
"Waduh..!" sebangun tidur, serta merta Jihan kaget, dia dapati banyak bangkai di sekitarnya. "Apaan nih?"
"Welcome back. Lihat sendiri kalo lupa reset Bratle. Spionin dateng bareng pasukan."
"Tapi ta.. tadi.." bingung Jihan rebah ditopang dua sikunya, diam mengingat-ingat.
"Ya..?" Giga menyodorkan tangan, langsung disambut hingga Jihan segera ditariknya berdiri. "Tadi napa?"
"Tadi gue di SMP..? Napa dilempar ke sini ya?"
"Oke. Dengerin baik-baik," pinta Giga sambil jongkok menduduki senapan mesin.
Jihan sibuk menepuk-nepuk celana jeansnya.
"Elo mabok... Lo pernah duel ma si Nik Nik? Dia yang bilang kalo dia juga teler selama fusion. Melayang-layang."
"Bukan duel. Gue bantai sampai mutusin tangan dia. Gue juga inget, pernah denger ini. Kebangun di tengah potongan Yenfly."
"Nah, korban pernah di-inang juga sama Anak Langit, Han."
"..?!"
Jihan berhenti dari kegiatannya.
"Badannya emang bocah. Tapi sebenarnya Al Hood lebih tua dari para qorin. Dia ratu-nya parasas. Cuma dia yang bisa bunuh bawahannya dengan cara dimakan. Ada sih senjata khusus, tapi buat nge-pause doank. Trisula tadi cuma ngebius, bukan nutup riwayat parasas. Gue serius."
"Bukan itu yang gue lamun."
"Hm?"
Jihan masih diam dalam kacak pinggangnya.
"Hhh.. Si Nik Nik. Di.. dia.." Jihan lupa ingin bicara apa. "Ah, anjrit... Apa betul kalian dah tau masa depan?"
"Ouh.. Gak tau. Mungkin ada beberapa Librarian yang daily sampingannya ngintip."
"Kalo gue langgar warning kalian, beritanya bakal kejadian. Kalian ngeramal pake kartu ato ngintip lewat apaan?"
"Kalo ketemu, mending lo tanya aja yang bersangkutan."
"Ah ntar lah, kapan-kapan aja. Habis bangun gue bakal diculik katanya. Gak tau deh, lupa kata-katanya gimana. Gue simpulin aja langsung ke elo."
"Hmm. Bentar. Diculik yaa..?" renung Giga mengusap-usap dagu dengan jempol. "Min coba elo chek up, bisa?"
Bintik cahaya yang sejak tadi melayang-layang kini diam.
Hahah! Elo yang nyulik.. Brad
"Fitnah.. Bini gue tau dong?"
Jihan menoleh demi satu kata yang diucapkan Giga. Dia segera lanjut usapkan jari ke kulit hasta.
Belum, kalo gue-nya pilih bungkam diri
"Apa lagi yang dia bilang Han?"
"Panjang. Detail, dia neranginnya. Waktu itu langsung gue hajar, soalnya.. gue pikir trik batle."
"Hmm... Demi Allah. Gue gak minggat dari komunitas. Oke deh. Ayo kita cari ta.."
Giga terlalu lama mengolah data hingga sadar pendengarnya sudah sembunyi.
"Han! Jihan..!" Giga langsung berdiri mencari-cari. "Retas fiturnya Min."
Pingsan dong..? Nah gue bilang apa, versi ini bratle-nya detektif, Brad
"Inalillah.. Iya juga. Gue malah bawa satu. Kontak si Nik Nik."
Belum diangkat Bos
"Han..?? Lo masih himod di sini? Mode hantu? Silent? Jangan jauh-jauh!"
Giga memutar badan perlahan sambil terus menunggu tanda lawan bicaranya, mencoba peka pada sekitar alias pasang kuping.
Zwiiitt! Hei. Ada apa?
"Nik, ulang berita lo waktu berkunjung ke bumi si Barbar."
"Oke. Apa lagi? Udah gue send. Tinggal dengerin."
"Nebeng ya.. Kepoin anak gue, cowo apa cewe."
"Dih, emang protokolnya siapa?"
"Pribadi."
"Ya usaha sendiri kali. Dibayar pun gue ogah non-protocol mah. Ngerti?"
"Ah siap. Thanks."
Zwiiitt!!
"Puter.."
.. habis fusion anak tudung itu keluar, sadar-sadar lo ngeliat potongan Yenfly, sayapnya, sampai gurun seperti ketutup. Elo paling tenang pas semua cemas nyari-nyari induk Lyen karena lo lagi bersama seorang lelaki, santai sekali bersihin pasir. Sebaiknya katakan berita ini padanya kalo emang kejadian.
__ADS_1
"Dongeng. Cowok itu udah gue bunuh. Tadi, gue ma siapa lo bilang? Hah?"
"Iya tunggu, belum beres. Mudah-mudahan emang dongeng."
Craaattt..!
"Anjrit! Ukkh.. denger du..dulu gue bilang."
"Tiga kata saja, gue juga serius."
"Han, elo gak tau siapa yang lagi mengintai selama di sana, lo ketakutan sampai harus sembunyi segala, dia ngincer lo cuma buat dijadiin tenaga ngelawan Al Hood sang atasan penculik.
Sadar please, telekinetik lo ini gak guna karena elo lagi pake alat yang terbatas fungsinya. Hanhan ada, namun qorin elo pun malah nyariin."
Craaattt!
"Aghh!! Ugh... hiks.. Anjrit!"
"Kata penutup?"
"Ta..tapi bu.. bukan buat lo. Bu.. buat diri lo yang lagi nyimak ini.. Han.. elo telat."
Swiiit!! Bunyi penampakan.
"Gigaaa!"
Set! Saat konsen mendengarkan, Giga menoleh.
Jihan berlari di atas tumpukan mayat. Tak ada yang mengejar, namun yang diburu sangat ketakutan.
"Help me! Huuu.. huuu... help meee!" pinta Jihan, sesuatu sudah menariknya ke belakang kemudian hilang ditelan kabut.
Blupph!!
Di kota...
"Uhuk.. uhuk..!!"
Al Hood menoleh ke sumber suara, sahabat rondanya terjatuh. Set! Dia sigap mendarat dan membantu Qorin berdiri.
"Aduhai.. Engkau sudah tahu ini."
Luna mengangguk.
Bluphh!!
Ada kabut mengembang dan tiba-tiba menelan mereka.
Begitu muncul di hutan, Zihan (qorin) langsung melesat ke atas di mana Giga dan Jihan sedang sengit bertempur.
Set! Set..!
Shutt! SShiit..!! Set-set!
Giga dipukul punggungnya hingga badannya terlengkung di udara ini. Penghentaknya bertelinga runcing, beralis tebal, bola mata hitam semua, Ninja abu berbandana ini tak lain Jihan.
Ternyata sang Induk memang berhasil mengambil alih tubuh mahasiswi yang ditangkapnya.
Sukses menghantam punggung lawan, Jihan membuka kepal tangannya. Plrak! Bunyi tulang hasta.. menyembul runcing dekat pergelangan.
Rambut putih belakang kepala tampak bersih belum tersentuh, badan Giga pun masih terlengkung pelan hingga buta apa yang Jihan siapkan untuknya.
Set! Jihan tarik sikunya dengan mata fokus ke bagian belakang kepala Giga dalam slow motion.
Syuu..uutt.. Target tiba-tiba menjauh dibawa gelembung transparan, datanglah kemudian bayangan halus persis asap.
Taph!! Zihan sekali loncat langsung mencengkram, matanya pun langsung menyala putih benderang. Cwiing..!!!
Craaattt... Kening Jihan terdorong ke atas menyemburkan cairan hitam dari kedua matanya.
"Aku keberatan. Kau mendahuluiku.." ucap Zihan yang masih terbekas liur hitam membasahi dagunya.
Giga terlempar menabrak dedahanan pohon akibat hantaman lawan. Grusakh! Grusakh!
Brugh! Jatuh tak jauh di depan Al Hood yang masih berdiri mengamat.
Luna abaikan erangan Giga, tangan kanan dikepalkannya hingga terdengar gemeretuk jari. Kretek... tekh!
Sebujur tubuh tengah berputar menuju Al Hood persis bumerang. Wugh! Wugh!!
Kretekh! Tekh..
Al Hood diam memandang dalam tengadah saat didatangi target dan fokusnya.
Wuutts! Kelebat bening keluar dari tubuh Jihan.
Qorin yang telah melemparkan korbannya melihat bayang tersebut dan tersadar. "Tahan Anak Langit.."
"..?!"
Luna sudutkan matanya, lalu tiba-tiba merendahkan badan hingga tampak di atasnya sekibas cakaran.
Swuut..
Set! Sekilas pelaku langsung nampak dan melesat pergi.
__ADS_1
Tubuh Jihan yang masih membaling-baling langsung tersentak saat dimasuki sesuatu.
Syuuutt!! Bumerang mendadak melesat.
Wugh! Al Hood sigap menyusul hingga masih tampak bayang badannya sedang tekuk lutut bekas mengelak. Artinya masih lebih gesit dari Induk.
Sat! Sitt! Set..!
Shutt! SShiit..!! Set-set!
Wuutts!!
"Uhukk! Uhuk..." letuk dalam leher Zihan. Anehnya, Qorin tak meludah malah menelan kembali sisa yang ada. "Mghh!"
Bukh! Bhakh! Bukh! Bhakk! Bukkh..!
"Kau bunuh suamiku Luna.." Jihan angkat lutut kanan tepat di atas kepala Al Hood di mana lawan masih dikebut belasan bayang tangan.
Plrak..! Serucing tulang pun keluar mengganti tumit.
Set! Zihan yang masih melayang-layang, melesat ke bawah, sekali bunyi.
BRUAARH!!
Di sini Zihan membaringkan tubuh yang dibopongnya, abai pada ledakan yang ada, juga dibiarkannya tubuh dia kembali nampak ke citra padat menutup transparansi.
Luna bangkit di tengah kawah dengan kepala masih tertancap tulang, menoleh pada Zihan sambil mencabut benda tersebut.
Zihan mengangguk ketika dilihatnya Luna mengacungkan ibu jari.
Wugh! Al Hood kembali melesat ke atas menjejakkan bayang tubuhnya.
"Bismillah.." pejam Qorin menaruh telapak di kening White Hair, agak nunduk dan tak lama terhisaplah aura hitam Giga melilit ke pergelangan.
"Dasar bocah.." Jihan menengok kiri, lalu kanan, dan juga sigap mengawas belakangnya di udara ini. "Fuih..!!"
Kkrrtth!! Sang Kuping Lancip menguatkan diri hingga dahinya menampakkan urat.
Luna pun kini jadi terlihat tengah merentang telapak kanannya ke arah Jihan selayak polisi sedang menyetop.
Wuutts! Jihan langsung datang menghabisi lawan dengan kecepatan baru.
Sambil melayang mundur, Al Hood tangkis kepalan yang sedang mengarah ke wajahnya. Takh! Menaikkan lutut kiri. Takh! Merentangkan badan. Wush!
Dalam pandangan mata normal, ternyata banyak terpercik sinar mengeliling bayang transparan tubuh Al Hood yang terlayang mundur dalam rebahnya ini.
Grocak-grocikh! Gracak-gracikh!!
Makin lama semakin nampaklah kesibukan Luna, yang mana pindah pun sama saja, serangan masih membabi buta terhadapnya.
"Aduhai.." gumam Zihan mendongak ke atas, ke sela dedaunan pohon, konsentrasinya belum selesai, tubuh pasien kembali menampakkan aura pekat fatamorgana.
Bugh!!
Rahang Jihan terpukul hingga suara retak terdengar kemudian dalam slow motion ini.
Kra..aakkh..!
Selingkar gelombang tumbuk mengembang pancarnya dari patahan tersebut.
Sesampainya di depan wajah Zihan, garis wave langsung menyusut balik ke titik tumbuk. Wuit..!!
Set..! Luna sedanh menggantungkan kepalan dekat pipi lawan.
Seringai Jihan pun langsung terdengar. "Heuh.."
Syuuutt..! Tanpa Luna sadari serentang kaki datang menghantam telinga kanan.
BLETAKH!!
Whung! Tubuh Luna terpelanting jauh ke barat bagai bumerang.
Zihan menoleh saat di atasnya muncul kabut abu dan pemantiknya. Kemudian Si Kuping Lancip segera masuk.
Set! Blupph!
Saat hendak bergerak, Zihan batal loncat, menoleh ke arah lain, di mana Al Hood masih kerepotan menangkis-nangkis.
Set! Giga langsung Zihan ditinggalkan.
Dwii...iisshh!!
Ledakan angin meletup, Zihan tonton kejadian tersebut sambil mengambang, dirinya baru saja menembus badan Al Hood.
Sebebasnya dari kerubung bayang tangan-kaki, tubuh Luna jatuh ditarik bumi, pemiliknya terpejam mata tak sadarkan diri.
Set! Zihan kebut gerakannya menuju Al Hood.
Zwiiitt!
Zihan baringkan Al Hood di sebelah Giga sedapatnya di udara, tak ada lembam atau pun bengkak di kulit Luna.
Usai Al Hood terbaring, Zihan terbatuk kala sedang berdiri mengamati aura Giga.
"Uhuk! Uhuk.. Tiada daya dan upaya.. melainkan kekuat.. tan.. Nya.."
__ADS_1
Hyuuu..uuung...
Brugh!! Entah apa yang Zihan serap dan hentikan, selelahnya menahan batuk, tubuhnya tak lagi bertenaga, ambruk begitu saja menimpa dua temannya.