Kembaran

Kembaran
Riko


__ADS_3

Jihan diberitahu Diandra bahwa pingsannya tadi berlangsung satu hari. Tapi bukan itu yang jadi pikiran Jihan.


"Ya udah. Mabok dulu deh.. Namanya juga orang, pasti ada salah dan kelupaan. Kalo emang jadi pikiran, elo jangan lupa makanan."


Jihan tidak menanggapi. Dia hanya menatap aquarium di ruang santai ini. Ditenggaknya kemudian isi kaleng.


Glukh! Jihan langsung sendawa. "Euu!!!"


"Kalo mau salin, box-nya yang di sebelah ranjang lo itu. Semua baju udah disediain. Dah ya, jangan pada ribut lagi. Gue pengen tidur."


Tanpa menunggu jawaban, Diandra bergerak pergi, melangkah ke luar ruangan. "Hoammh! Ngantuk.."


Tak jauh, anak lain masih mengerumuni Clone.


Si Mbak Lab pun ternyata harus kembali ke komunitasnya.


Cara pulang dan datang Clone ternyata sama. Sang jins (lihat indeks untuk kata ini di bawah bab) menggasing mirip dinamo, atau mata bor.


Clone datang diantar, pulang pun dijemput oleh jins berwajah sama.


"Kondektur?"


"Kurang lebih gitu sih. Tugas gue buka dan nutup pintu Snail. Ngawal."


"Kiraen adik atau kakaknya mbak Clone. Trus, kenapa bajunya kayak seragam paskibra ya, Mbak?"


"Nih baju dinas gue kok. Kami berangkat ya, Romi. Yuk, semua. Assalamualaikum."


Wu.. uung!!! Dengung gasing. Perlahan si Paskibra kabur dari pandangan, sedangkan Clone sudah lebih dulu menghilang.


"Oke," kata Romi. "Walaikumsalam.."


"Aku juga mau bocan. Hoaamm... Dah teman-teman. Yuk ah."


Seketika acara tanya-jawab pun bubar. Satu per satu mereka meninggalkan tempat, saling pamit.


Ruangan ini hening, tinggal Jihan seorang.


Lingkar benang di kepala Jihan masih aktif menyala.


Jihan masih tak peduli mereka pergi.


Beberapa ikan dalam aquarium kapal ini matanya bersinar, atau sebutlah Nar-fish, namun tak menarik perhatian Jihan. Pandangan sang siswi kosong. Jihan sedang tepekur dan termenung.


Di kamar pun, saat sudah memakai piyama, Jihan diam melamun. Duduknya di lantai menghadap pintu seperti lagi nonton TV.


Dua kaleng minuman tergelatak kosong di situ, tidak melayang. Lalu, jumlahnya bertambah satu.


Klang! Jihan buang sekenanya. "Euu!!"


"Gue dulu nemu gate-nya. Qorin ngasih tau kalo gue ditipu parasas. Tapi gue udah terlanjur jauh di dalem sana.


Lupain. Lo gak bakal nemu jalan pulang lagi. Mereka akan terus memburu lo sampai lo jadi parasas kayak mereka.


Jadi. Denger, Han. Kalo emang lo nyari gue.."


Shutt!


Duukh!


Jihan tabrakkan keningnya ke jidat Riko usai muncul mencengkeram kerah baju lawan.


Beghh! Jihan susul menendang perut Riko.


Wuung! Rika terdorong cukup jauh. Bugh! Menghantam pintu sedan. Nguing! Nguiing! Nguiiing!


Lapangan parkir ini sudah berantakan.


"Elo! Bukan gue yang nyari!" seru Jihan.


"Diandra.. Bantu gue jelasin.. Uhukk! Uhukk.."


"Ta.. tapi.."


"Diem lo! Cowok gue aslinya tegas gak melas begini."


"Tapi dia juga manusia, Han."


[Aku setuju. Kamu sudah melampaui batas]


"Heh! Lo gak usah ikut campur! Jangan ngomong kalo gue gak minta!" Jihan bicara sendiri.


[Tapi dia dari Library. Komunitas yang paling dihormati]


"Bodo amat mau sekte Eden, Barisan Spritual, kek.. Gue udah gak mau ada gangguan lagi." kata Jihan, kembali bermonolog.


"Han, lo khan udah lama, kenal Riko. Kali aja dia bener soal pintu keluar itu. Dia lebih dulu ke sini daripada elo. Dia pasti lebih tau."


"Gak. Dia lembek. Dah lah. Biar tau rasa, gimana pedihnya dikasarin sama orang tersayang. Dengerin aja.." Jihan mengekorkan mata ke orang di belakangnya; Diandra.


"Bu.. bunuh.. gu.. gue.. Han," gagap Riko menyodorkan butiran sinar. "Remas.. i.. ini.. Uhukk!!"


[Tak perlu kamu lakukan Giziania]


"Itu.. itu.. emang warna anak Libra, Han. Emang Putih."


"Will?"


"I.. iya.. Warna qorin lo condong ke biru lantaran.." kata Diandra berhenti bicara.


"Ngomong!" bentak Jihan.


"Ba.. ba.. basic lo petarung..!!"


"Dia bukan Riko-ku lagi."


Set! Tangan Jihan mengepal, butir yang Riko sodorkan terhisap masuk tergenggam ninja barbar ini.


"Akkh!!"


Tubuh Riko mengambang, terkejang-kejang di udara.


Whuussh..!! Terhambur angin ke segala arah menampakkan bayang grafik tubuh.


Jihan abaikan tiupan angin hingga rambutnya meliuk-liuk, tetap tegap berdiri menggenggam cahaya.


Hologram membengkak seukuran rumah, jangkau radiusnya ke tempat Jihan berdiri.


Whuussh!! Angin mengencang mengibarkan bandana Jihan.


PRAAANG!!! Bunyi manik-manik.

__ADS_1


Tubuh Riko pecah, hologramnya mencapai batas sadar sang empu, sebesar gedung.


Angin terhenti. Jihan masih teguh berdiri. Ninja tak bermasker ini melepas kepalannya.


Tangan persis batu bening ini berasap merah. Tampak fatamorgana mengaura, tanda muatan masih panas.


Sekian detik kemudian tangan kristal ini kembali jadi warna normal, balik jadi daging organik berlapis kulit.


"Status..?"


Hening tidak ada jawaban.


"Status!!!" geram Jihan, berseru tinggi.


"Kom.. komputer? Tuanmu minta laporan.. Ka.. kamu dengar..? Laporkan saja.. Hiks!"


Diandra mengusap pipinya. Tak bisa berbuat apapun di TKP.


Posisi Diandra tak jauh dari Jihan berdiri. "Pu.. punya gue samaan. Gak mau.. ja.. jawab. Gue rasa, di.. dia.. sedih, liat ulah kita.. Hiks! Hiks..!"


"Kalo kita bener, napa lo takut?"


"Hiks!"


"Defens Libra ceritanya doang. Taunya empuk.."


"Hiks... hiks! Qorin gue.. ke mana ya? Kepala gue ngedadak enteng, Han."


"...!!?" tegun Jihan dalam dingin hati.


"Apa ini tanda mereka pergi? Hiks.."


Jihan diam tak bisa menjawab.


Sehembus udara meniup rambut. Ninja Girl belum mau beranjak di tempatnya, masih berdiri menunggu suara.


Gedung mall sudah setengahnya hancur jadi puing. Tentunya bukan karena gempa, kondisi ini bekas suatu pertarungan. Belahan kanan bangunan ini rata, masih ada tiang-tiang yang bengkok.


Diandra pergi tinggalkan Jihan tanpa kata. Dia berlari sambil menyeka pipi dan mata.


Jihan pandangi sedan penyok, di situ tidak ada mayat, bekas pecahan, atau jejak Riko. Jihan tak lakukan apapun selain terpaku atas kendaraan yang telah ringsek.


Hingga warna senja di langit terpancar, Jihan sudahi kegiatannya. Dia hampiri pos loket parkiran, duduk di dalam dan lanjut termenung.


"Euuu!!"


Habis sendawa, Jihan berdecak. Ditendangnya sampah kamar sebangkit dari duduk.


Klontang!


Jihan duduk di tepi kasur. Dia tampak kusam dan bosan. Wajah belia ini menampakkan lelahnya.


Beberapa menit berlalu, Jihan pandangi dinding kamar dengan kekosongan, matanya lagi-lagi diam melamun.


Perlahan Jihan berbaring meneruskan lamunannya. Duduk membuatnya pegal. Entah, disebut galau kurang kena. Dia memang gabut kuadrat..


"Pagi.."


"Hai, Nin."


"Ngapain di sini?"


"Pengen bangunin tapi kasian eung."


"Hu-um.." angguk Diandra yang sudah duduk setia menemani Jihan. Entah sejak pukul berapa dia di sini. "Bikin sarapan, Nin!"


"Udah! Tinggal kalian hap!" jawab Nina di luar kamar, terdengar sayup.


Jihan tidur dengan menutup kepala. Karena laser dahinya bersifat tembus materi, benang glowing ini nampak di permukaan selimut. Tubuh Jihan pun kembang-kempis teratur.


"Han, happy news nih. Gue begadang. Maaf ya semalem gue nguap, tapi boong. Cuma akting. Qorin gue ngasih tau lokasi markas Library. Komplit banget sampai gue betah lihat-lihat aktivitas mereka. Sampai ketahuan gue ngintip mereka, tapi malah dibiarkan. Hihi. Baik banget ya.." cerita Diandra memegang jemari Jihan.


Jihan bagaikan kebo, tak terjaga tidurnya, gadis ini benar-benar sedang pulas. Bergeming pun tidak, sangat tenang tidur bersama nafasnya.


Sayang wajah Jihan ada di balik selimut. Andai terlihat, mungkin dia sedang ternganga mulutnya.


"Bobo aja dulu, Han. Aku lupa, kenapa gak sekalian nyari qorin lo semalem. Gak tau deh. Gue gak ngeh sama sekali. Tapi gue tau ruangnya si Giga di mana."


Diandra bangkit dari duduk. Gliitt! Kursi Kursian hilang dengan sendirinya. Gliitt! Diandra duduk kembali. "Ntar aja deh. Belum laper gue-nya juga."


Diandra batal sarapan. Dia memilih merapikan selimut.


Diandra mengenakan piyama warna pink buram, baju merah muda bertema batik kembang.


Entah mereka tahu waktu sudah pagi dari mana. Kamar seluas tiga bus AKAP ini tak memiliki jam dinding.


Kamar Jihan pun tidak ada langit-langitnya selain kaca besar di ketinggian. Jadi pemandangannya yang-itu-itu saja di luar kapal, gelap bertabur bintang. Tidak ada surya nan benderang menerangi.


Mungkin sekitar jam delapan..


Terlihat di luar sana, lima bintang terangnya juara satu. Entah tiga bintang lagi sedang di mana. Sekali lagi, bisa saja itu patokan waktunya.


Diandra berdiri, kursi pun hilang. Gliitt! Selimut kini terlihat berkurang kerut dan lipatannya. Cukup rapi. Senyum terkembang di wajah natural ini.


Glitt!


Diandra duduk. "Han, maafin Nina ya. Trus.. Gue takut lupa nyampein. Jadi bilang sekarang. Hehe. Cepat bangun ya kalo mimpi buruk. Gue mau sarapan dulu."


Glitt!! Diandra bangkit dan tanpa ragu pergi meninggalkan tempat.


Sllpph! Bunyi pintu saat Diandra datang.


Sebenarnya itu hanya lawang pada dinding kamar. Diandra akan terjeduk kaca jika daun pintu sedang rusak atau koslet. Untunglah pagi ini lancar dan normal. Bayangkan jika macet.


Plakh!!


Usai menampar lengan, Jihan menggaruk-garuk bekasnya. Krrkkh! Krkkhh...


Tiba-tiba garukan berhenti. Jihan langsung bangun. Set!


Di kulit pergelangan ini, Jihan amati ada tato, bukan gigitan nyamuk. Jihan balikkan tangannya, sisi tersebut aman.


Ternyata bukan tato neonnya yang Jihan bingung.


Angka di situ menunjukkan waktu, sebab ada empat digit dan tanda bagi. "Sejak kapan nih?"


"Eh, sudah bangun."


"Ini??" tanya Jihan pada Diandra, hapal siapa yang datang. "Apaan?"


"Hahaah! Kerokan, Han! Iya jam delapan sekarang."

__ADS_1


"Ckk! Nyesel gue bangun."


"Eh, kenapa?"


"Masih di sini!"


"Ya udah.. Maafin. Gue yang setel alarm. Peace! Heheee... Makan yuk?"


"Hh..! Makan ati."


"Dame! Dame... Maafin. Sorry. Peace!" kata Diandra acungkan dua jari, lalu menggantungkan tangannya nunggu disambut.


"Ck! Iya.." Jihan beranjak turun, mengabaikan tato dan tangan Diandra. "Pengen makan."


"Eh. Makan yang banyak. Nih bukan kerokan biasa. Ada batrenya Han. Kalo udah habis, elo wajib rakus. Ya udah kalo laper, sana cas dulu deh. Makan yang banyak yaa."


"Bacot!" tanggap Jihan, sudah di luar, tak peduli didengar atau tidak.


Diandra bereskan selimut Jihan dalam duduknya di sisi ranjang. Tampaknya, sudah kebal dengan kesadisan Jihan. Maka terbiasa bekerja.


Jam sembilan, yang punya kamar kembali. Jihan tampak masih mengunyah dengan tangan memegang Citruz (soda). Entah apa yang sedang dia makan.


"Sini deh. Duduk, Han," pinta Diandra.


"Gak! Buang air. Cuci muka," Jihan langsung belok kiri. "Pegang.."


Wers! Tap! Diandra sigap pada lemparan Jihan dan langsung menaruh kaleng begitu tertangkap, dapat. Selimut pun jadi alas si Citruz.


Diandra menghela nafas. Dia duduk menunggu.


Setelah beberapa menit, Jihan keluar menggosok-gosok rambut panjangnya, handukan. Cincin anehnya masih ada melingkar di bagian kening.


"Waktu Giga bawa lo ke sini, dia bilang qorin lo lagi gabut. Jadi kondisi lo seperti kesantet."


"Terus? Gak papa. Cerita aja."


Jihan duduk di sebelah dayangnya. Diandra tampak ragu, diam begitu saja usai bicara.


Diandra seperti babu di depan majikan baru.


Dan Jihan memang belum dapat duduk di Kursi Kursian, layanan ghoibnya sedang dikunci. Ini mungkin yang jadi lamunan Diandra.


"Hee..? Lo napa?"


"Serius? Sumpah gak inget, Han."


"Iya. Ngomong.."


"Jadi gini. Kalo ntar si Romi nyantet elo gimana? Qorin dia khan rada cabul."


"Ouh.." sadar Jihan, tapi kemudian diam. Usai berpikir dia lanjut bicara. "Jujur sih. Gue panaslah. Najis liatnya juga. Udah lanjut. Gimana status gue?"


"Bukan itu. Lagian udah diperban. Jadi pala lo aman."


"Jadi elo mau ngomong apaan sih?"


"Mending gue kasih rekaman deh. Ini dia. Puterin Ra."


Whutt!!


Meluncur titik cahaya dari perut Diandra, langsung mengembang menjadi peta tiga dimensi sebuah labirin.


Ruangan sudah mati lampu. Tapi sinar glow milik grafik cukup mecahayai kedua gadis belia ini.


"Apa nih?"


"Markas Library."


"Kok kayak otak gue, kusut..?"


Zliit..!!


Diandra mendapati lingkaran muncul di pergelangan Jihan.


"Eh, udah bisa. Ayo turun!"


Diandra gandeng Jihan dan beranjak turun. Set!


Zliit! Zliit! Bunyi gelang laser di mata kaki Jihan.


Peta terhisap titik pancarnya. Gliit! Claph! Seketika menempatkan dua tuannya di ruangan yang berjeruji.


Di hadapan mereka, terduduk Riko, di sudut penjara dekat kasur sel.


"Rik!" seru Jihan menghampiri dan langsung memeluk. "Hei, udah udah. Nih gue. Nih gue, Sayang.."


"Brr.. brrr.." cowok ini masih bergetar kedinginan. "Ma.. makasih, Rin. Brr..."


"???" Jihan berkerut kening, lalu melepas dekapan. "Rin..?? Siapa dia?"


"Ma.. ma.. makasih. Balik ke dia. Pliss. Hhh..! Brr...Brrr."


"Elo, kayaknya, Han. Tapi semalem gue gak lihat pelukan. Terus-terusan meriang kayak gitu. Dia juga budek pas gue sapa, gak jawab waktu gue tanya. Sampai sekarang pucat."


"He, siapa itu? Hah?" tanya Jihan lagi pada si Muyung. "Siapa?!"


"Brr... Brr... Di.. dia bukan si Koplak lagi, Rin."


"Ouh. Gitu. Okee. Oke," putus Jihan tanda paham.


"Mungkin dulu, qorin lo ke mari waktu kita di pakiran mall.. Han."


"Ya udah. Syukur deh kalo emang dipeluk jin. Gue juga bingung. Pala kayak angin waktu itu. Gabut banget."


"Oh. Ya udah. Ini kamar si Riko. Masih bagian Library juga."


"Hhh...! Syukurlah. Gue pikir.. gak bakal liat dia lagi."


"Ini lorong terluar."


"Kita ke mana lagi?"


"Ke tengah dulu," jawab Diandra. "Pusat labirin ditempati Mbak Rey. Leader mereka mungkin. Soalnya sering dipatrol. Di situ gue kena tepuk. Tapi cuma ditanya."


Di depan sel, Jihan masih lihat ke belakang. Dia tak mendengar lawan bicara. Jihan dapati Riko masih kedinginan di pojokan.


indeks:


huruf s pada kata jin,


s ini artinya sintetis, jadi-jadian

__ADS_1


jadi akan digunakan buat seterusnya


__ADS_2