
Sebulan sudah Selly mendekam dalam jeruji besi. Dan menurut dokter yang menangani kehamilannya selama dipenjara ini sudah waktunya Selly melahirkan. Tapi tidak ada tanda-tanda akan segera melahirkan. Sipir yang jaga pun heran karena sudah memasuki minggu ke 39 tapi tidak ada kontraksi pada perut Selly.
"Selly kamu tidak merasakan sakit diperutmu apa" tanya sipir
"Enggak bu, memangnya ciri ciri orang mau melahirkan itu gimana" tanya Selly
"Perut sakit rasanya mules seperti mau BAB tapi tidak. Bentar ada bentar ngilang bentar lagi timbul rasa lagi, seharusnya sudah saatnya lo kamu lahiran. Dari data dokter kemarin katanya usia kandunganmu udah masuk minggu ke 39 artinya udah waktunya lahiran" kata sipir.
"Kata mas Marcel kemarin ini juga gitu bu udah waktunya melahirkan" jawab Selly
"Apa karena kamu disini jadi tidak ada kotraksi, seharusnya sih kalo hamil tua dipakai buat begituan akan lebih cepat kotraksinya. Setahu saya ya ****** itu mampu merangsang kotraksi karena mengandung hormon prostagladin yang berfungsi melunakkan mulut rahim pada kehamilan " jelas sipir
"Mungkin bu" jawab Selly
Ditengah obrolan Selly dan sipir tiba-tiba ada petugas lain yang memanggil Selly.
"Selly ada pengunjung " katanya
"Baik bu" jawab Selly yang berdiri mengikuti langkah petugas yang memanggilnya. Saat ini Selly dengan yang lain sedang melakukan aktivitas diluar sel.
Begitu melihat siapa yang datang mata Selly langsung berbinar-binar.
"Mas Marcel " ucap Selly yang langsung menghambur memeluk suaminya itu.
"Apa kabar" tanya Marcel
"Seperti yang kamu lihat" jawab Selly
__ADS_1
"Apa belum ada tanda-tanda mau melahirkan" tanya Marcel
"Belum, aku takut mas" kata Selly yang tidak mau lepas dari pelukan suaminya.
Marcel rutin mengunjungi istrinya dua hari sekali meski sempat kecewa lantaran mencelakai putrinya. Tapi Marcel harus ingat Selly juga tengah mengandung anaknya.
"Ini udah waktu lahiran, kita lakukan sesar saja" kata Marcel
"Tapi aku pengen normal mas" kata Selly sendu
"Apa kamu mau terjadi sesuatu pada anak kita kalo kamu memaksakan lahiran normal" tanya Marcel yang seketika dijawab dengan gelengan
"Baiklah kalo itu yang terbaik aku mau sesar, kapan akan dilakukan" tanya Selly
"Aku tanya dulu sama dokternya" jawab Marcel
"Hidupku kok gini banget ya, hamil jauh dari suami lahiran harus sesar jadi pelakor sekarang dipenjara pula. Semua jauh dari rencana yang udah tersusun rapi" guman Selly
Hari itu juga Marcel bertanya tanya pada dokter yang menangani Selly sebulan terakhir. Dokter akan menginduksi terlebih dahulu, dan jika tidak ada reaksi dengan terpaksa diambil tindakan sesar.
Selly sudah pasrah. Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Selly sudah tidak mau memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi nanti. Hari ini Selly siap menjalani sesar. Selly dibawa kerumah sakit. Marcel selalu ada disampingnya. Untuk sekarang ini fokusnya Marcel hanya pada Selly dan calon anaknya.
Saat ini Marcel tengah mengajukan mutasi pada atasannya. Marcel ingin pindah keluar kota membawa bayinya. Memulai hidup berdua dengan bayi mungilnya. Marcel ingin melupakan kenangan pahit dengan mantan istrinya Kania serta putri kembarnya dan juga istri sirinya yang ternyata telah mencelakai putrinya. Jika dikatakan Marcel kejam, memang Marcel kejam. Memisahkan bayi yang baru lahir dari ibunya.
Marcel mondar-mandir didepan ruang operasi. Selly sudah masuk setengah jam yang lalu masuk ruang operasi. Hati Marcel kebat kebit menanti anaknya lahir. Seperti Dejavu. Dulu saat Kania melahirkan Marcel juga merasakan hal seperti ini. Bedanya dulu Marcel ikut mendampingi Kania karena Kania melahirkan secara normal. Marcel tau perjuangan istrinya melahirkan bayi kembarnya dengan normal.
Tidak terasa sudah satu jam Marcel mondar-mandir seperti setrikaan tapi operasinya belum selesai. Normalnya operasi sesar terjadi 40 menit hingga 50 menit, tapi ini sudah satu jam belum selesai juga. Apa terjadi sesuatu?
__ADS_1
Ceklek. Pintu terbuka seorang suster datang membawa seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Marcel sangat antusias menyambut putranya yang sangat diinginkan dari dulu. Marcel mengikuti suster yang membawa bayinya keruang bayi. Marcel hanya boleh melihat dari kaca diluar ruangan.
"Maaf pak, tunggu disini saja, bayinya masih harus dibersihkan dulu. Nanti setelah bersih bapak akan saya panggil untuk mengadzani" kata suster
"Baik sus" jawab Marcel
Marcel bahkan tidak menanyakan keadaan Selly. Marcel cukup excited dengan hadirnya bayi laki-laki itu. Dasar Marcel egois.
"Emang aku egois karena hanya menginginkan anak laki-laki ini dari pernikahan yang aku lakukan pada Selly. Sedikit pun aku tidak mencintaimu Selly aku hanya ingin sempurna punya anak perempuan yang cantik yang sudah kudapatkan dari Kania sekarang anak laki-laki yang kudapatkan dari kamu, aku bahagia. Setelah ini aku akan membawa anakku pergi jauh dari sini" batin Marcel
Selly sudah dipindahkan keruang rawat. Marcel hanya menunggui sebentar. Setelah Selly sadar Marcel pergi meninggalkannya. Marcel lebih sibuk dengan bayinya dan proses perpindahannya. Marcel tidak akan memberitahu siapapun dengan kepindahannya termasuk Selly.. Marcel akan membuka lembaran baru dengan putranya yang diberi nama Kalandra.
Seminggu sudah Selly berada dirumah sakit. Selama itu Marcel memang masih mengunjunginya tapi tidak lebih dari 10 menit berada diruang Selly. Marcel lebih seneng melihat putranya. Suster juga membatasi interaksi antara Selly dengan bayinya karena perintah Marcel. Marcel tidak ingin bayinya bergantung pada Selly. Kejam ya.
"Aku yang akan merawat pitra kita, kamu bisa tenang kembali kesel" ucap Marcel tanpa dosa
"Mas kamu gak bisa ya membiarkan aku lebih lama lagi dengan putraku" tanya Selly sendu
"Udahlah ikuti saja alurnya. Ini semua juga akibat ulahmu sendiri" jawab Marcel
"Nanti bawa berkunjung kerutan ya mas" pinta Selly
"Iya" jawab Marcel
Setelah keadaan Selly membaik Selly dibawa kembali kerutan. Dia harus menjalani masa tahanannya. Selly dikenai pasal 310 ayat 2 Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan pidana penjara satu tahun dan denda satu juta rupiah.
Marcel sama sekali tidak memberikan saksi yang meringankan diwaktu sidang. Bahkan Marcel tidak hadir. Sekarang Selly benar benar sendiri. Perutnya sudah ramping kembali. Anaknya dibawa Marcel dan Selly hanya diijinkan melihat putranya sekali selama dirumah sakit. Marcel beralasan putranya belum boleh berinteraksi dengan orang luar.
__ADS_1
Selly berusaha membujuk suster serta dokter yang setiap hari datang memeriksa keadaan Selly tapi dokter maupun suster sama dengan jawaban Marcel. Putranya belum boleh dijenguk.
Tidak tau Selly yang bodo apa karena memang gak Selly menurut saja tidak penasaran kenapa ASInya tidak diberikan pada bayinya malah diberi susu formula.