Kembaran

Kembaran
New Normal


__ADS_3

Masih di tempat Giga pergi, Jihan pandangi perban-ghoibnya pada jendela Avanbil, ngaca.


Set!


Dukh..!


"Aakh..! Aauw," ringis Jihan, daun tangannya dikibas-kibas. "Njir..! Takiit."


Sambil mendengus, Jihan bersandar ke pintu mobil. "Hmph! Gak jelas.."


Lima menit bersilang tangan, melamun, Jihan kedip-kedipkan mata bersamaan. Tiba-tiba dia gusar, tak lagi bersandar.


"Han-market! Pindahin gue ke sana maksudnya! Yang jauh atau deket, gue pengen mi-nuuum!" pinta Jihan, entah siapa yang diajak bicara. "Pindahin!"


Jihan kacak pinggang. "Hhh. Apa portal bisa aktif tanpa si Qorin? Diapain emangnya, ya..? Ck! Tau dari mana lagian si Bihun, ada portal di kelas tujuh.."


Ternyata Jihan gabut atas alat ritualnya.


"Ah, gampang deh. Kapan-kapan aja."


Si Gadis menoleh ke samping, hingga ujung sana, ruas trotoar lengang tak ada orang dan halangan.


Jihan segera lompat-lompat kecil. "Mending ngulang teknik pertama."


Mahasiswi ini langsung lari. Set! Toko emas, toko jam tangan, toko emas lagi, terus bengkel, counter pulsa, toko aksesoris handphone yang juga buka dilewati, belasan detik kemudian Jihan teriak sambil loncat. "Ter-baaang!!"


Syi..uuutt..!!

__ADS_1


Gubragh!!


Malah mendarat..


Musik bergema keras sampai terdengar ke luar. Di jalan ini hanya Fitnes Rent yang menyala. Malam yang mencekam kota, jadi serasa hidup.


Di dalam ruangan, di tengah peralatan fitnes Jihan sedang push-up.


Jreng! Jreeng..! Gonjreeng! Musik yang sama lalu terdengar di Han-market. Jihan masih berpakaian sama, baju senam. Dia sedang melihat-lihat lemari minuman. Di bukanya kemudian, mengambil kaleng yang di cari-cari.


Kraukh!! Krauukh..!


Jihan menelusuri lorong Garamedika sambil goyangkan kepala, masih terselip hedset. Dilihat-lihatnya buku yang tersusun pada rak Olahraga & Beladiri. Lalu mengambil salah satu dan membacanya.


Belajar Pedang. Judul di sampul buku bergambar samurai.


Hah, kok ada mahluk multisel lain? Ini memang suara benda gepeng, alarm dari alat komunikasi populer, bukan ayam sungguhan.


Set! Jihan raih ponsel. Wers! Dia lempar ke dinding kamar! Getrakkh!


Plukh! Ayam digital pun tak berkokok lagi. Inalillahi, selamat jalan kawan.


"Hhh. Ck..!" decak Jihan di ranjangnya, menatap langit-langit. "Kangen gedoran nyokap.. Bangun! Anak mahal! Dukh! Dukh! Iya, Buuu! Udah! Gak usah teriak.."


Usai monolog, Jihan tutup wajahnya dengan bantal, lalu menyamping dan lanjut tidur. Entah, piyama yang dipakai pun masih piyama favoritnya. Benang-ambang yang mengelangi dahinya pun turut ketutup tebalnya bantal.


Sore ini Jihan meninju-ninju samsak. Di belakangnya ada arena mini berpagar tambang. Nama tempat ini FightClub sebagaimana terbaca pada spanduk di tembok.

__ADS_1


Dukh!


Dakh! Dikh! Dukh!


Pakaian Jihan tampak sudah basah. Mandi keringat. Dia sudah ikat rambutnya. Wajah manisnya jadi makin pucat. Mungkin sejak siang dia berolahraga di sini, ada banyak sampah makanan dan botol plastik di lantai.


Dukh..!


Dakh! Dikh! Dukh!


Di depan rumah.. Ckiiit!! Ternyata system fisika di alam mimpi ini masih normal. Jihan bisa berkendara, ditinggalkannya motor tersebut sehabis disangga.


Malam hari, di kamar.


Krik! Krik.. krik! Bunyi ponsel.


"Hoaamm...mmm.." uap Jihan menutup ngangga mulutnya, lagi duduk menyandari ranjang. Dibukanya halaman baru buku yang sedang dia baca. Srekh..


Krik! Kriiik...


Jihan masih fokus di tengah suara serangga, padahal ngantuk, tapi matanya tak juga berat untuk terpejam. Entah, ke mana butiran sinar di lengannya, biasanya tanda tersebut muncul saat Jihan sudah lima-watt.


Mungkin karena Jihan sedang 'diperban'.


Srekh..


Si Macan tetap konsen membaca, aksi barbarnya seolah hilang tergantikan dengan kegiatan para pemikir yang tengah dilakukannya ini. Manis dan Cantik. Iya. Jihan berkacamata.

__ADS_1


__ADS_2