Kandidat Mama Muda

Kandidat Mama Muda
Eps 32 Janji yang tidak ditepati


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dan berbaikan dengan Alan, Yoona langsung kembali ke ruang rawat adiknya. Sedangkan Alan kembali kekantornya karena masih ada urusan yang belum diselesaikan.


Sambil menghela napasnya Yoona membuka pintu dan dia terkejut karena sudah Haris berdiri di depan pintu masuk. Tatapan Haris sangat aneh, dia menatap Yoona dengan tatapan marah membuat Yoona langsung teringat perdebatan yang menganggap dia bukan kakaknya.


"Haris, apa kau benar-benar masih marah padaku??" tanya Yoona sambil menyentuh kedua bahu Haris.


Haris masih tetap diam dan masih menatap Yoona dengan tatapan tidak senang.


"Baiklah aku benar-benar minta maaf, sebagai kakak mu aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku berjanji mulai dari sekarang aku akan terus memberi perhatian kepada mu." ucap Yoona sambil memeluk tubuh Haris.


Namun tiba-tiba saja Haris mendorong dan segera melepas pelukan dari Yoona lagi. Yoona hanya bingung dengan sikap adiknya itu, dia merasa bahwa dia tidak pernah diperlakukan sebagaimana seoarang kakak.


"Haris aku harus bagaimana, katakan padaku??" rintih Yoona sangat merasa sedih atas perlakuan adiknya itu.


"Siapa laki-laki yang sangat kasar menarik tangan mu??" tanya Haris dengan ekspresi penuh amarah.


Yoona langsung terdiam saat mendengar Haris yang ternyata bukan mempermasalahkan masalah sebelumnya. Dia langsung tersenyum dan langsung menarik lembut tangan Haris agar segera kembali ketempat tidurnya.


"Jadi kau mengkhawatirkan aku ya, hemm." Ucap Yoona sambil memeluk gemas tubuh adiknya itu.


"Ck, sudah aku bilang aku tidak suka kau peluk.!!" ketus Haris.


"Oke,oke.. Aku tidak akan memelukmu lagi dasar adik jahat," ucap Yoona sambil mengerucutkan mulutnya.


"Yang tadi itu bos ku, dia hanya marah karena aku bolos kerja." Jelas Yoona berbohong.


Haris hanya mengkerutkan keningnya saat mendengar penjelasan dari Yoona. Dia tidak percaya karena tidak mungkin seorang bos akan menemuinya hanya karena dia bolos kerja.


"Kepala ku memang bermasalah, tapi aku masih punya otak yang masih berfungsi untuk berpikir, beraninya kau membohongiku.!" Ketus Haris tidak senang sambil melipat kedua tangannya didada.


Yoona heran karena Haris ternyata bisa menebak kalau dia sudah berbohong, belum lagi tidak tau kenapa dia sangat terlihat kesal. "Kenapa dia marah seperti pria yang sedang cemburu," pikir Yoona dengan ekspresi heranya.


"Sudah-sudah jangan marah-marah terus dia cuman bos ku, ada apa sebenarnya dengan mu??" ucap Yoona sambil mengusap-ngusap kepala Haris.


"Huh"


Haris pun hanya memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan mulutnya hingga terlihat menggemaskan.


Yoona akhirnya tersenyum lalu duduk ditepi ranjang yang ditiduri oleh Haris. Dia lalu menatap wajah Haris sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau seperti seorang lelaki yang cemburu dengan pacarnya?" goda Yoona dan itu berhasil membuat Haris langsung tersipu malu.


"Sembarangan aku hanya tidak suka kau dekat dengan laki-laki kasar.!!" Teriak Haris lalu berbaring dan menutupi seluruh tubuh sampai kepala dengan selimut.


"Haha, ya ya kau memang adikku yang manis dan penuh perhatian, muuaacchh" Yoona mengecup kepala Haris dari balik selimut. Setelah itu dia lalu pergi untuk menemui ibunya yang tak kunjung kembali.


"Haris kau harus istirahat, aku akan keluar mencari ibu.!" Ucap Yoona lalu pergi.


Haris lalu membuka selimut setelah dirasa Yoona sudah tidak ada lagi didalam kamar. Dia lalu duduk bersandar sambil menatap kearah pintu masuk.


"Hemm, memangnya salah jika aku cemburu." Pikir Haris dalam hati.


🍃🍃🍃


Di sisi lain Alan yang sedang sibuk di meja kerjanya terlihat tidak fokus karena pikirannya terus saja tertuju kepada Yoona. Beribu-ribu kali dia membayangkan dan memperkirakan reaksi apa yang akan Yoona berikan setelah dia memberitahu semuanya bahwa sebenarnya Yoona adalah Ellie.


Sam yang sedang duduk disofa terus saja mengkerutkan keningnya setiap kali dia melihat Alan yang tiba-tiba saja mencengkram kepalanya sendiri.


"Alan sudah mulai gila.!" Pikir Sam.


"Sam..!!" Bentak Alan membuat Sam menjadi terkejut.


"Hah, apa dia bisa membaca pikiranku barusan?" pikir Sam lagi sedikit takut sambil menyeruput kopi panasnya.


Alan lalu beranjak dari tempat duduknya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Dia berjalan sambil memegang dagunya seperti orang sedang berpikir keras lalu duduk disebelah Sam.


"Sam, bantu aku siapkan sesuatu yang romantis di tepi Danau Kenangan.!!" Ucap Alan dan seketika Sam pun langsung terkejut hingga tersedak.


"Uhukk..uhukk.. Kau?? Memangnya wanita mana yang mau kau kencani??" tanya Sam sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.


"Tentu saja wanita yang sangat spesial.!" Ucap Alan sambil menatap layar ponselnya.


Sammuel pun tanpa komentar lagi langsung bergegas memanggil para ajudannya untuk mempersiapkan sesuatu yang romantis sesuai permintaan Alan. Dia ikutan senang karena selama ini Alan tidak pernah mau menoleh atau mengencani wanita model apapun. Baru kali ini dia melihat Alan semangat terhadap perempuan lagi dan tentunya dia tidak tau bahwa wanita yang dimaksud adalah Yoona.


🍁🍁🍁


Setelah waktunya tiba, Yoona lalu bersiap-siap memilih baju untuk pergi ke tempat yang sudah di janjikan Alan. Yoona adalah type perempuan yang sangat tidak suka ribet. Karena dia tidak seperti kebanyakan wanita yang memilih baju hingga berjam-jam dan hingga berkali-kali ganti, dia dengan waktu singkat dan sekali pilih langsung merasa puas dengan dress pilihan pertamanya.



Yoona lalu duduk didepan cermin dan terdiam sejenak. Dia terus saja menatap wajahnya didalam cermin tidak sabar memikirkan jawaban apa yang akan Alan berikan untuknya.


Perlahan dia menepukan bedak dan make up lainnya kewajah mulusnya itu. Karena dia tidak suka berdandan menor, dia pun hanya mengoleskan Lipteen Natural kebibir ranum merah mudanya itu.

__ADS_1


"Hemm, sebenarnya aku tidak harus berdandan karena kami bukan mau kencan," gumam Yoona sambil memberikan sedikit maskara untuk bulu matanya.


Sebenarnya bisa dibilang dia seperti memang tidak berdandan. Namun karena dia sudah cantik sejak lahir, walau dengan tampilan yang sangat sederhana, dia terlihat cantik seperti bunga segar.


"Hmm, sudah jam setengah 8 ni, berangkat sekarang deh.!" Gumamnya lalu mengambil tas dan pergi.


Saat didepan Lift, Yoona bertemu lagi dengan salah satu bodyguard yang selalu terlihat di sekitar Apartemetnya. Kali ini Yoona terlihat biasa saja karena sudah tau bahwa mereka itu bukan orang jahat.


Ting...


Pintu Lift terbuka dan Yoona langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam lift, begitu pun orang itu.


"Nona kita bertemu lagi.!" Ucap bodyguard itu dan Yoona hanya membalasnya dengam senyuman.


Bodyguard yang diketahui bernama Ken itu, dia menatap Yoona dari atas hingga bawah. Dia menyadari bahwa sepertinya Yoona akan pergi kesuatu tempat.


"Nona kau terlihat sangat cantik, apa mau pergi kencan?" tanyanya sambil tersenyum ramah.


"Haha, tidak kok hanya bertemu dengan teman," jawab Yoona sambil tertawa kecil.


Saat pintu lift terbuka Yoona langsung saja keluar tanpa memperdulikan Ken yang seperti masih ingin mengajaknya bicara. Ken hanya membisu sambil menatap punggung Yoona yang mulai tak terlihat lagi lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menghubungi seseorang.


🌙️🌙️🌙️


Setelah tiba di taman Danau kenangan, Yoona turun dari mobil dan langsung memusatkan perhatiannya melihat lampu yang berkelap-kelip menghiasi seluruh taman. Yoona tersenyum kagum melihat pemandangan yang sangat indah itu. Dia pun melangkahkan kakinya menelusuri jalan setapak yang setiap tepinya di hiasi oleh lilin yang berbaris rapi.



"Aku tidak salah taman kan, kenapa taman ini sangat cantik tapi sepi dari pengunjung?" gumam Yoona sambil melihat kesekeliling taman.


"Dan lagi tempat ini terlalu romantis pasti sudah disewa oleh orang yang akan berkencan," sambungnya lagi.


Saat Yoona sedang melihat-lihat disekitar taman, tiba-tiba saja seorang pelayan wanita datang menghampirinya.


"Selamat datang Nona..!! Silahkan lewat sini, tuan muda Alan sudah mempersiapkan tempat spesial untuk anda.!!" Ucap seorang pelayan dan Yoona hanya bengong sambil mengikuti pelayan itu.


"Tempat spesial seperti apa yang dimaksud??" pikir Yoona sambil terus berjalan mengikuti pelayan yang menunjukan jalan.


Saat tiba di depan tirai berwarna merah muda, pelayan itu menghentikan langkahnya dan langsung menyuruh Yoona untuk masuk dan membuka tirainya sendiri.


"Silahkan Nona.!! Sebentar lagi tuan muda Alan akan tiba, anda harus menunggu disana.!" Ucap seorang pelayan.


Walau sedikit bingung dan ragu, Yoona pun perlahan membuka tirai dihadapannya. Saat tirai terbuka betapa terkejutnya Yoona saat melihat pemandangan romantis di hadapannya. Ada satu pasang kursi dengan meja ditengahnya dihiasi dengan bunga mawar merah dan beberapa lilin yang membuat suasana semakin romantis.



"Pelayan.!! Apa ini tidak salah tempat??" tanya Yoona karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.


Pelayan itu menggelengkan kepalanya lalu menarik kursi dan mempersilahkan Yoona agar segera duduk.


"Ini semua tuan muda Alan yang mempersiapkannya, anda tunggu saja sebentar lagi beliau akan tiba," balasnya lalu pergi meninggalkan Yoona.


Yoona langsung tersenyum senang melihat pemandangan romantis dihadapanya. Ini pertama kalinya dia berada di posisi seromantis ini. Dia tidak berhenti untuk terus tersenyum sambil menyentuh beberapa bunga mawar merah d depannya.



"Sebenarnya apa saja yang mau dia katakan kenapa sampai seperti ini?" gumam Yoona sudah tidak sabar lagi menunggu Alan yang tak kunjung tiba.


🍃🍃🍃


Tik.. Tik.. Tik..


Bunyi jam tangan Yoona terus saja berdetik, suasana ditepi danau sudah semakin sepi dan udara terasa semakin dingin. Yoona mengusap lengannya sendiri karena angin malam yang seperti mau hujan terus terasa sayup melewati pori-porinya.


Lilin yang tadi menerangi seluruh jalan setapak satu persatu mulai habis lalu padam. Angin terus saja sayup-sayup membuat lilin diatas meja menjadi tidak tenang. Hanya suara deru angin dan sedikit gemuruh kecil yang terdengar ditelinga Yoona.


Sudah hampir 2 jam lebih Yoona duduk menunggu Alan namun tidak ada tanda-tanda bahwa Alan datang menemuinya. Yoona pun semakin tambah kesal sambil terus menatap layar ponselnya.


"Ck, Alan kemana sih kenapa belum datang juga ini sudah jam 10 malam," ketus Yoona sambil mencoba untuk menghubungi Alan.


Namun, walau sudah beberapa kali Yoona menghubunginya, Alan tetap saja tidak menjawab telepon dari Yoona. Dia pun tidak menyerah dan terus menghubungi Alan hingga akhirnya seseorang menjawab teleponnya.


"Halo," jawab seorang wanita bersuara lembut dari balik telepon.


Degh...


Seketika jantung Yoona langsung berdegup kencang saat tau bahwa yang menjawab telepon adalah seorang wanita.


"Halo ini siapa ya??" tanyanya lagi dari balik telepon.


Perlahan Yoona pun membuka bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat.


"Ha...halo, apa... Apa bisa bicara dengan Alan??" tanya Yoona dengan suara yang mulai bergetar.

__ADS_1


"Maaf ya Alan baru saja tertidur, jika ada penting kau....." tutt tuuttt.


Yoona langsung segera mematikan sambungan teleponnya. Tidak tau kenapa dia tidak mau mendengarkan suara wanita itu lagi.


Yoona terduduk lemas sambil mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia mengatur napasnya yang semakin tidak beraturan. Secara tidak sadar dia meremas bunga mawar yang ada diatas meja hingga tangannya menjadi terluka.


"Yoona tenangkan dirimu, kenapa kau kesal?? Kenapa kau harus marah? Kenapa kau harus sakit hati?? Memangnya siapa Alan itu, terserah dia mau tidur dengan siapa.!!" Gumam Yoona hingga tidak terasa air matanya keluar membasahi pipi.


Dia berbicara dengan dirinya sendiri yang sudah seperti bukan dirinya lagi. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Marah, kecewa dan cemburu bercampur aduk bergemuruh di dalam hatinya.


Setelah merasa sedikit tenang Yoona langsung beranjak dari tempat duduknya lalu...


Plaakkk..


Tiba-tiba saja dia menampar pipi kanannya sendiri dengan sekuat tenaga hingga terasa sangat panas. Dia melakukan itu untuk meyakinkan dirinya sendiri agar cepat sadar dari keadaan yang seperti halusinasi itu.


"Yoona sadarlah buat apa kau menangis?? Buat apa kau marah?? Kau hanya daun yang tidak sengaja jatuh ditangannya, kenapa berharap menjadi bunga yang akan dia sukai?" gumamnya sambil berjalan menelusuri jalan setapak menuju pinggiran danau.


Yoona sudah tidak memiliki semangat lagi, ia hanya ingin jalan-jalan ditepi danau untuk menenangkan pikirannya yang sudah tidak karuan. Yoona terus saja berjalan menelusuri tepi danau hingga langkahnya terhenti disebuah dermaga kecil. Perhatiannya terfokus menatap air danau yang begitu tenang dan sunyi.


Deru angin semakin besar bertiup menerpa kulit Yoona yang sudah terasa sangat dingin. Yoona berkali-kali terus saja mengusap lengannya karena terasa dingin, namun dia masih tidak peduli.


Yoona mengeratkan genggaman tangannya pada pembatas dermaga, tidak disangka air matanya lagi-lagi lolos membasahi pipinya.


"Alan kau sunguh keterlaluan, kau sudah berjanji tapi kau sendiri yang mengingkarinya," lirih Yoona dengan nada suara yang sudah bergetar.


"Dan lagi buat apa tempat romantis ini, membuat ku jadi mengharapkan sesuatu yang lebih, aku memang bodoh." sambungnya lagi sambil menundukan wajahnya.


Hal terbesar yang sangat membuatnya sakit adalah bahwa sebuah fakta Alan tidur bersama wanita lain dan mengingkari janji yang dia buat sendiri.


Yoona kemudian mengangkat wajahnya dan menatap langit sambil menutup kedua matanya. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi pipinya. Hujan gerimis mengacaukan air danau yang tenang dan membasahi seluruh taman. Sedangkan Yoona masih tetap berdiri ditempatnya saat ini.


"Kenapa berdiri sendiri dan hujan-hujanan??" tanya seorang pria sambil memayungkan payung keatas kepala Yoona.


Sontak Yoona terkejut dan langsung menatap seorang pria berjas coklat yang sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu terlihat seusia Alan, awalnya dia juga mengira bahwa yang datang adalah Alan.


"Tidak apa-apa," jawab Yoona datar lalu memalingkan wajahnya lagi.


"Kau menangis??" tanya nya lagi.


Yoona hanya menggelengkan kepalanya tanpa menatap pria disebelahnya itu.


"Apa sedang menunggu seseorang??" tanyanya lagi, tidak tau siapa pria itu terus saja bertanya.


"Tidak," jawab Yoona sambil menggelengkan kepalanya lagi, padahal memang benar dia sedang menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.


Pria itu terdiam sejenak sambil menatap wajah Yoona dari samping, terlihat sangat jelas bahwa Yoona sedang merasa sangat kecawa kepada seseorang.


"Sebaiknya kau pulang saja, hari sudah semakin larut tidak baik seorang wanita masih di luar rumah saat malam hari, dan lagi hujan mulai semakin deras." Jelas pria itu sambil menjulurkan tangannya menampung air hujan.


"Aku masih ingin disini dan aku tidak butuh payung ini.!!" Balas Yoona sambil menepis payung dari atas kepalanya.


Namun pria itu dengan sabar langsung memayungkan lagi payungnya keatas kepala Yoona.


"Udaranya semakin dingin dan tubuhmu sudah basah kuyup, sebaiknya kau jangan keras kepala.!!" Ucapnya lagi sedikit menaikan nada bicaranya.


"Apa peduli mu memangnya kau ini siapa hah???" bentak Yoona kepada pria itu.


"Tentu saja aku peduli karena aku adalah......."


Bruukkkk


Belum selesai pria itu bicara, dia langsut terkejut setengah mati saat melihat Yoona tiba-tiba pingsan dan tidak sempat dia tahan hingga terjatuh kelantai dermaga. Dia langsung melempar payung yang ia pegang lalu berjongkok dan langsung merangkul tubuh Yoona.


"Hey, apa kau baik-baik saja?? Yoona sadarlah..!!" Pria itu terus saja menepuk-nepuk pelan pipi Yoona hingga beberapa kali, dia bahkan bisa merasakan bahwa tubuh Yoona terasa sangat dingin seperti es.


Tidak menunggu lama lagi dia lalu menggendong Yoona dan membawanya keluar dari taman menuju ke mobilnya.


"Tuan muda Wilson, apa yang terjadi??" tanya seorang supir terlihat khawatir.


"Jangan banyak tanya cepat buka pintu.!!" Bentaknya.


Yoona pun langsung dibawa masuk kedalam mobil oleh pria itu. Mereka langsung melajukan mobilnya kesebuah tempat yang tidak Yoona ketahui. Dengan perasaan khawatir pria itu terus saja memeluk erat tubuh Yoona.


"Untung saja Ken tadi menghubungi ku, jika tidak..." Pikirnya didalam hati tidak bisa membayangkan sesuatu yang lebih buruk lagi jika dia tidak datang menemuinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Buat para readers tolong ya biasakan like setelah membaca,dan biasakan like juga sebelum komen.!!


__ADS_2