Kembaran

Kembaran
Sengketa 3


__ADS_3

Jihan menerima laporan berupa rekaman video. Berita yang diterimanya berisi kabar tak menyenangkan; temannya diculik dan ditawan. Jihan pun mempercepat langkahnya, dia harus membebaskan Romi dan Giga dari sebuah kerangkeng.


Lokasi tujuan bukanlah tempat yang ada di Bumi. Romi dan Giga dipenjarakan di Bulan. Jelas sudah, siapa yang menculik mereka jika bukan alien.


Jihan menapaki halaman parkir Citymall. Pakaiannya kemeja putih lengan panjang dan rok hitam selutut. Sesampainya di mobil, dia naiki Vitara tersebut karena memang sedang tak dikunci.


Jligh..! Jihan tutup pintu mobil.


Di dalam kendaraan, Jihan dapati Diandra dan Nina sudah duduk tertidur. Belum sempat bicara, tiba-tiba mobil bergerak mundur, jalan sendiri.


Brrmm!! Kaca sopir dan jendela mobil begitu hitamnya sehingga penumpangnya tidak kelihatan dari luar.


Brugh..! Tubuh Jihan mendarat di ranjang apung, dari mobil tersebut tubuhnya jatuh ke perabot yang tak berkaki, tapi empuk, yaitu kasur maglev.


"Jok ajaib. Haduh, kaget njir.. kiraen nyeplos ke kolam."


Jihan turun dari ranjang. Dia berjalan keluar ruangan.


Di luar atau di ruang kosong, Jihan mendapati Vita sedang memberi pengarahan pada empat anak SosCamp bersenjata.


"Gue ikut, kalo pada mau perang-bintang.."


"Tunggu wave kedua datang. Para mahluk sudah pulang. Sudah gak demo. Tapi mungkin aja lagi ngubah siasat."


"Jadi gue belum telat khan?"


Benar, Jihan sudah berada di kapal, dari parkiran mall, tanpa roket peluncur, dia masuk lewat Jok Ajaib.


Mobil yang Jihan tumpangi mobil jadi-jadian, bukan kendaraan biasa, jauh dari kata asli. Kata Diandra, itu alat dari Snail, pabriknya barang aneh.


Jadi Vitara semacam mesin pelontar atau telespace.


"Kakak orang penting di sini. Kita yang harus ikut perang."


"Sori gue telat, Vit."


"Baiklah. Silahkan kalian berjaga-jaga. Saya harus ke ruang komando dulu. Briefing dibubarkan. Bergerak!"


"Siap!!" sahut prajurit, serentak. "Laksanakan!"


Mereka balik kanan bersamaan di depan Vita.


Senjata yang dipegang sebesar guling, tapi enteng dibawa. Mereka terbalut pakaian ketat ala penjelajah waktu, berhelm rapat.


Jihan lihat tubuh keempat pemuda berganti citranya jadi transparan.


Nguu.. wiit!!


Mereka terbang dan berpencar begitu di luar kapal.


Barulah Jihan tahu kaca lingkaran di dinding ruangan ternyata bukanlah selempeng lukisan, melainkan pintu absen untuk jadwal patroli.


"Umm, itu.. tugas gue khan?" tanya Jihan, menunjuk objek karena di sana tertampang nama; Giziania, hari ini.


"Udahlah. Biar aja mereka yang ronda, Kak."


Jihan diam sejenak memikirkan kata-kata Vita.


Saat Vita sudah berada di ruang santai, Jihan beranjak mengikutinya. "Yowis. Udah rejeki mereka."


Vita berdiri di sebelah aquarium. Begitu melihat Jihan datang, dia sentuh bagian bawah tepi meja, di bawah aquarium.


Claph! Tubuh Vita menghilang, terbekas cahaya, memotret ruangan.


"Oh ruang utama lewat situ. Bikin sempit gitu, pintu aslinya? Duh.. Gue datang, Anak-anak."


Shhtt!! Badan Jihan menyusut saat menyentuh bekas jari Vita di pinggiran meja.


Di ruang tujuan, Jihan masih memegang sisi meja. Dua gadis yang sedang mengobrol berhenti begitu mendapatinya. Jihan tetap memandangi ikan-ikan besar di luar kubah kaca.


"Dah kali, dah nyampe," kata Diandra.


"Ehh.." lepas Jihan, menatap meja yang disentuhnya.


"Romi sama Giga belum pada sadar. Sel dijaga ketat. Kira-kira ada dua puluh jenis penjaga di sekitar sel. Ati-ati sekali mereka, udah kayak nahan presiden."


"Kalo kita gagal bawa kabur tawanan, nasib yang sama bakal nimpa kita, dan mungkin.. bakal mereka siksa."


"Kita lihat nanti.. Pesimis amat lo Vit."


Nina menimpali kekhawatiran Vita. Tangannya sedang dibelit kain bandana.


Jihan mendapati tiga kerangkeng di meja. Ada tiga buah kurungan yang mirip kandang Merpati, seperti tower pengawas milik sebuah bandara. Kerangkeng tersebut dipetakan dalam bentuk grafik transparan.


Penjara dijaga banyak 'satpam'.


Walau para penjaga berkaki dua, justru yang bergerak malah ekornya. Sehingga kipas-serba-guna tersebut mendorong sepatu roda yang dipakai.


Proyektor meja memang menayangkan sorotannya secara detail. Pasti kamera yang diterjunkan ke TKP tengah dalam mode siluman.


"Tangan lo kenapa Nin? Kaku gitu.." tanya Jihan.


"Berkah dari luka, Han. Kalian berdua pernah duel di timeline ini." Diandra menerangkan riwayat tangan Nina.


"Iya kapan kena-nya? Gue gak gigit tangan dia, Yan."


"Lo gak bakal tau Kakak Judes. Dah lah. Yang jelas nih bukan Liner-nya Bunda Asma. Nih produk keras-kepala."


Bwu..uush!! Tangan Nina terkobar api.


"Gue jadi inget obor kemah."


Bluph.. Api langsung padam. Nina diam tak ambil hati atas ucapan Jihan, bersilang tangan menatap peta. "Semua fokus ke sini."


"Status kita nunggu jawaban musuh. Gue yang ambil putusan bahwa kita, komunitas, udah gak ngurusin Riko lagi, Han. Jadi sedapat mungkin, pertahanin kapal sampai closing berhasil."


"Ya. Gak papa. Gue tau dari Medium. Riko kabur pas petugas mindahin dia ke Panti Perawatan. Jadi terserah dia sekarang, kalo emang nyari masalah, ya kita ladeni. Timeline gue bukan ruang-waktu buat senang-senang, timeline-nya si Jisas, tempat yang diamanatkan Al Hood ke gue."


"Musuh emang ngebet pengen timeline kapal, jalan masuk ke komunitas. Tapi niat ini buat nyari power ekstra. Sampai sini jelas tujuan tersebut bertentangan dengan aturan komunitas. Kecuali Riko anak baru. Tapi dia justru senior," tambah Vita berapi-api.


Didit!


Meja komando menayangkan miniatur grafik wahana yang mereka diami, terjadi sesuatu.


"Nah khan. Mereka nolak."


"Nolak gimana?" tanya Jihan.


Dhuuar!! Bunyi ledakan di luar kapal. Kejadiannya tak jauh dari lambung atau ruangan milik Jihan. Peristiwanya disiarkan langsung oleh meja komando.


"Nolak saran ma rekomendasi. Padahal alternatif itu, udah timeline yang terdekat. Udah. Positif. Mereka ngotot pengen pintu yang di kapal ini."


"Komando, di sini G3. Terjadi peretasan shield di Gudang Persediaan."


"Good job. Kau terluka G3?"


"Copy that. Sehat jasmani dan rohani."


"Bagus. Itu genderang perang. Kami keluar sekarang. Teruskan patroli.


Nin, kamu fokus ke Giga. Vita, kamu bebasin pacar lo secepatnya. Kita butuh Romi buat closing. Bergerak!"


"Cheer! Duluan.."


Claph! Badan Vita lenyap. Begitu pun dengan Nina, turut menyentuh pinggiran meja proyektor.


Claph!!


"Oke Pesuruh, apa titah lo buat perusuh ini?" tanya Jihan pada Diandra.


"Ganti baju lo kek."


"Ehh.. Iya juga. Nih buat interview."


Jihan baru sadar dirinya masih berpakaian hitam-putih.


"Lo balik ke ruangan. Wall in ke wahana tempur. Pintunya deket dinding kasur. Masuki ruang kokpit, duduk di kursinya. Gue komandoin dari sini."


Syeeet!! Jihan mengibas udara alias salin ke seragam 'peronda'.


"Oke. Mari rusuh balik para musuh komunitas."


Dhuuar! Dhuuar!


"Ya. Mereka udah gak sabar, Han.."


Theuung.. ge-jligh!


Tak lama, Jihan sudah duduk dalam wahana tempur. Pesawatnya berbentuk helm ukuran rumah.


Helm Langit (sebut saja begitu) sedang melepas diri dari tempat parkirnya, keluar dari ruangan samping kamar tidur.


"Lo masuk bridge, di timur kapal. Masuk ke zona Bimasakti," pinta Diandra, di layar monitor.


"Oke. Itu gate buat ngirit bensin?" tanya Jihan, sudah berkacama, alat bantu menyetir kapal.


Jauh di depan wahana ada objek bulat warna biru plasma, jalan pintas ke Tata Surya.


"Itu juga casan kapal lo. Isi amunisinya. Musuh gak bisa dihit pake magis atau gelombang neuron pikiran. Harus ditembak dengan biusan."


"Oke. Ndan. Sekarang.. Gimana cara nyetir kapalnya nih?"


"Lo lagi bareng sama pilot Soulator. Rin yang kemudikan."


"Bagus deh. Kami cabut."


"Inget, tembak lagi musuh yang nembakin lo, Han. Met perang.."


Set!


Helm Langit akhirnya melesat masuk gate biru.


Begitu masuk zona Tata Surya, bunyi-bunyian di kokpit terdengar mulai dari status power sampai peluru, datanya penuh terisi, wahana terkondisi siap tempur.


Didit! Dadat! Dudut!


"Notice udah serame ucapan ultah sama lebaran."


Dziing!! Dziing..! Jegur!!


Badan kapal terguncang, tempat duduk bergetaran. Musuh baru saja menembaki Helm Langit.


"Woy! Anjir.. Itu kena!"

__ADS_1


"Kena perisai Dodol!"


Whuussh..!


Wahana serupa lewat di samping Helm Langit. Pengendaranya tak lain Nina. Kapal Nina berhasil menembak beku Piring Terbang yang menembak Jihan. Ctas! Ctas!!


Trraath!!


Benda persis tutup panci mengambang usai ditembak pesawat Nina.


Wuutts!! Kapal Berkuping tersebut melesat mendekati Bulan.


Nina menembaki banyak UFO penghadang.


Treeteteet!!


Dziing! Dziing!!


Ctass!! Ctass!! Balas Nina.


"Banyak amat.. UFO-nya. Invasi apa emang kudeta nih?"


"Lo nungguin apa Judes? Lindungin gue!"


"Lo ngapain ke sono, Nin?"


"Apa gue kelihatan cari mati?"


"Ouh iya, lo fokus ke kurungan Giga. Gue bantu deh, nyapu jalanan. Buka tombol senjata, Rin."


Klik..! Set! Ckiit! Dashboard pesawat menyodorkan seunit handle.


Ctrrraass...!!


Jihan pijit tombol stang tersebut, ratusan sinar bulat keluar dari ubun-ubun kapal bagai rudal lebah. Sebagian sudah melesat menyusul kapal Nina,


Peluru-peluru mengejar semua Piring Angkasa yang berseliweran di sekitarnya.


Wats!! Witts! Wuts!!


Trekh! Treekh! Trekh!


Helm Langit terus melaju mengikuti kapal Nina. Whuss!!


Kapal-kapal musuh sudah banyak yang tumbang dan mengambang di angkasa. Tapi dua kali dari jumlah 'mayat' yang ada, banyak UFO yang masih berseliweran jauh di sana, sibuk mengejar Helm Ketiga yang disetir Vita.


"Baru sampai udah rame gini."


Dziing!! Dzing!!


Trath!


Jihan berhasil membekukan UFO yang datang. Tapi kemudian kapal dia kena tembak.


Jegur!!


Wuu.. ung!!


Helm Langit tiba-tiba terpental jauh. Di permukaan Bulan penembaknya tengadah, seekor lagi sedang mengisi peluru basoka.


"Kurang asem. Ada tank tak kasat mata nembak gue, Nin."


"Gue udah di TKP. Thanks.." kata Nina, berdiri membidik sesuatu.


Klik! Di atas ubun kapal, Nina pijit tombol Launcher.


Chaang!!


Jegur!! Tank Siluman yang sedang diseting, berhasil meledak, operatornya keburu lari, meninggalkan TKP.


"Huh kabur deh.."


"Bagus, Nin. Itu balesan edan seorang Psikopat."


Helm Langit masih terpelanting.


Laju tersebut Jihan manfaat untuk menembak, melepas bulir-bulir sinar. Maka kemudian kapal jadi persis roda gerinda, terpancar banyak peluru sepanjang lajunya. Brutal.


"Elo mabok apa nembak?"


"Caper, Ndan.." jawab Jihan.


"Vita, jalur elo aman sekarang. Mendarat, ambil jalan yang di lalui Jihan."


"Baik."


Ckitt!! Kapal Vita berhenti, musuh yang sedang mengejarnya ikut berhenti.


Trath! Traat! Traath!


Piring-piring Besi langsung memucat dikenai sinar, seketika angkasa sunyi, sebab banyak sekali ammo-ray yang mengejar targetnya saat dilepaskan dari 'sarang'.


Ckit! Helm Langit berhenti tak jauh dari kapal Vita.


"Apa delapan orang kebanyakan ya?"


"Makasih Kak."


"Ya. Tuh juga kerja," ucap Vita, tampak dari jendela kapal dirinya berkacamata, pakai alat navigasi.


Wuutts!! Helm Ketiga melesat meninggalkan Jihan.


"Bagian susahnya sekarang? Boss mereka di mana, Yan?"


"Belum kedetek. Kawal dulu si Vita sampai tujuan."


"Baik. Imajinasi penuh.."


Sre.. set!!


Badan Jihan tersentak, duduk seperti disengat. Banyak kabel menancap begitu Jihan selesai bicara. Sang pilot pun langsung tertidur.


Trakkh..! Wahan pecah jadi beberapa bagian. Kemudian..


Tekh! Trekh!


Membentuk tangan.


Set! Jligh!


Kepala.


Nguu..iit!! Treekh trekk! Kaki kiri dan kanan.


Set! Set!


Dada.


Jligh!


JREENG!!


Helm Langit bertransformasi jadi enam bagian, dada, dua tangan, dua kaki, dan kepala.. berubah jadi robot yang berurat-daging biru tranparan.


"Imej lo emang mudah dipahami sama sistem, Han. Kalo kayak gini.. Gak perlu repot ngajarin lo lagi."


"Serasa Ironman.." kata Jihan, wajahnya dicahayai monitor milik kaca helmnya.


Set! Wahana melesat menuju Bulan mengabaikan bangkai-bangkai UFO di angkasa.


Kapal yang disetir Vita pun tersusul.


Bregh! Robot sampai di Bulan. "Vita, ubah jalur. Di sini gak aman."


"Oke. Diterima. Mendarat di titik baru."


Set! Kapal Vita miring ke kanan, mengubah tujuan dan hilang berganti mode siluman.


Dziing!! Dziing!!


Di Bulan ternyata serangan berlanjut. Begitu Robot mendarat, masih banyak tembakan.


Driididit! Driididit...!!


Tcang!! Tcang!!


Tidak ada jedanya suara-suara tersebut.


Sejak Jihan datang, musuh tak berhenti menembaki Robot-nya. Mulai dari jenis peluru timah hingga serangan ghoib menghujani wahana.


Dziing!!


Zreededed!!


Zitang!! Zitang!!


Jegur! Jegur!!


Towett!! Towet!


"Gak ada wipper, pandangan kehalang."


"Tetap di posisi, Han.."


"Ngapain? Shield bisa abis, Ndan."


Musuh melepaskan rudal.


Wuuiing!!


Blaaargh!!!


Dhuuar...!!


Tembakan berhenti, mendadak sepi, dan masih ada asap ledakan.


Jree... eeng!


Robot masih utuh terlindungi bola perisai. Mata Robot menyala. Jauh di sekelilingnya banyak mahluk-mahluk aneh sedang memegang senjata.


Jihan tak mendapati mesin besar semisal tank, yang tadi meluncurkan rudal.


"Napa pada bengong gitu? Apa ini taktik?"

__ADS_1


"Gue rasa mereka bingung, Han."


"Haduh lega. Tapi.. Jadi gak tega balesnya, mereka nih lucu sekali. Apa yang mereka bingungin?"


"Moralitas.."


"Maksud lo, mereka bisa bedain, mana yang benar, mana yang salah?"


"Gue belum liat yang begini bisu. Mungkin mereka sadar siapa lawan yang diadepin. Ini tatapan mereka pada sosok legendaris."


"Legendaris? Gue kurang seru disebut legenda. Kalo pada ngakak sih gue setuju. Rasa kagum ini harusnya buat Pencipta mereka. Allah ta'ala. Bukan ke gue."


"Coba elo balik ke penampakan normal. Gue ngerasa mereka bakal cepat lupa."


"Baik, Ndan. Ayo kita cari tau.."


Gwuu..iit!! Perisai hilang.


Mata Robot padam. Bunyi-bunyi besi terdengar.


Trakh! Trekh! tekkh..!


Dua tangan robot lepas, di susul kaki.


Grikh! Grikh..! Trakh..


Empat partisi melipat diri ke bentuk rahang dan telinga helm.


Trekh! Tekh.. tekh! Ckit!


Didit!


Kepala sedikit menjauh, dada robot membentuk kaca helm. Kepala membentuk ubun-ubun, jadi gepeng persis canopi.


Trekh-trekkh..! Trakh!!


Ge.. jilgh!!


Bwuush!! Plasma biru menghilang jadi hembusan angin.


Jihan duduk membuka mata sambil terengah, kacamatanya kembali terpasang dengan otomatis. Kabel-kabel yang menempeli baju ketatnya sudah masuk ke dalam dashboard kokpit. Sree.. set!


Clekh..!


Pintu kapal Jihan buka. Dia berdiri di kursinya sambil pegang bedil. Jihan segera memanjat naik.


"Ini Bulan. Gue di Bulan.." pandang Jihan ke sekitarnya, banyak sekali bangunan aneh di sekelilingnya.


Dziing! Dziing!


Degh!!


Brugh!! Jihan jatuh dari atas kapal karena tubuh mental tertembak.


Dziing!!


Krakh!! Tanah mendadak jadi kawah sebesar galon. Untung Jihan segera bangkit sembunyi di balik kapal.


"Njir.."


Dreedededeeeed!!


Dziing!


Dciiiww!! Jihan balas menembak, entah targetnya siapa, dia tembak begitu saja sumber yang mencelakainya.


"Napa lo nyuruh gue ke mode ini?"


"Gue belum nyuruh keluar."


"Udah tau nih taktik mereka. Napa numbalin gue coba?"


Dziing! Dziiaang..!


Jihan merapatkan badannya ke dinding kapal. Ada bayang yang mendekat. Tembakan tetap termuntahkan ke tempatnya.


Dreedededeeeed! Dziing!! Dziing!!


"Mereka lupa power lo."


"Oke gue ditumbalin cuma buat denger itu."


Dciiiww..!! Jihan nongol dan sigap menembak.


Jegurr!!


Penyerang meledak dekat kapal.


"Waduh. Gawat nih."


"Apa lagi Yan?"


"Mereka datang nyerbu elo. Lagi pada mendekat."


"Ini perang bintang yang pernah dibintangi gadis yang tulus dibanting bentengnya."


"Lari! Ada rudal.."


"Tadi lo bilang musuh!"


Whiii...iiing!


Jihan melihat bayangan benda besar menutupi tempatnya berada. "Njir.. Inalillahi.."


Wuutts!!


BLAAARGH!!


Helm Langit hancur lebur dihantam roket seukuran gerbong.


"Duh.. Itu Soulator mahal, Yan. Lo jelas udah nyia-nyiain aset komunitas," intip Jihan di balik batuan.


"Gue tau itu borosin material Xmatter. Tapi Romi sama Giga selamat."


"Oh begitu?"


"Iyalah. Secara taktis wajib dikorbanin. Romi khan bisa bikin purwarupa setara Plasma Bit. Code image lo udah gue rekam, tinggal dikasih ke dia tuh blueprint."


"Tinggal gue di lapangan ini. Dengan banyak mahluk asing.. bersenjata."


"Oh ya. Emang belum beres. Mereka nungguin perintah."


"Bengong mereka masih bahaya. Jangan ketipu!"


"Tapi Aneh banget. Riko emang gak muncul di radar kapal."


"Hah? Dia boss. Gue yang dia tunggu! Harusnya dia nongol."


"Ini ngedasar dari laporan saksi. Tanya aja langsung ke si Vita."


"Kayaknya ada yang gak beres nih. Kalo belum kedetek, manual aja. Pencarian ala bo-lang. Bocah petualang."


"Yah elo. Kepo amat sih. Dia ngehitung kekuatan lawan. Biarkan dia tahu soal itu. Trus juga.. Ini drone udah ke-update, nilainya cepe. Musuh gak tau, lagi disorot selama ini."


"Ya udah. Riko nyia-nyiain gue, kesempatan-emasnya sendiri. Pilih nunda ketimbang selesai sekarang."


"Musuh buyutan?"


"Gue harus terima itu. Jam berapa sekarang?"


"Jam empat belas, Prajurit. Ada Medium di sini bantu-bantu ngurus step close."


"Jemput gue."


"Terbang aja. Via drone di atas lo."


Jihan tengadah. Tidak ada objek terlihat. "Di atas, di mana? Hongkong? Gak ada Dodol.."


"Ter.. bang.."


"Oh. Bilang dong."


Set! Jihan melesat vertikal.


Wuutts!


Seketika ada bola bening turun menyambar tubuh Jihan.


Ckitt!! Jihan berhenti. Dia baru sadar sudah jauh dari Bimasakti, tidak sedang terbang vertikal. Karena tak jauh di depan Jihan Kapal Karantina tengah melenggang, walau sebagian sudah hilang.


Jihan menoleh ke belakang, dia hanya mendapati bridge, blue-gate yang pernah ditembusnya dengan Wahana Tempur.


......................


Jligh! Pintu mobil ditutup.


Vitara melaju kembali di jalan raya dalam lambai tangan penumpang.


Jihan melangkah menapaki gang Lam Alifm. Panas terik menyengat, membuatnya terpaksa memayungi diri dengan baju yang masih dalam kemasan dari kantor Hamam Jeans.


Seorang pemuda tak dikenal sudah menunggu dekat rumah. Dia duduk di jok motor.


"Han, tunggu..!"


Jihan berhenti tepat di depan pagar rumah, pemuda yang menunggunya memanggil.


"Ada kabar duka," kata si pemuda.


"Lo siapa ya? Kenal gue di mana?"


"Dari arsip Whois?. Kamu baru pulang dari kapal bukan? Saya mau beritahu soal Riko.. bahwa dia bunuh diri. Mayatnya berantakan di rel kereta tadi malam."


"Hah?"


Pemuda asing memberikan dokumen yang dibawanya.


Jihan apit baju seragamnya di ketiak, dia melihat foto-foto tercetak. HVS tersebut memperlihatkan kepala, tangan dan kaki Riko di pinggiran rel. Baju korban robek dan penuh darah.


"Astaghfirullah..."


...----------------...


lanjut ke new cover: Jihan

__ADS_1


__ADS_2