
Satu tipe suara saling terisak, seolah mereka sedang menangis sendirian sebab fisik dan pita getar mereka sama persis.
Bunyi lainnya di sini hanya suara jilatan.
Slrpp..
Slrpp..!
".. miss you too. Hikk-hiks! Se.. sedih hati.. kala eng.. engkau murka.. Hiks! Hari itu (di kelas).. Hikk!"
"I.. iya.. Hiks! Maafin.. Uhuh! uhuh..! Huu.."
"Mghh! Miss you too.. My Self.. Hikk!"
Zihan eratkan peluknya, memejam kedua mata hingga pundak inangnya basah ditetesi.
Jihan pun tak peduli diri mereka terangkat menembus atap gua, disetir Luna yang acungkan tangan perlahan-lahan.
Zhii.. wuu..it!
Jihan lepas pelukan, menengok kiri-kanannya. Dia mendapati ruang angkasa bertepi ribuan bintang. Sedihnya berubah bingung, tapi wajah dibiarkannya basah.
"Hiks! Kita.. di.. di mana.. Rin?"
Sebongkah patung merah nan bening mengambang naik. Batu tersebut berhenti di dekat mereka. Jihan agak berkerut kening saat mendapatinya, karena benda kaku itu dia dalam pose dead-punch (pukulan maut).
"A.. apa ini..?"
"Parasas.. yang tempo hari di Alqalam. Pnin namanya, raja planet Pnilyen. Dia hiding sleep atau sudah mengikuti Diandra sejak di Citymall, basement. Hikk!"
"Hhh... Hikk!" seka Jihan, mengusap sekali lembab di pipi. Si Pnin dipandangi tanpa komentar.
__ADS_1
Al Hood tetap mengemulaikan tangan, bertelekinetis memutar-mutar patung. Entah permennya di mana, dia seperti sedang unjuk kebolehan. Tubuh Luna menggasing, patung berdenyut jadi karet, mirip kembung-kempisnya jantung.
Gwubh.. wett! Gwubh! Wet..
"Dia katakan untukmu mengenai Pnin.."
"A.. apa katanya?"
"Ras terakhir. Kaum dahulu pernah mengendalikannya. Sampai kemudian Kisye datang bersama team khusus. Dia telah steril dan menyenangi rasa tenang."
Gwubh.. wet!
Teph.. patung diam seperti semula, tidak naik-turun seperti penontonnya yang sedang mengambang sampan.
Jihan tersenyum, tak melepaskan matanya pada Al Hood. Di sana bocah tudung membungkuk badan usai berputar, atau mungkin sedang mengiyakan translate-an Zihan.
"Hikk.. manis sekali."
"Terimakasih kembali, Anak Langit," balas Zihan agak membungkuk di sebelah majikan.
"Hikk..!! Dia mau pergi yaa..? Uhuh! Huu.."
"Begitulah."
Tanpa kata dan lambai tangan, Luna berbalik pergi, melayang di ikuti patung.
Cwii.. iing! Bunyi sinar di kejauhan.
Wuutts!! Luna melesat mendatangi pintu exitnya, sang bintang kemudian lenyap
"Hiks! Huu.. uu-u! Ma.. makasih," derai Jihan memandangi titik hilang di sana. "Uhuh..!"
__ADS_1
Zihan memeluk tuannya dari samping. Namun sang inang terus menangis. Zihan tak peduli, dia tidurkan kepalanya ke bahu Jihan. "Lama tak kunjungi dia."
"Hiks..! Hik..!"
Claph!! Datang seseorang di belakang Jihan.
"Hai homolog.. Mending di kapal yuk?"
"Hai Dian. Selesai sudah, Pnin ditangkap. Apa ini jadwalmu?"
Begadang, iya. Khan lagi patrol. Elo mau ikut, Giz?
"Baiklah. Dengan senang hati."
Perlahan Jihan memutar tubuh ke sumber suara yang akrab ditelinga. Zwiitt! Tak peduli jins-nya menciut jadi bintik.
"Yan..?" heran Jihan dengan wajah lembab dan banjir.
"Ya Allah.. udah gede juga!"
Deph!
"I..iya! Elo juga, Yan.. Hiks.. pangling banget! Huuu uu.."
"Hikk! Kami dah nunggu lo, tujuh taun ini.. Han.."
Ternyata tubuh Diandra memang sudah beda, kini mereka saling dekap badan umur anak kampus. Tentu saling bingung. Tapi ini tak lanjut mereka bahas, keduanya terus pelukan tanpa berkata.
Agak di kejauhan terbuka lapis penutup Paltina. Shuut! Tapi.. Wah-wah bukan Paltina semula, ada tambahan dan perubahan besar, dulu satu kini terlihat megah, bercincin, kapal-bola yang sama mendekat dan menancapkan tabung besar di antara tiga kapal yang sudah terhubung.
Theeu.. eungng! Ge.. jligh!!
__ADS_1