
Zihan tinggalkan keset kereta, duduk di kursi terdekat menghadap sandaran dan sentuh-sentuh layar lagi. Satu baris kursi, hanya dia se-jins yang menggunakan nomer tunggu ganjil di gerbong ini, yakni 9, paling belakang dari total kursi yang ada. Jadi, cukup lega gerbongnya.
"Euu! Alhamdulillah.." seperti majikannya, Zihan hobi sendawa.
Zwiiitt! Bayang grafik mengembang di sebelah Zihan, Canteen ternyata sudah berbaju dinas, pramugari. "Artinya.. gak ada yang bantu Al Hood nyiapin makanannya, Mbak? Jadi ingin tugas di lapangan, deh."
Bunyi logam terdengar dekat mereka. Thang! Menancapi atap gerbong, terlihatlah seperti besi kurus penyangga ruangan.
Paskibra tengah menutup pintu, Canteen datang menghampiri. "Kis, si Mbak bilang Al Hood pernah menyantap kokinya, apa betul?"
"Eh.. Gak tau. Khan Whois? dah update. Akurin aja."
"Iya. Info, akurat. Tapi malah makin gelisah ya."
"Gabut gimana? Server Whois? gangguan?"
Kis meninggalkan Pramugari.
"Hai, Kisye. Kukatakan padanya mengenai Luna, kemudian.."
"Ah gak apa-apa. Dia emang lagi ngefans sama Al Hood. Yuk..??"
"Syukurlah. Kupikir.. aku menyakitinya."
"Jah.. Nih baper, itu baper. No comment."
NGUU.. OOONG!!
Dalam gelembung yang tengah menggasing, Zihan berdiri di sebelah Paskibra, di mana tangan kanannya masih megang penyangga.
Kisye jalan meninggalkan kawalan menembus lapisan yang masih berputar.
BLAAASH!!
__ADS_1
Sepeninggal Kisye, gelembung meledak menyebarkan serpihan ke segala arah, dan ternyata pecahan tersebut membangun citra se-lahan hutan.
Tap! Tiph! Teph!! Tap! Tiph! Teph! Bunyi milyaran puzzle yang terparkir menempati diri sesuai bentuknya.
Zihan hampiri Giga yang mana tadinya sebayang lava tengah menyandari pohon, sementara Spear yang Zihan tinggalkan bening lantaran tongkat tersebut sudah berpindah.. ke tangan petugas.
"Met tugas Mbak. Harusnya nongol bareng. Disamperin, nih orang tua manyun terus."
Giga tetap bersandar menyilang-tangan.
"Terima kasih. Demikian pula untukmu Sayang. Selamat bekerja."
"Oke Mbak. Makasih. Yuk semua. Assalamualaikum."
Nguu..uung! Paskibra menggasing.
"Walaikumsalam.." ucap Qorin. Lalu melirik Giga. "Sungguh aku akan berbuat sesuatu kepadanya, Tuan Muda."
"Ah, dah gue duga. Tenang, Mbak. Kita cari, dan berangkat habis Ashar. Pokonya.. dah ana coba, lawan.. lihat deh, malah nyusahin kalian berdua. Memperlambat."
". . ."
"Hhh. Ini kesalahan gue.. Ck!" tunduk Giga, kacak pinggang.
"Hambalah yang memulai semuanya, Tuan Muda. Andai saja.."
"Mari kita bangunkan Luna. Thanks udah wakilin gabutku Jins Baik Hati."
Giga beranjak meninggalkan Zihan sambil minta sesuatu pada qorinnya yang mana sedang terbang mengikuti dalam mode Firefly (Kunang Kunang).
"Aduhai.. Maafkan hamba Tuanku Giziania. Sungguh aku.. Aku mencelakai diri kita."
"Gue baru tau Min, kenapa manusia dan jin wajib ibadah," bahas Giga, sudah memegang gelas yang dipinta, jongkok di depan Al Hood yang masih terbaring.
__ADS_1
Napa tuh, Brad?
"Freewill alias kebebasan. Ini pandangan sendiri, bukan nyontek dari penilaian orang."
Tetep wajib jelasin kalo emang butuh temen ngobrol
"Untung ada cowok."
Masih emosi, ngebahas Induk?
"Udah.. Tapi gagal," jawab Giga sambil menengok ke belakang di mana Zihan sedang melayang datang. "Gagal jadi muda, maupun tua. Lihat wanita ini, kayak habis dari bertapa. Salon mana yang dia bayar, Min?"
Kami siluman Brad. Dilarang bucin
Giga berikan gelas pada Zihan saat jins tersebut meminta dengan halusnya, lalu dibiarkannya Qorin mengangkat lengan Luna.
"Hai FinalCutter, tuanmu membutuhkan nektarnya demi kesiagaan indera. Maka raciklah untuknya neywat jenis paru."
Kwwtth..
Benang di pergelangan Al Hood segera mengitari gelas.
Tak lama di pusat lingkaran mengalir cairan bening.
Crrrr!!
"Ouh, jadi gitu cara manggilnya. Kenapa gak ada di Whois? ya Mbak?"
"Kudengar database telah diperbarui."
Setelah gelas terisi, sambil bersimpuh Zihan angkat pundak Luna, tangan satunya menuangkan madu bening tersebut.
Luna masih tertidur dan anehnya saat air telah masuk setengah gelas, tak ada sentak dada maupun batuk, mulut Al Hood tetap menganga dalam tidurnya.
__ADS_1