
🌤🌤🌤
Keesokan harinya dikediaman rumah besar William,
Terlihat Fredy ayah Alan sedang menyeruput kopi panas sambil membaca sebuah buku. Karyn yang juga sedang santai menemani suaminya mengobrol diruang keluarga sambil sesekali melihat album foto keluarganya.
Karyn terlihat sedikit sedih melihat foto putra-putranya yang sudah tumbuh dewasa dan sudah jarang sekali menemaninya karena sibuk dengan urusan kantor masing-masing. Dia terus menatap foto Alan dan Yandha yang terlihat saling rangkul dengan wajah ceria.
Berbeda dengan sekarang Alan dan Yandha sudah tidak dekat lagi seperti dulu. Alan sudah bukan pria yang ceria lagi, semenjak insiden 5 tahun yang lalu dia harus sekaligus kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai yaitu Adnan dan Ellie. Itulah yang membuat sifatnya jadi dingin dan sangat tertutup.
Mereka bertiga adalah sahabat sejak SMA hingga perguruan tinggi, karena Adnan dan Alan hanya berjarak 1 tahun jadi mereka terlihat seperti anak kembar. Ellie adalah gadis yang sangat ramah dan memiliki sikap yang sangat lembut, walaupun tidak diketahui dari mana asal-usulnya namun mereka tidak peduli karena faktanya mereka sudah jatuh cinta kepada orang yang sama.
"Sudahlah jangan lihat foto itu jika membuatmu bersedih," ucap Fredy sambil merebut album foto dari tangan istrinya.
"Apa Yandha belum bangun??" sambungnya lagi dan Karyn hanya menggelengkan kepalanya.
Tadi malam karena Yandha sudah sangat mabuk, Alan khawatir dan langsung mengantarkan Yandha pulang kerumah utama keluarga William.
"Anak itu mabuk lagi bahkan saat diluar Negeri pun selalu mabuk," ketus Fredy sambil meletakkan album foto keatas meja.
Karyn hanya tersenyum sendiri sambil memikirkan kedua putranya. Fredy menjadi heran melihat istrinya yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri padahal tadi sangat terlihat sedih.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri??" tanya Fredy sambil mengkerutkan keningnya.
"Sayang apa kau tidak menyadarinya??" jawab Karyn dan balik bertanya kepada suaminya.
Fredy terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang dimaksud istrinya itu, namun dia tidak bisa mengerti apa maksudnya.
"Apa maksudmu aku tidak paham??" tanya Fredy lagi.
"Dasar kau benar-benar tidak bisa menyadarinya. Kau tau Yandha sangat membenci Alan tapi dihati kecilnya mereka itu saling menyayangi. Buktinya Yandha masih mau bertemu dengan Alan dan Alan juga masih perhatian kepada Yandha." Jelas Karyn dengan ekspresi cerianya.
Fredy langsung tersenyum mendengar penjelasan istrinya, dia langsung memeluk Karyn dengan penuh kasih sayang.
"Tenang saja keluarga kita akan tetap rukun," ucap Fredy sambil mengelus punggung istrinya.
Yandha yang sebenarnya sejak tadi menguping pembicaraan ayah dan ibunya langsung merasa bersalah. Dia tidak tega melihat ibunya yang ternyata selama ini selalu memendam kesedihanya karena kedua putranya yang tidak rukun.
Tidak rukun bukan berarti mereka selalu bertengkar layaknya musuh. Namun mereka selalu diam satu sama lain saat berkumpul bersama, dan terkadang selalu berbeda argumen dan tidak ada yang mau mengalah jika soal adu mulut.
"Ehm..ehm.!!" Yandha berdehem sambil berjalan menghampiri kedua orangtuanya.
Karyn pun langsung segera mengusap air mata dipipinya saat mendengar suara putranya yang datang menghampiri mereka berdua.
"Haish bagaimana nasib jomblo jika orang yang sudah tua saja bersikap romantis didepan anaknya," goda Yandha lalu duduk disebelah ayahnya.
"Haha, biacara apa kamu ini," balas Karyn sambil mengacak-acak rambut putranya.
"Arghhh,, ibu jangan perlakukan aku seperti anak kecil aku sudah dewasa umurku bahkan sudah 22 tahun ini." Ketus Yandha sambil merapikan rambutnya.
"Kalau merasa sudah dewasa cepatlah bawakan menantu dan cucu untuk ibu," ucap Karyn membuat Yandha menjadi malu.
Yandha langsung berdiri dan langsung mengalihkan pembicaraannya kemakanan, "Perutku sepertinya lapar ayo segera sarapan.!!" ucapnya lalu berjalan menuju ruang makan.
Fredy dan Karyn pun langsung mengikuti putranya keruang makan.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Diwaktu yang sama disebuah ruang makan, Yoona sedang membantu beberapa pelayan untuk menyiapkan sarapan. Yoona memasak telur mata sapi lalu menghiasnya semenarik mungkin, karena dia tau bahwa Ziyan sangat tidak suka telur mata sapi sama seperti papanya.
"Selamat pagi..!!" Sapa Alan dan Ziyan serempak.
"Selamat pagi juga..!" Balas Yoona dengan senyum yang merekah.
Alan dan Ziyan pun langsung duduk dikursinya masing-masing. Sedangkan Yoona lalu memberikan telur mata sapi dipiring mereka berdua.
Alan menatap aneh bulatan telur mata sapi dengan riasan cantik dan bentuk smile lengkap dengan titik mata didalam piringnya. Sama halnya dengan Ziyan karena mereka berdua sama-sama tidak menyukai telur.
"Apa ini? Seberapa pun cantiknya telur tetaplah rasa telur sangat amis," ketus Alan menatapnya tidak suka.
"Mama aku juga tidak suka telur.!" Rengek Ziyan kepada Yoona.
Yoona langsung menatap tajam sambil mengasahkan garpu dan pisau diatas piring keramik hingga terdengar sangat ngilu.
Sringggg... Sriingg.
"Makan sendiri atau akan aku paksakan telur itu masuk kedalam mulut kalian.!!" teriak Yoona membuat Alan dan Ziyan langsung menciut.
"Baik.!!" ucap mereka serempak dan langsung memakan telur mata sapi dihadapanya.
"Ehh kenapa rasanya tidak amis??" ucap Alan sambil merasa-rasakan telur yang ada dimulutnya.
Ziyan yang juga biasanya tidak menyukai telur karena rasanya yang amis, namun dengan lahap kali ini langsung memakan habis telur dihadapanya.
"Wah ini rasanya tidak amis sama sekali, enak.!!" Ucap Ziyan sambil mengangkat piringnya yang sudah kosong.
"Aku pikir rasanya biasa saja, aku hanya menaburkan bubuk merica dan kunyit dalam telur, kalian terlalu berlebihan." Balas Yoona sambil mencicipi masakanya sendiri.
Setelah selesai sarapan Yoona lalu bersiap-siap untuk pergi kekantor bersama Alan. Dia lalu pergi kekamarnya sebentar untuk mengambil tas dan ponselnya.
"Tunggu ya aku ambil tas dan ponselku dulu dikamar," ucap Yoona.
"Sekalian ambilkan jas ku dikamar.!!" seru Alan dan langsung diangguki oleh Yoona.
Yoona pun terlebih dahulu mengambil jas Alan dikamarnya. Saat mengambil jas, terlintas dipikiran Yoona untuk mencari sesuatu tentang Ellie orang yang selalu disebut-sebut namanya oleh Alan.
Yoona pun memulai pencariannya dari nakas, dia membuka setiap laci kecil dan membuka buku-buku diatas nakas. Namun tidak ada apapun untuk ditemukan membuat Yoona menyudahi pencarianya karena jika terlalu lama Alan akan datang menemuinya.
Saat akan keluar dari kamar, mata Yoona melirik kesebuah dinding yang ditutupi tirai. Dia merasa aneh karena biasanya jendela yang harus ditutupi dengan tirai bukan dinding. Karena penasaran Yoona pun berniat untuk membuka tirai tersebut.
"Ada apa sih dibalik tirai ini?" ucapnya dan perlahan membuka tirainya.
Deghh...
Setelah tirai terbuka betapa terkejutnya Yoona ketika melihat bingkai foto besar yang terpajang mewah dibalik tirai. Jantungnya langsung berdegup kencang ketika melihat sosok wanita cantik didalam foto tersebut. Yoona seperti melihat dirinya sendiri karena orang didalam foto tersebut sangat mirip dengannya.
Yoona seperti terpaku ketika melihat foto itu, jantungnya seperti sekarat karena berdetak sangat kuat. Perlahan bayangan-bayangan ingatan mulai bermunculan dikepalanya. Hati Yoona terasa sakit ketika melihat foto itu dan kepalanya juga mulai terasa sakit karena beberapa ingatan yang terus bermunculan dikepalanya.
Didalam ingatan yang terlintas dikepala Yoona saat ini adalah dia seperti melihat dirinya sendiri sedang memakai gaun pengantin dan melakukan upacara pernikahan disebuah gereja. Terlihat sangat ceria dan cantik namun pandangan matanya seperti dipenuhi dengan beban hidup yang sangat berat. Laki-laki yang memegang erat tangannya terlihat seperti Alan namun karena ingatannya hanya sekilas bayangan tidak terlalu jelas ingatan yang dia ingat.
"Arghhh, apa ini?? ingatan ini sangat menggangguku.." rintih Yoona sambil mencengkram kuat kepalanya.
__ADS_1
Tubuh Yoona terasa sangat lemas dan kakinya seperti tidak bertulang hingga membuatnya terduduk kelantai.
"Stop..!! Aku tidak ingin mengingat ini, sakit... kepala ku sangat sakit," Yoona terus merintih hingga air matanya keluar membasahi pipinya.
Disisi lain karena Alan tidak sabar menunggu Yoona yang tak kunjung kembali, dia menjadi sedikit kesal dan langsung menyuruh Alex agar mengantar Ziyan dahulu karena sudah mau terlambat.
"Alex pergilah duluan antar Ziyan sekolah, aku akan membawa mobil sendiri kekantor," ucapnya kepada Alex.
"Baik bos," Alex langsung pergi mengantar Ziyan kesekolahnya.
Setelah itu Alan lalu berjalan menuju kamar Yoona dan mencarinya. Namun ternyata dikamarnya kosong dan dia pun langsung menuju kamarnya sendiri.
"Apa dia tidak bisa menemukan jas ku hingga selama ini," pikir Alan sambil membuka pintu kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka Alan langsung terkejut melihat Yoona yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri dilantai. Wajahnya terlihat sangat pucat dan bercucuran keringat dingin. Alan langsung menghampiri Yoona dan terlihat sangat khawatir.
"Yoona apa yang terjadi kepada mu??" tanya Alan sangat panik sambil merangkul tubuh Yoona.
"Yoona sadarlah kau jangan membuat ku takut.!!" sambungnya lagi sambil menepuk-nepuk pelan pipinya.
Karena Yoona tidak juga sadar dari pingsannya, Alan langsung mengangkatnya dan merebahkannya keatas kasur. Alan lalu menghubungi Vian agar segera datang untuk memeriksa keadaan Yoona.
Setelah terasa lama menunggu akhirnya dr. Vian datang sambil membawa kotak peralatannya. Vian langsung menghampiri Yoona yang baru saja tersadar dari pingsannya. Dia pun lalu memeriksa keadaan fisik Yoona.
"Bagaimana keadaannya??" tanya Alan terlihat sangat khawatir.
Namun Vian tidak langsung menjawab pertanyaan dari Alan, dia terdiam sejenak sambil memperkirakan keadaan Yoona.
"Yoona apa kamu merasa tidak nyaman berada didalam kamar Ini??" tanya dr. Vian sambil melihat sekeliling kamar Alan.
Vian bertanya seperti itu karena tubuh Yoona masih bergetar dan detak jantungnya masih tidak stabil. Yoona juga masih terlihat linglung dan syok, dia juga hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya saat Vian memberikan pertanyaan.
"Yoona apa kamu ingin menghirup udara segar? Ayo kita pergi ketaman..!!" Tanya Vian dan Yoona langsung menganggukinya.
Vian pun lalu mengajak Yoona untuk duduk ditaman yang masih berada dirumah Alan. Alan sedikit heran karena Vian malah mengajaknya pergi keluar. Menurutnya diluar malah terasa dingin dan akan berdampak buruk untuk kesehatannya.
"Kenapa malah mengajaknya keluar??" tanya Alan.
"Dia butuh udara segar dan juga sesuatu sangat membuatnya tidak nyaman saat berada dikamarmu," jawab Vian dengan santai.
Alan langsung terdiam saat mendengar jawaban Vian, pikirannya lalu mengarah kepada foto yang tirainya sudah terbuka. Dia memandang foto seorang wanita yang tersenyum hangat kepadanya. Foto itu sangat berarti bagi Alan, namun karena terkadang Alan selalu merasakan kebenciannya terhadap wanita didalam foto itu, dia pun memutuskan untuk menutup fotonya dengan tirai.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya para Readers..!!