Kembaran

Kembaran
Gua


__ADS_3

"Haduh! Di mana gue nih.. Ck! Nin! Ninaaa!!"


Jihan tengok sekitar, kemudian menunggu.


Tempat ini belum menampakkan lawan terpanggil. Padahal, waktu sudah berlalu sekitar lima menit.


"Sial.. Dasar orok halus! Main change place seenaknya," umpat Jihan bicara sendiri.


Sedang seru-seruan sama teman, dipindah. Jihan jadi menggerutu nada kutukan.


"Woi!" seru Jihan merasa diabaikan. "Ngomong.. Maksud lo apa nih?"


Hening.


Jihan tetap awas sambil menunggu jawaban. Yang disebutnya orok-halus tadi memang untuk batu merah. Tapi idapannya tersebut tidak menyahut.


Bagai Kuda Laut, Jihan hampiri dinding gua. BUGH!!!


Selapis perisai men-jalari permukaan batu. Swiiit...!! Suara kilaunya.


Ah, benar. Jihan memang rada maksa.


Trrtth... Trrrth!!


"?!!" tegun Jihan, peka ala pendekar sakti. Suatu citra terasa olehnya. Si tanda belum nampak karena sumber suara hilang, tak terdengar lagi.


Jihan segera sadar. Dikacak-pingganginya batu gua yang dia hajar. "Ngomong gak? Maksud lo apa? Heuh..?!"


Iya. Jihan bicara sendiri. Sepi pula alias sunyi. Tembok sama 'tembok'.


"Oke deh. Gue serius pake...


BUAAAGH!!!


... banget."


Zwiiitt!! Kilau perisai terpancar lapis anti-goresnya ke semua permukaan. Saking cepatnya... rambatan, gua menampakkan selubung sepenuhnya.


Gua terlaminating kaca, malah makin serius mengurung Jihan, lapisan misterius ini manteng menampakkan fisik.


Hening? Iya. Ruang kedap hawa ini sunyi, tidak punya suara lagi.


Namun.. Jihan tunggu. Matanya masih mengekor, kacak pinggang menanti-nanti, persis orang sedang menguping.


"Ck!"


Dukh!


Kecewa dicuekin terus, Jihan tendang sang gua, Zwiiitt.


TREETH!!!


Jihan angkat bahu, singkat seperti ada petir.


Di pusat gua, Jihan mendapati bangku dan meja sudah terpajang di udara, lengkap dengan lampu UFO dan karpet tahlilan.


"???"


Jihan yang masih kacak pinggang kerehanan. Aduh, typo. Ke-he-ra-nan. Tenaga sudah selevel meteor, yang muncul...


"Hhh.. oke," hela Jihan. "Oke, itu alat ritual gue buat pulang dan bangun. Terus apa..?? Heu?"


Sepi. Jihan berharap sekali bangku dan meja tersebut bergerakan meniru ponsel mode silent. Tapi sia-sia.. benda mati.


Dukh!!!


Zwiiitt!! Suara hasil nen-bel, nendang belakang. Jihan memang sedang memunggungi dinding gua.


"?!" cerah wajah Jihan. Seketika ada bayang orang terlihat, lalu hilang perlahan.


Dukh..! Sikut Jihan ke dinding gua.


Wit! Bayang tranparan muncul kembali setelah dinding gua disikut.


"Gak! Gue belum beres. Masih busy. Siapa yang menang, siapa yang kalah. Belum selesai. Lo mau gue tidur di situ khan?"


Hening. Hologram merah membening hilang.


"Mau tidur gimana, perbannya udah lepas keganti sama elo. Gue udah gak manusia lagi. Saraf nyeri udah gak terasa lagi.."


Perlahan bangku dan karpet tembus pandang, mulai transparan tanpa suara ataupun tandanya terlebih dulu, akhirnya lenyap.


"Tunggu! Tunggu!" pinta Jihan menempelkan siku ke batuan. Zwiitt! "Haduh, anjrit. Pusing gue kalo gini cara. Gue pengen ngurat. Masih by one-nan sama Nina. Please. Haduh.."


Saat Jihan terus menekan sikunya, setitik sinar terlihat di kulit hasta.


Jihan tetap membahas pertarungannya dengan Nina, tidak menyadari butiran sinar di hastanya. "Ntar. Tunggu dulu. Swer gue manfaatin sebaik-baiknya walaupun itu semenit. Gue janji ke mari lagi. Menang ato kalah, gue datang kok, tanpa lo pinta, tanpa lo jemput. Janji, Cah. Gue janji, Rok. Walau lo masih orok, golongan macem kalian pasti ngerti cara godain fighter girl. Semenit doang. Please.." kelabak Jihan, berapi-api.


Bisu. Bayangan asing nan merah ini bisu dalam posisi tidurnya. Perawakan lelaki.


"Heh! Gimana kalo setengah menit?!"

__ADS_1


Sepi.. Padahal diteriaki, tetap tak ada gempa.


DUKH!! Bunyi ini agak keras dari sebelumnya. Artinya sikut sang Fighter sudah bertenaga. "Jawab!!" seru Jihan, mendadak guru.


Zwiiitt... Gua hanya tampakkan kilau dindingnya begitu kena hit. Tidak ada penampakan baru di tengah gua. Masih bayangan misterius duduk tertidur diterangi lampu sorot.


Andai ada weker di meja itu, maka sudah pecah di scene ini untuk hal yang terus menggantung dan buntu.


Klekh! Patah Jihan demi pegal di leher. Cool, mendadak copas, mirip Terminator. "Oke deh. Kali aja Nina sama lagi kejebak. Gue terima dekrit lo."


DIGH!! Sikut Jihan. Kesal.


Zwiitt!


Trraath!!!


Kilap perisai dan bangku UFO menampakkan diri lagi seperti adik-kakak atau gula dan semut. Tertib, tidak rebutan. Mereka muncul tanpa hologram orang tertidur.


Perabot tersebut tadinya memang hilang membening termakan waktu. Akhirnya Jihan putuskan eksistensi mereka dengan cara 'ketuk palu'.


Jihan datangi sarana ritual ala Kuda Laut. Setibanya, gadis piyama ini jalan menapaki karpet dan segera duduk. Jihan labuhkan kepalanya pada lipat tangan, meniduri lengan.


Gua silent. Entah, mungkin memang sebuah tempat yang paling mati. Cahaya dari lubang-waktu (UFO light) di atas Jihan perlahan padam.


Di balik rambut yang menutupi tangan Jihan, masih eksis titik sinar yang tak terindera empunya. Butir ini tidak padam.


Dalam gelap gulita, lalu Kunang ini atau apalah, memercik.


Tik!!!


Jihan tersentak bangun. Ngun!! Bunyinya. Bang!! juga boleh.


Drrt!! Tersengat. Pokonya.. Jihan kaget.


Set!


Jihan dapati banyak sekali pagar barricade mengelilingi panggung kecil tempatnya berada. Jihan bangkit berdiri dari duduknya, tak mengusap-usap batang lengan lagi, tengok kanan, lihat kiri, terus menoleh lagi seperti orang asing. Padahal ini memang tempat yang pernah Jihan buat.


Lihat saja kalimat-kalimat di TKP.


MENJAUH! Spanduk.


AREA TERLARANG! PERGI! Terbaca di patok berkarton.


WELCOME DI KUBURANMU! Tertera pada semua barikad berkawat.


HUS! ATAU MATI? JANGAN GANGGU!


JEBAKAN! GAK PERCAYA? INJAK!!


MAUTMU! Karton ini terkalung di leher orang-orangan berkepala vampir.


Kalimat yang ada di sini tidak menggunakan bahasa baku, pakai bahasa lugas. Karya dadakan, kreatifitas Jihan.


Angin kecil terhembus, kemudian lewat susulannya membawa debu. Weshhh...!!


Gadis Piyama menaiki barikade. Jihan kemudian loncat-loncat, merunduk sambil jalan padahal tak ada palang, tampak hapal harus apa dekat bebegig.


Treeteteet!!! Dzing! Dzing! Dzing! Jegur!!


Di jarak aman, Jihan tonton sang Vampir yang malang. Entah angin gurun yang jahat, atau kesalahan Jihan, mendadak ada tembakan ghoib saat bebegig itu jatuh.


Boneka ini mengepulkan asap. Wajahnya tetap nyeringai menampakan gigi andalan. Inalillahi, selamat jalan Kawan.


Skip.


Sambil kacak sebelah pinggang, Jihan menyipitkan mata. Terik menyilaukan pandangannya. Padahal, Matahari sore.


Ternyata memang ada kemah di kejauhan sana. Jihan kembali menjejak kaki lagi, hiking girl tetap nyeker menuju tujuan, mengikuti sepasang mata merah, tiktik demi tiktik.


"Ke mana sih?" tanya Jihan dekat sisa api unggun kemah. "Di sini aja, Banci. Ayo, tangan kosong.."


Sang Mata membening hilang.


"Ck!" tunduk Jihan. Kacak pinggang, bersabar. "Hhh..."


Hari sudah redup. Jihan lihat sekitarnya, tak ada chek-point lagi yang muncul menyala, hanya mendapati empat tenda di sini, satunya sudah roboh, tertutup pasir.


Bruurh! Nyala bonfire, mendadak berapi.


Jihan tinggalkan api unggun yang menyala sendiri, karena sudah tahu ulah siapa. Dia pun sampai di tenda terdekat.


Saung ini cukup pancang dibangun, dindingnya dari kain tebal, lumayan besar dari dua bus AKAP. Di dalamnya Jihan sudah duduk, sedang menonton handycam.


"Ngapain, cepet bantu!! Panggil Dian!"


"Siap, Beb. Pegang."


"Erggh..! Sini!!"


Terekam wajah Nina dengan mulut penuh darah dan terbatuk-batuk. Namun layar oleng, pemegangnya mengerang, kaca kamera ternoda percik cairan merah.

__ADS_1


Klik..! Jihan matikan video. Ditaruhnya handycam ini dekat termos, lalu menghela nafas.


"Hhh.. sori Vit," gumam Jihan, duduk menopang dahinya dengan dua telapak. Rekaman tersebut memang menyimpan kesadisannya, darah yang terciprat ke lensa tadi memang darahnya Vita.


Lama meratap, tanpa Jihan rasa, butiran terang di hastanya ini menyala.


Jihan segara berbaring. Dia lebih pilih tidur ketimbang mengingat banyak kejadian, lalu terpejam mata dengan sendirinya, tertidur.


Tik!


Sentakan tubuh membuat kesadaran Jihan terjaga. Seperti sebelumnya, Jihan menggaruk-garuk tangan kanan bangun tidur ini.


Apa Jihan benar-benar istirahat? Seolah baru tertidur kini terbangun lagi.


Tampaknya Jihan tidur betulan. Dia tak bedecak atau memijat dahinya. Justru, Jihanlah yang membuat orang lain stres.


Jihan hembuskan nafas leganya usai menghempas badan di ranjang kesayangan. Benar. Dia berbaring di kamarnya sendiri, sudah kembali ke rumah. "Hadeeh.. alam sialan. Fyuuh.. Hahaa!"


Mengapa akhir-akhir ini tak ada komunikasi bawah sadar lagi, seperti monolognya hari lalu dengan si kembaran?


Jihan yang satunya sedang berada di suatu tempat bernama Library. Mungkin sang jins masih sedih dan trauma. Bisa jadi masih diwawancarai, mengarantina diri. Terakhir kali beraksi dekat gerbang halaman Alqalam sebagai penjaga.


Jihan memutar-mutar badan di depan lemari. Tubuh SMA-nya berhasil ditinggal di tenda padang pasir. Bayangan pada cermin kini seorang gadis kuliahan usia 22 tahun.


Jihan berhenti, senyum cerahnya hilang. Dekat kaki ada sedikit serakan pasir. Jihan perlahan jongkok, dirabanya lantai kamar, ternyata benar yang digesekkan dua jarinya debu kasar. Barulah kini Jihan ingat apa yang Diandra katakan.


Parasas jejadian. Setara-kah dengan qorin layanan jasanya setelah dimodifikasi?


Jihan pun lalu berniat akan mencoba narik baju demi memastikan realitanya, sete-lan Nina masih terngiang-ngiang di kepala.


Dengan sedikit ragu, kain yang Jihan kenakan dicengkeram bagian kerahnya.


Jihan tarik-tarik, ternyata seperti karet. Bahkan karet celana yang asli ikut-ikutan melar selayak ditarik langsung oleh tangan, ringan tak perlu tenaga ekstra. Tak ayal, Jihan segera hapus keraguannya.


Set!


Syeeet... Kain tersedot. Jihan lihat piyama di telapaknya bak ular kabur, masuk sarang. Tak ada bunyi sobek di bagian celana. Sebelum baju ninjanya kembang terlihat oufit bawaan mirip kostum superhero Hollywood, entah siapa, pokonya baju default tadi tebal dan ketat.


"???" Jihan bolak-balikkan tangan, dikepal-kepal, kulitnya baik-baik saja.


Senyum sang Ninja kembali memancar di wajah.


Kemudian..


Shhtt! Bunyi teleport.


Shutt!!


Saat muncul, jihan dapati ruang kelasnya kosong.


"Apa di kampus gitu?" tanya Jihan.


Sang parasas memang belum menampakkan diri saat ini. Orok Halus mungkin sedang acuh dan belum mau melayani penuh kehendak majikan. "Bodo amatlah. Mending hatur tengkyu pada Tuhan. Anytime, anywhere."


Shhtt!


Shutt...


Di Minimarket Jihan celingak-celinguk. Ternyata sama kosongnya seperti kelas, tak ada orang ataupun kasir. Jihan berkedip dan..


Plup!! Dua ikat uang kertas muncul di meja kasir.


"Kalo bosen, duit terus, bilang," ucap Jihan seolah sudah tak butuh, padahal tak ada siapapun di depannya.


Di atap gedung, Jihan nikmati pemandangan yang ada. Pakaiannya sudah ganti sesuai acara, baju santai. Dia berada di tepi atap, duduk mengemil keripik berteman softdrink.


Krauukh! krauukh...


Di sini, di dalam kota, Jihan menapaki aspal jalan raya. Banyak sekali kendaraan tak bersopir.


Walau mampu terbang melayang, Jihan memilih ja-ka ditemani drone. Rrrr!!! Bunyinya. Mesin ini memancarkan laser, sibuk memindai mobil-mobil yang Jihan lewati.


Memang apa yang sedang mereka cari? Tentu saja parasas, mahluk berbahan baku batu yang mengurung Jihan di gua. Tapi.. Bisa juga ulah qorinnya sendiri. Sebab, kedatangan Giga seperti disengaja, seperti ada yang menyuruhnya.


Dan seharusnya Library tidak perlu repot merayu, mengarantina Jihan di sini bila kepentingannya adalah empat anak di kapal itu.


Sampai sore hari, Jihan tiba di kampusnya. Sama saja, tidak ada satpam maupun aktivitas peradaban.


Keranjang sampah di pos jaga pun bebas lalat dan kecoak. Padahal sisa makanan di situ sangat basi, berjamur.


Kota ini membisu.


 


note:


baca terus bab berikutnya, jangan nyerah


atau silahkan baca ulang bab sebelumnya, sambil tunggu update, siapa tau ada plot tulalit, atau ejaan salah, atau kurang pas. beri masukan, karena perhatian seorang reader itu cukup berharga bagi author, juga pembaca lainnya


ditunggu juga komentarnya

__ADS_1


__ADS_2