
"Gu.. gue pengen bantu orang-orang.. juga. Gak tau sih.. Tapi rasa peduli gue, kadang.. umm, suka telat."
"Kamu masih peduli. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya. Jadi yaa, itulah kita dibilang mahluk-belajar. Allah Maha Pemurah, kok.."
"I.. iya. Tuhan pun maafin hambaNya, masa kita gak."
Slpph!!
Kaca bergeser masuk dinding, Medium yang sedang bersandar melepas pose santainya, bertanya pada anak laki-laki yang berwarepack sama putih saat mendapatinya.
"Ya San?"
"Ngng.. Lagi pada work on ya? Pinjem dua clone, Med. Ini geng kayaknya."
"Ouh. Ya. Baru aja aku ngomong dratis, udah ada empat pintu."
"Yupp. Geng qorin nih kayaknya. Daftar massal."
"Mini.. Chia.. Ngng, bantu kami," pinta Medium pada dua clone yang sedang ketak-ketik duduk dekat Jihan. "Biar saya yang rooting."
"Baik," sahut Mini dan Chia, sementara Medium sudah duduk menggantikan.
Kisye yang satu langsung pamit pada Jihan dan segera keluar, Kisye satunya masih beres-beres bawaannya.
"itu piagam lomba apa Kak?" tanya Jihan atas benda yang dipegang Chia.
"Flashdisk. Persiapan kalo-kalo ada qarrat ikut campur. Aku ke sebelah dulu ya?"
"Oh iya. Silahkan. Makasih Kak."
Setelah Chia keluar, Jihan pindah duduknya di kanan Medium mencoba lihat kesibukan anak Snail.
"Biasanya kami tangani satu saja pas grafting ini. Tapi teman-teman kamu glue-con, nebeng. Bukan artian mengganggu pelantikan, tapi pengiritan waktu."
"Oh.. syukur atuh. Alhamdulillah.."
"Harus manual karena paradok susah ditebak."
"Eh, iya. Qarrat tuh apa sih ya? Gue ngerasa otak ini disebut-sebut."
"Clone underground. Mereka masih ingin ngebajak Snail jadi markas. Maka sistem kepemimpinan di sini dihapus. Snail milik bersama. Gak ada boss di sini."
"Ouh kiraen apa gitu. Hhh.. syukurlah."
Tak sengaja Jihan lihat monitor di depannya menunjukkan persen tiga puluh dua. Medium minta dia meminize status tersebut jika mau lanjut menonton. "Ah, gak apa-apa. Ini aja nontonnya. Takut error ntar."
Sreetth! set! set! Sreeth!
Set! Sreetth..!
Jihan dapati bayang-bayang jari Medium terbekas di keyboard virtual. Papan ketik biasa mungkin sudah berantakan tombolnya dengan gerakan angin ini.
Tidit! Layar bunyi kembali. Empat puluh sembilan persen.
Dit! Lima puluh tujuh persen.
"Bagus Hood. Teruskan.. Aslinya lagi di sini. Kamu bisa!"
Didit! Enam puluh tiga.
Sree... eetth!! Jari Medium semakin cepat dan tak ada jeda mengetik. Srreeddh!
"Keren.. Med."
"Sebelumnya aku tidak nyampe empat puluh. Bumi-mu ini kekeringan sembilan abad lama."
"Masa..?"
"Watermark belakang kamu itu bergetar terus. Lihat sendiri sekarang tenang mendatar."
Saat menengok kolam yang disebutkan, ternyata benar tiada riak. Jihan pun berdiri dan menghampirinya. Mata beralih ke layar transparan yang mengambang di globe.
Tayangan tersiar menyoroti Luna sedang jongkok dan melesat terbang menendang Ninja Girl yang tak lain dirinya. TKP atau medan tempur tidak Jihan kenali. "Nih pada gelud di mana ya Med?"
"Renik mode. Bumi akan rusak lagi kalo Luna pake size asli. Dia tau banyak sepertinya soal grafting atau pecangkokan ini."
"Ouh. Jadi saat grafting ini, energi bahaya wajib diminimalisir."
Didit! Enam puluh sembilan.
"Maaf aku sibuk. Kamu bersiaplah di ruang tubuh. Body change. Halo Gizi, roger that!"
Sreetth! Srreeddh!
"Ehh, umm.. Di mana tempatnya Med? Di mana?" bingung Jihan, suara monitor membuatnya jadi was-was karena terus berbunyi-bunyi.
Engkau keluarlah, aku menunggumu
Didit! Tujuh puluh dua.
Set!
Slpph!
__ADS_1
Di depan lawang Jihan mencari-cari Qorin, banyak clone yang menghalangi pandangan. Dia agak jungkit lihat ujung lorong. "Sejak kapan di situ.."
"Udah cepat elo ngebut.. Kami nungguin."
Jihan menoleh, dia dapati Diandra sedang bersandar di dekatnya.
"Ouh oke, Yan. Udah gue kira lo jins sangar pastinya."
Wuutts!
Ckii.. iitt!
"Delapan puluh lima," beritahu Zihan begitu majikannya sampai dan langsung berbalik sentuh pintu.
Set! Sllpph!
"Mereka di sini juga ya?" tanya Jihan masuk ruangan sambil lihat belakang.
"Demikian. Teman-teman kita sedang di kereta bersama Kisye."
"Oke. Terus ngapain nih? Boneka-boneka inikah yang Snail siapin?" tanya Jihan mendapati banyak tabung berisi patung karet.
"Benar. Jasad sintetis. Engkau sentuhlah tanda pintu milik Diandra ini selama aku temani. Sembilan puluh."
"I.. iya!"
Jihan segera sudahi acaranya melihat-lihat jasad polos tak berwajah yang masih disegel kaca tabung. Tapi saat sudah menggenggam punggung tangan Diandra, matanya masih fokus pada model jasadnya sendiri, berbaju ninja di sebelahnya.
"Hai Jihan," lambai Ninja Girl.
"Sembilan puluh lima."
"Deg degan.."
"Sembilan tujuh. Masuklah Giziania."
"Ugh.."
Gubragh!!
Ketika buka mata, Jihan mendapati Qorin bungkuk dan membopong jasadnya. Dia juga mendapati ruangan sudah tidak berdinding, gelap. Dua kakinya berusaha menggapai-gapai, Jihan dapati lantai semakin turun menjauhinya.
Tampak Jihan terus melayang vertikal dibawa oleh tubuh Diandra.
Jihan pegang leher, kening berkerut, lalu coba dirinya bicara dia hanya mengangga-nganga, bingung dengan yang dialaminya kini.
Dalam gelap, hanya pusar yang mencahayai, Jihan akhirnya biarkan dirinya tegak melayang sambil melihat-melihat baju Diandra. Angkat kaki, pegang baju lengan, raba rambut, wajah, dan melihat dua tangannya. Dia menghela nafas. Lalu diangkat dua bahunya. Mungkin baru sadar tubuhnya sudah lain, pasrah.
Langit-langit ruangan terlewati, Jihan masih melayang lurus ke atas. Dicoba kakinya menyentuh lapisan tapi gerakan nyakar tersebut sia-sia, badan Jihan tetap terangkat dibawa tubuh Diandra.
Jihan kacak pinggang, melayang vertikal sambil tengadah. Cahaya pusar meredup, dia langsung heran lihat sekitar yang masih gelap. Sinar perut mengecil, Jihan makin kebingungan mengaruk kepala. Akhirnya gelap menyelimuti.
Tak lama titik terang menampakkan diri. Riak gelembung menyinari tubuh yang ada, tak lain Dianji yang sudah berdiri memijak, tapi hampir jatuh dikenai pancaran yang barusan lewat.
Diandra Jejadian menggaruk-garuk lagi. Sejarak tiga bus butir cahaya di depan sana, segera dihampiri. Sepuluh detik berjalan, Dj berhenti dan bingung mendengar suara di sekitarnya seperti ini:
Tak! Tik! Tak..! Tuk!
Dj melangkah abaikan bunyian detak-detik mirip jarum jam tersebut. Di jarak satu bus kakinya terhenti lagi. Citra yang didapat sebuah tempat yang dikenali. Dj menengok belakangnya sambil lanjut berjalan menghampiri bintik pijar.
Setibanya, di depan objek, Dj amati gadis yang menungkup duduk tertidur. Bintik sinar di hasta mahasiswi tersebut lalu berdenyutan, membuat penemunya makin bertanya-tanya. Perlahan Dj dekati ujung telunjuknya ke target.
Whuussh!! Bugh!
Entah di mana, pelipis korban, terhantam sebuah kepalan berkulit pucat.
Whees! Bugh! Lagi-lagi sebuah tumbukan.
Syuuutt..! Dizoom-out. Ternyata Jihan dan Luna sedang duel udara dekat kepala mahasiswi, bukan di lembah gunung.
Syuuutt..! Balik ke layar pertempuran. Korban yang dipukul masih terbungkuk punggungnya. Begitu pun Luna, sedang gesture menghantam perut.
Set! Luna menoleh selagi lawannya diam terbungkuk, terlihat di kejauhan ada telunjuk raksasa melaju mendekati titik tujuan, yakni hasta di bawah kepala.
Bocah Pucat mengamati punggung korbannya di mana sudah terjejak bekas tembus pukulan, menampakkan kilauan merah nan bening.
Set! Tubuh kaku terpegang, mata menyipit demi arah terbidik, Luna pun segera memutarkan badan. Wugh! Wugh!
Wuutts! Bunyi laju, begitu lepas di tangan pelemparnya.
Teph! Sekelebat bayang putih menangkap tubuh dan langsung terpisah dari tubuh merah yang kaku, di mana sedang dibalut oleh benang tipis yang menyala. Bayangan pun masuk hasta membawa tubuh terkulai dan ujung jari raksasa menutupinya.
Claph..! Seratus.
PRAAANG! Batu merah pecah, Jihan tersentak bangun.
Set!
"Astaghfirullah! Han.." ucap Diandra memegang dada, lalu terengah-engah. "Hhh.. hhh.. hhh.. Kaget njir. Haduh... hhhh, astaghfirullah.."
Jihan duduk mengekor-ekor mata. Dia mengingat-ingat, lalu menyapu pandang ke sekitar ruangan. "Gelap banget tadi."
"Kiraen lo mati. Haduh.. hhh, hhh.."
__ADS_1
"Hah.. Mati?"
"I.. iya. Lo gak kelihatan.. lagi nafas, tidurnya."
"Ouh. Gue baru di.. umm, baru di.."
"Dilantik!" sergah Diandra.
"Ouh. Ini elo Yan?"
"Iya. Baru dari Snail. Ashar dulu yuk? Udah sore," ajak Diandra yang sudah gendong tas dan menyodorkan ponsel. "Pening eung, pengen sujud gini.."
"Eh, apa nih?"
"Qorin," jawab Diandra memijat-mijat pelipis. "Hhss! Gelap.."
Set!
Jihan langsung tempelkan ke kuping benda gepeng yang dikibasnya.
"Hai Gizian."
"Rin? Haha..! Iya nih aku. Hai juga."
"Syukurlah. Engkau baik-baik saja kurasa."
"Kok tau ya? Eh, nih aku lagi beresin buku, mau ke masjid kampus. Kamu di mana?" Jihan sudah menjepit ponsel dengan pangkal bahunya.
"Di tempatku berada.. melihat engkau sibuk memasukkan barang dalam dudukmu. Valid?"
"Di mana tepatnya coba?"
"Tentu saja di kelasmu."
"Terus?"
"Engkau cepat sekali."
"Haha.. Tau aja."
"Sebaiknya engkau gunakan sesuai kepentingannya."
"Ouh. Maaf. Hehe.. Ini udah kok, Rin."
"Tentu saja Giziania.. Kini engkau sudah kembali ke peradaban kalian."
"Hu um. Aku juga ingat, ini hari.. umm, hari.. Jumat, apa Sabtu ya?"
"Sabtu tanggal lima Juni. Dalam tas ada surat untuk orangtuamu. Beritakan diri sedang mencoba Astral Projection, otodidak, demi kesembuhan caturinderamu. Bagian penutup, kau beritakan alasan lainnya."
"Iya. Kangen, bener-bener digabut si Koplak."
"Juga surat untuk Diandra."
Jihan berdiri sambil gantungkan tas ke bahu. Diandra masih mengawasi luar jendela dan lawang pintu. "Terus? Detail sekali. Batal deh suratnya."
"Grafring selesai. Medium berteriak sebagaimana penggemar bola. Anak Langit mengunyah keripik Pnin."
"Masa? Haha.. Makasih buat dia ya Rin."
"Sudah kusampaikan."
"Trus nih.. Aku lagi ngapain?"
"Engkau berjalan keluar ruangan diikuti Diandra, namun kau tak menghiraunya."
"Tepat sekali. Apa bersangkutan denger kamu, Rin?"
"Sekarang engkau mau?"
"Sstt! Hihi.. Gak usah."
"Beritakan padaku melalui Sosflat ini jika berada di tempat ramai, seolah kau sedang butuh teman atau amat kebingungan."
"Ouh. Oke. Siap.. Ndan."
"Sebaiknya segeralah berwudhu sebelum magrib tiba."
"Iya."
Saat hape hendak dimatikan, Jihan berhenti melangkah, heran dengan tampilan layar yang ada.
Cwiing..!
"Logo SosCamp. Kalo gue kayak gini."
Diandra menyodorkan benda yang sama, tapi tato yang menyala di kaca ponsel Dian gambar buku.
"Kalo Snail gimana ya?" tanya Jihan.
"Lingkaran. Ah udahlah kita masih agen jejadian. Logo bisa diganti kok jadi burung Garuda."
Jihan pandangi lagi gambar awan bercincin di hape, tak peduli Diandra sudah pergi meninggalkannya.
__ADS_1