Kembaran

Kembaran
Loker


__ADS_3

Selesai mengobrol dan sembunyikan cincin, Jihan terdiam, heran atas penuturan Diandra yang bercerita timeline di sebelahnya.


"Nay??"


"Ah gue kudu misah dari lo. Oke kalo kita mau." Nay sudah menutup buku bacaan. Dia masukkan ke dalam tas. "Gue pergi."


"Lo ngomong apa sih? Majikan lo di mana?"


Nay sudah berdiri. Dia pasangkan tas ke badannya. Tanpa kata, dia berbalik pergi.


"Nih jins kayak saudari tiri. Drama terus hobinya. Aneh sekali. Musingin banget."


Yang dikomentari tidak juga menengok.


Nay terus menjauh dari taman. Diperhatikan, dia berbelok naik ke lorong. Tiang penyangga yang dilewatinya tertampang papan penunjuk.


Direct board tersebut adalah arah-masjid.


"Ehh.. Iya. Masjid udah sepi-an jam segini."


Setelah belasan menit berlalu, Jihan sudah bersepatu lagi di emper masjid. Sekitarnya hanya ada tiga orang, mereka tengah menyantap makanan berwadah strofoam, mungkin batagor, mie ayam, pokonya makanan.


Jihan gantungkan tasnya ke pundak dan segera pamit pada Diandra yang masih manteng buku.


"Dah kutub. Gue masih ada kelas matematika."


"Iya."


Srekh!


Selasa berlalu dengan normal.


Pulang kuliah, Jihan ashar di rumah dan pergi ke minimarket dekat gapura Lam Alif. Dia mau masak tapi kurang bahan, maka beli bumbu instan. Dia juga beli rokok karena Bapak nitip belanjaan padanya.


Di balkon loteng Jihan menikmati masakannya.


Sambil menunggu maghrib, Jihan tiduran. Mamah yang baru pulang kerja membangunkannya karena sang anak ternyata sedang pulas.


Habis sholat, Jihan makan donat bawaan Mamah dan abai dengan lima lembar merah dekat dus makanan, bekalnya seminggu. Lepas isya, Jihan telpon Diandra.


Satu jam berikutnya Jihan tidur hingga subuh.


Tidak ada mimpi yang Jihan alami.


"Gue sih ngimpi nikah sama Heo Kin," kisah Diandra, Rabu pagi ini di gerbang kampus. "Cuma aja gue liat, tamunya tuh.. elo doang."


"Bagus deh. Pala kita normal. Namanya juga bunga tidur, Yan. Tapi kok elo inget ya?"


"Favorit kayaknya. Amin deh, Han."


Jihan berhenti jalan, diikuti Diandra. Mereka membaca layar ponsel yang Jihan pegang, menampilkan berita lowongan kerja. NTB, Sumatera, Bali, Pupua, Sulsel, itu semua informasi kerja dan alamatnya.


"WA lo banyak amat sih, ini?" tanya Jihan, jari masih terus mengulirkan layar.


"Scroll terus coba. Pasti ada."


"Gak ada ada njir. Nih semua jauh-jauh, masih loker di luar-pulau. Gue bukan nyari tempat rantau, tapi loker kota ini Yan."

__ADS_1


"Parah. Si Nay pasti nguping telpon tadi malem. Dia gak tanggung jawab. Nay plis, ya.. Gak boleh kayak gini lagi."


"Apa kata dia, Yan?"


"Dia gak jawab. Ntar aja deh, siangan gue WA."


"Oh ya udah. Thanks buat si Nanay."


"Sejak kapan dia berani jahil begini?"


"Mungkin dia pengen.. gue jauh-jauh dari lo. Gak sudi tuannya gue suruh-suruh."


"Duh.. Gawat. Pusing juga jadi wasit kalian. Gue harus ke kelas, Han. Ya?"


"Oke. Gue duluan. Sampai ketemu di taman.."


Jihan tinggalkan Diandra sambil menyimpan ponsel ke saku jas.


"Iya. Hhh.." lemas Diandra. "Kamu tau gak Nay..? Dia gak boleh inget lagi sama Riko. Makanya gue peduli dia."


Iya. Maaf..


Sore-sore, di luar kantor sebuah pabrik, belasan orang berbaju hitam-putih duduk. Jihan keluar dan selesai interview itu satpam yang bukakan pintu kantor memanggil pelamar lainnya.


Jihan meninggalkan tempat menuju gerbang pabrik.


Di gerbang, Jihan sudah ditunggu ojol. Dia segera naik. Sementara beberapa pelamar masih nongkrong, ngopi di warung yang mangkal dekat pagar, mungkin mereka menunggu temannya.


Dalam perjalanan pulang Jihan mengobrol dengan Mamah.


"Kenapa tidak mau kerja di tempat Mamah?"


"Ada untuk kasir atau SPG. Mamah juga punya bawahan yang juga seumur. Saat bu Yuli naik ke supervisor, Mamah gantikan pak Ruslan jadi manager. Rainbow pesaing Ramayana maupun Matahari di Citymall. Mau tidak?"


"Ntar-lah Mah. Citymall buat shoping aja sementara nih."


"Anak mahal. Sudah sampai mana, Sayang?"


"Bang ini daerah mana ya?"


"Cikampek, Neng."


"Masih jauh Mah. Kalo Hani diterima kerja, boleh ngekos khan Mah?"


"Itu ngomong dulu sama Bapak. Mungkin dibolehin, tapi kami tetap saja khawatir Hani."


"Mamah sama Bapak khan suka libur bareng, kok Hani belum juga punya adek?"


"Mamah rasa cukup kalian berdua."


"Iya. Anak jangan ikut campur. Haduh."


"Kalo lewat toko pizza, Mamah nitip paket B. Sudah dulu. Mamah mau kasih tau Bapak."


"Oke. Mah. Paket B dicatat."


Kuliah sambil kerja keinginan Jihan sejak lama. Lulus SMA, Jihan sudah melamar ke sana-sini. Bapak lalu buka tabungan, memberikannya investasi dagang daring alias olshop. Tapi kemudian, Bapak yang mengurus saldo-nganggur tersebut. Sebagian sudah Jihan belanjakan teleskop.

__ADS_1


Dalam setahun, masa-masa menganggur, Jihan kenalan dengan Riko di sebuah gedung toserba anyar, tempat mereka melamar. Riko lolos interview dan tes tertulis. Sedang Jihan harus gigit jari, beda rejeki.


Tak kunjung dapat kerja, Jihan ikut seleksi maba FMIPA kotanya. Dia berharap dengan materi kuliahnya nanti dapat menguak misteri UFO. Bapak menghela nafas di hari pengumuman maba, Jihan masuk seleksi.


Riko yang sudah jadi karyawan Toserba, kembali bertemu mantan atasan yang memecatnya, yaitu Lingling di rumah kunjungan.


Karena sudah tanggung sayang, cerita Mamah tentang si Tangan Panjang, Jihan abaikan.


Sampai pada akhirnya, rasa kepo Jihan jadi pertengkaran sejoli. Riko tak mau akui perbuatannya di Raibow, rasa gengsi menutupinya. Jihan jadi mulai menjarak.


Jihan pernah diperkenalkan pada keluarga pacar, ke pak Hadi dan ibu Yanti. Kali kedua ke rumah pacar adalah di hari berkabung, Jihan yang masih menyimpan rasa sayang, menangisi jasad Riko.


Sepeninggal Riko, jam kuliah dan waktu kerja tak lagi diperhatikan. Rindunya berujung pilu. Slip gaji yang dulu dikejar-kejar, seragam kampus yang dulu diidamkan, tak bisa menguapkan kerinduan terdalam Jihan pada si pemuda.


Atasan, dosen, teman kerja, teman kampus, dan orang rumah membuat Jihan kesal. Di mana pun, Jihan dipinta ini-itu. Depresi pun terjadi.


Bukh!


Diandra menghajar jidat dan segera ambil pisau yang terjatuh dari tangan Jihan. "Apa salah, nyari tau?"


"Hiks.. hiks.. Huuhuu.."


"Ada orang modar gitu aja di kereta, cuma karna nyentuh raket nyamuk? Dah lah. Balik ke kamar. Sana, lo tidur. Besok-besok ngelayap di dapur lagi.. gue lapor sama ortu lo, ada percobaan bunuh diri di rumah gue."


Bayangan Riko tak kunjung hilang di kepala Jihan.


Surat PHK pun dicetak atas nama Giziania.


Diandra mengundurkan diri demi fokusnya pada psikis, atau mental Jihan.


Personalia Dinner Shoot menyayangkan hal itu, sebab Diandra pramusaji selayak Monalisa, wajahnya menarik banyak pengunjung tua dan muda, dengan kata lain senyum miliknya itu.. bumbu pelengkap masakan. Jihan berhasil dia didik sampai hampir jadi pesaing.


Tapi apa boleh buat, Dinner Shoot harus kehilangan dua karyawati mereka.


Jadi Diandra dulu sadis ya? Masalahnya, kalo sudah soal nyawa, mungkin si kutub emang begitu.


Atau seperti itukah sosok Nay dalam diri Diandra? Nay belum begitu lama Jihan kenal. Bagi Jihan, jins satu ini masih tergolong cerewet, judes, belum selevel Nina yang sepertinya doyan bertengkar.


Itu memang sikap Diandra, dan mereka dalam masa-masa belum disengat.


Kenapa Jihan tidak ambil job Boarding SosCamp saja? Ada banyak saingan.


Ingin berkembang sendiri atau cari kenalan baru? Jam delapan malam sehabis meneropong langit, iseng-iseng Jihan buka Whois? via kaca lemari. Dia baca profile Medium, Lintang, Lemontea, sementara Giga dia skip. Jadi cenderung pada point kedua.


Moga aja kegiatan Jihan dalam mencari kerja ada kenalan yang tertarik, sebagaimana pernah terjadi beberapa tahun lalu.


Kamis pagi Jihan lanjut mencari, keluar masuk kantor atau titip-titip surat lamaran ke satpam di tempat yang didatanginya.


Siang hari, Jihan baru datang ke kampusnya. Dia ambil jam kuliahnya jam dhuhur.


Dan di tempat biasa, taman kampus, sesudah sholat, sambil menunggu jam kelas tiba..


Belum ada job, semua langsung disikat sama anak-anak


"Wah udah kepikir. Oke trims, Mon. Jangan lupa kabarin kalo ada update Boarding."


Yang solo atau party-an (borongan), mending nunggu langsung di sini Han. Anak lain suka ngembat. Ada delapan puluh sembilan orang di sini, lagi stand by

__ADS_1


"Hadeeh. Markas apa tempat saingan sih. Iya, Mon. Thanks ya.."


Siap


__ADS_2