
Haris di makamkan di kampung halamannya, di tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Alan dan Nathan pun ikut hadir di pemakaman Haris. Setelah pemakaman selesai semua orang yang menghadiri pemakaman Haris pun pulang kerumahnya masing-masing. Tinggal Yoona dan ibunya yang masih duduk di depan makam Haris. Alan dan Nathan pun masih setia berdiri di belakang mereka berdua.
Yoona terisak tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Teringat semua kata terakhir Haris yang mengatakan bahwa dia mencintai Yoona bukan sebagai kakaknya, namun ia menginginkannya sebagai istri. Teringat pula kata terakhir Haris saat berkata jangan pernah meninggalkan ibu walau Yoona tau bahwa Bu Hana bukanlah ibu kandungnya.
"Yoona, Bibi Hana, hari sudah semakin gelap ayo kembali ke rumah," ajak Nathan sambil memegang bahu Yoona dan ibunya.
"Iya bu, mari pulang.!" ajak Yoona sambil memeluk tubuh ibunya.
"Hiks, ibu tidak tega meninggalkan Haris sendirian di tempat gelap, ibu sangat mengkhawatirkannya Yoona, hiks." isak Bu Hana sambil mengusap foto Haris.
"Hiks, ibu jangan seperti ini, percayalah Haris tidak sendirian di dalam sana, dia pasti akan ikut kita pulang ke rumah," ucap Yoona.
Dengan perasaan enggan, Bu Hana pun akhirnya berdiri sambil dibantu oleh Yoona. Air matanya masih menetes tak henti-henti saat Bu Hana meninggalkan makam putranya itu.
Alan yang melihat betapa kehilangannya seorang ibu saat putranya meninggal merasa sangat iba dan kasihan. Dia juga pernah mengalami hal yang sama, bahkan dia harus sekaligus kehilangan 2 orang yang sangat ia cintai.
"Haris semoga kau tenang di alam sana, kau jangan khawatirkan kakak dan ibu mu. Karena mulai saat ini dan selamanya aku akan menjaga mereka berdua." ucap Alan sambil meletakkan bunga di depan foto Haris lalu pergi menyusul yang lainnya.
Saat tiba di rumah kecil milik ibunya. Yoona langsung membawa ibunya untuk beristirahat di dalam kamar, sedangkan Alan dan Nathan menunggu di ruang tamu. Saat pemakaman hingga sekarang Alan dan Nathan sama sekali tidak saling mengobrol. Mereka berdua hanya saling pandang dengan tatapan mata yang sama-sama tajam.
Sudah hampir 30 menit Yoona belum juga kembali dari kamar. Di ruang tamu terasa hening melebihi kuburan, hanya suara detak jam dinding yang membuat suara terasa semakin hening.
"Apa hubungan mu dengan Yoona??" tanya Alan yang akhirnya membuka percakapan.
"Hanya orang yang paling dekat dengannya," jawab Nathan santai.
Alan pun langsung mengkerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Nathan. Dia berpikir apa sebenarnya maksud dari Jawaban Nathan itu.
"Kau hanya seorang teman?" tanya Alan lagi.
"Teman, tapi sepertinya dia menyukaiku," balasnya disertai senyum percaya diri.
Alan pun langsung tersenyum sinis, dia tidak percaya bahwa Yoona menyukai Nathan. Menurut penilaianya Yoona sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Nathan. Bisa di lihat dari cara Yoona memandang dan berbicara kepada Nathan yang sama sekali tidak gugup. Berbeda halnya terhadap Alan, Yoona sering kali terlihat gugup saat berbicara dengan Alan bahkan terkadang tidak berani untuk menatap kedua mata Alan saat berbicara dengannya.
__ADS_1
"Kau selamanya hanya akan menjadi teman, karena sebentar lagi dia akan menjadi istriku," ucap Alan menyeringai.
"Kau.!!" gertak Nathan sambil berdiri menarik kerah baju Alan.
"Kenapa? Itu memang kenyataannya," balas Alan menunjukan senyum menantang.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Yoona sambil menghampiri Alan dan Nathan.
"Tidak apa-apa," jawab Nathan sambil melepaskan cengkramannya.
"Aku kira kalian bertengkar," gumam Yoona sambil menghela napas leganya.
Alan dan Nathan pun saling melemparkan tatapan tajam mereka seolah-olah sedang berkata bahwa siapa yang cepat maka dia yang akan mendapatkan hati Yoona. Yoona yang melihatnya hanya terdiam karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalian berdua tidak pulang?" tanya Yoona dengan tatapan yang masih sayu.
"Tidak," jawab Alan dan Nathan serempak.
"Yoona kau jangan mengusirku, aku dimana pun bisa tidur," ucap Alan sambil memohon.
"Aku juga, aku bahkan bisa tidur di lantai," sambung Nathan tidak mau kalah.
"Ck, ya sudahlah aku sedang tidak mau ribut, terserah kalian mau pulang atau tidak, kalian bebas di rumahku," ketus Yoona lalu meninggalkan Alan dan Nathan.
Saat sedang membuka pintu tiba-tiba Yoona berbalik dan berkata, "Kalian jangan bertengkar, jika itu terjadi maka jangan bertengkar di rumahku.!" tegasnya.
Alan dan Nathan pun hanya mengangguk mengiyakan kata-kata Yoona. Mereka lalu duduk di kursi dan masih dengan tatapan yang sama-sama tajam.
"Yang bisa mendapatkan hati Yoona, maka dia lah yang menang.!" lirih Nathan sambil merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
"Kalau begitu aku yang akan mendapatkannya," balas Alan sangat percaya diri.
🌙️🌙️🌙️
__ADS_1
Saat tengah malam Yoona sama sekali tidak bisa tidur. Dia selalu memikirkan siapa dirinya dan dimana keluarganya yang asli. Kenapa sejak dulu tidak ada keluarga yang mencarinya. Yoona merasa sangat sedih meratapi dirinya sendiri.
"Haishh, Gak ada petunjuk apa pun," keluh Yoona sambil beranjak dari tempat tidur.
Yoona berjalan menuju dapur mengambil segelas air, lalu ia keluar dan duduk di kursi disebuah taman kecil di depan rumahnya. Yoona kembali melamunkan dirinya dan mencoba untuk mengingat semua masa lalunya, tapi seberapa keras pun dia mencoba mengingatnya tidak satu pun ada ingatan yang muncul.
"Arghhh kenapa sulit sekali untuk mengingat!!" teriak Yoona sambil memukul-mukul kepalanya.
"Hey, jangan memukul kepala sendiri nanti sakit," cegah Alan sambil memegang kedua tangan Yooa dari belakang.
Yoona langsung mengangkat kepalanya mendongak keatas untuk melihat Alan yang tiba-tiba muncul dari belakang. Posisi Alan sangat dekat karena wajahnya berada tepat di atas kepala Yoona.
"Kamu kenapa bangun?" tanya Yoona.
"Bagaimana aku bisa tidur suara mu sangat berisik," cetus Alan lalu duduk di samping Yoona.
Yoona hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Alan, dia lalu memalingkan kembali wajahnya dan menatap kosong kearah depan. Alan yang melihat Yoona melamun di hadapannya langsung berinisiatif untuk mengecup pipi kanannya.
"Muuaachh"
"Arghh kenapa menciumku?" tanya Yoona merasa malu sambil menyentuh pipi yang barusan Alan kecup.
"Salahnya kamu berani melamun dihadapanku, jika melamun lagi maka aku akan melakukan lebih dari itu." jawab Alan lalu memegang kedua pipi Yoona.
"Coba saja kalau berani, aku akan menon... mmmpphh."
Belum selesai Yoona bicara mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Alan. Mata Yoona langsung membulat saat bibir Alan mengecup bibir Yoona dengan sangat lembut. Jantungnya sudah hampir meledak, Yoona ingin menolak tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Secara tidak sadar Yoona membuka mulutnya dan membiarkan Alan untuk menjelajahi setiap rongganya.
Di waktu yang sama, Nathan yang juga tidak bisa tidur berjalan keluar untuk mencari angin karena di rumah Yoona tidak ada AC. Saat ia sampai di jalan setapak, matanya terbelalak karena melihat Alan sedang bermesraan dengan Yoona. Hatinya terasa perih melihat orang yang selama ini dekat dengannya bercumbu dengan pria lain. Karena tidak sanggup untuk melihatnya lagi, Nathan pun kembali masuk kedalam rumah.
"Apa benar Yoona adalah calon istrinya Alan?" pikirnya penuh pertanyaan.
Dada Nathan terasa sesak melihat adegan itu, dia langsung kembali ke dalam rumah karena tidak sanggup kalau harus terus melihat mereka bermesraan.
__ADS_1