
maaf ngaret.
ada keperluan googling dan riset ke tulisan yang lama
Seberkas sinar memindai tubuh Paradok. Lingkaran tersebut memisah jadi dua, tergeser ke arah kaki, satunya lagi bergeser ke arah kepala, kemudian diam.
"Ini dia tawanya," kata Lintang mendapati objek persis jeli di kulit perut Paradok. "Ubur evolusi."
"Jadi vacumnya di mana?"
"Sejak di timeline-mu saya emang nyari-nyari. Tapi sampe sini pun.. saya gak nemuin."
"Cari di mana sekarang? Alatnya apaan? Pake gogog, gak mungkin." Jihan menyapu pandang, langit pun dia lihat, makin bingung. "Diumpet gitu di Bulan sana?"
"Kamu mampu eksekusi driver Riko tanpa alat. Gimana triknya kamu bisa lakuin itu? Padahal kamu belum kenal qarrat, Vactube, bahkan gudang Snail."
"Ehh, umm.."
Lintang perlahan berdiri, berbalik menghadap Jihan. Lawan bicara terlihat bingung atas penyampaiannya. Lintang tidak pedulikan wajah gugup itu.
Bwiph! Benda mirip termometer mengambang di telapak Lintang. "Ini Vactubenya. Saya baru tau, saya bisa sihir. Ghost protocol.."
"Ouh.. akhirnya."
"Andai gak buka Whois?-mu itu, saya takkan tau yang terus bikin gusar ini. Saya takut suatu hari ngelakuin fusion dengan parasas. Biar jenis Pnin udah mati, saya tetap khawatir pada keselamatan Jins."
"Ya, gue bunuh Riko. Tapi.. toh dia sendiri yang minta, Lin. Dia benci ibuku. Dia minta kepastian."
"Kamu lakuin dengan penuh keyakinan khan? Bayang sadar pacarmu itu tak menyusut sedikit pun, makin besar. Saya pun mungkin bakal meledak. Vacum kalo udah ditancapin ke titik, jadi kayak lintah, nempel dan ngebelit sampai kesadaran korbannya ilang."
"Habis bunuh.. Sempet gue ragu, gak bakal liat dia lagi, tapi nyatanya.."
"Paradokmu ngulang sejarah. Dia ribuan kali nutup riwayat qorin. Belum diketahui, bales dendam ataukah nyegah eksistensi-mu di sini."
"Ya. Tapi dah lah.."
"Betul. Kayak parasas, paradok sulit berubah, gak terima keadaan. Paradokmu tuh bawa driver Riko akhirnya. Empunya jadi meriang."
"Bucin. Mau lo apain tuh vacum?"
Bwith! Bunyi lenyap.
"Saya serahin ke Dewan Olive. Di sana aman daripada gue simpan sendiri."
Lintang sibuk kembali dengan Paradok. Sat! Set! Sat! Set..!
"Bagus, deh. Gak semua jin jadi setan. Nurani kita pun kadang ilang. Gimana baiknya aja sekarang."
"Ilang dicuri?" canda Lintang. "Ilang di mana?"
"Yaa.. Umm.. Kapal ampir musnah. Nih paradok mandang fisik. Kayaknya.. semua penumpang mau dibinasain."
"Betul," sambung Lintang. Dia akhirnya selesai memburu paradok, meminta deathflat pada Jihan. "Sini dong kartunya. Saya gak tau ini pukul berapa."
"Oh iya."
Taph! Jihan sentuh layar, si benda jatuh dan dipungut.
"Udah mau isya," kata Lintang saat baca deathflat yang Jihan beri.
"Ehh.. Gitu ya? Gimana bisa? Lo gak aduk dulu asepnya?"
"Timeline-mu masih keseting default. Seper satu koma sembilan sekian. Seperdua lah kalo dibulatin."
"Artinya?"
"Satu jam di sana, sama dengan dua jam di sini. Kita lagi nge-mind atau lucid dream. Jadi artinya kita udah kelawat jam maghrib belasan menit lalu."
Bluph!
Portal muncul dekat pagar kapal.
"Dah ya. Jangan pada ngalong di lahan kosong. Banyak godaan."
Kisye ternyata tidak hanya bertugas sebagai kondektur, dia juga 'penguasa' di lapangan putih.
Ini wajah para clone, body 20 tahun dan 24 tahun. Kisye di kiri, Canteen di kanan.
Ke-tiga lusid atau inang pamit pada para penumpang kapal. Mereka saling melambai.
Bluph! Bunyi kabut Jihan.
Bluph! Lemontea.
Bluph! Lintang.
Paradok sudah dibuat beku dan ringan hingga Lintang sudah seperti bawa balon gas.
Di timeline Romi, Jihan tak melihat Lemontea. Romi beritahu bahwa Kulkas Man melakukan path-jump atau to the point ke timeline-nya.
Jihan mengeleng saat Romi menawarkan jasa yang dia dengar.
"Deket kok."
"Oke. Gue baik-baik aja. Gak usah khawatir," kata Romi yang masih dalam rangkulan Vita.
Di timeline Nina, Jihan sudah tak bersama Lintang. Laki-laki itu takut diguyur lagi, minta Romi nge-path dia.
"Thanks Damkar." Jihan hanya melangkah lewat dan berterimakasih pada Nina.
Yang diledek sebagai Damkar tetap rabahan pencat-pencet stik, sibuk mabar dengan gadis hijab.
Bluph! Kabut langsung hilang begitu Jihan masuk.
Di kamar Diandra, Jihan bingung.
"Mana nih bridge-nya?"
"Sono atas lo," kata Diandra sibuk manteng buku di sofa.
"Ouh.." tatap Jihan mendapati awan yang dicarinya. "Napa di situ coba?"
__ADS_1
"Hobi lo terbang. Silahkan aja."
"Ehh, iya. Tengkyu.."
Wuutts! Jihan melesat vertikal.
Di kamar, tubuh Jihan yang masih rebah tersentak. Degh!
"Umm, boleh juga dikte-nya.." gumam Jihan duduk di tepi kasur melihat-lihat isi kamar.
Demikian. Bergegaslah
"Oh iya. Gue udah telat.."
Jihan beranjak keluar ruangan, tak peduli lampu kamar, lampu tangga, dan tempat mandinya menyala sendiri. "Bentar lagi adzan Isya, njir.."
Set!
Crrr!!
Hingga jam delapan, Jihan masih bermukena. Dia duduk di kursi meja belajar, nonton cermin. Tayangan yang berlangsung adalah video call, sedang menyoroti Lintang.
".. Ya di sinilah vacumnya. Lusid yang lewat sini bisa lihat. Yang penting kamu udah tau wajah Dewan Olive. Sekali lagi.. maafin kalo saya udah bikin kamu jadi inget lagi sama Riko."
"Iya. Gue dzikir aja ke Pencipta-nya. Biar waktu gak kebuang."
"Bagus. Kamu bisa lain waktu kalo emang ingin tau banyak soal Fanam. Ya udah. Saya permisi dulu."
"Oke, Lin. Makasih banyak ya."
"Baik. Sampai ketemu lagi."
Zwiiitt! Cermin berganti tayangan jadi pantulan kamar. Pelakunya merayap ke handle lemari lalu menjelma jadi gantungan kunci. Set!
Grikh! grik..grikkh! Bunyi samar di luar rumah.
Terdengar pagar dibuka. Jihan buyar dari lamunannya. Dia buka mukena dan dilipat.
Suara pagar terdengar kembali, tanda ditutup.
"Donat datang, kenyang pergi lagi. Aneh banget nih perut."
Jihan taruh mukenanya di meja belajar dan berjalan ke luar kamar, menuruni tangga lantai, Mamah langsung mendapatinya.
Jihan hatur tengkyu saat berpas-pas dengan Mamah karena bawaan yang datang sudah ditaruh di meja. "Mamah cantik deh."
"Besok Mamah masuk pagi. Jangan malem-malem tidurnya. Bangun subuh, seperti kemarin."
"Hani khan udah setel weker, Mah."
Mamah sibuk membuka sandal, selesai dibuka Mamah simpan di rak dan ngeloyor pergi ke toilet. Sementara Bapak bapak baru datang. Jihan tak peduli, dia ambil remote tv dan memijitnya.
Klik!
"Besok kamu kuliah jam berapa?"
"Pagi Pak. Napa emang? Tadi juga khan pagi.." ingat Jihan yang duduk menyantap makanan.
"Kalo mau nyari rapotmu, Bapak simpan di situ. Siapa tau kamu perlu juga."
"Eh iya, Pak.. Awal-awal Hani masuk ke sana tuh, pas mimpi kena setrum. Seolah-olah, didaftarin sama dosen."
"Bapak sudah tahu, tahi lalat kamu di mana.."
Jihan biarkan Bapak menggantungkan kunci dan masuk kamar.
Tayangan tv tengah menyiarkan berita. Jihan skip pakai remote. Klik!
"Jangan berpikir kamu bisa bersama suamiku. Sudah! Anda pergi sekarang jugaa!!" Sinetron lokal.
Jihan ganti channel. Klik!
Musik sedih sedang berputar, tayangannya di sebuah halte di mana seorang siswi SMA sedang menundukkan kepala, jalan raya sedang diguyur langit.
Masih sinetron lokal.
Kamu tahu.. aku merindukanmu..
Di tempat kita bertemu ini, aku selalu teringat kala hujan deras.. manahanku tuk menangis lagi..
"Jah.. Latah lo. Guelah yang gabut, De."
Klik!
Goool!! Gooo...ool! Saudara-saudara akhirnya tendangan..
Klik! Tivi mati, tapi emang benda mati, tayangan tadi padam.
"Nyebelin.." Jihan bangkit dari duduk membereskan bungkus makanan.
Siang hari di taman kampus, seperti biasa Jihan menelpon drivernya. Diandra baca-baca di sebelah. Srekh!
Jihan membahas soal touring-nya semalam.
Jika diurai dengan adegan atau scene film, pembekalan tersebut akan sangat lama dan panjang lebar. Jam sembilan malem Jihan minta seting waktunya diatur sejam-satu-hari, atau 1/24, sekitar satu minggu dia menjelajahi Fanam. Kini sudah tahu dan masih saja 'dufan'nya dibahas.
Usai jatuh, jihan sudah ditunggu Kisye di atap rumah. Jihan ke Kafetaria saat injak keset. Matanya langsung melebar begitu tahu tempatnya, yang persis ruang pagoda, ada banyak balkon segienam. Dia disambut pramusaji dan dapat meja di lantai atas, nomer 4007, tapi pesan baso urat yang dikiranya tidak ada. Kotak putih langsung dikuasai cara pakainya. Dia makan langsung dari wadahnya, orang lain pakai piring, dia pun ikutan pakai wadah biasa. Kocak. Padahal sama saja.
Di gudang Snail, Jihan berjalan-jalan keluar-masuk ruang heksa aneka ukuran. Dari kamar ukuran gelas sampai ruang heksa ukuran bandara. Tiap ruang ada empat benda atau alat modern tergeletak di hole-cube dinding, slot kubus tanpa laci-nya
Juga ada tempat yang menyimpan satu barang satu ruangan dan Jihan kenal tank yang pernah menindihnya tersebut.
Olive menjelaskan semua fungsi dan cara pakainya. Jihan dibawa ke tempat bernama Tester, mencoba Handgun favorit. Lalu Jihan tembak target dengan alat lain, dia dapat angka skor seratus setelah skor delapan-nya tadi. Katanya di bawah nilai tersebut bukan protokol.
Begitu pun dengan Boxfood Jihan. Di ruang heksa miliknya, ada banyak dinding tertera angka-angka yang pernah Diandra test. Jihan akan sulit menguasai Boxfood yang masih tersimpan, dan mendapati laci 'bernomer' seratus sudah kosong. Jadi Diandra pernah 'klepto' di sini.
Ruang heksa berikutnya masih kosong. Olive memberitahu, gudang Jihan akan terisi dengan sendirinya begitu Jihan bertugas dan berkembang di suatu masalah. Jihan pun diperbolehkan mengontak Olive secara dadakan bila solusi ter-alamat pada seksi peralatan ini.
Jihan tanyakan hal lain tentang Olive, karena wajah sang dewan persis Chelsea Olivia di masa lajang. Jihan sedang bersama body teen Olive, kira-kira seusia Luna.
Olive segera ceritakan tentang dirinya. Reklik yang diterus dipegangnya itu pusaka kedua setelah FinalCutter. Seperti remote umumnya, si benda mampu mengendalikan hampir semua alat, ditambah dapat merubah kandungan suatu materi, tadinya air jadi api, awalnya bentuk A jadi B, terus C. Sementara, Epsi menciptakan segala alat dan benda tanpa Xmatter (bahan baku yang ditambang kereta Snail).
__ADS_1
Hari ke-3, atau jam dua belas malam, Jihan mengunjungi sekolah Qorin. Ruang kelas berupa saung selega mungkin. Banyak tiang penyangga di antara ribuan meja lesehan. Jihan mencoba salah satu fitur meja, tak bisa, karena ternyata itu bukan monitor yang disangkanya, melainkan buku matematika.
Perpus, kelas, ruang praktek, lapang olahraga (jins bisa keringetan juga), pintu tempat prakerin, ada dalam satu perabotnya tukang Pecel Lele.
Shhtt!
Jihan sentuh tiang terdekat, badannya langsung teleport ke tepi Saung. Di sekitarnya masih ada banyak bocah TK saat dia memandang gedung asrama. Tinggi dan besar. Dua tempat yang hanya di batasi Long Park ini bernama RS yang berarti Sisi Kanan. Jihan abai dengan obrolan sepasang bocah di dekatnya karena sudah diberitahu mereka adalah jins Korea dan China, murid lahan pertama IC (internasional class), blok paling ramai di masa Zihan sekolah.
Shhtt!
Sisi utara Saung di tempati Piring Terbang yang katanya aula sekolah. Tapi Jihan amati bukan pesawat UFO. Dan baru sadar objek bisa diganti dengan Tanah Air Terjun saat ada beberapa remaja kumpul untuk berfoto dengan background tersebut. Setelah geng-sekolah selesai ambil gambar, barulah Zihan atur ke penampakan asli aula, objek yang tak lain lempengan lantai putih, bagian atasnya hamparan muka Bumi. Flat Earth benar-benar ada! Bahkan ada dua, di atas dan di bawah.
Jihan minta bantuan Qorin demi aula yang sudah dia rubah lewat kaca kendali, pemandangan segera dikembalikan ke citra semula. Jihan menghela nafas.. dengan lega.
Shhtt!
Sisi selatan Saung lebih ramai persis restoran gratis. Tidak ada pagar atau jalan raya, hanya taman panjang yang banyak dikebut para muda-mudi bertubuh transparan. Katanya selalu ramai sebab gedung di seberang adalah mall. Seperti Heksanium, Greatmall punya banyak nama dan sebutan, bangunannya tinggi dan panjang besar mirip diding, sejauh mata memandang, tetap Greatmall.
Jihan masih bingung dengan guru-guru, atau kantor kepsek, rektornya kampus. Sisi Kanan gerbang diapit tempat-tempat ibadah, ketiga sisi lainnya sudah dikunjungi, di mana ruang guru ataupun kantor IC berada?
Jihan tak melihat bangunan saat Qorin mengantarnya ke tengah-tengah saung. Dipinta melihat lantai, Jihan hanya dapati karpet, dikira lift pun salah, tak juga turun saat disebutkan mantra.
Padahal sebenarnya Jihan pernah datang ke lokasi yang ditanyakan, bahkan hendak menghancurkannya. Dia pun teringat tank yang pernah menindihnya itu.
Tang! Spear lama milik Kisye akhirnya hadir menancapi karpet. Bunyinya membuat pundak Jihan merapat. Dia komentar bahwa benda tersebut galak sekali.
Para murid belajar secara otodidak lewat tulisan, atau kegiatan belajar manusia. Mereka ada di ruang majelis, nimbrung jam pelajaran ruang kelas, mendiami laboratorium, bahkan online di asrama beralat portabel glove.
Tadinya jalan masuk kantor cukup dengan menyentuh lantai, menepuk, atau pun rebahan.
Seketika saung hancur dibawa putaran Spear. Tak lama ribuan serpihan melesat parkir membentuk se-lahan perpus.
Di LibCom, yang juga kantor IC, suasana sangat sepi.
Tempat ini aslinya bernama Bodleian Library, Oxford University.
Tampak Dewan Asma duduk membaca. Dia seangkatan dengan Olive, generasi pertama di Fanam. Boleh dikatakan, dewan satu ini persis Acha Septriasa.
Jihan bingung, bertanya soal heningnya tempat, Asma menyadarinya dan segera menutup buku. Alqalam berubah ramai.
Asma menaruh bacaannya ke rak, sementara di dekatnya, Jihan canggung membalas sapaan sang dewan.
Seperti Kisye, Asma mengajak Jihan ke basement. Saat itu juga Asma menerangkan bahwa orang-orang yang Jihan lihat adalah pengunjung siang kemarin.
Jihan kaget karena kemarin dirinya di taman, Diandra tidak di sini dan bukan sedang melihat-lihat rak buku, melainkan tidur.
Asma menunjukkan pulpen, Jihan lihat benda biasa. Tapi saat Asma yang pegang Liner, dimensi bisa disobek seperti aksi Nina menyibak gorden. Benda itulah yang membuat waktu jadi berbeda.
Jadi Diandra memang di perpus, alias sedang nge-mind, bayangannya langsung hilang karena di taman kampus itu Jihan menggebuk dia.
Beberapa petugas, berkantor dengan ruang dan jam yang dibuat Liner. Itu rahasia Kisye bisa nyenyak tidur dan mengawal lebih dari satu orang dalam satu waktu, karena dia menggunakan jam 'kantor', jam terpisah, produk benda itu.
Misalnya ada lima orang minta dijemput, Kisye urut pakai jam office, dari pukul satu sampai jam enam. Masing-masing dijemput pukul satu untuk orang pertama. Orang kedua dijemput pukul dua, yang ketiga gebuk tiga, yang kempat hantam empat, dan seterusnya sampai jadi abon mungkin, Kisye akan layani. Maka ada lima Kisye yang turun ke 'halte', di lima kota.
Gerbong Snail yang begitu banyak tak hanya berguna sebagai tempat duduk penonton tujuh ratus stadiun bola, tapi juga pengaman terjadinya 'kosleting' arus-waktu.
Bila Reklik dibuat oleh Epsi, maka Liner adalah 'nenek'nya remote. Fungsi utamanya masih Asma bingungkan. Sebab pegang pisau pun, Liner ada dalam alat dapur tersebut, tak hanya menghuni spidol, pensil, jarum, ceker ayam, dan benda tajam lain. Tangan Asma memang tak berefek apapun saat menyentuh benda non-runcing. Dengan singkat kata Liner aslinya mungkin dimensi nol, sebuah titik, bukan benda ataupun senjata.
Jins yang menginang sebenarnya bukan mau pamer alamnya, tapi mencari tahu dari mana jiwa mereka itu, titik terang apakah sebenarnya diri mereka di alam halus ini, apa benar produk si Liner, ataukah elemen alam yang populer disebut elektron..?
Mereka para driver masih mencari tahu, dan terus berekplorasi untuk tujuan tersebut. Moga aja nemu orang setara Einstein.
Basement perpus ternyata kantin di atas lantai penjara, dindingnya banyak pintu-koslet, siapa yang sentuh lapis hitam itu badannya terjentik hilang.
Jihan coba sentuh, mumpung sendirian, ternyata memang pintu-koslet, dia pindah ke ruang lebih modern dan futuristik, ruang heksa dengan dinding seperti kokpit pesawat, ada monitor, tombol putar, lampu indikator, dan ada buku bersampul keras mengkilap bak kilau emas.
Ruang segienam, tinggi dan diameternya mengikuti dimensi badan Jihan. Sidik-jari untuk masuk. Jadi belum ada yang ke sini selain Jihan dan Qorinnya.
Dan buku di dekat monitor itu adalah riwayat hidup Jihan selama di Fanam, isinya yang bisa ditransfer ke rapot rumah, bisa dibaca oleh Bapak dan Mamah selayak novel.
Di Snail punya gudang, di LibCom punya buku amal, di markas SosCam, Jihan punya ya?
Tentu saja pekerjaan. Jihan punya saldo bernama Digit. Dari monitor ruangan jumlahnya baru 200.000 digit, hasil dari tugasnya mengejar paradok Lintang.
Seperti Diandra ceritakan, markas LibCom bikin mata betah. Dari ruang rapot, tubuh Jihan terjentik ke tempat mirip ruang utama operasional, hangar bulat dengan kendaraan gepeng terparkir di tengah hanggar, ada layar persis cincin, menanyangkan suatu tempat secara 360°, katanya tempat parkir drone tapi di lantai bawah banyak orang membereskan buku-buku. Apa Gramedia-nya alam halus.. ya?
Nik Nik yang sedang bersandar membahas kelanjutan ruang parkir sambil jalan di samping Jihan. Gadis yang pernah diputus tangannya, langsung mengajak pelaku ke lorong baca, atau disebut Safe Reading. Ruang di sana memberi rasa sakit tanpa melukai fisik, jadi Irit Xmatter.
Sampai di lokasi Jihan dapati belasan Librarian sedang menempatkan buku ke pintu, lalu pintu terbuka, reader pun masuk.
Kitab atau KTP tersimpan milik si Tersesat atau orang yang sedang direkrut. Mereka menemukan Jihan dengan drone tadi, dan PDKT lewat lorong SR ini, tapi misi gagal.
"Hehe.." kekeh Jihan, tampak masih canggung.
Nik Nik menyebutkan jumlah bayaran untuk tugas yang diambilnya dari Boarding. Jihan tercengang, sebab bayaran sudah ditotalkan dengan bayaran sang emak, yang psikiater itu.
Boarding Jihan ada di SosCamp. Jihan minta antar, Nik Nik hanya kedip mata. Ting!
Di markas, Jihan mendapati Lemontea sedang santai merokok dan bersandar pada kulkas.
Mabes-nya Jihan mirip peron atau stasiun di Snail, ada awan yang sedang di gelangi cahaya bola-tenis di tengah ruangan.
Dan ternyata benar lagi, Lemotea sedang menunggunya.
Tapi, Jihan heran saat Lemon melayang masuk kabut, tak memberitahu lokasi Boarding, mungkin mengajak latihan.
Dalam kabut yang Lemon sebut labirin, Jihan sudah dimasukkan ke party job, ikut menghajar Beer Stone bersama puluhan teman seatap. Mereka melawan patung hidup raksasa yang tak lain parasas. Gerakan sama cepat seperti Induk, untung TKP sudah dikubahi.
Medan tempur banyak orang-orang berlarian dan sedang dievakusi tim darat.
Tapi di Bumi-nya siapa dan kapan, masih misterius. Jihan hanya tahu kampusnya sudah rata dengan tanah. Udah tapi masih aja bengong.. hadeeh.
Tang!
__ADS_1
Pelipis Jihan kena tameng nyasar. "Auw, takit.. tekali.."
"Anak baru! Awaaas!!"