Kembaran

Kembaran
Al Hood


__ADS_3

Bukan salah Jihan jika portal atau jembatan yang akan dibangun batal. Giga lupa dan itu sudah tanggung terjadi.


Tuiitt! Crat..!!


Belum jelas apa yang ditembak Jihan, bekasnya langsung menghilang tanpa sisa di badan bus. Penembaknya melihat-lihat sekitar, keluar dari balik pohon.


Pintu bus-tingkat masih terbuka, di sinilah target ditembak hingga terletup.


Srekh.. Jihan lanjut baca-baca menyandari bus hitam exlusive. Langit pagi memang sudah benderang, tapi Bratle yang melingkari kepala tak redup glowingnya.


Jihan sudah beranting, yang tergantung di kupingnya ini semalam belum ada. Begitupun dengan pistol yang terus dipegang, tak lagi berisi timah melainkan laser ukuran bolpen.


Srekh!


Ah ternyata Jihan sedang mempelajari fitur-fitur Bratle. Entah sudah tidur atau meronda di terminal ini. Belum sepertinya. Tapi sudah tidur pun, itu urusan dia.


Jihan datang kembali ke SMP-nya, berdiri mengamati kawah dan sudah berkaca mata, tanpa tas gendongnya lagi.


Tiga menit kemudian Jihan memungut serpihan tulang.


... Lyen diternak oleh parasas untuk jadi budak dan pekerja mereka. Golongan ini adalah mahluk selular.


Jenis Spionin tak tersentuh, kecuali energi khusus disuntikkan pada jantungnya


Kacamata mengenali benda yang tengah Jihan pegang.


"Napa gak nyerang gue waktu kemaren, cuma geram-geram..? Apa emang Spionin ini mata-mata?"


Benar. Surveyor bukan attacker, hanya melaporkan objek pada pesuruhnya


"Si kampret bilang mereka lagi nyari Trisula dia, kok gue ikut disorot ya? Feeling gue makin gak enak gini."


"Grrr!"


Crikk! Criikh!


Set! Jihan menoleh, mata terjengah dan dia langsung loncat ke kawah hingga kibasan yang ada gagal mengenainya.


"Hhh, Hhh.."


Glikh! Glikkh! Suara tangan.


"Goooarrdh!!"


Jihan tengok kanan, lalu tengok kiri saat mengarahkan pistol, Lyen yang datang ternyata tidak sendirian.


Grikkh! Griiik..


"Lupain! Lupain scan-nya! Call si Kampret. Hhh, hhh."


Kacamata menurut dan langsung membening hilang berganti selingkar laser, menggelangi dahi Jihan. Niuuutt! Cincin kecil pun muncul persis anting betulan.


"Kampret cepetan! Anak buah lo masih lapar!"


Sama! Tembak kepalanya gue bilang!


"Duh, anjrit! Coba lo ngajarin gue Bratle dari awal!"


Tuiitt..! Crratt!!


Tuiitt! Tuiitt..!!


Crat! Craaat!


"Gue gak bakal takut, sehoror ini. Hhh, hhh.. Lo di mana sih? Hhh, hhh.." tanya Jihan pada orang di seberang, membiarkan tiga monster lenyap transparan.


Dikejar!


"Anjrit! Iya, di mana?"


Jihan diteduhi awan berarak. Disaat bingung dan kalut begitu dia tengadah. Bukan awan ternyata, melainkan jutaan Lyen yang sedang terbang di-imam Giga menuju awan bulat.


"Elo, ngapain hah?"


Tau, pada ngikut! Gue ke gurun, biar keliatan semua!


"Ta.. tapi.. Gue gimana? Haduh."


Min, kirim koordinat!


Udah Brad. Dianya aja bingung. Padahal barbar


Han, maksud qorin ketuk dua kali kulit elo!


"Ouh..oke.. Siap! Siap...Hhh, hhh."


Jihan menggaris-garis kulit hasta, dan langsung tampak rangka atau serat-biru sarung-tangan melapisi hingga siku. Wuiit! Jihan segera ikuti apa yang Giga suruh. "Mending qorin, njrit.. Ini canggih, tapi lemot. Hhh, hhh..."


Tap-tap!

__ADS_1


Gwii..itt!! Bunyi awan bulat, muncul di depan Jihan.


Tapi, tiba-tiba terhembus angin kencang berpasir.


Whuussh!!


"Aduh, hhh... hhh.. Lagi badai!"


Tutup lagi! Kyaaaa..!!


"Oke! Oke! Matiin! Maitiin portal selama badai!" teriak Jihan dengan hidung ditutup kerah baju sembari berlindung di balik tangan untuk matanya yang lentik.


Gwuubh!!


Kawah langsung hening seketika begitu gumpalan asap susut.


"Hhh, hhh...Fuuh!! Fuhh!!" Jihan lalu menyeka bibirnya yang basah. "Hhh, hhh. Puh..! Asli njrit.."


Jihan segera naik tebing kawah yang setinggi perut, kemudian lari menuju selang kran di halaman parkir. Entah ngapain, seperti kepedasan, dibiarkannya Giga yang teriak tersedot portal.


Kran dibuka, ditadah airnya, lalu Jihan masukkan. Kubukh! Kubukk... Ouh berkumur.


"Hhh, hhh..."


Di kala membungkuk kecapean, terengah-engah, Jihan terdiam mengekorkan matanya.


Lyen sudah mengerumun di sekeliling Jihan di mana mereka masih diam menonton.


"..??!"


Jihan putar kepala memastikan pandangan, mahluk yang dia dapati makin banyak. Mereka menampakkan diri tanpa suara. Datang bening, mati pun hilang secara transparan.


Plukh..


Klotakh... Benda persis L jatuh, menumbuk bumi dekat kaki Jihan, begitu pelan saat mantul terangkat ke udara.


Beberapa Lyen tersadar dan sedikit mundur mendapati targetnya lepaskan senjata, tadinya ketakutan sekarang Jihan berdiri dengan amat tenang dalam pandangan masih tak berkedip.


Lingkar Bratle di kepala Jihan menggasing, persis piring terbang, oleng tak seimbang. Dari kulit kening ini, menjalar warna baru menutupi warna kelopak, hidung, bibir, dagu, leher, kedua tangan, sampai pada kulit kedua kaki, tubuh Jihan memucat putih.


Mirip mesin kembang-gula, gelang yang tengah menggasing di kening Jihan langsung meriak dengan cepatnya setara cahaya, terkembang mekar jadi jaring setengah bola .. Set! membuat semua targetnya tiba-tiba pecah jadi dadu.


Klotakh!!! Barulah pistol yang jatuh-terlepas ini diam, benar-benar tak bergerak lagi.


Tanah dibasahi cairan asing akibat ledak jaring gelembung tadi, langsung ditaburi potongan badan, berjatuhan menutupi atap rumah dan bangunan di sekolah.


White J melayang dengan tubuh transparan ke arah depannya. Dia tembus melewati tumpukan bangkai terpecah, yang tebalnya sudah setinggi badan.


Gwii.. iit!! Tiba-tiba hadir bola awan seperti menyambut sang Kuda Laut, eh, White J. Angin pun langsung meniup begitu portal terbuka, ternyata masih badai. White J tetap masuk mengambang tenang.


Gwuubh! Pintu pintas susut menghilang di tengah kebisuan korban terbantai.


Lapisan tinggi dari bangkai tersebut tak juga hilang setelah sekian menit. Mungkin semua 'penonton' memang terbunuh oleh senjata yang tepat.


"Barbar! Please jawab..! Tadi gue kehisap gate biar gak ada yang kabur. Halo? Ninja! Please, jawab gue Barbar!"


"Brad, gue nyerah nih.. Mana dia?" tanya Salinan Giga.


"Lagi dihubungi!"


"Tenang. Tas aman!"


"Gue mau tanya itu... Arrrgh!"


Treeteteet!! Keduanya lanjut menembak udara dan sekeliling mereka dengan cara saling sandar.


Dziing!! Tuiitt! Tuiitt!


Dhuuar! Dhuuar!! Jeguurh...!!


Saat api ledakan begitu indahnya membuncah, mendadak angin gurun menyapu. Whhuushh!!


Para Yenfly masih berterbangan tanpa gangguan.


"Haaan..!! Kami Save Our Soul! Mayday! Mayday! Arrrghh!"


Dziing! Tuiit-tuit! Cratt!


Dreedededeeeed...!!!


Kweaakkh!! Kweaakkh!!


"Brad.. Kabar best full good. Dia coming."


"Apaan? Gak kedenger!! Aarrrgh!" fokus Giga, suara mesin tembak pun makin keras. "Aaarrgh!"


Dreedededeeeed...!!!


Kweaakkh!! Kweaakkh!!

__ADS_1


"Dia coming, but bukan si Barbar, Brad."


"Tas aman?"


"A.. maaan."


"Tapi, apa..?"


"Tapi Yenfly masih sekarung!"


"Arrrgh!!!"


Dreedededeeeed...!!!


Kweaakkh!! Kweaakkh!!


Shhh...


Hening.


Badai angin berhenti, sekeliling si kembar yang tadinya keruh sejauh mata melihat, kini cerah terang benderang terhampar.. ngng.. terhampar...


Dukh! Sepotong sayap jatuh ke bahu Giga.


Dreedededeeeed...!!!


Ngngng...! Mesin masih berputar, tapi kemudian berhenti tak lagi memuntahkan isinya.


Sebab... gurun telah tertutup banyak potongan tubuh Yenfly, basah, dan hening.


"Hhh... Hhh... Luna?"


"Ouh.. Al Hood, trims sudah bawa dia, Non."


"Tepat waktu. Hhh, hhh... Masuk Min. Kita selamat. Hhh, hhh.. Tas-mu aman, Lun. Siap makan."


"Dadah Al Hood. Makanlah, kau tamu kami walau sedikit telat, tapi rata gini.. bukan terlambat, kau hebat, Non. Dadah.."


"Dah Min. Masuk, malah elo yang telat ntar."


Qorin tanggap mendehem. Bliph! Tubuhnya langsung susut seperti dihisap pusar, jadi butiran sinar mirip Kunang Kunang.


Hanya TKP ini yang masih terlihat tanah pasirnya.


White J dengan dinginnya menyodorkankan gelang pada Giga.


"Ahh, sial.. Ya udah sini. Sebenarnya.. Lebih aman sama elo, Lun," ucap Giga mengamati benda yang baru diterimanya. "Umm.. Gimana ya."


Giga masih diam menimbang-nimbang. Bratle tersebut harus dikenakan lagi atau tidak. Dilihatnya Al Hood sedang menunjuk ke belakang agak ke atas. Giga segera berputar mendongak.


"Hmm, Jihan satunya. Sini Mbak. Gabung. Kita diskusiin aja. Dan dengan segala hormat, panggil aku Giga, Mbak Hanhan."


Sang qorin segera datang mendarat. "Kumasih cemaskan satu hal yang tak diketahui golongan kami, Tuan Muda."


"Oke. Rin. Betul. Induk mereka emang masih di sini."


"Aku telah putari dua belas wilayah yang kemudian upayaku sia-sia belaka. Hhh. Aduhai, celakalah kami (Jihan & jins ini)."


"Eit, tunggu Mbak. Umm, gunain kata gaul, jangan bahasa ratu, gitu. Aku masih bocah. Kalian.. ratusan ribu taun. Ayo, Han. Keep calm, Mbak. Bahasa lugas, soalnya lagi santai."


"Apakah aku sebaik-baik penyerta baginya, Tuan Muda? Aku memilih masa penangguhan ini tanpa sepengetahuannya."


"Ck! Njir.. Gue grogi nih." Giga menggaruk-garuk bingung. "Ngng... Ini Jihan, itu Jihan. Hhh! Kamu jins penyabar, Mbak. Dia juga. Semua bawahannya menentang tanpa waktu."


"Hai, Anak Langit. Bagaimana pendapatmu?"


Yang ditanya belum berkedip, diam mematung sedari datangnya ke gurun mayat ini.


Al Hood pelan menoleh dan memandang Qorin agak lama, kemudian menggangguk.


"Alhamdulillah.. Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam."


"Tentu aja, Mbak. Kami udah kenal, gimana si Barbar ini kalo lagi.. Ngng, wallahu alam. Keganggu gitu. Mbak gak serta merta ngikutin emosinya khan?"


Qorin menggeleng. Lalu, "Tuhanlah sebaik-baik saksi. Tak ada perang besar selain melawan hawa nafsu diri sendiri. Hai Anak Langit, engkau lebih berpengetahuan mengenai parasas. Sudikah kiranya aku membantumu?"


Al Hood kembali pelan putar kepala pada Qorin. Dipandangi si Baju Serba Putih agak lama, kemudian mengangguk.


"Silahkan Tuan Muda," ucap Jihan Bermukena Seleher ini, tangannya turut mempersilahkan. "Kenakan padanya, sementara kami yang pergi mencari induk."


"Hump! Oke. Gue jagain."


Giga pasangkan Bratle di pergelangan kanan Jihan, ada benang laser yang langsung menyingkir. Yang diurus masih diam dengan dinginnya. Setelah gelang terpasang..


Hyuu.. uuung.. Jihan lemas.


Brugh!


"Auw!!"

__ADS_1


Iya, Jihan ambruk tanpa tangkapan.


Bayang Al Hood mundur saat mengudara. Sesuai namanya, sosok serba hitam ini bertudung longgar, badannya seusia anak SMP. Wajahnya masih gelap. Luna segera berbalik terbang menyusul Qorin yang sudah lebih dulu pergi, keduanya lalu lenyap bersamaan di kejauhan.


__ADS_2