Kembaran

Kembaran
dua puluh empat


__ADS_3

Katakanlah mari ikut kami ke kediaman Luna


"Oh ya udah. Mari ikut kami ke kediaman Luna."


Di tengah keseriusan mereka, dinding ruangan ada yang mengetuk.


Tok! Tok..!!


"Hoo aamm...mmz.. lewat sini," ucap Kisye, sudah berpiyama tanpa alas kaki, memegang stenlis panjang.


Jihan melangkah keluar, diikuti Jihan Future, mengabaikan Medium yang kembali berkerja dengan team kolamnya.


Di lorong Pregister, Kisye agak menyingkir memberi jalan pada wanita yang melewatinya. Nina Dewasa agak menunduk kepala dipandangi Kisye.


"Gue yakin sungkan minta, nyasar di lahan. Mari ikut kami ke kediaman Luna," kata Kisye agak ketus. "Keburu sore."


Kisye jalan ke arah pintu exit meninggalkan Jihan dan si wanita.


"Ma.. maaf masuk tanpa ijin."


"Hei ayo. Gue juga pengen ke sana kayaknya. Yuk?" bujuk Jihan, dia tengok, Kisye sudah agak jauh. "Gue gak mau telat di hari bersejarah ini, Nin. Nina Palsu."


"Hhh, baiklah aku pun demikian."


Jihan Future berlari agak cepat menyusul Kisye. Segera diikuti oleh Jihan.


"Kisye Maafkan aku."


"Tentu saja. Gak cuma situ yang ngomong. Banyak paradok lain pada nyasar di sini. Kalian maen petak umpet apa? Ada tempat laen tapi diganggu pocong, gitu?"


"Aku ke mari sendirian."


"Ya. Situ tetep paradok."


"Ouh. Pake kedok."


"Oke. Gue udah gak marah Jihan. Nah.. Paradok, situ dengar? Lepas ini Skin Char."


"Oh. Maaf, akan kubuka."


Taph! Tiph!


Tep-tep! Tip..


Dit.. dit!


Nina Palsu menyentuh-nyentuh ujung jari dengan jempol. Bunyinya mirip tombol-tombol di kokpit pesawat. Tangannya sudah dibungkus glove hologram.


Sye.. eet!!


Krrtth.. Grrrth...!


Permukaan kulit terhisap telapak empunya. Tebalnya daging tadi kempes, jadi persis setipis kain, merayap di balik baju, sobek mulai dari jari tangan, ketiak, kulit leher, lalu wajah.


"Wauw.. future abis."


Setelah daging palsu habis, tampaklah kini wajah asli sang paradok. Matanya rada sipit persis mata Jihan.


"Mah? Mamah..?" tanya Jihan. "Gue udah setua ini, Mah..?"


"Ah sudahlah.."


Jihan Future beranjak ikuti Kisye keluar lorong, menyentuh kaca pintu. Set!


Sllpph!


Jihan yang masih terpaku, segera berseru. "Mamah! Tunggu Mah!"


Di halaman peron, Kisye sudah menunggu, sedang sibuk sentuh-sentuh ujung jari. Mamah dibiarkannya ikut berdiri di sebelah. Jihan datang dengan wajah girang.


"Tumben Mamah mau mampir. Hehe.."


Paradok menghela nafas. "Hhh.. Sama, demikianlah rindu kita padanya."


"Mah, kalo Jihan pernah durhaka maafin, ya Mah. Yuhuuy!!"


"Bersiap.. Alamat di wilayah eksternal. Maaf kalo lama, luar angkasanya Fanam. Deket dan merapat sini."


"Ouh. Iya." Jihan mendekat.


"Cutter.. Elo lagi di gate, kami datang woy!"


Jihan ikut tengadah pada lawan bicara Kisye. Langit-langit stasiun membisu, warnanya putih bentuk heksagon. Beda sekali dengan Enfield yang luas dan ada tribunnya.


Lingkaran merah lalu muncul, tak jauh di atas kepala, ukuran kamar. Jadi tinggal..


Dukh..! Kisye tusuk tengahnya.


Syuu..uut... BRUUGH!! Atap runtuh.


Setibanya di luar..


Werrs.. Daun penutup terlempar, dan.. klontang!


Jihan yang tetap berlindung di bawah dua tangannya, masih jongkok, menoleh ke benda persis kaleng biskuit itu. "Apa ini.. alamatnya? Batu tapi bunyinya kayak Seng."


"Gawean si Epsi. Yuk?"


Mereka berjalan meninggalkan lantai hitam berasap tipis, jejak perjalanan. Jihan juga mendapati sekelilingnya berserakan benda besar, dan saat ikut terbang, barulah dikenalinya bahwa gate tadi tak lain lantai peron sebuah stasiun yang lama terbengkalai.


"Perbatasan.."

__ADS_1


Zhii.. wuu.. it! Kisye menembus lapisan.


Jihan raba kaca berisi asap yang disebutkan, jarinya tembus. Tanpa ragu dia pun masuk.


Bunyi yang membuatnya besar terdengar lagi, dan Jihan dapati ternyata perbatasan persis kubah kecil di lantai peron, ukuran bola tenis yang dibelah. Mereka masih di peron yang sama, sampah-sampah terlihat masih agak besar.


Kisye tetap terbang, menembus kanopi bagai seekor lalat. Jihan dan Mamah memijat-mijat kening. Sampai di atas, lapisan yang sama dimasuki kembali.


"Terus ya. Sampe gede. Sebesar-besarnya. Sampe kita gak mampu terbang lagi. Bermassa. Pernah diajak balap, paradok pingsan di skala seper lima puluh dua."


"Emang berapa lapis sih Kak?"


"Tujuh ratus. Tapi Eksternal ini gak kebatas. Yuk balap?"


"Hhh..!"


Wuutts!! Jihan langsung melesat setelah wajahnya tampak manyun, malas-malasan.


Di lapis tujuh ratus, Jihan terengah, bersandar ke tiang kanopi di peron. "Hhh, hhh, hhh.. Apaan yang besar di luar atmosfer sana Kak? Baru nyadar, gue atom banget."


"Itu jirah si legend."


"Bajunya aja? Mana orangnya, eh, jins-nya? Hhh, hhh.."


"Nih tempat udah kinclong. Di sini si legend bersih-bersih."


"Pelantikan oh pelantikan.. Asli emang berat."


Anak kecil yang sedang menyeret roda sampah berhenti di depan mereka. Luna masih seperti mayat hidup, pucat dan bisu ber-imej dibalut seragam kerjanya. Tangannya dikepal dan dibuka.


"Apa ini isyarat ada ledakan Mbak?"


Tenaga paradok. Kalian tidak mendengarku sepanjang perjalanan tadi


"Eh.. iya.. Si Mamah di mana ya?" tanya Jihan tengok kanan kiri. "Jadi durhaka gini gue.."


"Produk jantung bermasalah."


Aku telah hubungi Vitaloka. Tunggulah barang sebentar. Snail sudah tiba. Tamu sudah diangkut


"Oke. Lapan enam. Makasih Mbak.."


"Sori.. guelah yang ngerepotin, Kak."


"Kalo penasaran, gerbong diseret apa, lo aja lihat tuh."


Jihan segera menoleh ke ujung peron di mana Kisye tengah memandang arah yang sama.


Nguong!


"Oh jadi ini Snailnya?"


"Ya.. Penambang bahan dan material baku. Tanpa ini, air, makanan, segala sumber daya organisme, gak bisa dicipta."


Si ulat besi lewat di depan Jihan membawakan beberapa gerbong warna perak. Lokomotif yang ditatap lebih purwarupa, walau masih bersuara jadul.


"Di bola kaca itu siapa ya Kak? Adeknya Al Hood?"


"Anak The Moon. Yuk balik?"


Khiit... iit!!


Kereta akhirnya benar-benar telah berhenti.


"Ayo siap! Aku aja yang bawa Kak," pinta Jihan memegang handle box sampah.


"Bawa ke gerbong tiga. Gue ntar nyusul. Paradok ada di gerbong sini."


"Oh ya udah. Iya. Hai..ketemu lagi. Makasih yaa."


Luna diam dan acungkan jempol sedari tadi. Jihan segera menyeret si Peti Beroda meninggalkan pemberinya.


Wuutts!


Al Hood melesat ke atas dalam diam, tanpa pijak menekan lantai. Tak ada kawah ataupun penyok terbekas.


Di gerbong Tiga, sebelah peti, Jihan duduk menonton 'meja' yang tengah menayangkan redstone Pnin. Bayang grafik tersebut adalah dirinya yang terbaring dalam tong sampah.


Diputar-putar, ada lapis tak kasat mata terdeteksi. Hanya saja, meja menampilkan rusuk-rusuk persegi panjang. Pada balon teks terbaca; only FC.


"Oh jadi ini bukan wadah sebenarnya, biar gak hancur oleh Lightnov. Aku pikir tong sampah asli, Rin. Si Pnin ini pantas tak makan. Ini alesan terbaik Al Hood. Coba kalo Luna langsung ngebunuh Pnin, aku mungkin tak pernah ke sini."


Paradok akan membawanya ke Citymall tempat kekasihmu terenggut


"Dan Pnin ini dia lepas?"


Demikian


"Jadi sebenarnya waktu itu aku sedang dia lihat ya?"


Benar. Dan Paradok alasanku memohon padamu


"Mudah-mudahan Mamah berani bunuh aku, Rin. Tanpa ragu, sebagaimana aku bunuh ingatan Riko. Lalu dia kembali ke masanya. Bumiku aman dengan mayat berparasas ini. Seperti alam tak bertuan."


Sudah dia lakukan


"Hah? Terus.. Al Hood yang lakukan finalnya?"


Luna masih pegang janjinya. Hanya membunuh sekali


"Siapa emang orang yang pernah Al Hood bunuh, Rin?"

__ADS_1


Dewan Olive. Tuannya FinalCutter. Apa kamu bersedia?


"Hmm.. Dibunuh ya? A.. aku bersedia. Sok aja. Jika ini emang pelantikannya." Jihan menghela nafas, kemudian diam melamun.


Nina berkata..


"Eh, iya!"


Bangkitlah segera dari kuburmu


"Iya. Kayak gitu Rin!"


Claph!


Kunang-kunang yang diajak bicara menampakkan diri. Baju tugasnya mirip seragam Startek dan kuping kanan sudah terpasang alat yang berantena. Zihan seka basah pipinya, sang majikan bangkit dari duduk dan memeluk.


"Hikk!"


"Aku akan pulangkah Rin?"


"Benar. Aku akan segera menghubungimu setelahnya."


"Janji ya?"


"Insyallah, Giziania. Akan kuhubungi."


"Hei, heii.. masih lama. Ntar di ruang body change cipika-cipikinya."


Kisye menutup pintu gerbong dengan sekantong makanan dijinjing. Sementara Mamah sudah sibuk mengamat peti.


"Oh iya, Kak. Oke."


"Canteen belum nyetok lagi. Jadi aku borong nih biar dia sibuk."


Singkat cerita. Mereka sudah turun di halaman depan Citymall. Mamah menatap layar di glove ajaibnya, sambil diarahkan ke sekitar. Jihan dan Kisye tetap di tempat, dekat trotoar berserta bintik sinar.


"Masih ada waktu. Diandra masih membahas makanan. Dia ingat tempat ini banyak seafood dalam kemasan."


"Yaa..ya, gue masih ngobrol sama dia di terminal soalnya gue baru tau ada manusia juga di sini."


Selasai bicara, Jihan tak sengaja melihat selempeng layar di sebelahnya. Tapi langsung hirau sebab Qorin memintanya fokus.


"Apa lagi yang situ butuhin Dok?"


"Aku rasa cukup. Luna akan bantu dan selesaikan protokol yang ada."


"Oke deh. Kami pantau di Pregister. Pilihan masih milik situ."


"Percayalah. Aku ingin kau lelap Kisye."


"Ah. Gue bisa nyenyak kapan aja. Santailah. Kami pergi Dok. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam.." ucap Mamah sudah menaruh tong sampah mainan di tanah. Seketika.. Wuuit! membesar dan langsung dilingkari Epsi, benang merah bersinar, hadir demi menampakkan patung bening terbaring.


Nguu..oong!!


Dagh-digh-dugh!


Claph!


Jihan kembali berada di gerbong dan sudah tahu apa yang harus dilakukan. "Makasih Kak."


"Iya."


Zhang!! Suara keset ketika Jihan baca mantranya.


Di ruang miniset, Jihan duduk meneguk isi kaleng yang dipegang. Glukh! Dia sedang menonton bola. Bola asli, yang tak lain Bumi di atas kolam. Selembar layar transparan menayangkan titik pantaunya, yaitu menitik di pulau Jawa, menyiarkan Mamah yang sedang sembunyi.


"Euu!!"


"Tunggu saja. Ikuti perkembangan," kata Medium bersandar dekat pintu.


"Iya."


"Ada banyak kamera tersebar selingkup Fanam, antah berantah ini. Hampir semua terpantau, kecuali Bunda Utari. Dari banyaknya mata dan kamera, aneka ragam fungsi dan usianya, sebaik-baik saksi ialah Tuhan semesta alam."


"Allah ta'ala.."


"Bangun tidur aku mendengar deru motor di belakang. Kupikir lagi di tengah jalan, ternyata masih di tempat kerja. Bengkelku masih di rumah dan belum di gusur untuk infrastruktur umum. Aku mendengar suara dari masa depan."


"Terusin.."


"Aku juga melihat bayang pantulan tak lagi sama. Semua kaca dan air kosong tidak lagi menampakkan bayang organik. Catur indera kita di-hack pikiran dan sukma yang terus begadang. Insomnia. Anehnya kulit atau indera pengraba sehat walafiat.


Empat dari lima indera malfungsi di Alam Semula. Aku berasumsi hidupku bukan untuk di dunia author lagi, tapi di sini, dengan fungsi pancaindera sempurna seperti sedia kala.


Jika terus dalam psikosis, hidup kita hanya untuk makan.


Pikiran dan sukma dua-duanya masih ghoib. Walau ada detektor untuk gelombang dan frekuensinya, kita tetap akan terus bertanya. Mengapa harus dengan sistem yang disengaja?


Psikosis lagi jawabannya.


Sesuatu dengan sistem yang kebetulan, takkan bertahan.


Tapi.. Will atau kehendak, sudah seperti dewa bagi jiwa dan pikiran. Sistem di sini adalah budak kita. Kamu siap jaga diri, kekuatan, dan anugerahNya ini?"


"I.. iya. Siap.."


"Masih berjalan. Kalo angka di situ mencapai seratus persen, artinya connecting sukses."


Jihan turut melirik monitor. Masih di dua puluh empat persen.

__ADS_1


"Semoga aja drastis."


__ADS_2