Kembaran

Kembaran
Tawanan


__ADS_3

Dekat lutut milik kembaran masih terselap cagak besi. Warna pegangannya sama hijau dengan senjata yang pernah dilemparkan ke aspal tempo hari.


Bukan aku... ku... kuu.... kuuu


"Aduh. Gue bingung anjrit.." resah Jihan. "Sampe kapan harus di kapal terus. Gue gak maksa elo, Rin. Siapa suruh, waving seenaknya. Yang gue butuh.."


Hentikan bicaramu...mu.. muu.. muuu


"Hhh! Ckk.. Ya udah! Ngapain?!" bentak Jihan, kesal. "Ngomong.."


Bayang Merah yang sedari tadi duduk menyimak di meja guru, turun. Dia belum bicara. Sang parasas lewat begitu saja.


"Elo.. tunggu. Heh, lo mau ke mana..?"


Si Merah asing menghilang di ambang pintu.


"Tunggu Bocah!"


Sekeluar dari kelas, lapangan sekolah kosong, koridor sepi, Jihan mencari-cari. "Tamer!"


Brakh! Brukh! Brakh! Brukkh...


Keaakk...! Keaak! Keaak!!


Bunyi di kelas sebelah. Jihan pun langsung jalan. "Tamer! Masuk..!"


"Kau melanggar. Kami tak lakukan itu," kata Giga di depan kelas, mencengkram rusuk mahluk asing setinggi papan tulis. Yang 'dicekik' sedang meronta-ronta karena Giga pun sedang menodongkan trisula.


Kweakkh!! Kweaakkh!


Monster merah ini mengkilap seperti karet tebal yang licin, berekor, tangannya pendek, kakinya bercakar sekaligus betis mirip kaki T-rex. Wajahnya horor, mulut penuh taring.


Saat Jihan datang sambil menggerutu, mata dia langsung lebar kaget sambil tutup mulut mendapati buronnya.


"Kini terserah ratumu!" Giga balik posisi trisulanya, kemudian saat terpegang lagi..


Jleph!! Bunyi di kepala Tamer.


Bwuush..!! Asap merah teruap dari padatnya, pecah meletup.

__ADS_1


Set! Lempar Giga.


Wuutts... tampak benda ini dengan jelasnya melayang. Ternyata gelang dengan dua pipih lengkung yang ditambat rantai mini. Swiing.. tali rantai lepas dengan sendirinya. Shhaang.. berubah jadi bondu gepeng nan mini.


Wers! Taph!! Bunyi se-lap, gelang ini tepat terpasang di pergelangan Jihan.


Seperti pernah terjadi hari lalu di kapal, si benda menghilang dimulai transparan-nya.


"Apa liatin? Gue sibuk."


"Ngng..." bingung Jihan saat dilewati Giga di depan pintu kelas. "Gak.. Tadi.. Ngng.."


"Udah nyasar, nyusahin.."


"...???"


Jihan biarkan Giga melenggang pergi. Dia belum sadar selingkar benar laser mengelangi dahinya. Untung kaca jendela samping meja guru di sana memantulkan bayangan perban ghoib tersebut. "Hah?"


Tling..! Bunyi besi beradu, dua trisula ini lalu Giga bungkus dengan kain abu. Kafan abu lalu Giga masukan ke kotak biru. Wadah biru ini lalu Giga masukkan ke dalam tas hitam.


"Sekarang apa? Elo mau jahil lagi ke gue?" tanya Jihan saat bersandar ke white board kelasnya. Tadinya hanya memperhatikan Giga beres-beres meja bekas Qorin terbaring.


"Gelud..?"


"Al Hood!" seru Giga seberes pasang tas punggung.


"Siapa tuh?"


"Tumben lo nanya?" ucap Giga sambil pergi.


Jihan menoleh pada lawan bicaranya yang sudah di luar kelas. Dia pun berdecak. "Ckk!"


"Eh, Monyet! Gue tanya. Siapa Al Hood?" ulang Jihan setelah berhasil menyusul langkah Giga di lorong. "Lo jijik karena gue bunuh temen lo, hah?"


"Kami udah gak saling kenal, Han."


"Maksud lo? Diandra bilang, gue nge-delete ingetan si Koplak."


"Iya. Tapi gak sampe ke bawah sadar. Qorin lo yang ngamanin. Makanya masih inget sama elo. Gue balik jadi sohib barunya."

__ADS_1


Mereka sampai di gerbang sekolah. Tampak jalan raya terpakir jajar kendaraan.


Motor-motor tergeletak, helm pun bergelatakan di area lampu merah ini. Mereka abaikan dan menapaki zebra cross, meninggalkan sekolah.


Entah apa yang mereka bahas sepanjang jalan. Keduanya tetap mengobrol. Tak peduli, kenapa kota besar yang ditapaki membisu tak ada peradaban, aktivitas masyarakat.


"Ya udah.. bukan urusan gue."


"Kalo elo pikir kami lagi rujuk buat jemput yang laennya, lo betul. Gue mau bawa tawanan lo dulu, Han."


"Tawanan siapa?"


"Elo!"


"Gue gak ngapa-ngapain. Kalian pada bilang gitu, napa sih? Mereka masih di kapal. Ya udah. Bawa aja!"


"Lo belum bikin pintu exit-nya. Jadi dulu mereka datangi lo bukan mau ganggu. Numpang lewat."


"Hmm.. Gitu."


"Elo-nya main hajar. Khan mereka lagi jelasin."


"Gue pasti udah gak ada ahlak.. di mata kalian. Ya udah, bukan urusan gue."


Jihan berhenti jalan.


Beberapa menit kemudian..


Seperti yang diduga, Giga datang menghampiri Jihan, cowok ini tadinya ngomong terus tanpa tau dirinya lagi jalan sendiri di trotoar.


"Kalo bosan mampir ke SMP. Tempat pertama lo bangun portal. Gue kasih tau cara ngembanginnya."


Claph!


Wajah manis bergelang laser pink ini tenang menutup mata ketika Giga pergi.


Jihan maju-majukan bibir ke depan meniru ucapan Giga. "Wuwuuw.. wu!!


Gak jelas.."

__ADS_1


__ADS_2