Kembaran

Kembaran
tujuh belas


__ADS_3

Claph! Giga datang dan langsung bertanya. "Apa gue nyasar? Sebelah sana padang mayat, Mbak. Sial, bau amis."


"Penyertamu menghubungiku," jawab Zihan. "Maafkan. Aku tak memberitahumu lebih dulu."


"Oh iya. Tadi emang lagi disilent Mbak. Biar konsen fatihah-nya," terang Giga. "Hei. Apa ini.. TKP redstone?"


Pnilyen, Brad


"Lacak."


Hem.. Maaf, data baru Boss. Kecuali kita pernah baca Alhoodpedia


"Pemalas."


Murid dan guru


"Tuan Muda, kenakan jirahmu."


Set! Sehabis meminta, Zihan melesat masuk portal.


"Oke. Kenalin.."


Tagh! Tigh...! Degh!


Persis Tony Stark, tubuh Giga ditempeli body-part, menutupi dada, tangan, dan kaki.


"Pelindung Anjeli.. Saint Gold Libra! Heah!!"


Dwiishh!! Aura memancar dari tubuh Giga hingga angin tertiup.


Di Pnilyen, di belakang batuan-bukit yang besarnya persis rumah, Zihan biarkan Giga ikut jongkok, mengabaikan debuan yang terbawa laju kebut. Bukit ini memang cukup jauh dari pintu masuk, dari sini portal sudah tak terlihat.


Giga pun tak bertanya pada tubuh hantu yang dia dapati, turut ngumpet.


"Ratusan penjaga tengah kemari. Mereka tak begitu cepat," beritahu Hantu Mukena, memutar-mutar redstone yang terselap di trisula."Setelah mereka datang, aku akan melewati saja. Para Guarien ini bagianmu, Tuan Muda."


"Apaan yang bladag-bledug jauh di sana, Mbak?"


"Luna dan Tuanku."

__ADS_1


"Lapan enam. Ati-ati, Mbak. Lapis dua di sana kayaknya serem buat gue. Bedil jenis apaan tuh? Para monster, apa emang Landak?"


"Anak Langit belum memberitahuku. Kurasa barisan tank. Bersiaplah."


Tanah bergetar. Grrrgh..!!


Wshh..! Trisula berubah warna, putih bagai asap dalam genggaman.


"Bismillah.. Kuharap jirah ini tak dikenali."


Zihan berhasil merubah materi penyusun benda di tangannya. Maka selesai prepare ini, dia kembali jadi jet.


Wuuts! Menembus batu, Zihan tinggalkan Giga begitu saja.


"Tugas berat nih. Semoga gue apa Min?"


Mati syahid


"Cerdas.. Kalo lagi main? Matinya apa?"


Sia-sia, aing-aing


Whuussh! Zihan menembus pasukan bertombak yang semuanya memang tambun dan pendek.


Sekian jauh melesat kini tampaklah tebing ngarai di samping kiri dan kanannya yang menjulang hampir menyentuh langit.


Greedegh!! Serentak suara lari yang terdengar saat Zihan lewati.


Ternyata mereka mengabaikan Zihan sambil terus berlarian menuju bukit di depan yang tinggal didaki. Gemuruh dan debu tanah masih bergema, mengeruhkan pandangan.


Dhuaargh!!


Suara batu meledak, Zihan hirau dan kembali fokus mata ke benteng tinggi di depan karena serpihan batu yang terhambur melesat tembus ke banyak tubuh Guarien.


"Whuuoaa..argh!!" nganga satu mahluk, mendapati ledakan besar, yang terlihat di kejauhan, tempat Giga bertempur, menggeram di depan barisan tank organik.


Sebutlah tadi si Thanos, sebab sama botak dan besar atletis walau bajunya tak jelas, kulit duren, atau helmnya itu, meniru anak punk.


Dia menunjuk Zihan yang masih terbang mendekat. "Twmboak bgio!"

__ADS_1


"Eroorg! Erroog..!" bunyi tank, nyala matanya berkedap-kedip. Mungkin eror yang dikatakan.


BUGH!! Thanos langsung pacul si anak buah dengan dua tangan, ada bayang besar menghantam dari atas. Lalu..


TEGHH!! Suara kaki menendang wajah, tampak bayang kaki besar menumbuk.


Whuu..uuung!!


BRAAAKH!! Monster Landak terselap di tembok benteng.


Bruugh!! menindih temannya yang diam di bawah. "Oaakkj! Ooakkj!!" kaki Landak menggapai-gapai setelah perut tertancap duri di punggung si teman.


Ckit! Zihan berhenti tak jauh dari Thanos, memandangi langit. Tampak dua raksasa sedang baku hantam, seperti kakak-adik yang tengah ribut karena tahta kerajaan. Benar, yang dilihatnya adalah pertempuran udara dua dewa kecepatan, bunyinya yang terus terdengar seperti gledek, mereka abaikan.


Glikh..!! Satu pucuk duri terbuka di punggung tank paling kanan. Selempeng kaca muncul di atasnya.


Tuiitt!! Tang.. sinar laser memantul.


Set!


Jeguurh!!


"Aduhai. Celaka.."


"Switchy! Dgih. Pcianng! Dgih!" perintah Thanos minta anak buahnya ganti amunisi. Dia tahu nama baju Zihan dan peluru untuk jirah tersebut.


Glikh! Glikh.. glikh..!


Bunyian gear pun langsung terdengar di sana-sini dan makin ramai bagai di sarang Jangkrik.


Cermin-cermin ikut bermunculan. Blap! Blup! Blap!


Brrllleeppp!! Bunyi pemantul, hadir secara berjamaah.


"Sebaiknya selamatkan diri kalian.."


Zwiiitt!! Qorin menyusut.


BLAAARGH!!

__ADS_1


Seketika semua dihantam punggung raksasa Kuping Lancip. Benteng tinggi hancur bagai tembok bendungan tanpa sisa. Ngarai kering ini jadi gelap seperti tertutup seluruhnya.


__ADS_2