakaman Haris." ucap Yoona sambil menjulurkan jari kelingkingnya.


"Apa ini janji??" tanya Alan sambil menatap ragu jari kelingking Yoona.


Yoona pun hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan pertanyaan Alan. Alan pun membalas senyuman Yoona dan menyambut jari kelingking Yoona yang menandakan sebuah janji.


"Tapi ingat jangan bertanya kepada ayahmu," sambung Yoona lagi meyakinkan.

__ADS_1


"Heemm," Alan pun hanya membalasnya dengan deheman di sertai senyumnya yang mematikan.


BERSAMBUNG


__ADS_2