
Lreetth..! Dreett! Dreetth..!
Baru beberapa langkah meninggalkan pos, Jihan tengok belakang, mendapati drone-nya tercekal sesuatu, tak melaju.
Ctas! Lreetth! Tikh! Tiikh..
Klotakh!!
"Hei.. Gue juga cape. Dah lah.. Wake up!" pinta Jihan menghampiri, balik ke pos satpam karena drone-nya jatuh di sana. "Ayo! Dah sampai nih. Wake.. Akh! Aduh, anjrit! Akkkh.."
Jihan berhenti jalan, mencengkram poni, ada gangguan tak kasat mata, dua lututnya sampai menekuk, lalu malah makin kuat terasa. "Stop! Berhenti anj*ng.. Aduh! Euughh..."
Apa yang terjadi pada Jihan? Ada interaksi bawah sadar, psikisnya dalam ke-peka-an tinggi. "Stop kurang ajar! Akkkh... Nyesek banget! Anj*ng. Berani.. hhh... sama qorin... Hhh... hhh.. orang... Hhh.. Apanya.. hhh...paling mulia..."
Jihan komentar atas yang dirasakannya, namun kelelahan. Dia pun atur nafas di posisi masih melutut, menopang badan satu lengan akibat pening yang luar biasa.
"Kalian.. sama kayak gue. Gak manusiawi... Hhh, hhh.." ucap Jihan, entah bicara pada siapa.
Dengan sisa tenaga, Jihan akhirnya dapat berdiri lagi. Nafas yang ada seperti hilang karena Jihan tak lagi terengah-engah.
Di tengah diam menunduk, Jihan angkat perlahan kepalanya. Dan..
"I come.." mata Jihan menyala saat tangadah ini.
Dwessh...!! Bunyi aura.
Tubuh Jihan dilalap api.
Jihan teguh berdiri memandangi sebuntal asap di ketinggian, sebuah portal.
Angin meliuk-liukkan rambut Jihan. Daun, sampah-sampah jalan, berterbangan terhisap awan bulat.
Portal teraebut tak diketahui kapan hadirnya.
Set!
BRAKH!! Bunyi tanah, mendadak kawah. Serpihan dan serbuknya melayang pelan bagai di angkasa. Slow motion.
Di terowongan portal, kobar api yang membalut Jihan menipis karena laju terbang mahasiswi ini, lalu akhirnya padam.
Jauh di depan Jihan, ujung portal sudah terlihat.
Pintu keluar itu persis koin putih, tadinya selebar terowongan.
SET!! Jihan langsung mem-buraq.
Teph!! Sedapatnya, lawang dimensi ini langsung Jihan kuak dengan dua tangan layaknya membuka pintu lift. Tapi ternyata mulut-portal pantang melebar, malah mengecil, dan pancar sinar tersebut meredup di antara dua kepal tangan Jihan, makin menyusut.
__ADS_1
Di sini, gapura Alqalam, enam pemuda mendorong pagar gerbang, padahal sudah rapat terkunci.
DUAARGH!! Para satpam terjungkal ke udara. Di saat yang sama terlihat lapis perisai mengilau pada tubuh mereka.
Gate yang mereka tutup meledak. Mereka pun mendarat berjamaah.
Brugh..! Bruugh..! Braagh! Brugh! Dua orang sudah berbalik kabur, membening.
"Hhh! Hhh.." engah Jihan, dua tangannya terlentang persis menahan dua dinding. Dekat kakinya mengasap separuh benda mirip helm canggih, ada dua karena portal sudah terbelah.
Jihan berseru, "Anjrit!!" meringis sentakkan kepala. "Stop!"
Satu menit memejam mata, Jihan kembali berburu nafas. "Hhh, hhh, berhenti tukang nyiksa! Ini salah gue! Bukan dia!"
Sepertinya Jihan masih dibayangi sesuatu. Dan serangan psikis tersebut tampak datang secara mendadak.
Tak ada orang, namun Jihan terus berjalan meninggalkan kawah selebar mobil. "Qoriiin!"
Set!
Bruakh..!! Daun pintu terlempar dari tempat sekali tendang.
"Qoriiin...!!"
Dalam ruangan, dekat meja baca, Jihan berdiri, menunggu sahutan dan mencari tanda-tanda. Matanya mengawas ke sekililing. "Di mana kalian! Balikin dia!"
Drred.. Dreed... Jihan sudah jongkok menempelkan dua tangan ke lantai. Drre... eeed!
"Duaaa!!"
Semua rak kayu mulai bergerak-gerak. Bangku bergetaran di sana-sini.
Detik ke detik meja-meja pun turut berisik. Buku-buku berjatuhan, ruangan seperti tengah didatang tornado. Plukkh! Plukh..! Pluk...!
GRRRR...
Prang! Bruugh.. !!
Klotakh!! Gontraang..!!
GRRR...
Krakh...!! Langit-langit retak menaburi perabot, lalu mendadak ambrol.
Brraggh!! Menimbun Jihan.
Ini Tank dari mana? Ah benar. Bukan atap yang jatuh, melainkan mesin perang.
__ADS_1
Set! Kendaraan ringan terangkat lalu mantul meluncur balik ke atas sambil susut. Chii..uutth!
Di lantai basement..
Jihan uring-uringan sembari merangkak keluar runtuhan.
"Qoriiin! Gue cari dia! Bukan rusuh!"
"Hhh, hhh, sori.. Gue juga kepaksa... Hhh.."
"Koplak.. ?" gumam Jihan membiarkan diri terbaring di puing.
Sumber suara memang laki-laki yang amat dikenalnya, namun Jihan keburu lelah dan lemas menunduk. "Lo berani nginjek gue.. keparat..?"
"Tempat ini... Hhh, hhh.. dah ditinggalin.."
"Qorin.. Di mana qorin gue, Rik... Siap yang gebukin dia?" tanya Jihan masih mager di tempatnya.
"..??" pandang anak cowok ini, lusuh, baju sobek-sobek, prajurit muda yang bingung. "Gue pikir.. lo jemput gue kemari.. hhh, hhh."
"Pede lo anj*ng... dah mati juga.."
"Hentikan bicaramu.. uhuk! Uhukh!"
"??!" Jihan pasang kuping. "Rin..?"
Set! Jihan menoleh.
Riko didapati sedang berdiri menuntun Qorin. Jihan pun segera bangkit telungkupnya. "Rin!!"
"Pergilah.. gue di sini, sampe dewan datang.. nangkep gue. Hhh, hhh. Jaga dia.."
Riko menyandarkan punggungnya ke dinding, dia biarkan Jihan datang nuntun si wanita, menggantikannya. Kedua gadis ini membuatnya tersenyum.
"I.. ini bukan aku.. uhuk.." korban penuh memar, sebelah kakinya tertancap trisula, namun Jihan abaikan. "Bu.. bu.. bukan.. aku. Ughh!"
"Qorin!" seru Jihan, orang yang baru dia tuntun tiba-tiba lemas pingsan.
Skip.
Di kelas, Jihan pandangi dirinya yang sudah terbaring. Entah kenapa di sini, dibaringkan pada meja yang berdempetan.
Pakaian mereka sama, baju lengan panjang, belang warna-warni.
Bukan aku... bukan aku... kuu.. kuu..
Hentikan bicaramu.. muuu, muuu, muuu...
__ADS_1
"Hhh..." tunduk Jihan, terngiang-ngiang suara dirinya sendiri.