Kembaran

Kembaran
Lintang Paradok


__ADS_3

Di pekarangan belakang rumah, Jihan ambil jemurannya satu-satu. Terus ada suara Mamah memanggil. Jihan menyahut tanpa berhenti dari kegiatannya.


Di ambang pintu Mamah beritahu keperluannya bahwa dia akan pergi jalan-jalan. "Mau nitip apa?!"


"Donat, Mah."


Tak ada jawaban, dan jihan segera tahu saat berbalik bawa jemuran. Mamah didapatinya sudah bersepatu meninggalkan pintu dengan buru-buru. Mungkin memang sedang ditunggu Bapak di luar.


Kamar Jihan ini bentuknya persegi panjang 4x5 meter, karena letaknya di lantai dua, jemuran langsung dihambur ke ranjang.


Jihan tak lama sibuk melipat semua pakaiannya. Mukena yang sudah dia lipat dibiarkan di lantai bersama sajadah.


Lemari di hadapannya masih persis lemari alam mimpinya, cincinnya sedang bermain di situ, mengubah-ubah permukaan jadi tampak selayak layar monitor.


Beres dilipat, Jihan simpan tumpukan bajunya.


Ternyata di balik cermin yang Jihan abaikan, tidak ada CPU, batre, atau pun kabel. Jihan tutup lagi lemarinya, tumpukan tadi, baju-baju terakhir yang dia selesaikan.


Diit.. Dit..! Zwiiitt.. Wui..it.! bunyi-bunyian di cermin. Tayangan yang ada hanya grafik-grafik absurd, bagi Jihan ini hanya lukisan abstrak.


Habis banting diri, Jihan lihat langit-langit kamar, dua kaki menggantung di pinggiran ranjang.


"Rin.."


Yes, i am. Hamba Tuanku


"Apa cuma mereka yang jalan-jalan..?"


Syii..uuut!!


Jihan jatuh, terlepas dari raganya.


"Kyaa.. aaa!! Rumah belum dikun.. ciii!!"


Awan.. Set!


Pesawat.. Set!


Burung.. Set!


Deph!!


Tubuh Jihan berhenti dari bunge jumping-nya. Tapi tangan dan kakinya masih berenang-renang. "Aaaa...aaa..!"


Jatuhnya sekitar satu menit. Jihan yang kini state on air (mengambang), jadi seperti astronot dikerubungi lebah di ruang kapal.


"Ehh..?" sadar Jihan, membiarkan tubuh mengantung dan berputar pelan.


Si gadis bingung saat mendapati atap rumahnya, dan dia juga bisa melihat lingkungan gang Lam Alif dari atas sini.


Jalan rumah masih lenggang, tapi di depan gapura sana tampak orang dan lalu lalang kendaraan. Bahkan kini tetangganya didapati sedang keluar rumah menuntun motor.


Jihan posisikan tubuh, maka badannya segera konsisten mengambang gaya kuda laut. Dia lihat rumah berubah transparan, mendapati dirinya sedang rebah tutup mata. Pose tidur itu, Jihan gelak tawai sendiri.


"Hii hi, amit.. Kaseumpay banget."


Bintik sinar di hasta Jihan melesat dari tempatnya. Set!


Claph! Qorin menampakkan diri di sebelah Jihan, terbalut pakaian yang sama. Di kuping kanannya sudah terpasang perangkat berantena.


"Biarkan SosFlat yang berkerja di rumah."


"Tapi aku kok tembus gini Rin? Kamu gak."


"Dengan senang hati.."


Claph!


Set!


Qorin kilat menyusut, lalu butiran sinar jelmaannya parkir lagi di tangan Jihan, membuat tubuh inang terfisik citra atomik alias ori matter.


Lintang menghubungimu. Apa engkau mau menjawabnya sendiri?


"Ouh, si Lintang. Ngapain ngontek ya?"


Perihal paradoknya di garis waktumu ini


"Aku masih tulalit. Kamu aja yang ngomong Rin."


Baiklah Tuan. Engkau turunlah ke tempat di mana engkau terkejut oleh seorang pengendara motor


"Ouh. Oke.. Ini di situ, Rin." tatap Jihan ke jalanan gang.


Karena dekat, Jihan menghampiri lokasi ala dewi turun dari langit. Jadi saat mendarat, Jihan bergaya seperti orang berhenti menari. Set.. auw..!! Cantiknya.


"Udah Rin.."


Tetangga rumah yang sudah berkendara, lewat di depan Jihan. Si Tetangga cuek. Jihan perhatikan sampai jalan raya, orangnya tak juga menoleh. Jadi Jihan abaikan.


Seorang pemuda lalu masuk gang usai si Tetangga, sehingga Jihan tak memperhatikannya. Lalu pengendara Motsport ini berhenti di depan Jihan.


"Lin..??"


Si Pemuda tak peduli dan turun dari tunggangannya dan dia langsung injak penyangga sambil mengangkat kendaraan.


Gejligh! Motor pun tersangga mantap.


Lintang merogoh saku bagian balik jaketnya, lalu menyentuh-nyentuh permukaan benda yang dia ambil tersebut. Dia juga menyandarkan tubuh ke motor sambil mendiamkan ponsel di sisi kepala.


"Gue di sini.. Lin," ucap Jihan.


Lintang tidak menjawab. Dia malah tersenyum pada orang yang sedang lewat.


"Dia kok gak denger ya Rin?"


Engkau menempati ruang keberadaanku. Maka demikianlah adanya


"Ouh pantesan kamu selalu tau, aku lagi ini-itu."


Baiklah. Aku akan jawab panggilannya


Terdengar lagu favorit, sayup mengalun. Tapi tak lama diputar, suara klik menghentikan musik.


Ya Tuan Muda? Silahkan..


"Giz? Ah maaf, saya ngeganggu bentar. Tanda paradok saya nyala. Saya boleh masuk Giz?"


Tunggulah barang sebentar. Aku sedang bersama Tuanku memantaumu


"Baik," kata Lintang. Dia menunggu sambil agak tengadah, lihat belakangnya, kirinya, lalu mengeluarkan tangannya yang sedari tadi mendiami saku celana.


"Hei! Sini woy!"

__ADS_1


Dia tak mendengarmu, bintik pelangi di hasta Jihan ini berdenyutan. .. **s**elama berada di main-timeline. Begitu pula dengan penyertanya


"Ouh. Suruh masuk aja deh. Tapi sandinya, eh.. kuncinya, umm.. Cara bukanya Rin?"


Silahkan masuk Tuan Muda


"Terimakasih, Giz."


Lintang menutup dan memasukkan lagi telponnya ke balik jaket.


"Silahkan masuk Tuan Muda," ulang Jihan, tapi yang disuruh malah menaiki Motsport.


Brrmm..!! Brrrmm.. Lintang pergi meninggalkan Jihan, bahkan melintas lewati rumah Jihan.


"Eh, kelewat woy! Itu ke masjid..!"


"Ah iya. Thanks.." suara di belakang Jihan.


"Ehh! Astaghfirullah.."


Jihan kaget mendapati bayang tranparan di dekatnya, Lintang sedang menggaruk-garuk kikuk, seperti masuk ke kamar gadis, mengejutkan penghuninya. "Ngng, saya minta maaf.. kecepetan gini."


"Kecepetan gimana maksud lo?"


"Kalo kayak di rumah.. ngng, driver kamu itu belum bukain pintu. Saya malah tembus, masuk ke sini."


"Ouh gitu. Emang kalo pintu udah dibuka, gimana tandanya?"


"Ngng.. bentar yaa. Qorinmu tau kok aku ngeduluin dia. Bentar ya."


Tubuh Lintang yang transparan menghilang tanpa jejak saat melayang ke arah gapura gang.


Di situ Jihan dapati laju mobil mundur, motor mundur, pejalan kaki di depan gang, sama gerakan-waktunya, balik ke beberapa detik yang lalu. Semua yang bergerak, Jihan dapati sedang ter-reverse, termasuk awan.


"Wah.. dibuka jadi sepi gini dunia. Di film bunyinya kaset kusut, Rin."


Semua masih bergerak seperti putaran balik jarum jam di mesin waktu. Sampai Jihan melihat Mamah dan Bapak jalan mesra dari rumah sampai depan gang.


"Romeo.. Juliet.."


Jihan sendiri melihat dirinya sedang ngobrol bertiga di depan rumah. Di jam dan menit Jihan memeluk Mamah, kecepatan gerak yang ada berkurang, jadi Jihan lihat dirinya itu mundur dalam larinya, dan pada akhirnya reverse berhenti. Semua yang bergerak diam di posisi Jihan tengah menghindar kelebat berandalan motor.


Bwuph! Kabut biru dekat Jihan menampakkan diri.


Silahkan masuk Tuan Muda


Set! Lintang hadir, mendarat dari loncatnya. Badannya masih tranparan.


Jihan abaikan tamunya, karena sedang melihat-lihat si pengendara, dan Lintang turut nimbrung memperhatikan.


Lintang sedikit mundur memberi jalan pada Jihan yang sedang jalan memutar.


"Hmm, ada pencuri rupanya. Lo salah tempat."


"Ouh. Terima kasih. Ini paradok saya."


"Ehh.."


"Sekitar jam tiga ini, alarm valid bunyinya."


"Terus kita apain nih? Sori posisi gue lagi buka ketek gini. Pose insecure."


"Kalo misalnya arahnya ini emang ke jalan raya, tentu kita udah denger bunyi knalpotnya. Mama kamu di sana mungkin sudah marah-marah."


"Di sini tadi, gue bingung aja kayak ada yang lupa-lupa gitu. Tapi gabut juga. Terus masih tenang. Ah, susah deh ngingetnya lagi."


"Jadi ada apa nih? Kalo lagi belajar, gue ikut ya?"


"Hmm. Oke. Boleh boleh. Saya juga anak baru. Gini.. Ruang timeline kita khan bersebelah nih, jadi saya istilahin kamu tuh satpam. Walau penjaga, kamu gak wajib laporan, karena objek udah otomatis terlihat oleh saya juga. Sebenarnya saya ke mari buat nyari Vactube. Oh ya, dia nih pake skin char teman sekolah saya, yang emang geng motor. Ngebut banget begitu tau driver saya ada di mana."


"Jadi bukan ngincer lo, Lin?"


Lintang menggeleng cepat. Dagu kembali diusap-usap sambil menatap objek yang diamati.


Jihan turut diam, membiarkan tamu timeline-nya berpikir keras. Dia juga dengar, Lintang berdecak dan saat dilihatnya, si pemikir sedang nunduk mijat-mijat kening.


Wajah Jihan berubah cemas, tampak ingin bantu tapi belum begitu paham. Jihan kembali diam, hembuskan nafas.


"Bener, gak bawa vacum?"


Jihan tak bicara, selain menoleh.


"Ya udah oke. Saya lanjut sisir ke ruang Diandra. Ini biarin, jangan diikat dulu."


Jihan menghela nafas. Seperti dugaannya, Lintang memang sedang tak bicara padanya.


"Ayo Han. Kita maju ke alamat pintu Dian."


"Haa.. Gimana caranya?"


"Minta driver aja. Tapi manualnya juga ada."


"Ya udah manual dulu, biar sekalian belajar."


"Baik. Ini pegangannya. Di mana pun kamu melihat jam dan tujuannya adalah timeline saya, maka sentuh tiketmu itu di hasta sampai muncul kabut. Karena kamu buka di sini, kabutnya muncul di sini. Kamu manual aja ke menit berikutnya karena Diandra makmum kamu."


"Eh iya nih, ada.. lagi nyala," tengok Jihan pada kulit hastanya. "Tapi nih titik sering bangunin gue waktu tidur."


"Valid. Mimpi apa sampe terbekas gitu Han?"


"Pak dosen, yang stun bat."


"Itu tiket masukmu ya? Kalo saya pas mau cas hape, waktu siku lagi kena tumpahan kopi. Jadi di sini tandanya."


Jihan dapati kulit ibu jari Lintang bertitik terang seukuran lampu indikator smartphone.


"Mantap. Oh jadi itu yang disebut tiket.. Eh, gue jadi inget punya si Dian. Tiketnya di punggung tangan. Kira-kira siapa yang nyetrum dia ya?"


"Sentuh tiketnya sambil lihat jam. Mata kamu sebagai teropong, targetnya jarum jam atau angka kalo lihat layar."


"Kalo lagi nyetir sepeda bisa? Ato lagi metik gitar.."


"Beberapa lusid udah ada yang mindahin tiketnya ke ujung lidah."


"Pinter juga. Trus intinya apa sih?"


"Gencet tiket. Nah, sekarang kontek teman kamu."


"Oke. Tapi.. beneran cuma gini doang?"


"Buktikan.."


"Hhh.. Oke. Oke."

__ADS_1


Jihan sentuh tiket sambil menunggu efek.


Ya! Apaan?!


Baru satu detik menunggu, dua bahu Jihan terangkat, kaget.


"Njir.. Kenceng banget. Kaget gue. Kirain kamu Rin."


Elo khan nyuruh inang gue tidur. Udah tidur dibangunin. Hhh.. Greget gue sama majikan lo ini Giz


"Yan. Gue masih di luar. Bukain dong rumahnya, ato timeline dia."


Tunggu sepuluh jam kemudian!


"Hah..? Maksud dia apa Lin? Kelewat sholat dong gue..?"


"Bukan waktu real. Ini cuma alamat kabut atau pintu masuk saja."


"Lama banget. Sepuluh jam.."


"Kamu setir aja tiketnya. Fokus imajinasi."


"Oh iya." Jihan masih terpana dengan situasi di jalanan gang. Ada banyak orang malam ini pake sarung, perempuan pake mukane. "Ini udah magrib khan? Mereka pergi ke mesjid kayak biasanya."


"Kamu boleh abaikan bayang semu pikiran ini."


Jihan menekan jarinya agak kuat. Kabut yang di dekatnya berdenyutan dan langsung hilang.


Gwuu.. iph!!


"Terlewat. Balikin lagi," pinta Lintang.


"Ouh iya. Maaf Lin. Duh.. Susah kalo gak liat jam gini.."


Orang-orang berjalan mundur mendekat ke mesjid. Tadinya gang terkondisi sudah sepi di tengah malam, kini balik lagi ke jam isya di mana para tetangganya sedang khusyuk atahiyat.


Di gang pun terekam juga Mamah dan Bapak pulang dengan sejingjing makanan.


"Terlalu reverse."


"I.. iya. Tuh Kantong bikin gue laper," komen Jihan sambil terus pegang lengannya, mirip orang sedang kena lecet bagian kulitnya.


"Ya sudah ayo kita cari penunjuk waktu."


"Iya. Rumah Om Farhan ini aja Lin. Moga aja gak ada camilan terlihat. Orangnya masih di luar kota."


"Moga tidak ada sesajen."


"Bisa aja lo."


Setelah melayang meninggalkan portal dan bayang paradok, keduanya sampai di ruang tamu, masuk dengan cara menembus rumah.


Tak.. tak.. tak.. Jarum detik terdengar saking heningnya ruangan, menunjukkan pukul 16:57.


Karena di dalam ruangan, situasi di luar tak diketahui. Dengan mudahnya, Jihan remote jarum jam.


Rrrr...rrrh..!!


Gwuubh!


Pintu timeline muncul dekat mereka. Jihan segera lepaskan pegangannya. Lintang hampiri kabut gaya Kuda Laut, tubuh hantunya terhisap jadi kecil.


Jihan segera mengikuti cara Lintang, melayang dekati gumpalan yang memuat titik putih tersebut dan..


Wuutts!! Awan seketika membesar.


Di kamar yang Jihan kenal, badan masih mengambang, si gadis mendapati temannya sudah kembar. "Dian?"


"Yang ini driver," kata Lintang pada yang berselimut menyamping, meluk guling.


"Hooaam..mm.. walaikumsalam.." cuek Diandra membuka halaman buku, duduknya di sebelah ranjang dengan kaki tersangga tumpukan buku.


Srekh..!


"Hhh.. Ahli kitab."


"Paradok tak di sini. Saya balik abis beres urusan."


Syuuutt!! Kebut Lintang menembus langit-langit kamar selesai berpesan.


"Heh.."


"Paan..?" tanya Diandra tubuhnya sama seperti Lintang.


"Nasgor dong. Gak konsen njir.."


Jihan sudah rebah menyamping setelah mendarat minta masakan.


"Lo bikin sendiri kek. Dia majikan gue," Diandra yang berselimut bergerak rada menjarak.


"Gak boleh gitu ih.. Kamu sama tamu harus mulyaiin dia dengan tulus."


"Bomat. Jadi kebiasaan.."


"Lo sebelas dua belas sama si Nina," sela Jihan.


"Emang. Trus napa?"


"Gue masih gak berakhlak kok.."


"Emang iya."


"Dasar jins.."


"Dasar orang."


Sofa kamar sudah kosong, Diandra sedang pergi, membiarkan mereka berdebat, yang memang keregangan keduanya sedang tidak jelas.


"Elo ternyata yang bikin temen gue jadi kayak panda."


"Lo yang bikin sohib gue stress."


"Khan udah tugas kalian, bantu-bantu."


"Elo perusak acara, hobi ganggu tau gak?"


"Males ah. Orang udah tobat dirusuh lagi."


"Lagi belajar di rumah malah diganggu."


"Iya gue kena karma. Hak elo mau judes permanen juga."


"Ya udah sih elo diem, Han. Sana di bawah, ngobrol ama ubin."

__ADS_1


"Hak gue kali mau ngomong apa."


"Udah sih. Males.. ih. Jangan di sini."


__ADS_2