Kembaran

Kembaran
By One


__ADS_3

Setelah sedakan mereda, Jihan berdehem terakhir kalinya. "Ehem!!"


Claph! Cahaya potret berpendar. Kamar seperti difoto kamera tripod. Sumbernya, sedang berdiri dekat pintu.


"Assalamualaikum.."


Jihan-Diandra menoleh. Keduanya mendapati anak lelaki usia kuliah. Tapi pakai baju orange persis napi narkotik.


"Walaikumsalam," sambut Diandra.


"Iya. Walaikumsalam. Siapa lo?"


"Giga."


"E-lo?"


"Dian. Terangin."


Set! Diandra mengaris jidatnya sendiri.


Tang!! Kepala si Napi tersentak kelebat Mjolnir, palu superhero, membuatnya tengadah singkat.


Giga mengerjap-kerjap mata mirip kelilipan. Retak di keningnya melebar membuka kulit kepala. Srrttth!! Giga biarkan.


Eng ing eeng..! Ternyata benar Si Tampan White Hair.


"Wah, wah waaah. Lo bawa apa Gig?" tanya Diandra menghampiri tanpa lepaskan pandangan.


Giga sigap menyembunyikan kotak yang di pegang ke balik punggung. "Diamond. Napa..??"


"Aduh, berlian. Mantap! Lo mau minang gue khan? Yes. Akhirnya."


Giga meninggalkan Diandra. "To the point, Han. Gue sadar ke sini."


"..??" pandang Jihan, memutar kepala saat Giga jalan melewatinya.


"Kayaknya.. lo udah gak sabar jadi dewa."


Jihan bersilang tangan tak acuh.


"Ohya. Lo ga nanya si maid, piaraan lo?"


"Ck..!" panas Jihan, melepas silang tangan. "Sopan gak sih masuk kamar orang?"


"Kalian lagi pada ngambek? Bagus kalo gitu. Gue bawa alternatifnya," cuek Giga yang sudah duduk tanpa kursi, menyiapkan sesuatu.


Kotak ukuran kaleng soda ini sudah mengganga menampakkan dua buah batu merah.


Giga tetap duduk membelakangi lawan bicara, fokus mata pada benda yang dia bawa.


"Alternatif? Maksud lo?" tanya Jihan di tempat.


Giga bangkit. "Parasas.."


"Arrrgh!! Buaaang!" jerit Diandra. Meringis sekuatnya. "Ngapain dibawa ke sini, Bihun?"


"Gue yang nanya. Kalian tadi ke mana?"


"Upps!" tutup Diandra. "Ngngng.."


"Lo mau apa sih? Keluar," tunjuk Jihan ke lawang kamar.


"Ouh. Oke." Giga langsung santai berjalan melewati Jihan. "Gue sih milih di sini, daripada keluyuran tapi gak aman. Assalamualaikum..."


Claph!


Jihan auto mejam kena silau barusan. Dipandangi terus soalnya.


"Walaikumsalam.." timpal Diandra. "Dasar Burik!"


"Hhh..." hela Jihan.


Taph! Jihan menoleh mendengar bunyi di ranjangnya. Dia bergegas datang menuju kasur apung.


"Stop! Stop...!"


"Napa??" tanya Jihan, berhenti dan menatap lawan bicara. Diandra memberitahunya bahwa box tersebut danger.


"Bahaya.."

__ADS_1


"Ck!" tanpa ragu Jihan ambil, dan membukanya sehabis duduk di tepi kasur. Clekh...!


Penasaran ya? Kalimat di secarik kertas.


Jihan baca dan langsung tutup pesan tersebut. Tuph!


"Ahh, s*tan..." lemah Jihan, kecewa. Dia langsung berseru melontar kata canggihnya. Diandra dibiarkannya memungut benda terlempar.


"Penasaran...?? Kok ilang sih? Ra, lo ngapain ikut campur?" tanya Diandra atas kotak yang dipegangnya, melihat langit-langit. "Simpen gak!"


Gak! Lihat aja sendiri


"Ck! Tapi gue takut kena dampaknya. Malah narget ke orang lain. Bisa jadi khan?"


"Duh. Ck! Lo ngomong apaan sih? Pada ngebully gue.. gini."


"Eh. Iya. Qorin gue bilang, lo betah gak di sini?"


"Ck! Gak tau. Gabut banget njir."


"Oke. Oke."


"Ngapain juga di sini. Bikin t*i doang."


"Ya udah. Mau sendirian dulu?"


"..."


"Han?"


Jihan mengernyit kening, hirau pertanyaan temannya. Lalu Dirabanya kulit kepala.


Usai heran, Jihan kepal-kepal tangannya mencoba urat gerak. Dia abaikan lingkar laser di dahinya lenyap.


Saat muncul gelang pun, Jihan konsen.


Plukh.. Gelang jatuh.


Diam-diam Diandra pungut gelang terjatuh. "Han..? Lo denger gue? Qorin bilang, batu ini parasas modifan. Udah dijinakin laboratorium Snail. Mata lo gak perih khan? Nih benih masih tergantung penggunanya. Harap bijak."


Jihan beranjak melayang. Wwngng..


"Gue udah gak butuh."


"Tuh khan. Please. Hei! Bijaklah! Jihan!! Lihat gue!"


Sat! Sit! Set!! Jihan berpindah-pindah.


Bolak-balik masuk kapal, kini Jihan sudah bisa nafas di angkasa, jadi dewi.. dewi apalah. Disebut Dewi Sri silahkan, dewi budek juga boleh.


"Welcome back Kakak Judes."


"Kapal sepi. Taunya kalian di sini."


"Emang gak boleh ya?" tanya Vita. ahli ngemil. "Krauukh!"


"Sini kalo mau gabung," ajak Romi yang duduk bersila di atap kapal, membagikan kartu remi. "Gak bakal ada curang kok."


"Cih.. Pada gembel."


Wetts!! Salah seorang melesat ke depan Jihan.


"By one, Kak?"


"Ouh.. Boleh. Ayo!"


"Inget.. " Nina menarik piyama, kain langsung terhisap telapaknya. Syeeet! "Dinas ya?"


Nina memang tidak bobo mengganti pakaiannya. Dia tampil dengan setelan jas hitam ala agen MIB. Duh, tinggal kaca mata, dia tambah keren.


"Receh, bacot!" ujar gadis piyama. "Start!"


Tak! Tigh! Tugh! Takh! Tigh! Tugh!


"Njir. Brisik banget."


"Biar rame, Beb."


"Pindah ahh. Gak betah gue, Rom."

__ADS_1


Jihan dan Nina beradu jotos di angkasa. Banyak terpercik sinar dan kelebat tangan di depan dada mereka. Namun berakhir sama, keduanya mental.


Takh! Tigh! Takh!


Takh! Tigh! Takh! BLUGH!!!


Di dalam kapal, Diandra hanya tengadah menyaksikan batle space yang ada.


Saat terhempas, Nina pijak dinding buatan qorinnya hingga sukses menekan dan bertolak. Teph..!


Wuuts! Melewati Jihan yang masih melayang terpental ledak energi.


Dit! Dit! Diit..!


Jihan mendapati seikat dinamit di perutnya.


"Ugh. Anjrit!" buang Jihan kelabakan jijik.


Dinamit terbuang, melayang.


Dhuuar!! Bunyi ledakan.


"Wallet!"


Nguurrbh! Buncahan bom berubah bentuk jadi Phoenix dibarengi suara si satwa legend. Wuuuiikkh...!!!


Nuiitt!! Balon bening mengembang dari perut Jihan, perisai. Transparan warna merah, seperti mata pemiliknya.


Nina yang tengah mengambang, segera menyontek via perintah.


"Wrapp!"


Pusar Nina menyala dan Bluph!! Pemiliknya terkurung gelembung.


Wuuzz..!! Asap merah lewat, Nina sigap mengelak. Set!


Wuuuiikh!! Sang Phoenix meludah pada bola target, lagi-lagi contekan. Tapi.. kena sasaran.


Grukh!! Api menjalari perisai Jihan. Krrrkkh... Tidak padam dan diabaikan. Jihan ternyata masih konsen bertelekintetis di dalam shield.


Wuuuiikh..!! Jerit burung api mulai terbebani asap merah di mana tadi hanya mengebor punggungnya.


"Wallet.." cemas Nina.


Shutt!


"Hei.."


Agen cilik menoleh. Sekepal tangan langsung nabrak.


Bukh!


Wuung!! Balon bening terpental ja-uh. Namun, di batas masih terlihat mata, datang kembali. Wuutt!!


Set.. Dalam slow motion ini tangan Nina terangkat, urai rambut melambai-lambai, Jihan masih di posisi selesai mukul.


Kepalan turun ke ubun-ubun Jihan, siku Nina pun pelan-pelan lurus.


Tiga senti.. senti demi senti tangan Nina menyentuh kepala Jihan dan akhirnya tekuk empat jarinya terhalang sapuan rambut.


DIGH!!


Craaattt....


Darah. Cairan. Kental. Berwarna segar.


Krakh... Patah. Tersembul. Cipratan baru. Inilah kondisi tangan Nina saat mendarat di ubun-ubun Jihan.


Set!! Jihan memukul, tapi langsung bingung karena hanya menghantam angin di tempat baru ini.


"...??!"


Inilah yang Jihan lihat dan bingungkan.



sumber gambar ig @luigi.mastrantonio


 

__ADS_1


__ADS_2