Kembaran

Kembaran
dua puluh dua


__ADS_3

"Gue pikir.. lo serius gak butuh Giziania, Han.."


"Orang.. bisa berubah Yan. Parasas gak.. Hiks! Sekarang gue tau.. apa yang digabut komunitas.. Hiks!"


"Ini udah jinaknya. Kebayang gak.. sama elo.. sifat asli mereka? Iya.. Wajar lo berani.. Toh anak SosCamp rata-rata udah pro, di lapangan. Tapi buat gue.. parasas tuh keji.."


"Sos.. Camp..?"


"Mabes kalian.. Han.. Ntar abis pelantikan, Qorin bakal nerangin, kok. Pokoknya selamat buat lo, and welcome back in Paltina.. Han."


"I.. iya. Asalkan terus sama Qorin.. gue mau kok di Library pun."


"LibCom.. Han. Pendek.. hemat kata. Satu lagi, kamunitas milik dewan adalah Snail.. Buat gue, paling penting rasa dame ini. Lo yang sekarang lebih nyaman.."


"Tapi.. bo'ong?"


Senyum lebar di wajah Diandra memanjang, pipi digesekkan ke bahu Jihan selayak meluk guling, tak menjawab.


"Iya khan?" tanya Jihan lagi. "Maafin gue.. yang dulu, Yan.. Yaa?"


"Iya."


"Qorin lo, di mana..? Kliatannya kapan?"


"Hihi.. Lucu. Elo ini yaa."


"Iya, apanya Yan?"


"Dengernya.."


"Gue emang pengen liat Diandra yang satunya, kok."


"Belum Han.. Qorin gue blom nerima protokol itu. Bahkan gak bisa di-path, meloncati elo. Soalnya.. Lapak elo belum pulih.."


Jihan lepas pelukan dan menatap Diandra agak lama. "..??"


"Hu umm.." angguk Dian rada manyun.


"Jadi tujuh taon nih kalian masih kejebak timeline gue?"


"Hu um!"


Jihan diam kebingungan.


"Pihak Snail gimana, Yan? Gak turun tangan, apa gitulah.. Daripada nungguin gue, yang udah gak jelas otaknya, si Clone harusnya khan.."


"Bantu-bantu?"


"Iya..!"


"Haus eung. Di kapal yuk? Di sini ayun sampan kita aneh, gravitasi dari mana bisa kayak Teratai gini?"


"Gue.. umm.. bawa enjoy aja, sih.. Makanya gue sok firaun dan keren-kerenan. Jadi, napa si Clone gak mau bantu?"


Keduanya sudah melayang kuda-laut hampiri kapal karantina, lanjut tanya jawab di perjalanan layaknya aktivitas orang di trotoar.


"Snail masih ngusahain, dipercepat tuh rotasi Bumi kita, pake.. umm, apa sih ya.. Lupa. Jadi ntar bumi lo tuh normal dengan bekas asteroidnya."


"Astaghfirullah.. iya juga, dulu gue perusak."


"Biasanya bilang.. njir gue salah besar. Sial."


Di kamar Jihan, yang sudah ada atap, dan perabotan, keduanya mendarat usai tubuh menembus kapal. Jihan tak peduli ruang terpijak sudah mirip kamar rumahnya, dia jalan kaki menuju lawang geser daripada berhenti ngobrol menanyakan luas lantai kamar.


Mereka sampai di ruang santai dan langsung duduk membuka klep sofdrink yang mereka ambil karena sudah tersedia di meja ruangan.


Set! Cheeus..


"Pnin udah ditangkap Yan. Dia yang naikin level emosi gue lho. Euu!!"


"Snail masih nyoba-nyoba. Pernah simulasi itu gagal, tapi dipaksain lagi ke milenium baru. Kayak ngaduk kopi, gue intip. Enak banget tata Surya model kobokan gitu."


"Kalian harus bebas. Tapi gue rasa.."


"Ah gak telat kok. Secanggih apapun jamannya, hidup tetaplah perjuangan dan pengorbanan. Marilah kita sabar Han."


Mereka lanjut mengobrol. Entah obrolan mereka pasti akan apa adanya jika terus disimak.


Tahu-tahu Jihan sudah berbaring di kasur. Hari sudah pagi, Jihan belum juga tertidur.


Di kala melamun mainin bintik kunang, lawang kamar di-bel. Tee..eeettth!!


"Ya.. ! Siapa?!"


Tee... eettth!


"Ntar..Oke, oke. Tunggu!"


Teeeettt!


Tettt! Teeett!! Tet! Tet!


Teeeettt...!!


Jihan sampai dan menyentuh pintu hitam dengan telapak. Wuiit! Kaca berubah bening dan melesat ke pinggir. Sllrpph!


"Eh.. Kakak Judes.. Hai," lambai si pemijit bel, wajah rada dingin dengan ulahnya tadi, sama sekali tidak lagi jahil dan iseng, sedang tajam menatap.


Tamu kamar ternyata gadis sebaya. Pakaiannya kemeja putih dan celana hitam, terlihat setelan resmi tapi santai, belum pake jas.


"Nin..??"


"Terus?" jutek Nina. "Pelukan? Nmh!"


Nina langsung silang tangan.


"Hmm. Gak tau.." Jihan angkat bahu. "Terserah."


"Lanjut dinas..? LibCom lawan SosCamp?"


"Hhh..! Oke. Di mana..?"


Setelah memandang agak lama, rambut hingga kaki Jihan dikacak pinggangi, Nina berbalik seperti orang membuka gorden jendela.


Sreekh!!


Whoouuu..!! Jihan! Jihaan! Jihaaan!!


"Aduh! Bising banget.." tutup Jihan pada kupingnya. "Ke mana nih?"


"Ini tempat legendaris. Gue mau jelasin, kenapa dulu gue bilang ke elo soal kematian."


"Iya. Kita semua emang udah mati khan?"

__ADS_1


Wuutts!


Nina melesat masuk arena via lapisan dimensi yang dia sobek, tak tutup pembicaraan yang dia gantungkan tersebut.


Jihan! Jihaaan..!


"Aku rasa dia mau ngobrol, Rin."


Engkau tak perlu sungkan. Aku selalu menyertaimu ke mana pun


"Dia paling gemesin emang.. Aku yang ngajarin, maka inilah yang aku tuai.."


Sreekh..! Jihan langsung tarik piyama. Kain pun tergulung persis diperas dan melilit terhisap telapak Jihan.


Jreeng!!


Set!


Belum difoto, Jihan sudah.. pergi.


Di tengah arena mirip bandara, tapi ini lebih luas dan bertebing enam logam, Jihan mendarat datang. Bregh! Nina masih berjalan mondar-mandir di depannya, berkaca mata. Jihan langsung bertanya. "Ke mana para penonton?"


"Bubar..."


"Kok bisa?"


"Gue pengen tau nih. Apa telat yang lo pusingkan sebetulnya? Mereka..?"


"Bukan. Kalo gue telat sadar, iya.. Itu yang gue pusingin.. Tukang Pijat."


"Hmm. Terus itu tuh.." tunjuk Nina ke arah belakang Jihan sambil tetap berjalan-jalan, seketika langsung ngelebat. Wuut!


"Hai.. Pulang lemburan?" tanya si kacamata saat Jihan menoleh ikuti tunjuk jari.


Bugh!!


Hyuu..uung! Gubrakh..


"Iya.." jawab Jihan terbaring di arena menyeka rahangnya. "Pijatin gue.."


Set!


Sut! Nina langsung luruskan badannya, agak tengadah sebab Jihan sigap acungkan kaki waktu dihampiri.


Wuush..! Kaki satunya, Jihan ayunkan ke dagu Nina.


Takh! Nina menangkis dengan dua tangan, dan langsung putar badan melayangkan kaki.


Weesh!


Taph! Jihan yang baru bediri dengan cara melengkung badan ke belakang, jongkok menangkap kaki Nina, lalu balas menendang kaki lawan. Set!


Gubragh!!


"Sadar gimana maksud Saudari Buruh..?" Nina bangun membetulkan lipatan celana dan dikebut sekenanya. "Total gajian lo minus goceng Kakak Judes?"


"Gue udah telat sejauh-jauhnya, sampe bisa by one gak jelas gini sama elo. Nyesel banget, nyokap gue ternyata lebih sayang.." Jihan melangkah dengan fokusnya.


Nina jalan menyamping demi jarak aman. "Ibu udah sayang sejak anaknya dalam kandungan bukan? Tapi pacar.."


"Tapi cowok yang lo sayang gak gitu.. Riko ke gue gak sesayang dirinya ke alam dongeng ini, nyuekin dan ninggalin gue.."


Keduanya berjalan saling memutari.


"Jadi Riko, yang bawa elo ke mari, bukan?"


Wuutts! Bukh..!!


Hyuu... uung! Nina terlempar dan..


Gubrakh..!


"Kayak barusan..?" tanya Nina yang terlempar dihantam kepalan sang Buruh. "Ini.. kudu dicontek."


Ckit! Jihan berhenti dan langsung menyodorkan tangan pada Nina. "Salah lo, minta jawaban.."


Teph!


Syuuutt...


Jihan menyampingkan tubuh, matanya menyudut ke arah Nina tanpa hirau sebatang kaki melayang vertikal, rambut panjangnya turut lambat bergerak ke pinggir, saat ini pun Jihan bisa lihat kilau mengkilat sepatu Nina...


Taph!! Jihan cengkram bagian kaos kaki, lalu..


Set..


Whuu... ung...


Nina melayang di udara mengulingi ruang, tangan terayun dengan bentang sikunya, kedua kaki terbuka turut berayun ikuti putaran tubuh, wajah meringis dalam pejaman kedua mata, rambutnya pelan tergerai, kacamata tampak sedang mengambang naik terlepas dari tempat...


Jihan melihat benda tersebut berkilau.


Wuutts!! Dia melesat selagi pemilik kacamata terguling. Tapi..


Bregh!!


Sreee... eeertth!!


Nina jongkok mendarat abaikan diri terdorong mundur. Dia pasangkan eyeglass setelah berhenti.


Bregh!! Jihan mendarat di depan Nina dengan jongkok elegan.


Mereka lalu berdiri barengan. Nina berkacamata, Jihan mengucek-kucek mata.


"Gue belum dapet berita yang muasin. Sampai kelilip debu, elo tetap nerangin hal yang sama. Riko dan Riko. Gimana awalnya, lo bisa masuk ke dunia ini?"


"Gue mungkin ngalemin psikosis. Gue mikirin dia lah sampe insomnia juga."


"Valid.. Elo lihat cermin gak, pas bangun kesetrum?"


"Gue lihat lemari gak sengaja. Gue teriak, karena cuma liat baju yang dipake doang, tubuh sama muka gue gak ada. Minum pun gue langsung muntah. Hidung nyium bauan gak bersumber. Telinga dengerin hal yang gak jelas."


"Valid.. Psikosis sama insom bikin Kakak bisa lihat qorin. Kalo gue, begadang karena gaming. Gue pun mati cuma karena dua minggu melek. Hari game over itu malam Senen Kak."


"Lo gak inget semua gue rasa."


"Valid. Trus napa elo kasar sama gue?"


Mereka masih berputar-putar selama belasan menit.


"Separo emosi gue mungkin lagi diinep Pnin. Jadi.. gak cuma kalian yang kena kutuk urat gue. Qorin juga kena.."


"Di-an bilang bukan salah lo, Kak. Diandra yang bilang, bukan gue.."

__ADS_1


"Kapan?"


"Dah lama Kakak Judes."


"Maksud gue, kapan bukanya nih panti pijat? Hoaamm.. Mmhh!!"


Gretekh... tekh! Nina mematung dengan bunyi jemari. Kupingnya benar-benar manangkap kalimat Jihan. Diam memandangi si penutur.


"Hmm..? Mau bayaran apa?"


Grrth... tekh..!!


"Oh.. iya. Kayu lo, tongkat mana tongkat.." ledek Jihan mengoyangkan kepala, tangan menirukan dirigen orkesta.


"An..j*ng!!"


Wuutts! Tinju lurus tangan Nina disambut dongakan tubuh Jihan yang langsung horison.


Set!


Takh! Takkh...!


Nina tangkis tangan Jihan bergantian, tak peduli badan lawan gesit tegap berdiri tak jadi jatuh.


Sat!! Sit! Set..! Bukh!


Takh! Tekh..


Wuutts!


Dzigh!!


Dzigh..! Suara balasan.


Set!


Degh!! Bunyi susulan.


Bletakh!! Bonus serangan.


Sat! Sit.. Set!!


DIGH! Sikut langsung menumbuk kening Jihan.


Sat! Sit..!


BUKH! Tumit datang dari sisi, menimpa rahang Nina


Set..!


Gubragh!! Jihan jatuh ditengkas dengan cepatnya.


Degh..! Degh!!


Set! Set! Elak Jihan, meliuk-liuk badan hendak diinjak.


Set!


Gubragh! Nina jatuh dikibas tangan Jihan.


Seorang pemuda datang berlari. Dari arah lain muncul anak laki-laki sebaya. Setelah dari barat dan timur ini, datang lagi cowok ketiga, turut berlari. Tak lama portal-portal lain bermunculan menurunkan 'penumpangnya'.


Bwubh! Gluph! Duubh!


"Hei.. Udah! Udah!!" katanya sesampai di tujuan ini, menarik tangan Jihan.


"Kalian berhenti! Heh! Stop..!" pinta yang baru datang pada Nina.


Jihan dan Nina sudah saling mengunci dan kaki-kaki mereka melipat, juga menekuk.


Setelah berhasil dipisah, karena beberapa orang sudah berdatangan, Jihan dan Nina masih berontak.


"Woy! Berhenti kubilang.. Heh! Udah!"


"Ugh! Ugh.." seru Jihan menendang-nendang depannya.


Nina terlepas dari tangkapan dan langsung mencakar-cakar wajah Jihan, sayangnya ada tangan yang keburu megang Nina. "Eh! Eh.. Dibilangin.. Stop! Udah.. berhenti lo! Ada apa nih, ada apa kalian..?!"


"Egh..! Lepasin.. Egh! Lepasin gue!" Nina berhasil dicengkeram dan ditarik menjauh. "Egh! Egh..!"


Seperti Jihan, kaki Nina menendang-nendang, cowok yang kena tendang berseru lagi, minta Nina berhenti. "Udah! Kalian..! Berhenti..!!"


"Iya! Pada berantem gini kita. Ada apaan woy, kalian nih..? Hah?"


"Pegangin! Mon.."


Ketika Jihan hendak dipegang, gadis ini segera lari, hendak menjambak rambut Nina, tapi berhasil ditangkap lagi. "Dia! Diaa..!! Duluaan..!"


"Udah! Hei, udah.. Elo biasa aja, jangan teriak. Panas ke markas. Tau gak?"


"Dia yang budek! Udah gue jawab, dianya nyolot! Dia duluan!!"


"Elo anj*ng! Main pukul! Gue lagi denger!!"


Berberapa anak berdecak, kacak pinggang, ada yang menggaruk-garuk kesal, juga ada yang diam santai menyimak, Nina dan Jihan tetap adu mulut, saling kencangkan suara.


Setengah jam kemudian..


"Udah..?"


"Hhh, hhhh.." Jihan.


"Hh.. hhh..." Nina.


"Oke. Sekarang udah jelas. Masalah kalian soal path yang masih dikerjain ma anak Snail.."


"Protokol emang belum turun. Kalian sabar dulu. Napa?"


"Sampai kapan nih? Kami ingin kepastian dari SosCamp."


"Kami juga!"


"Udah! Diamlah. Gue yakin ada. Sabar! Pasti diberitakan buat salah satunya. Lemon, Dzakir.. lepasin mereka."


Jihan dilepas dan dijauhi dua pemegangnya, begitu juga Nina, habis dilepas mengatur nafas.


Mereka yang berseragam A berkerumun di pihak Nina dan yang berseragam B di pihak Jihan, mulai berbaur lagi, beberapa ada yang bersalaman dan pelukan.


"Ya udah. Sambil nunggu wahyu-wahyuan, buka acaranya dia. Udah resmi bukan ya?" anak ini menatap Jihan.


"Baik. Oke itu dulu, gak apa-apa. Pelantikan. Semua harap balik dan kembali. Event berakhir."


"Event apaan.. Belum mulai udah diusir. Huh!"

__ADS_1


"Dah, dah.. Ahh. Kalian pulang-pulang. Hus! Huss... Snail, SosCamp, LibCom, tinggalin Endfield secepatnya."


Beberapa sudah pergi. Satu per satu meninggalkan tempat seperti yang di pinta, mereka pulang lewat portal. Cewek-cewek yang menonton di kejauhan melakukan hal yang sama, balik kanan minggat.


__ADS_2