
Jihan bangkit dari tiduran.
Diandra sudah kembali, masuk menembus pintu kamar seperti saat perginya tadi. Jihat lihat, tangan Diandra meluk sekantong bawaan, mulutnya mengunyah burger.
"Cepet amat. Banyak, lagi.." komen Jihan ketika bawaan sudah di taruh, satu lututnya nekuk di sisi sofa, tangan mengorek isi kantong.
"Ummh!" ringis Diandra, masih mengunyah makanan, isi mulutnya full roti-daging.
Jihan duduk di sebelah Diandra memangku kotak putih. "Beli di mana sih? Nyeni gini box-nya. Gak ada karet pedes, karet acarnya..?"
Srrllpp..! Srrllpp! Srrllpp.. Seperti Jihan, beres makan Diandra jilat jari, lalu menimpali.
"Di Kafetaria," jawab Diandra bangkit dari duduk menuju sofa mengambil sesuatu.
"Kafe mana? Nilep punya Dinner Shoot dosa kita Yan. Mendingan ngemis langsung ke managernya."
"Kafetaria. Snail."
Diandra duduk lagi di sebelah Jihan, tangannya sudah pegang kemasan berselang stenlis, dan menyedotnya.
"Snail? Lo ke sana, ke mananya tadi?"
"Kafetaria.."
"Gimana caranya, gue ke sana?"
"Udah sih lo makan dulu Han. Katanya sembelit."
"Gimana nih bukanya? Kok ada makanan pake ngaran gue sih?"
"Lha emang punya elo. Isinya terserah mau apa."
"Hah?"
Diandra bangkit dari duduknya, mengambil nasi box. "Gue juga belajar macem-macem nasgor dari Mbak Canteen. Nih ada rasa yang lo impiin hasil racikan gue. Di sono komplit banget bumbunya."
Kali ini benda yang Jihan terima ada karetnya, sementara kotak asing, dia berikan ke Diandra.
"Hss! Hhss..!"
Asap masakan dalam nasi box masih terkepul, keluar dari sela kemasan. "Hhhss.. Njir. Bau sorga gini. Haduuh.."
"Hai, Lin.. Sono tuh box-nya."
Lintang sudah mendarat di dekat mereka. Jihan tak peduli, masih terpejam mata atas wangi yang dicium. Lintang segera ambil pesenannya.
"Dia napa, Yan?" tanya Lintang.
"Tau deh. Belum dicoba udah lebay sama bau makanan."
"Ouh. Thank you, nih," ucap Lintang tak lanjut ngebahas. Dia duduk di lantai, bersandar ke sofa menyentuh-nyentuh kotak putih.
Setelah layar berbunyi, Lintang baca-baca sebentar, terus menyentuh. Taph!
Clekh.. bunyi white box. Benda asing ini terbuka begitu saja.
"Han, lo udah.. sele.. sai?" tanya Diandra ke kuping Jihan. "Udah dong, gak pake lebay.."
"Ehh.. iya. Makasih Yan. Gue lagi doa."
Jihan membuka strofoam yang dihalunya, dan langsung bermuka cerah begitu melihat nasgor impian, yang ternyata.. "My spicy! Alhamdulillah..!"
"Iyalah. Masa iya red toxic. Pokonya awas pedes."
Jihan sudah menyuapkan sendok dan mengunyah. "Umm.. mmh.."
"Gimana?"
"Wauw.." lamun Jihan. "Thank you.. Ini pas.. pas banget. Nih lomba.. juaranya elo."
Diandra senyum ditatap Juri Jadi Jadian. Dia biarkan Jihan sibuk menyuap My Spicy hasil masakannya.
Sekali, dua kali, lalu sendok yang ketiga pun Jihan masukan isinya. Barulah, dia mengunyah. Mulutnya muat juga ukuran segitu.
"Elo udah beres chek-nya Lin? Ada gak?"
"Aneh. Nihil, Yan."
"Masih ada tiga pintu lagi kok, Lin. Sisir aja sampe dapet."
"Betul," kata Lintang yang juga sibuk makan, alat makan yang dia pakai, sendok-yang-tak-kasat-mata. "Saya ngira tadinya ada. Tapi nihil, gak kedetek diulang-ulang."
"Apa emang Vscan-nya?"
"Belum tau saya."
"Ya udah. Kalian makan dulu aja. Gue udah makan di sono. Kenyang banget pokonya."
Cup! Jihan mengecup pipi Diandra. Yang dicium hanya menyedot selang, konsen manteng buku lagi di pangkuannya.
Jihan angkut nasgor ke mulut dengan sendok plastik. Dia menengok ke belakang. Didapati kembaran Diandra sudah pulas, Jihan pun langsung biarkan.
Beberapa menit kemudian, Diandra menaruh buku tebalnya. Jihan sedang minum Citruz di sebelah, bersendawa dan diabaikan.
Diandra fokus usap-usap punggung tangannya.
Jihan mengamat kesibukan sang teman. "Ke mana tiket lo? Euu..!! Kok gak keliatan sih?"
__ADS_1
"Belum. Robot gue ikut tidur sama si Nay."
"Nay..? Nga.. ngaran di-a?" tanya Jihan pelan, mengekorkan mata, takut suaranya mengusik.
"Iya. Mau gue bangunin, tapi kasian eung."
"Emang napa kalo robot sama driver tidur bareng Yan?"
"Gue nganggurlah. Siapa yang bukain pintu?"
"Oh gitu. Euu!! Enak banget pedesnya."
Glukh..! Glukh! Jihan teguk softdrink-nya lagi.
Set! Set! Usap Diandra ke kulit tangan.
Set! Set.. Set!
Lalu sendawa Jihan dan bintik sinar di kulit Diandra, terjadi bersamaan. Ting! Tong!
Diandra sentuh punggung tangannya. Taph!
Lagi stage-boss.. Apaan, Yan?
"Gue latihan jadi Kak Kisye."
Mbak Kisye ngrekrut lo emang?
"Gak. Sih.. tapi kerjaan gue, sama kayak dia. Ngawal."
Huh.. mati lagi. Bentar, nih stage dah jauh banget Yan. Please..
"Oke. Addres gate lo dulu sampein, buka belakangan."
Ohh.. Lima jam! Aduh.. anjrit! Gue baru spawn anj*ng! Hit aja terus!
"Thanks you."
"Dewi Game.." gumam Jihan yang juga mendengar erangan tersebut.
"Diomong kambuh ato sembuh, gitulah Sanin Aminah."
Gwubh..!!
"Kok elo cepet nemunya? Gak liat jam, langsung dapet."
"Setingan. Silahkan cari keset."
"Makasih. Tapi biar gak ada balon, napa isi kamar lo nih gak keputer maju Yan?"
"Inner-mate," kata Lintang. "Kalo mind dia keluar, kita bakal lihat body half-nya ciut masuk pori-pori wall-mate."
Jihan menatap Diandra.
"Yah kayak gitulah. Biar bisa interaksi sama buku kuliah ini. Perabot kamar. Biar bisa megang gitulah. Kecuali makan minum, kita pake produk alamnya sendiri. Goes to Snail cari Mbak Canteen. Tadi juga pas pulang Kak Kisye gak bisa tembus ke mari, jadi lo harus di luar pegang Spearnya."
"Ya udah. Thanks. Gue mau ikut nyari vacum. Yuk Lin?" ajak Jihan.
"Gue duluan.."
Lintang melayang. Syii..uut! Tubuhnya mengecil masuk portal timeline.
"Mayan kursus gratis."
"Libur sama lembur gak ada bedanya lo."
"Eh, siapa? Apaan?" Jihan batal melayang.
Deph! Bunyi pijak, Jihan segera diam pasang kuping.
"Level qorin lo itu udah nyampe Astraler. Harusnya lo udah ngenal bidang tinggi itu, Han. Tapi ya udah. Ini juga penting kok. Bekal pertama."
"Siap. Dag.."
"Iya. Ntar pulang lewat sini lagi Han.."
Wuutts! Jihan keburu masuk dimakan kebut mulut kabut alias pindah.
Mirip listrik menyala kembali, Jihan mendapati LCD sedang dipanteng Lintang.
Jihan mendarat dan berdiri di belakang gadis berhijab ikut nonton.
"CPU sembilan puluh sembilan, player nol. Stage-boss adu pinalti."
"Game bola?" tanya Jihan tanpa lihat lawan bicara. "Katanya udah jauh.."
"Betul. Babak baru lagi. Saya pergi dulu. Paradok saya di arah ini," kata Lintang sambil menunjukkan deathflat.
Jihan teralih fokus. "Gue.."
"Inner-mate. Ada di luar."
"Maksudnya, gue juga punya."
"Saya ricek dulu. Moga dapet di sini."
"Oke."
__ADS_1
Lintang mengambang vertikal, dia menembus atap seperti aksinya di kamar Diandra, menyusut jadi ukuran semut.
"Waduh.. berantakan gini."
Kamar Nina cukup lega. Selain banyak kaset game dekat mesin pemutarnya, tergeletak juga bungkus-bungkus makanan, toples, gelas, cangkir, teko, mug, bantal, sementara penghuni kamar duduk bersila pada kasur-gelar, karpet berisi.
"Napa ada foto gue di sini, dicoret merah, ketancep piso? Jadi.. ngaran gue Judes, ya?"
"Cari semangat Kak. Elo nightmare di sini," timpal Nina masih pencat-pencet stik.
"Hah.. Gak ada kata lebaran gitu, di antara kita? Apa harus ngajuin proposal ke ortu lo, Nin?" tanya Jihan, lutut kanannya menekuk seperti orang sedang membisiki lawan bicaranya.
"Gak ada kata maaf."
"Masya Allah. Beneran?"
"Dia sibuk Kakak Judes. Sanin sama tivi, lo lawan gue," suara yang agak sama, terdengar di belakang Jihan.
Jihan yang sedang melutut, bangkit perlahan sebagaimana gaya jawara saat ditantang.
"By one..?" kali ini Jihan yang bertanya, diam berdiri belum putar badan.
"A-yo..!" jawab Nina pada tubuh sebayanya.
Jihan lihat via pantulan LCD, ada bayang sobekan lapis dimensi, persis seperti waktu di kapal.
Nina masih berdiri menunggu.
Setelah Jihan berbalik, dia dapati tangan Nina bergerakan jemarinya, isyarat untuk lawannya supaya maju.
Nina melayang mundur ke ruangan di balik lapisan.
"Mending lo ajarin gue nyayat dimensi.."
Selesai bicara, Jihan melesat. Wuutts!!
Ckiit!
JRE.. EEEENG...
Jihan mendadak berhenti dari kebutnya begitu masuk ala zet selama tiga detik, batal ke tengah-tengah Enfield, tak jadi menyusul Nina.
Arena sudah rusak parah karena dalam kondisi habis pakai. Di kejauhan sana tampak belahan kering menganga di sebelah tebing yang masih utuh. Dinding tersebut masih menyala sisa lelehannya hingga asap tipis tetap terkepul.
Begitu banyak lubang besar dan kecil di sana-sini seperti bekas dilaser. Tak jauh, ada jejak mirip kawah. Lantai penyok tersebut hitam pekat sebagaimana bekas kobaran api, gosong bekas sulut semburan.
Arena sekarat. Di mana mata memandang terlihat retak-retak pada lantai maupun lima dinding tersisa. Retakan terbesar menggangga cukup lebar hingga terihat kedalamannya masih logam paling keras.
Bagian merinding, tak begitu menarik perhatian Jihan. Sekitar sepuluh meter, dari ketinggian dua kali badannya ini, terbujur tubuh tanpa kepala dengan satu kaki putus, masih mengalir basah merahnya.
Tak jauh dari Jihan, se-setel baju remuk bersama isinya menjejakkan ciprat-gencet di lantai, suatu bekas injakan sekeras lantai.
Permukaan tebing alias dinding-dinding arena terlihat banyak cipratan jejak tubuh-tubuh yang dilemparkan.
Entah, siapa yang membantai, dan siapa yang dibantai. Hanya ada dua setelan baju terlihat di sini, pada belasan mayat yang sudah tak ada anggota badan.
"Hai, Kak Jihan..!!"
Set! Jihan spontan putar badan, melirik sumber seruan.
"Lin..?"
Gadis ini baru sadar ada sepasang-muda di arena, agak jauh di belakangnya. Satunya kenal, tapi tidak dengan perempuan di kanan Lintang.
Jihan menghampiri mereka sebab gadis yang memanggilnya berpakaian sama dengan beberapa mayat.
Setelah dekat.
"Ya Allah.. Elo Vita?"
"Hu umz! Hii.. hihi.."
"Pingling bingit.." kata Jihan sambil mendarat. "Iih.. sumpah, gue asing."
Deph! Vita peluk tubuh Jihan.
Whuus! Ckiit..! Nina datang mengerem di udara. "Ini jadi gak sih Kakak Judes?"
"Ya Allah, elo manis banget, iih. Gaun Cinderella nih? Apa lagi niup damage, pesta darah?" tanya Jihan, tak pedulikan Nina.
"Iya Kak. Tadinya mau lanjut. Tapi Kakak ini minta berhenti, gak konsen.. katanya. Bener, kalian datang bareng, ke sini?"
"Iya. Gue lagi nyari Vactube bareng dia gitu. Tapi pas ke sini.. TKP dah ultimate."
"Hehe.. Vita nih minta bantuan. Dia itu tuh, malah ngajak jitak-jitakan. Hamburin Xmatter deh jadinya. Khan bikin.. erggh! Gitu Kak. Greget!"
"Dah kalian tenang dulu aja. Nih objek jago ngumpetin Vactube, Vit."
Jihan menghampiri paradok.
Di atas, Nina berdecak sambil turun tanpa lepas menyilang tangannya. Dia pun jalan, ikut nimbrung kursus paradok. "Stage berakhir, trophy-nya patung gak jelas."
"Nih, paradok Nin. Bayangannya emang kayak gini. Ada bratlenya, dia lagi pake skin care juga."
"Napa Dian gak ikut? Tadi khan dia yang minta pintu. Sekarang di mana?"
"Samper aja sana, ajak dia tepuk Nyamuk."
__ADS_1
Nina lepas pose santainya, tak lagi diam mendengarkan.
"Hnmp!!" dengus Nina sambil pergi. "Wasit sama priwit-nya lagi!"