
Jihan ingat Sosflat di tangan sama hitamnya dengan milik Chia, waktu clone bereskan meja kerja, black flat berkilauan kedudukannya berubah. "Barang Snail?"
Hape ditempel lagi ke kuping, dengarkan isinya. "Benar. Setengahnya masih berupa Xmatter. Sebagian lagi Controller Seed (bibit kendali). Sehingga kau dapat menjadikannya sesuatu."
"Apa ada pantangannya?"
"Seed menolak jika engkau berupaya menunjukkannya pada selain golongan."
"Narik perhatian gimana? Aku rasa udah pada pulang, Rin," Jihan melihat-lihat sekitar. "Kampus emang jadi makam kalo Sabtu siang. Makanya jam bubar ini gue putusin buat ritual di kelas. Pak Guntur dateng maleman, Pak Siantar libur, bersih-bersih."
Setelah sekelilingnya aman, Jihan kembali fokus ke Sosflat. Mata disipitkan, hape digenggam agak kuat, dan saat tangan bergetar satu detik..
Bruurh...!
"Anjriit.."
Plukh! Sosflat jatuh terlepas di tangan begitu terbakar. Api berkobar dan berasap, tak lama padam, jejak asap hilang.
Jihan jongkok selipkan rambut. "Ouh gitu.."
Dengan senyum masih terkembang, Jihan gantungkan telapak di atas ConSeed, bertelekinetis.
Grrrth... grrrt!! Set!
Sllpph!
Sosflat langsung melesat ke jari manis Jihan, melingkari bagai cincin betulan. "Umm.. Jangan item."
Zett..! Persis pigmen Bunglon, Sosflat tersemat, berputar ikut warna kulit Jihan.
Lorong kampus sudah sepi. Jihan lanjut menapakinya hingga tiba di tujuan. Dekat pohon halaman mesjid dia mendapati beberapa orang sedang diskusi dengan yang berjas almamater sama.
Di tangga mesjid pun, ada yang duduk main hape, di emper ada yang bersepatu, di pinggir bangunan pun Jihan melihat Diandra sedang membasuh-basuh muka. Dan Jihan sudah duduk melepas sepatunya.
Jelas sudah Jihan sembuh, diteguk air dispenser masjid usai dia cicip sedikit.
Lima belas menit kemudian, dua sahabat bersebelahan menapaki jalan kampus hingga sampai di gate mereka dihampiri dua anak usia SMP dan yang ketiga gadis SMA.
"Koreksi Kakak Judes," ucap belia berhijab putih di depan Jihan. "Bangunlah segera dari tidur lo."
"Umm. Walaikumsalam, Nin. Ini.. elo?"
"Sanin Aminah. Udah jelas?"
"Umm.. Yeah ukthi. Senin Amanah."
"Aminah!"
"Ups.." gendik Jihan di kedua bahu. "Iya. Iya.."
"Hnpp!"
Nina berbalik pergi meninggalkan tempat. Dia bercelana panjang longgar, kaosnya lengan panjang. Segera dia kenakan jaket levis-blue yang sejak tadi dicekik. Kemudian..
Jihan dapati logo buku, di punggung sang Ukthi.
__ADS_1
Nina yang sudah duduk di jok, men-starter maticnya, menge-brum pergi.
"Dia mau ke service PlayStation katanya. Stik.. Stik gamenya rusak."
"Apa elo masih segini Rom?"
"Gak juga. Body gue udah tumbuh di sana Giz. Tau kak Medium, Chia, Gemini, Rifrom, Betha, sama Trium. Teh Kisye juga udah kenal gue. Mbak Clone yang ngulik Bratelite, gue tau lab-nya."
"Jadi kalian nih di mana pas gue nyantai di ruang kafe? Kapal sepi banget waktu itu."
"Tidur Kak.. Sebelumnya kami tuh sibuk perang bintang ma parasas. Kakak yang lagi mendem, emang gak tau perang jagat itu."
"Beneran Yan?" tanya Jihan melirik ke samping.
"I.. iya. Sehari sekali kita patrol. Redstone berinteraksi terus sama teman-teman seperjuangan ngincer trisula."
"Bumi lo sekarang itu.. yah kayak kebuang, gak terpake. Terus.. Bumi ini milik.. siapa sih, Rom?"
"Milik Allah. Tapi penanggungjawabnya tetep elo Han. Yang gagal bunuh bang Riko."
"Ouh. Gitu ya.. Jadi bumi ultimate gue itu terlantar? Terus timeline ini milik si Jisas?"
"Betul. Elo, gak apa-apa khan? Apa emang betulan inget sama kita..?"
"Gue dulu nginjek pacar lo ini Rom. Sekarang gue minta maaf. You agree, Vita?"
"Iya Kak. Dimaafin. Hihi.."
"Lo pasti lajang manis di Fanam sana. Nick Vita satunya seorang masinis, anak The Moon."
"Ya udah gue juga mo pulang. Met mamingan ya kalian berdua."
"Kami pulang.. ya, Han. Aslamualaikum."
"Vita pulang dulu ya Kak. Dadah.."
"Hu um! Walaikumsalam."
Sejoli SMP balik kanan di depan Jihan. Mereka berbaju olahraga, satu seragam. Dilihat-lihatnya nama sekolah yang tercetak pada kaos itu, Jihan sadar mereka angkatan di SMP-nya dulu, murid SLTP Negeri 2 Ciseureuh.
Jihan dan Diandra melanjutkan langkah mereka. Obrolan tentang pemakaman Jihan pun berlanjut. Dari masjid mereka bahas tidur-maut tersebut.
"Jam segini ambulans baru datang. Gue masih bingung kudu nelpon nyokap lo ato gak. Hhh, gue ikut dulu aja ke rumah sakit. Jadi di sanalah gue disuruh telepon orangtua lo."
"Katanya pala elo lagi eror.."
"Iya pening banget. Bacaan yang kita pelajari itu beda efeknya ke gue. Rumah sakit keliatan kosong. Orang-orang ada lagi. Kosong lagi. Ada lagi. Gak nyembuhin. Makin.. makin.. Mumet tau gak.."
"Si Mamah gimana reaksinya?"
"Gue siuman di kamar lo, lagi dikompres handuk anget. Ma..makasi Tante. Jihan di mana.. Dia nangis lagi lah gue nanya itu. Nyokap lo minta gue tidur. Tapi gak bisa. Ikut nangis denger ngaji yasin di rumah lo.. Hik.. Dahlah. Paginya tuh.. Hik.. Ikut lo ke makam. Hikk..!"
Keduanya masuk angkot yang Jihan cegat di luar kampus. Diandra lanjut bercerita. Seorang penumpang lain sibuk manteng hape di belakang supir, cuek suara huhu dan sengak-senguk Dian.
"Lo tau gak, hiks-hiks.. tinggal gue sendiri di makam. Nyokap lo udah telpon ortu gue. Beliau ke rumah gue karna ortu gue gak datang-datang. Gue terus meratap di makam elo.. hikk-hiks! Uhuh! Hhuuu-hu.. sum..pah.. sedih banget! Hikk! Gu.
__ADS_1
gue.. Gue.. Uhuh! Hiks! Gu.. gue.. Hiks!"
Suara Dian tercekat hingga tak mampu bicara lagi. Semua penuturannya tadi langsung tenggelam. Jihan memeluknya dari samping karena mereka duduk bersebelahan, tak bertanya lagi selain diam membiarkan hangat di kedua bola matanya.
Kota sudah ramai dengan hiruk-pikuknya. Klakson, orang-orang di pertokoan, deru motor, semua itu luar biasa di mata Jihan. Diandra sudah turun duluan dan keramaian yang tidak begitu padat, cukup membuat Jihan puas karena Han-market masih eksis.
Di depan toko, Jihan serahkan ongkos ke supir angkot. Dia menyeberang setelah ditinggal pergi kendaraan tersebut. Sepalang gapura dilihatnya dan Jihan lanjut berjalan menapaki gang. Jihan lalu merogoh tas gantungnya, mengambil sesuatu yang terus berdering-dering.
Ponsel asli.
"Ya Mah?"
"Pulang! Jam berapa ini?! Kebiasaan.."
Bahu Jihan terangkat mendengar raung ibunya. "I..iya, Mah. Nih Hani di gang. Ihh.."
Klik! Telepon diputus.
Jihan masukkan lagi handheld-nya ke dalam tas. Setelah ditutup, tas itu dia pegang. Jihan percepat jalannya.
Tak sabar dengan pemilik teriak tadi, Jihan putuskan berlari.
"Mamaaah!" panggil Jihan pada wanita yang baru saja menutup gerbang rumah. Wajahnya persis Paradok yang pernah ada.
Deph!
"Hani pulang Mah!" girang Jihan dalam peluknya.
Wanita yang didekap sigadis diam membiarkan. Wajahnya agak bingung. Tak lama Jihan segera melepaskan pelukan sambil seka pipi.
"Jangan dibiasakan sore. Mamah harus.."
"Wuuwu!!"
"Kamu kenapa sih Hani?"
"Sembuh. Wew.."
"Mamah kerja dulu. Jangan ada tamu sampai Bapak kamu pulang," pesan Mamah saat Jihan mencium punggung tangannya. "Jangan lagi-lagi. Kalo sudah sembuh."
Cup!
"Wuwuuw.. Iya. Iya. Ihh, berisik."
Mamah pun pergi. Dia sudah dibalut pakaian kerjanya, entah karyawati pabrik mana, buruh di mall apa, yang jelas persis sama dengan Paradok.
"Hhh, males banget.. Nyesel gak ikut turun," umpat Jihan betah sama Diandra, pagar besi segera ditariknya.
Grik.. grik.. griiikkh..!!
Seikat karangan bunga Jihan taruh. Nisan kayu yang ada memuat nama lengkap dan tanggal wafat yang dijiarah, yakni Riko Hadiyanto. Umur makam sudah dua tahun. Jihan yang berdiri dengan baju lari-paginya menghela nafas.
Angin TPU sedikit menggerakkan helai panjang rambut Jihan, yang diikat gaya ekor kuda.
Seharus ada gundukan tanah baru di sebelah makam seperti yang Diandra ceritakan. Dalam lahat tersebut harusnya terbaring jasad Riko seperti yang Qorin beritakan semalam. Namun bagi Jihan bunga tadi cukup jadi pernyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Hhh.. wallahualam."