Kembaran

Kembaran
LP 4


__ADS_3

Bluph!


Kabut memperbarui dirinya. Ukuran inti berubah, tadinya persis kelereng, kini seukuran bola-tenis.


Jihan dan Vita menoleh pada suara tersebut, mereka dapati portal sudah agak besar gumpalannya.


Set! Ckiit..!! Permukaan Bumi berhenti 'update'.


Tampak di depan Jihan Gedung Kubus mengambang dirayap beberapa tank-berkaki-delapan, robot laba-laba. Tukang bersih-bersih, arsitek, ataukah mesin pengaman, Jihan belum tahu.


"Milenium berapa nih?" tanya Jihan. Mata pun mendongak ke atas. "Atmosfernya.. awan.. pada ke mana?"


Jihan masih tengadah, melihat ulang yang globe tunjukkan padanya, benar saja bahwa Bumi sudah berperisai kaca heksagon, tidak ada lagi awan yang melenggang.


"Apa Romi di Bulan ya..?"


"Mars juga dong," pinta Jihan. "Kali aja portal dibuka dari sono."


Zwiiitt! Bunyi satu.


Zwieett! Bunyi dua.


Dua bola baru hadir di hadapan Jihan, satelit alam dan planet tetangga. Sementara, Vita sudah berhenti sentuh-sentuh jari.


"Keren njir.. Nih pasti logo Elon Maks. Trus di Bulan nih mungkin ikonnya Jeef Beos."


Di antara ketiga miniatur, hanya Bumi yang ada cincinnya. Sementara Mars dan Bulan masih banyak kubah-kubah kaca.


"Moga Romi gak jadi paradok. Belum ada tanda-tanda dari si Rom, dari jins-nya."


"Tapi terowongan yang hebat.." gumam Jihan, memandang rel kereta.


Jalan kereta sudah mengambang di udara mirip sedotan-glowing, tranparan dan menyala, padahal tadinya di sini lapangan berumput.


"Katanya suruh masuk, Kak.."


"Mungkin.. Di dalem?" ragu Jihan, teringat ruang yang mereka diami timeline paling ujung, ibarat lorong buntu.


Set! Vita melesat, masuk kabut tanpa kata.


"Apa emang gak kejeduk?"


Set! Jihan tiru menit berikutnya, masuk ke lahan seberang setelah puas menonton Earth Future.


Wuutts! Bunyi portal, menampakkan sehampar lantai putih di hadapan Jihan.


"Ah ketemu white flat lagi. Gak eng-ing-eng sama sekali.."


Entah di mana, lapangan berhiaskan langit malam Jihan dapati.


"Romi.. bangun! Rom!! Hiks..!"


Vita sudah memangku kepala Romi, tapi yang dipangku masih terkulai pejam mata, tak sadarkan diri.


"Romi..!! Huu.. huhu.. Pliis! Ya Allah.. pliis.. Huhuu."


Tu.. iit!! Se-pancang laser tampak di kejauhan. Jihan melihat long-ray tersebut saat sedang menyentuh nadi leher Romi.


"Apa itu Vita?"


"Hiks.." pandang Vita dalam wajah basahnya. "Hiks-hiks..!"


"Gue yang ricek deh. Lo tetep jaga sang Prince," pinta Jihan, berdiri mirip Prajurit Pilihan Istana.


"I..iya, Kak," senguk Vita, tambah bingung. "Hiks!"


"Wah, arena banget.."


Saat mau gerak, Jihan menoleh. "Bagus. Jagain mereka Nin."


Wuutts! Jihan melesat usai bicara pada Nina tanpa peduli takjub si teman.


Di perjalanan terbang, Jihan fokus mata ke targetnya. Garis vertikal semakin dekat dan terlihat seperti tabung kaca yang tengah membesar. Jihan segera percepat laju tubuhnya.


Set! Bunyi badan, meninggalkan kamera.


Jihan sudah mengambang di tempat tujuan. Dia menonton jalan modern dan gedung-bergerak, ada banyak pejalan kali bermata alien eksis dalam tabung ukuran stadion tersebut. Dia bingung dengan lapisan yang memagari lokasi.


Tak apa. Suar ini milik Kisye


Set! Jihan segera masuk TKP. Whiips! Bunyi tembus.


Jihan bingung lagi. Di dalam hanya ada Paskibra dan Lintang, tepat di tengah-tengah 'stadion'. Jihan heran dengan pemandangan di luar pagar lingkaran, gedung-berjalan ada di sana.


Saat sudah jalan kaki pun, Jihan rasakan lantai TKP masih tetap kaca datar di kulit kaki. Dia menghampiri Kisye di mana Lintang sedang telungkup, menguping isi lantai dekat Spear.


"Tiga ratus juta seratus sembilan puluh ribu dua ratus dua masehi.."


"Salah ato bener, gak bakal ada gempa kok," beritahu Paskibra.


Jihan diam mendengarkan. Tapi sesampainya, obrolan malah berhenti. Kisye tak sengaja melihatnya.


"Nih.. Anak SosCamp dateng."


"Ohh. Iya. Thanks. Tepat waktu."


"Ka.. kalian pada ngapain?"


"Paradok. Dia butuh petarung lah. Era geneti-catum ini pawang Belut udah pensi. Paradoknya licin."


Set!


Zhhatt!!


Lokasi berganti jadi sehampar kota yang ramai dengan mesin darat maupun udara begitu Kisye cabut tongkat.

__ADS_1


"Wauuw..!"


"Met tugas Jihan."


"Han. Ini lokasimu. Saya ikut, tapi mungkin.. pake sembunyi."


Jihan menerima deathflat dari Lintang. Kartu catatan tersebut ada jarumnya. Dia lihat sekeliling, pancar grafik serupa dengan bangunan yang ada. "Kayak proyektor aja."


"Guncangin. Saya ikut."


Set! Set..!


Didit! Tidit..!


Didit..!


Selesai Jihan guncang, benda terpegang bunyi ala jam weker. Dilihatnya layar sudah menayangkan jarum-merah, mengarah ke barat daya atau jam tujuh. Jihan abaikan orang-orang yang berjalan dekat mereka, tak lagi bingung atas perubahan wujud warga kota, yang jalan gaya pocong.


Tuing..! Tuing..! Tuing!! Pada lari melihat ketiganya.


"Job pertama Jibot."


Set! Jihan kibas tangan habis cengkram kain ba-hu, mencabut pakaian kuliahnya.


Jreng! Jirah baru. Baju tarungnya tak lagi setelan ninja. Dia mirip Robocop langsing, lapis metal yang menutupi badannya hitam pekat tak mengkilat.


"Jibot. Kostum yang bagus, Girl Terminator."


"Ati-ati..??" tanya Jihan selesai menempelkan deathflat ke pergelangan.


Kisye melayang dan.. "Yah. Ati-ati pun kata yang bagus. Soalnya mangsa lo wajib idup."


Wuutts!!


Kisye menoleh tanpa peduli rambutnya tertiup, karena dia sudah menyingkir dari posisinya di jam tujuh ini. "Hawa semangat."


Greph!! Jibot tercekik, kaki menendang-nendang udara. Di ketinggian langsung tertangkap petugas lokal, sosok lawannya hanya dua-mata, tak bergelang kepala.


Jihan sedang pegang tangan, sebab ada kilauan kulit pencekiknya. Lima menit menatap si Mata Putih, Jihan pun akhirnya lemas setelah kesulitan bicara.


Set!


Terlepas dari cengkeraman, bayang Jibot berputar tegak ke samping meninggalkan raganya.


Drddrt!! Drrtt!!


Mata Putih langsung kejang-kejang sesuatu menyentuh cakram mini di tengkuknya. Dia gagal menyinari mayat yang dipindainya dengan kacamata.


Mode siluman pun koslet, membuat pemakainya lemas.


"Insting valid.."


Tubuh Baju Karet jatuh melayang.


Terlihat percikan masih menjentik-jentik di tengkuk korban, lalu akhirnya batre pun padam. Trett..!


Jibot terbang lagi selesai membaringkan korbannya sekali tangkap. Dilihatnya layar di pergelangan, arah yang ada makin dekat walau sudah berubah. Jihan tidak menengok ke belakangnya.


Nguiing! Nguiing! Nguiing!


"Pasti baru liat UFO. Ntar aja, UFO-nya sibuk."


Set!


Begitu memburoq, suara sirine jadi samar dan sudah tak terdengar lagi di kuping Jihan.


Lintang dengan gelang laser di kepalanya kini jadi UFO yang dikejar Jibot, tadinya sedang menonton di kejauhan, tempat yang dipikir aman, ternyata ada orang yang punya kecepatan sama.


Set! Paradok belok kiri usai menengok belakangnya, kabur dari pandangan hunter begitu ada di ujung bangunan.


Ckiit!


"Wah.. Mesin apa nih?"


Jreeng..!!


Jihan untunglah berhenti mengejar di lokasi belok, seunit Gorila berpunggung roket sudah menunggunya, sedang mengangga mulut. Kepalanya berlampu warna merah-biru-putih, bunyian sirine mobil polisi.


Nguiing! Nguing! Tooo.. lit! Tooo...lit!


"Njir.."


Jibot tengok kiri-kanannya, kendaraan yang dia tinggal kabur berdatangan lagi.


Wuutts! Jibot melesat vertikal. Kali ini dia meninggalkan suara tembakan di bawahnya.


Dziing! Dziing!


Dhuuar!


Dreedededeeeed!! Dhuaargh!!


Dhuuar!


"Hadeeuh.. Bijak juga saling tembak," komen Jihan atas tontonan yang terjadi di bawahnya.


Beres nonton, Jihan lihat jam tangannya. Tiba-tiba..


Set! Jihan menyampingkan badan demi benda yang barusan lewat.


Jibot melirik arah benda berasal.


Pelempar melesat kabur. Set!


"Dasar Belut.."

__ADS_1


Wuutts! Wuutts! Di dekat Gedung Kubus.


Wuutts! Wuutts! Di sisi menara, di bandara.


Wuutts! Wuutts! Di pelabuhan.


Wuutts! Wuutts! Di atas.. Titanic.


Ada beberapa penumpang kapal tengadah.


Set! Lintang menoleh kirinya begitu diam melayang, di ketinggian agak jauh dari kapal, memastikan pengejarnya, tak lama.. dia dengan tenangnya arahkan telapak tangan ke objek besar yang tengah menyeberang laut tersebut.


Wii..iiiing..!!


Suara bola-terang meninggi di tempatnya muncul.


NGIIING!!


Chaaang..


Tubuh Lintang tersentak saat dia tembakkan bola Kamehame ke bidikannya. 'Rumah-bulat' pun melesat. Whuussh!


BLETAKH..!!


Jebuuur!! Tubuh.


DHUAARGH!! Kapal..??


Jihan merapatkan dua bahunya mendengar ledakan. Set!


Syuuutt..!


Buncah-ledakan berhenti dekat Jihan.


Whhss!! Menyusut, dan..


Blushh..!


Sisa riak dari buncah boom, meletup kecil usai terhisap.


"Hai, thanks udah bantu." kata lelaki berpunggung 'kulkas'. "Untung ada lo di sini. Gue telat."


"Siapa dia, Rin? Telat gimana..?"


Lemontea


"Syukur deh. Tadi nyaris.. kena Titanic. Lama juga muterin Bumi."


Jihan mendapati Lintang menenteng Paradok sekeluar dari laut.


Kapal baik-baik saja. Bahkan Lintang dapat tepuk tangan semua orang yang ada di dek ketika paradok direbahkan. Jihan senyum lihat buruannya sudah terikat rompi-aneh yang mungkin pemberat.


Lemontea pun Jihan lihat sudah menaruh bawaannya, dan menjelaskan pada Baju Siluman perihal kedatangannya, sambil angkat dua tangan. "Ikam idar huaj, ngande ruanbu ngay hayaberba."


"Ngomong apaan dia, Rin? Bendera kapal merah-putih. Tapi kok bahasa.."


Kami dari jauh, dengan buruan yang berbahaya


"Ouh PUEBI masa depan ya?"


Demikian


"Sorot percakapan, Rin.."


Fitur diaktifkan


Prok! Prok! Prook..!!


"Saya gak lihat vacum yang kamu bawa. Tapi jawab. Di mana kamu buat vacum?"


"Fuh! Lo tau siapa sekarang diri lo? Hah?"


"Saya tau. Tapi gak pantes jadi kayak gini. Di mana pembuatnya?"


"Ahahaah!!"


Paradok tergelak keras, membuat beberapa penumpang mundur, ada pula yang makin bingung dan meniru. "Keakk keaakk!"


"Baiklah. Mari lakuin ghost protocol. Saya tau cara buat vacum tanpa perlu datang ke underground."


"Ahahaa!!"


"Kurasa dia ngetawain gue. Kurang ajar. Ngerasa tercepat."


Jihan melesat ke kapal. Set!


"Heh!!" bentak Jihan. "Dengerin!"


"Ahahaaa..!!"


"Lo napa sih? Kena ubur laut? Hah?" tanya Jihan ketika sudah mendarat.


Lintang merentang tangan kiri tanpa bangun dari jongkoknya. Jihan segera berhenti jalan, batal mendekat.


"Hahahhaa..! Liat sama lo tampang-tampang di sini. Ahahaa!! Melongo.. semua!! Ahaahaa! Pada bego anj*ing!"


"Ouh, lo pikir.. Lo orang terganteng di jaman ini? Hah?"


"Aaa.. Akkkh! Hentikan!!"


"Han? Apa yang kamu lakuin?" tanya Lintang.


"Lho.. Bu.. bukan gue."


"Ahaahaa! Stop anjay!! Gak usah pada bego gini! Ahaahaa! Hwentikan! Hwentikaan!"

__ADS_1


Paradok makin keras tertawa. Tubuh meliuk-liuk berusaha melepas ikatan di kedua tangannya. Orang-orang jadi berdengus begitu mendengar penerjemah mereka.


"Mari kita periksa perutnya.."


__ADS_2