Kembaran

Kembaran
dua puluh


__ADS_3

Giga tak berhenti meratap maupun berbuat lebih selain menangisi kecerobohannya. Mayat di sana lebih penting baginya daripada mengejar parasas. Tapi.. Zihan sudah tak bergerak sama sekali.


Terdengar, tangisan makin menjadi, seperti ada rasa bersalah yang terus mengiris-iris si pemuda.


"Hwaa.. aaa-aa! Ya Allah.. Hikk! Aaaa.. aa-a! Hwaaa!! Mbaaak!! Ya Allah ya Rabbi.. Hikk! Gue malah nyelakain lo Mbaaak.. Ahaah! Haaa... aaa!"


Daph..! Kedua lutut Giga lemas menekuk.


Giga jambak kuat rambut putihnya hingga menyentuh pasir, tampak tak kuasa lagi mengingat-ingat apa yang dia dapati kini.


Di sana Zihan teronggok bersama keheningan di dalam sayup desiran pantai.


"Aaaaargghh!!"


Entah berapa helai rambut tercabut, urat tangan sang empu terus mengencang.


Sayup di kejauahan, seruan Bradmin diabaikan, Zihan yang tak bersuara mampu mengguncang punggung Giga dengan sendirinya.


Hening dan desir ombak kembali dipecahkan raung sedih pengunjungnya.


"Hwaa!! Hahhaaa..! Hwaaa..Aaa!! Hwaaaa!!"


Ledak tangis tak terbendung lagi, disusul teriakan panjang dari Bradmin yang memanggil, membahana lebih tinggi. "Boooss!! Hikk..! Hikh!"


Bradmin lalu tersenguk bersama basah kedua mata. "Huuhu! Udaah..! Huuu hu.. Hikk!"


Salinan Giga masih 'terikat' asap, tidak bisa apa-apa selain terbaring menangisi keadaan dalam wajah yang serupa nan pasrahnya atas ketidakpekaan mereka. "Gu.. gue.. gak kuaat.. Uhuh!! Huhuu..Hikk!"


Chaang..! Bintik sinar melesat dari dalam tanah tanpa ada yang menyadarinya. Tapi, perlahan.. sang bintik mundur melayangi laju lurusnya barusan, alon melenggang balik menempati perut Zihan.


Giga bangun dari pose menjambak, bersimpuh ditopang dua lutut sebangkit sujud. Dua bahunya terantuk-antuk, setelah itu dua lututnya terangkat dan melurus hingga kini Giga sedang berdiri.


Sang muda berbalik membelakangi, dia pun kemudian balik badan menghadap seperti semula.


Giga pegang kepalanya ketika berbalik membelakangi, dijambak rambut putihnya. Lalu dia menghadap lagi dan melakukan hal serupa, mejenggut rambut sendiri.


Pria ini melepas jambakannya lalu dada naik-turun dan kembang kempis. Giga juga menyentak tanah dengan kaki dan terdorong mundur.


Giga tinggalkan tempat dengan cara mundur tapi badan condong ke depan, mundur mendekat ke arah Bradmin. Di tengah menjauh demikian, Giga jongkok kemudian berbaring dan telengkup.


Tubuh Giga terangkat ke belakang, kakinya kembali menekuk. Tiba-tiba, posisinya yang tengah condong badan ini..


Gedubrak!!


"Hhh, Hhh, eghh.." Giga bangkit dan kembali lari.


"Huu huhu.. Banguuun! Whuuaa.. aa-a.. Ya Allah.. Qoriiin. Banguuun!" derai Jihan memangku sepotong badan tak bernyawa, menangisi cairan kental nan hitam yang masih segar.


Wreleett!!


Kwreeetth!


"Huu..Ugh!"


Tiba-tiba kedua bahu Jihan terbelit tentakel, mengikat dadanya hingga sesak. Si gadis segera bergerak-gerak membuka dua ketiak. Namun..


Kwreetth!

__ADS_1


Srreeddh!!


Belalai asing menyeret tubuh Jihan.


"Qoriiin! Help mee...!! Help me! Huu huu.. Help me!" korban makin jauh diseret masuk ke dalam, ditarik masuk di antara pepohonan. "Jihaaan!"


Gruusakh!! Grusakh..!!


Di tengah terikat, Jihan menaikan nada suara, tetap memanggil namanya sendiri dengan kencang membahana di kala dada terbelit. "JIHAAAN!!"


Dukh! Dakh..! Dukh..!


Badan mahasiswi menabrak batu, tergores ranting, dedaunan kering, terangkat sandungan lalu terjatuh lagi ke tanah, dan langsung terbentur batang pohon yang dilewati saking cepatnya sesuatu menyeret.


Grusakh!! Grusakh..!!!


Sampai di satu tempat, di dekat pohon yang berkulit aneh..


Set!


Wreleett!!


Jihan terbebas dari lilitan. Pakaian dan kulit wajahnya kotor. Celana jeansnya rada sobek-sobek. Rambut amat kusut tergerai. Dia terbaring dengan sangat lemas dan menangis. "Huu.. uu-u.. Hikk!"


"Arrgh, haha.. Parasitmu itu laknatku. Bergabunglah, kita urus pemuda itu kemudian. Arrrgh..!! Tapi bukan di sini."


Parasas alias Induk membening. Set! Melesat masuk ke tubuh Jihan lewat perut, tepatnya pusar.


"Hukkkh!"


Jihan terantuk menyentak dada. Pakaian santainya yang dia kenakan sewaktu datang ke SMP, berkerut tanpa terlepas melapisi badan. Krrtth!!


Kucip langsung berdiri dengan sekali gerak, dua kakinya yang disentakkan ke udara langsung mendarat tegap di permukaan tanah.


Jreeng! Pakaian sang ninja kini bersih seperti kulit putihnya nan mulus. Sayangnya, mata Kucip masih hitam tidak berkornea, dan saat tertawa, sela-sela giginya item berkarang. "Arrrghh hahha!"


Set! Trisula yang bisu menyaksikan salto Kucip, dicabut dari tempatnya, dipisahkan dari pohon.


Si pencabut pun hirau suami-nya me-netapi besi terpegang. Mungkin nanti, di toko berlian perhatiannya beda, berubah pikiran yang semisal tebus sesajen. Ah entah, urusan siluman.


Bluph! Muncul kabut persis bola mengembang.


"Sarang-ku ini akan membuatmu kuat. Woaarrgh! Aku harus dapatkan pusaka si Busuk Keparat."


Portal ternganga lebar, ternyata sarang Induk di goa ini. Makin lama makin terlihat jelas lorongnya dan bola kabut menyisakan asapnya secara melingkar bagai cincin.


Wruugh!!


"Wuuaarrghh!!"


Baru selangkah mendekat portal, se-kain jaring terkembang di tengah lawang... Brepph!! Membungkus target hingga terdorong jatuh agak jauh.


Gedubrakh!


Jihan yang masih berdiri seketika lemas. Saat bersamaan sosok pendek bertudung melesat di hadapannya, membening transparan, ditinggal pergi isinya.


Set! Jihan tak jadi ambruk, malah tegap berdiri, lalu mengambang sejengkal di atas tanah.

__ADS_1


Induk segera merobek-robek perangkap sambil mengeliat-liat. Lapisan baru malah lebih cepat menggantikan serat terputus.


Wiuuph!! Wiup!


Sepertinya ada selubung elastis yang aktif berkerja tanpa henti dan tak terlihat. Makin banyak gerak, makin kusut sang jala mengikat. Entah, alat khusus atau senjata rumusan ini namanya apa.


Sementara sebut saja Saringan, sebab tadi bisa nembus dan nangkap sekaligus.


Induk yang meronta-ronta, kini diam dengan tenaga terkuatnya, dan itu gerakan terakhir. Jadi tadinya ber-ekor ikan, kini dia punya buntut lengkung ada bandulnya.


Di depan portal, White J diamkan telapak kanannya ke kulit pohon, goa tengah bergemuruh.. tergoncang, menjatuhkan obor-obor di dinding batuan.


GGRRRDH...!!!


Krakkh! Brugh! Brugh!


BRUGH!!


Atap dan bongkahan keras pun jatuh, runtuhannya menutupi lorong. Mungkin menimbun hingga ke ujung seberangnya, mengingat goa seperti melapuk rapuh di-usia-kan.


Srrttth!! Lapisan pohon yang dipulihkan ke warna bawaannya, kini terbekas balap lima jari Al Hood. Warna jejadiannya tadi persis batu gran canyon, dan itu berakhir di ujung telunjuk Luna.


Bola kabut turut menyusut seiring sentuhan terakhir di permukaan pohon. Leph! Hilang selepasnya jari Al Hood di titik sentuh.


White J tak menyentuh apa pun lagi, dia segara memutarkan badan.


Ampun Ratu.. Ampuun..


Luna sedang mengganga dan melebarkan mulutnya. Semua giginya mulai meruncing. Grrrth..


Am.. puun..


Leher Al Hood memanjang, kepala ambil posisi dengan mulut semakin ternganga. Sayup-sayup di kejauhan terdengar raung tangis seorang laki-laki.


Ampuuun Ratu.. arrgh.. Jangan.. Jangan..


Set!!!


Chang!!


Dredd! Jihan tersentak badannya di tempat yang dia duduki, terjaga di goa UFO ini.


Di tengah bingung, si gadis dapati dirinya sedang on air bersama bocah tudung dengan permen lolipop tengah dijilati, mereka sama-sama mengambang.


"Alangkah baik.."


DEPH!!


"Huu uu-uu.." peluk Jihan, menangkap fisiknya sendiri di udara.


"Kusuka piyama.. ki.. kita.. i.. ni.."


"A.. a.. aku juga. Hikk.. su.. su.. suka.." berat Jihan sesuatu seperti mencegat hingga dia terbata.


"Mghh!" Zihan menggengam hastanya di punggung Jihan, membalas lebih erat pelukan yang ada, pundaknya bergetaran.


"I miss.. you.. Uhuh..! Uuu..u!"

__ADS_1


"Hikk..!! Mghh! Jihaan.."


__ADS_2