
...Arena Segienam dahulu pernah hancur. Sekarang sudah diperbaiki dan menjadi standar untuk pertarungan apapun. Beberapa orang menyebutnya Lapangan Maut. Endfield. Angry Dream. Hexanium. Masih banyak nama. Sudah populer. Enam dindingnya dari logam. Lantainya lebih keras...
Informasi arena terngiang-ngiang di kepala Jihan.
Kamu harus tahu. Pemenangnya ditentukan tempat ini. Tak ada juri. Tempat untuk membuat kerusakan sesuka hatimu
"Kayak lo bilang... dia beda. Seorang senior. Tamengnya juga antigores..." lamun Jihan dengan pandangan kosong, seperti meratap dan menyesali aksinya merusak Bumi. "Khan anj*ng..."
Dia sudah menunggumu di sana
"Euh..?"
Dia sudah di sana
"Ya udah. Oke, oke... Di mana tuh?"
CLAPH!!
Cahaya kilat terjadi, memancar begitu saja dari pusar Jihan, menyapu bersih hingga kejauhan. Tata surya hilang, berganti maha ruang putih tak bertepi, sekali bunyi saja.
Setelah mengambang lama, Jihan perlahan turun memijak lantai invisible. Dilihatnya titik pijak terjalar mengembangkan lapisan lantai warna alumunium.
Srrrdhh... Tigh! Tigh! Muncul dinding.
Dummh! Bunyi tribun, ikut-ikutan.
"Waduh, ini khan Qualcom. Asik, asik. Akhirnya ada event njir. Hahaa!"
"Waauw.. tempat legend, Yan."
"Iya."
"Beuh. Tapi mbak-nya masih di sini. Tetep aja penjara."
"Gak ihh. Ada mas Giga.. Dia yang bawa kita noh. Di sana!"
Ada gelembung dekat dinding utara.
"Duh, alhamdulillah. Ya Allah makasih. Bebaskanlah kami. Emh! Amin, amin."
Saat tengadah, langit arena tampak bertebaran bintang, outdoor. Jihan juga mendapati 4 bocah usia SMP di kejauhan sedang berlari ke pagar lapangan, matanya agak menyipit, mengingat dinding lapangan persis tebing jurang.
Tin..!!
JEGER!!
Saat menoleh, lokomotif datang, menabrak targetnya.
Whung..!
Jihan terpental, dia pun menghantam dinding. Brughh!!
"Nj*ng.. eugh, apaan.." erang Jihan dengan raut meringis sambil pegang pangkal lengan. "Sakit banget, nj*ng.. hiks.."
"Hahaha!"
"Sokor... Mampus lu, Mbak."
"Bangun! Ucapin oke, Han," pinta gadis sebaya di pagar kaca, jauh namun suaranya seperti ada di sebelah.
"O..o...oke..!!"
Werrh!!
Terlempar sebuah martil ukuran kulkas ke arah depan, meninggalkan Jihan.
Taaang!!! Benda ini mantul ke samping gelembung. Tangkisan target.
Plaph! Balon proteksi pecah tapi pemiliknya, si White Hair, langsung lari ala The Flash, tak lagi berjalan. Wuutts!!
"Qorin! Aktifkan level tutor!" teriak gadis ini pada Jihan yang masih meringis pegang bahu.
Fitur diaktifkan
"Whuaa ooo... " kaget Jihan merasa terpleset. "Anj*ng! Set*n Apa nih.. Anj*ng! Anj*ng!"
"Udah tonton aja!"
"Hhh! Hhh.. "
__ADS_1
Gelap. Sambil terengah, Jihan lihat dua tangannya masih ada, sadar dirinya ternyata dipaksa terangkat melayang-layang. Pusar pun dia dapati menyala bak sinar bintang.
"Ckk!"
Melompatlah
Claph! Jihan mendapati Giga saat kembali ke arena, namun lawan tampak berat bergerak, Giga seperti tengah lari di dalam air, menghampiri.
Lompat
"I.. i..iya.." gugup Jihan, buru-buru jongkok.
Set!
Sruuu...uuukh!! Giga berhenti lari, lantai sampai berbunyi, dia pun tengadah karena Jihan keburu terbang.
Clekh!! Bunyi pelatuk, Giga hanya acungkan kepal tangannya ke atas, benda ini tiba-tiba muncul, terpegang, sesuai pikirannya. Door!!!
Ulang satu kali apa yang kukatakan terakhir. Freez
"Freez," tiru Jihan di kegelapan, masih bingung tujuannya meloncat.
Tep! Timah ini sedang melesat, tapi langsung diam.
Claph! Arena kembali terlihat. Jihan makin kebingungan di udara.
Katakan stop
"Stop."
Pegang samurai lawanmu di belakang
Set! Jihan menoleh dan terkejut karena hampir tergores pipinya oleh ujung runcing senjata Giga.
Entah, sejak kapan Giga berpedang, posisinya sudah sukses tak terlihat lawan, namun kibasan maut malah terhenti.
"Terus..?" tanya Jihan dalam gelap, dan memang sedang sendirian. "Kok enteng ya?"
Dicahayai pusar, Jihan kibas-kibas bayang benda yang dipegang.
Remas sekuatmu
Klontang!! Bunyi bilah pedang di lantai. Hanya suara.
"Gelap nj*ng.. Ogah gue, kalo gini doang."
Kamu akan jatuh setelah fitur dinonaktifkan
"Setuju!"
Syuuutt...!! Jihan teriakan kejadian jatuhnya. "Kya..aaa!!"
Bruugh!!
"Akkh!!!"
Kondisimu sama seperti keadaan setelah terhantam
"Hahaha!"
"Sokor... Mampus lu, Mbak."
"..???" bingung Jihan, seperti jatuh dari ranjang, bukan masuk jurang, jadi tak ada ringisan selain kerut jidat dan bingungnya.
"Bangun! Ucapin oke, Han."
Set!
"?!!!" pandang Jihan pada salah seorang penonton, tengadah. "Si..si..siapa dia?"
Diandra. Seusiamu
"Tapi.."
Bawaan. Bukan tubuh sebenarnya. Teman lamaku juga
"Oke."
Wers!!
__ADS_1
Palu sebesar kulkas melayang, meninggalkan Jihan, membaling ke arah Utara.
"??!" Jihan kembali bingung, masih tersungkur di lantai, mengingat-ingat.
Taaang!!!
"Kok.. samaan ya? Bisa balik gini.. berarti khan..."
Ini wilayahmu. Rumus arena kuperoleh dari gadis teraniaya itu. Kuharap kau tak bosan
"Hhh..." lemas Jihan, menghela nafas lega. "Haduuh.."
Kuharap kau tak marah
Jihan bangkit berdiri, tak pedulikan lawan, padahal Giga tengah datang ala peluru di kejauhan.
"Nih masalah damage. Bobot apapun, gue rasa gak efek. Jelas khan, ini tuh mimpi? Tapi kayaknya.. lo ngotot kalo nih cowok bisa bangunin gue," santai Jihan.
Set! Jihan gerak-kan rambut satu gerakan kepala, musuh melambat dan makin pelan sampai akhirnya Giga diam membatu di hadapannya.
Krakh! Bunyi kering.
Jihan elus dengan ujung telunjuk, seketika Giga yang mematung dalam pose lari terpancar darah di lapisan kulit tangan korban.
Sudahlah. Kau berlebihan. Aku bukan parasas
"Salah dia, udah gue larang ke mari, malah masuk... Kalo ada pentingnya sih gak papa. Nih gak ada damage banget."
Dia bawa kepentingan
"Ah, dah lah... Fix cuma mancing-mancing. Pastinya dia mau ngedongeng kayak cewek itu. Gak! Jangan maksa-maksa!"
Srrt!! Srrtt!! Srrttt!! Bunyi sayat.
Tanyakanlah
"Haduh, males," timpal Jihan lalu ngepal.
Set!
Praang!!!
Giga pecah. Korban tiba-tiba jadi patung kaca sewaktu ciprat bekuan merah berhenti memancar di semua sendi.
"Gue ngerasa kayak tuhan. Bisa ngapa-ngapain. Aduh.. Ckk! Tapi pusing, nj*ng. Gak tahu nih cowok mo apa ke mari. Ngabarin apalagi mereka ini, napa para bocah itu sekarang diem coba..?"
Keinginanmu
"Udah set*n, gak usah ngomong lagi. Gue butuh damage luar. Nih orang malah minta duel."
Bip! Bip!
Dia utuh
"Tuh khan.. Gue males, dia yang nyasar, wajibnya nanya-lah."
Tanyalah
"Ahh, tai!!"
Set! Set..! Jihan naik-turunkan tangan ala dirigen paduan suara, tapi ngirit keringat, sekenanya.
Grr..rrdh! Kepingan bening bergetaran di lantai, lalu mengambang pelan ke atas. Serpihan pun berkerumun mulai membentuk.
Saat Jihan tinggalkan kaca-kaca tersebut, ninja ini kaget melihat tubuh transparan yang sudah menunggunya.
Jlebh!!
"Gak usah di-cancel," ucap Giga menancapkan jemari pada kening Jihan bagai melubang kardus. "Udah, biar nguap.."
"Adu.. duh.. Pala, palaa.. pala gue.. aahh!" pegang Jihan, terbungkuk sambil mengerang-erang, tidak ada darah tidak ada retak, kesakitan luar biasa. Mungkin peningnya... jenis nyeri dunia mimpi.
"Han.. Heh, dengerin," Giga jentik jari. Snap! "Damage yang elo tanyain tuh ada pada author. Lo mungkin belum waktunya pensiun, baru masuk.."
"Njir.. tadi.. apaan sih? Sakit banget. Hiks.."
"Cuma lock head. Jadi, qorin lo ini maksud dan tujuan gue datang." Giga segera masukan "kelereng" ke saku celana sehabis ditunjukannya pada Jihan, kemudian...
Snap!
__ADS_1
Hyuung... Tubuh Jihan mendadak lunglai, lesu, lemas, dan.. blegh! pingsan di pelukan Giga.