Kembaran

Kembaran
Aktivitas


__ADS_3

Ditunggu-tunggu, cacing robot keluar bergerakan kaku. Liuknya menyapu-nyapu gundukan kecil. Serbuk tanah bekas galiannya sekira satu sendok nasi.


Jihan tidak tahu yang dilakukan Sosflat di dalam lahat, sehabis menaruh bunga, cincinnya leleh dan jatuh terlepas begitu saja. Saat alatnya kembali ke permukaan, tahu-tahu sudah jadi cacing transformer, cacing kawat.


Jihan jongkok memungut Sosflat yang sudah balik jadi black ring. Dia diam sebentar mendapati belitan pada cincinnya. Helai tali tersebut putih persis benang. Jihan ragu karena seperti stenlis.


Rrrrrth..


Setengahnya jihan cabut tali besi itu dengan cincin, dia terdiam menggantungkan tangannya, dalam pikiran penuh tanya, sebab berjiarah ke makam orang yang paling dia bucin.


Kanan ditengok, lalu arah kiri, dan juga belakangnya, Jihan dapati sekitarnya masih TPU orsinil, sepi dan hening pagi ini.


Rrrrrth..!


Srekh!!


Kening Jihan berkerut, ujung tali yang dia tarik ternyata membawa kaca putih (bening berisi asap) ukuran kartu nama. Permukaannya kotor tampak lama dikubur dalam tanah basah. Padahal panjang tali tersebut pendek, sehasta.


"Umm..?"


Jihan dapati gantungan naik ditarik suatu "roda". Ternyata ulah cincinnya, yang menghisap tali tersebut. Sampai akhirnya flat yang terikat jatuh.


Plukh!!


"Masya Allah, Dulag.. Dulag. Gak percayaan. Gue lagi sibuk, Sob. Ntar abis ini dah.. masih nunggu si Barbar. Sori banget. Tunggu aja. Oke?"


Orang yang berdiri dekat pagar TPU, sibuk bicara lagi. Tapi kemudian sudah menutup pembicaraan lewat layar smartphonenya, disentuh. Taph!


Dia tidak sendiri. Seorang wanita muda sedang bersamanya mengelus-elus perut yang agak kembung. Gadis hamil memberitahu laki-laki tersebut siapa yang dilihatnya. "Dia datang. Keknya udah dapetin deathcard."


"Hah.. mana?" laki-laki ini bingung cari-cari, sebab sedang sibuk menyentuh-nyentuh ponsel. Usai digebuk dan ditunjuki, barulah dia ngeh. "Ouh iya, cepet banget.."


Dan benar, matanya langsung mendapati Jihan. Gadis yang didapati masih berjalan di antara makam-makam berkamboja rimbun, yang memang jadi tempat mereka berteduh.


"Dah nih," sodor Jihan sesampainya di depan si pemuda, mengasongkan deathflat.


Si rambut putih segera memasukan ponsel ke saku depan. "Jujur.. gue masih sesedih ini ngunjungin lo, Han."


"Nih, apaan sih?"


Jihan masih bingung dengan benda yang dicapit jarinya pakai daun Kamboja.


"Udah gue bilang catetan. Kerjaan si Bradmin, tapi gue yang nyuruh."


Set! Serta merta Giga ambil benda gepeng pesanannya di tangan Jihan. Set! Set! Segera disusutnya dengan daun. Beberapa detik kemudian permukaan deathflat kinclong karena emang buru-buru, dia lap dengan kaos bajunya getah-getah daun terbekas.


"Langsung aja minta kali, gak usah nyuruh gue naro bunga segala. Iya khan Vo?"


"Susah Han. Kemakan berita-berita, otak dia auto ribet."


"Khan dah banyak isu. Kalian gak tau. Narik benda ghoib tuh musyrik. Ketauan orang bahaya. Lo jadi artis dunia menyan ntar, Han."


"Kalian pada mau ke mana tadinya emang neriakin gue di jalan?"


"Kita mau ke puskesmas ngambil nomer antri pertama."


"Ouh.. Kalo emang nyangkut gue pribadi, jadi pada repot gini."


"Gak ah. Kami emang namu elo kok Gizi. Sekalian periksa kandungan."


"Ouh syukurlah. Udah bikin repot."


"Ahahaa! Dasar.. Oh iya. Elo udah belum sih? Rame lagi ntar."


"Bentar.." Giga lihat benda di tangan, lalu diguncang-guncang lagi. "Banyak amit laporan lo Min. Jadi kusut olokin tinta."


Gset! Gset..! Gset!


"Sori ya Han. Emang kek arisan gini kok cara bacanya. Kami udah pesenin gojek buat lo. Naik ya ntar, jangan lo cancel."


"Gue jadi gak enak gini. Iya deh, Vo. Pulang-pergi gratis. Gue baru tau kalian sesayang ini sama qorin gue."


"Elo hoki bisa barengan sama pekerja ladang queen Reinit."


"Oh gitu. Umm, petani?"


"Bukan Han. Ladang cuma istilah mereka aja sih. Di sana aslinya industri serum. Lab kimia terapan. Obat, vaksin, terus termasuk racun dikulik. Kalo di kita semacam CERN. Ada banyak ladang laennya juga.. sesuai fokus, tapi seolah support utamanya ke ladang Reynita itu."


"Qorin gue kok diem wae ya."


"Gizi gak biasa berbangga diri. Bisa juga karena masih sungkan sama elo. Slow aja, Han. Lo hoki gue bilang."


"I..iya. Alhamdulillah, Vo," ucap Jihan dengan merah pipi.


"Dua ribu dua puluh. Valid nih, Mah."

__ADS_1


Voin dan Jihan melihat deathflat yang Giga sodorkan. "Gue juga minta per bulannya, total bagi samaan dengan persen taonan."


"Simple readnya, kita lagi ngeliat banyaknya Vactube, Han. Bolpen yang pernah lo patahin itu vacum maut semua driver atau qorin. Nah nih angka pertahunnya Gizi dibekuin paradok. Taon ini gak ada vactube tipe Gizi yang aktif."


"Ouh. Nisan khan?"


"Iya. Tuh vacum udah elo rusak di Snail."


"Oh iya, iya. Gue inget. Haduh. Thanks ya kalian datang ngabarin hal penting ini."


"Nah trus siapa yang bikin nisan-nisan ini? Gue kasih tau nih. Pabriknya tuh di underground. Para clone itu yang bikin. Paradok juga suka ke sana. Udah tau apa itu paradok versi Fanam?"


"Tau, Vo. Penjelajah waktu. Itu khan?"


"Sip. Elo valid jawabnya. Nah.. Jadi kalo bukan elo, siapa lagi yang deket Qorin kalo bukan empunya? Ngebinasain mereka sama kayak ngianatin komunitas, diri kita sendiri."


"Umm. Gitu ya sejarahnya jadi seorang paradok..?"


"Yoay.. Awal-awal gue juga risih disuruh-suruh jins. Bawel kesannya. Ikut campur."


"Haha!"


"Tapi taunya driver kita tuh peduli, udah kek ortu alternatif. Kek diri kita yang lebih dewasa."


Brmm..!! Ckit!


Abang jaket hijau mengerem motornya dekat gerbang TPU, menanyakan nama Giga. Obrolan pun selesai di topik tersebut. Giga mengiyakan diri.


"Ini bang anter temen saya ke alamatnya. Udah ditandai mapnya khan?"


"Daerah Citymall ke selatan itu khan?"


"Betul. Iya. Di sana Mas."


"Iya saya tau Mas. Sebentar. Saya tandai startnya dulu sekarang."


"Han, jemputan lo nih. Gue takut nyokapnya bunuh gue Bang. Jadi gue putus nih selingkuhan."


"Njir.. Pedes."


"Elo Giz, yang gue bikin nangis. Hmp!"


"Oh iya. Gue ingat. Wkakaa!"


Jihan pamit pada Voin setelah duduk di belakang bang ojol.


"Ati-ati. Gang Lam Alif nomer dua sembilan ya Bang."


"Oke," bang ojol memberikan helm dan Jihan terima dan langsung dipakai.


Karena motor masih menderu-deru, tali pelindung pun Jihan selipkan di bawah dagu.


"Udah Bang."


Brmm..mm!! Ojol segera jalan meninggalkan gerbang dan satu motor lainnya yang masih terparkir.


"Jandain Voin gue bunuh lo, Kampret!"


Brmmm!! Jihan sudah dibawa jauh.


Selesai lari pagi, walau jam tersebut dihabiskan dengan kegiatan lain, Jihan santap ketoprak yang dibeli di perjalanannya tadi. Mata sibuk menonton tivi.


Di ruang tamu ini, di sebelah Jihan sedang duduk pria paruh baya yang bersarung. Jihan kibas-kibas tangan demi asap rokok yang menerpa lewat wajahnya.


"Pak, ihh... rokoknya. Pengap gini."


Yang dipinta tetap mengobrol dengan penelponnya. "Kalo Mamah jadi lembur, ya udah. Beliin ntar malem aja."


"Gizi mau juga dong, Pak.." timbrung Jihan, lanjut menyuapkan sendok ke mulut. Dia pun mengunyah-ngunyah.


"Mah, tambah buat si Hani."


Bapak menyedot rokonya lagi. Dia segera memberitahu jawaban lawan bicara pada Jihan.


"Asyik! Paket A, Mamah!"


"Paket A, Mah."


Sampai malam ini, Jihan tetap di rumah, sudah terbiasa main teleskop atau rebahan di beranda balkon lotengnya ini sejak covid melanda. Toh teropong panjang yang diintip jadi teman kuliahnya juga.


"Astronom harus tau objek lapangannya, Han. Intip lagi deh kalo gak percaya."


"Yan, kalian ngapain sih masih ributin kapal? Timeline udah gak kepake juga."


"Ya sayang aja, Han.. Di sini kehalang terus."

__ADS_1


"Samaan ada awan."


"Lo lagi makan apa sih?"


"Pizza. Hahhaa..."


"Ihh, anjrit pantes gue rusuh gini."


"Dah, isi dulu sana. Hahaa.."


Sehabis tutup telponnya, Jihan taruh smartphone itu di pagar balkon.


Jihan bangkit dari duduk, tak jadi meneropong. Dia jilat-jilat jarinya sembari menuangkan air botol, bukan air dari dispenser yang ada di ruang tamu.


Wadah terpegang basah luarnya. Di samping gelas pun ada dus makanan yang sudah kosong. Tidak ada kaleng favorit, maka saat isi gelas habis, hening.


"Euu..!!"


Sendawa pizza itu mah, kurang ngebass.


Dekat gerbang kampus, Senin pagi ini Jihan turun bayar tumpangan ke sopir angkot. Ternyata tak hanya dia yang sedang meluk budelan buku, seorang yang turun dari motor pun sama bawaannya. Entah buku apa pada tebal begitu.


Di halaman gerbang juga banyak pedagang. Gerobak Kupat Tahu, gorengan, bubur ayam, tenda nasi uduk, gerobak ketoprak pun ada. Anak kampus juga yang menggandrunginya. Banyak yang tengah duduk sarapan dan sekedar ngopi di sini.


Tampak nama tempatnya di belakang jajaran gerobak; FMIPA Cabang ITB.


Di ruang kuliah.


"Bapak tekankan sekali lagi, coba cek situsnya. Kalikan dengan angka yang ada. Di sana secara live ditayangkan jaraknya dari Matahari maupun dari Bumi."


"Tapi berubah terus Pak," kata laki-laki dekat tempat duduk Jihan. "Jam kapan yang harus diambil?"


"Ambil saat kalian mengerjakan hitungan ini saja. Waktu, paling lambat bulan depan. Buat yang belum tahu, buka link Bapak di grup. Bapak ajuin real time Voyager ini ke pihak LAPAN, tapi belum terkondisi. Ya sudah bapak kasih link-nya NASA."


Entah Jihan lagi di mata kuliah apa. Yang pasti dosennya sedang minta hasil suatu hitungan berdasar pada jarak nyata sebuah wahana antariksa milik luar negeri.


Di taman kampus, Jihan sibuk ngobrol lewat hape dalam duduknya di kursi panjang bawah pohon. Diandra dibiarkannya diam karena dia sedang membaca.


Siang ini bukan jam bubaran, tapi banyak lalu lalang mahamurid di sekitar tempat.


"Aku gak tau lho kamu banyak disanjung driver lain. Kemaren aja Voin bahas kamu, Rin."


Kurasa mereka berlebihan. Aku hendak membawamu untuk touring langsung ke tempat belajarku. Waktunya tak memungkinkan


"Touring? Jalan-jalan maksudnya?"


Demikian


"Dih. Kenapa kamu baru bilang, Rin?"


Prioritas kami dunia kalian selama masa senggang ini. Kurasa engkau belum bersedia


"Ya Allah. Sok tau ih.."


Tempat yang kumaksud tak jauh berbeda dengan sekolah ini


"Ah gak mungkin. Kalo ntar datang masa sulit, gimana caranya aku bantu kalian kalo masih tulalit gini? Aku siap kok kamu bekali."


Aku ingin temui ibuku. Apa engkau ijinkan aku berada di dunia kalian?


"Haa? Apa emang ada bahayanya sama aku, Rin? Sok aja ih. Siapa ya orangtuamu itu?"


Selesai kuliah nanti, engkau melihatnya kemudian sedang bersamaku


"Umm, baiklah. Jangan boong ya."


Apa engkau ijinkan aku berada di dunia kalian?


"Ya Allah, alam ini punya Tuhan kita, Rin. Kamu pikir aku siapa sih ngelarang kemampuan dan niatmu bersilaturahmi? Sok aja."


Kembalilah ke ruangan. Berikutnya aku pun ingin membekalimu Giziania


"Oke. Siap, Ndan. Sok aja pokonya."


Terimakasih Tuanku. SosCamp telah ijinkan sebelum aku meminta ini padamu


"Iya, Rin."


Jihan masukan Sosflat ke dalam tas, tapi tidak benar-benar disimpan selain sembunyikan tangan. Lihat saja..


Grrrth! Ponsel mengerut kenyal. Benda persis bubuk magnet ini pun balik melingkari di jari Jihan. Slpph!!


Taman sudah agak sepi, ada suara dengkuran di samping Jihan.


"Aduh, dasar kalong. Heh!"

__ADS_1


"Astaghfirullah!!"


__ADS_2