Kembaran

Kembaran
Escape


__ADS_3

"Santai ya Han. Gue ngomong dulu sama qorin. Ra? Kok elo muterin bagian ending sih? Gue mikirnya si mbak yang lagi kebaring itu. Kenapa muncul di sini ya?" tanya Diandra, bermonolog.


Bodo amat. Nih buat dia


"Gak boleh gitu."


Iya maaf. Demi temen.. gue juga, Yan


"Ya udah. Bawa kami ke depan Library aja. Habis itu ke pusat labirin."


Claph!!


Selamat Datang di Manca Alqalam. Begitulah yang terpampang di pintu masuk Library. Gerbang ini mirip gate sebuah kampus.


"Wah.. Gue udah bangun ya?" pana Jihan mendapati gapura Library.


"Iya kalo bisa," kata Diandra. "Yuk! Jalan masuk ke basement, di ruang baca khusus. Di situlah Libra sebenarnya."


"Gue jadi inget kuliah..."


"Persis realita khan? Lihat aja sendiri. Di sana-sini banyak orang. Yang muda. Bapak-bapak. Bocah. Pedagang di depan. Mereka sadar kita ada di tengah mereka."


"Tunggu..! Kata lo ini catetan. Bayangan doang. Kalo iya, cuma.."


Ngiiing...!!


"Aduhh! Ck..! Ada apa, Ra?"


Kita gak aman. Gue saranin, mending kita balik. Parasas semalem

__ADS_1


"Auw!! Iya."


Di depan sebatang pohon, dua sinar berwarna merah terlihat. Mata ini tak menampakkan tubuh ataupun kepala.


Jihan memperhatikan mata misterius tersebut. Dua tangannya jadi mengepal otomatis. Ini bawaan wataknya saat ada ancaman.


"Ayo Han!" gandeng Diandra. Sebutir cahaya sedang membentuk bola bening di dekatnya.


Beberapa orang menghentikan aktivitas demi apa yang mereka lihat. Ada yang menjauh, menonton, dan pasang kamera ponsel.


Wetth!! Wetth..!! Suara pindah-pindah. Bayang ini mendatangi Jihan dan Diandra. Gerakannya mirip Jihan saat di runtuhan gedung, bedanya kali ini meninggalkan bunyi kaca. Prang! Prang!


"Anjrit!" jerit pemuda atas ledak kecil di tangan. Benda yang dipegangnya langsung jatuh dan berasap. Pemilik hape ini melongo.


"..??!" orang ini pun diam kebingungan, air yang sedang di sedotnya pecah membasahi baju. Lagi minum Daun Gunung.


Pelaku sudah mengudara, menampakkan diri. Pakaiannya memang hitam dan langsung melempar senjatanya. Set!


Usai bengkak, balon ini susut dengan cepat. Syuuutt! Plaph! Lenyap di ukuran kelereng.


Treebh!!! Bunyi trisula menancap.


Blegh! Suara kaki mendarat, orangnya sampai jongkok. Jatuh di ketinggian tapi elegan, bergaya.


Sreetth..! Kain penutup kepala dilepas. Tampaklah wajahnya kini, yang ternyata.. memang Jihan.


"Kau inginkan tuanku? Dahului siapa yang menyertainya..."


Di batang Trisula ini tampak dua batu merah sudah tersate, cair kentalnya menetesi aspal pejalan kaki.

__ADS_1


Sayup-sayup tepuk tangan penonton hilang.. karena lokasi keburu pindah.


Claph!! Jihan dan Diandra muncul di kamar. Ranjang apung jadi saksi mereka. Jika orang pasti kaget tekan alarm.


"Hhh..!! Apa tadi? Hhh!! Hhh..." engah Jihan. Gadis ini membungkuk atur nafasnya.


Tanpa menunggu jawaban, Jihan ambil minumannya yang terlupakan.


"Ra bilang parasas."


"Apa emang kayak gitu? Gue juga bisalah. Hhh..! Hhh...!"


"Gue juga ngarep, bisa gerak lihay. Tapi.. qorin gue nolak. Mungkin emang danger buat lo, Han."


Glukh! Glakh... glukh, glakh..!


Jihan menyeka kulit leher. "Sial. Pindah aja gue udah haus gini, kayak jadi maling. Hhh... hhh... Euu!!"


Glakh! glukh... glakh, glukh..!


"Khan elo numpang Han. Kecuali kalo dijentik Thanos dulu."


Prrutts!!


"Uhukk! Uhuk..!! Mmhh.. Uhuk-uhuk!"


"Eh, sori. Di-snap-in maksud gue."


"Uhuk..! Uhuk.."

__ADS_1


"Ck! Aduh.. maaf ya Han. Keceplosan. Harusnya gak gue ajak. Tapi gue dongengin. Ceritain gaya verbal aja harusnya."


"Udah gak papa. Salah gue kok...Errm!!" ucap Jihan, menekan suara setelahnya.


__ADS_2