
Setelah sampai di rumah sakit, Yoona langsung berlari menuju ruang operasi Haris. Di sana terlihat ibunya sangat panik sedang mondar-mandir di depan ruang operasi. Yoona langsung menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang.
"Ibu tidak perlu khawatir Haris pasti akan baik-baik saja.!" Ucap Yoona menenangkan ibunya.
"Yoona kamu kemana saja sih, Haris tidak mau operasi jika belum bertemu dengan mu," balas ibunya terlihat sangat khawatir.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya bu," ucap Yoona lalu masuk kedalam ruang operasi.
Di dalam ruang operasi sudah ada beberapa Dokter dan Suster yang sudah siap dengan peralatan operasinya. Namun Haris masih sadarkan diri karena dia terus saja memberontak saat Dokter akan memberi suntikan kepadanya. Dia memang sengaja menunggu Yoona sebelum para Dokter itu mengoperasinya.
"Haris kenapa kamu bersikap seperti ini sih?" tanya Yoona sambil mengelus kepala adiknya.
Saat Yoona mengusap kepala Haris dengan sigap dia langsung mencengkram kuat tangan Yoona hingga membuat tangannya terasa sakit. Yoona semakin dibuat bingung oleh sikap Haris yang selalu bertingkah seperti bukan adiknya.
"Haris sebenarnya apa yang kau inginkan??" tanya Yoona lagi sambil memegang tangan Haris yang mencengkram tangannya.
"Suruh semua orang keluar.! Aku hanya ingin bicara denganmu saja," ujar Haris dengan tatapan yang sedikit tajam.
Yoona pun langsung menuruti permintaan adiknya itu, dia langsung menyuruh para Dokter untuk keluar sebentar. Dokter pun dengan sedikit bingung bercampur penasaran langsung keluar dari ruang operasi.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua, sebenarnya apa yang mau kamu katakan adikku yang manis.?" tanya Yoona sambil mencubit gemas pipi Haris.
Haris langsung melepaskan tangan Yoona, dia langsung menundukan wajahnya dan terlihat sangat sedih. Sangat jelas terlihat diwajah Haris bahwa kesedihan yang sangat mendalam sedang dia rasakan saat ini. Yoona yang melihatnya pun semakin merasa khawatir dengan adiknya. Dia langsung memeluk Haris dan mencoba membuatnya tenang.
"Haris kamu pasti akan sembuh, jadi harus semangat dan terus berjuang.!" Ucap Yoona.
Ini pertama kalinya Haris tidak menolak pelukan dari Yoona. Biasanya setiap kali Yoona ingin memeluknya Haris pasti akan menolak dan mengatakan bahwa Yoona wanita yang tidak tau malu. Padahal menurut Yoona seorang kakak memeluk adiknya itu adalah hal yang sangat wajar.
"Jika aku mati apa kau akan melupakan aku??" tanya Haris dengan suara yang sangat lirih.
Seketika Yoona langsung terkejut saat mendengar kata-kata Haris. Dia langsung melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Haris.
"Apa yang kamu katakan, siapa yang akan mati? Dengar, setelah operasi ini kamu akan sembuh dan kita bertiga akan tinggal bersama, liburan bersama, jadi kakak mohon buang jauh-jauh rasa pesimis mu itu.!" Jelas Yoona memberi semangat kepada adiknya.
"Tapi aku tidak yakin akan sembuh, aku memiliki firasat buruk,hihi." Balas Haris sambil menunjukan senyum putus asanya
"Anak bodoh.!! apa yang kamu katakan, kakak akan selalu di samping mu untuk menyemangatimu jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Yoona.
__ADS_1
"Firasat ku selalu benar, jadi sebelum itu terjadi ada beberapa kata yang ingin aku sampaikan." Timpal Haris sambil menatap sayu wajah Yoona.
Yoona sangat siap untuk mendengarkan apapun yang akan Haris katakan. Dia langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Haris.
"karena aku takut besok aku sudah tidak bernapas lagi, jadi aku ingin menyatakannya kepada mu, aku ingin bilang bahwa semenjak kita bertemu 5 tahun lalu aku menaruh perasaan terhadapmu, tapi ibu melarangku untuk mencintaimu karena dia bilang ingin menjadikan mu anak keduanya, tapi aku tidak bisa aku sangat mencintaimu." Jelas Haris.
Yoona bengong saat mendengar perkataan Haris. Dia sangat bingung dan bahkan ingin tertawa saat mendengar kata-kata Haris yang tidak masuk di akalnya.
"Hahaha, Haris apa sih yang kamu katakan. Aku juga mencintaimu tau.!!" Yoona tidak bisa menahan tawanya dan langsung memeluk Haris karena merasa sangat gemas dengan sikapnya itu.
"Aku serius, aku benar-benar mencintaimu dan berharap jika aku masih diberi kesempatan hidup, aku hanya ingin menikah denganmu.!" Ujar Haris lagi.
Kali ini Yoona benar-benar sangat terkejut bercampur bingung. Perlahan dia langsung melepas pelukannya dan memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari Haris. Di otak kecilnya berbagai kata dia rangkum, tapi dia masih juga belum bisa mengerti dengan apa yang Haris katakan.
"Haris..!! Apa maksud mu? Aku ini kakak mu, bagaimana bisa kau ingin menikah dengan ku.! Kamu tidak sakit sampai gila kan??" tanya Yoona dengan suara serak dan mata yang sudah hampir menangis.
Haris langsung menggelengkan kepalanya dan berkata: "Sebelum aku mati aku ingin menceritakan semua yang aku tau kepada mu, sebenarnya kau bukan anak ibu. 5 tahun yang lalu ibu menemukan mu sekarat di bawah tebing dengan badan penuh dengan luka. Kami merawat mu hingga akhirnya aku mencintaimu. Karena kau hilang ingatan, ibu mengangkatmu menjadi putrinya." Jelas Haris dengan wajah yang sangat serius.
Yoona memejamkan kedua matanya erat-erat, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang Haris katakan. Air matanya langsung saja lolos membasahi pipinya. Jantungnya langsung berdegup kencang dan kakinya terasa sangat lemas.
"Yoona jangan katakan kepada ibu jika aku memberitahukan ini kepada mu, ibu juga tidak tau apa-apa tentang asal-usul mu. Jadi bersikaplah seperti biasanya dan tolong jaga ibu untukku.!" Ucap Haris sambil menunjukan senyum semangat.
Yoona tidak memperdulikan kata-kata Haris. Dengan tatapan kosong dia berjalan keluar dari ruang operasi dan para Dokterpun langsung masuk setelah melihat Yoona keluar. Air mata Yoona masih mengalir, dia terisak karena tidak menyangka bahwa dia ternyata hanyalah anak pungut. Selama ini dia merasa sangat bahagia tinggal bersama keluarga sederhana, namun ternyata itu bukan keluarga aslinya.
Yoona langsung masuk ke dalam lift, di dalam lift dia menumpahkan semua kesedihannya. Yoona menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa sangat sesak setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Hiks, hiks Apa ini rahasia yang dimaksud oleh paman, ternyata aku hanya anak pungut, hiks." Isak Yoona terduduk lemas di dalam lift.
Ting...
Saat lift terbuka Yoona masih enggan untuk berdiri, dia masih duduk sambil meratapi nasibnya. Dia tidak tau bahwa seseorang di depan lift sedang memperhatikannya.
"Yoona.!!" Panggil Nathan terlihat khawatir.
Yoona langsung mengangkat kepalanya, dia melihat ternyata Nathan sedang berdiri dihadapanya.
"Nathan..??"
__ADS_1
Yoona mencoba untuk berdiri walau kakinya masih terasa sangat lemas. Nathan pun menghampiri Yoona dan memapahnya keluar dari dalam lift.
"Yoona apa kamu baik-baik saja? Kenapa duduk di dalam lift?" tanya Nathan sambil membawa Yoona duduk di kursi.
"Aku tidak apa-apa, tubuhku rasanya lemas saat menunggu Haris sedang di Operasi," jawab Yoona berbohong.
"Tenang saja adik mu pasti akan baik-baik saja.!" Ucap Nathan mencoba untuk menenangkan Yoona.
Reflek Yoona langsung menyenderkan kepalanya kebahu Nathan. Nathan pun langsung merangkul bahu Yoona dan dengan lembut tangannya mengusap rambut Yoona. Sebenarnya Nathan memiliki perasaan terhadap Yoona, namun dia tidak berani menyatakannya saat dihadapan Yoona. Padahal saat dengan wanita lain dia merasa sangat santai, tapi lain rasanya jika berada di dekat Yoona. Nathan merasa jantung dan mentalnya sangat sulit untuk dikendalikan.
🍃🍃🍃
Disisi lain, Alan yang baru saja tiba di Rumah Sakit langsung memanggil Dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadapa Ayahnya. Secara tidak sadar Alan berlari melewati Yoona yang sedang dipeluk oleh Nathan. Sekilas mata Alan menyadari bahwa baru saja dia seperti melihat Yoona. Namun dia berpikir lagi mana mungkin Yoona berada di Rumah Sakit, sedangkan dia menyuruhnya agar tetap menunggu di rumah, pikir Alan.
"Dokter cepat lakukan yang terbaik untuk Ayahku.!" Ucap Alan sambil mengikuti Dokter menuju UGD.
Yoona langsung mengangkat kepalanya ketika samar-samar telingannya mendengar suara Alan. Dia melihat kesumber suara, namun dia tidak melihat bahwa ada tanda-tanda Alan di Rumah Sakit.
"Apa aku salah dengar ya kenapa aku mendengar suara Alan, hmm mungkin hanya perasaanku saja," pikir Yoona sambil melihat ke sekelilingnya.
"Ada apa??" tanya Nathan sambil ikut melihat ke sekelilingnya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Yoona sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah ayo kita menunggu bersama ibu mu.!" Ajak Nathan dan Yoona hanya menganggukinya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE YA..!!!