
Terbaca, Kapal Karantina di badan pesawat. Benda ini seukuran Ceres (asteroid), lagi lenggang kangkung di angkasa menghalangi pandangan, tak lama kemudian, terlihatlah Bimasakti di kejauhan sana.
Sekilas, Paltina ini mirip bola, tapi tidak bulat. Permukaannya rata dan bernomer.
Tertera angka 12 di bawah judul pesawat. Mungkin memang segitu jumlah gepengnya, eh.. atapnya.
Setelah di dekati kacanya, ternyata kapal ini berawak.
Tapi... sepertinya yang tengah terbaring di sini... Jihan. Mana ada kru pesawat bajunya putih abu? Ini di lihat dari atap, karena jendela kapal memang tidak ada.
Yang ada di sisi lain ternyata lokasi pesawat dibuat, rumusan negara mana. Entah, kenapa harus Merah Putih dan teks LAPAN yang ditemukan.
"Belum sadar?"
"Tau nih. Syukur-syukur meninggal."
"Sttt...!! Ntar bangun, maput lu. Dah sana," Diandra menggelar selimut yang dibawanya.
Anak yang diusir masih bersandar dekat pintu. "Apaan sih maput?"
"Ditelen."
"Kenapa nyuruh aku yang jaga? Kalo beneran aku maput, gimana?"
"Bentar lagi ada tamu. Sekalian kita tanya ke dia."
"Hah? Tamu? Tamu dari mana Yan? Jadi yang lu ketik di sana bukan makanan?"
"Iya. Ada misscall. Lu pikir nih di mana? Masih ngarep GoFood."
"Khan nanya. Heuu.."
Diandra sibuk mengurus Jihan. Dia betulkan posisi tangan, lalu ditutupnya lagi dengan kain tebal tersebut. Dibiarkannya si teman pergi, mungkin bete dengan kegiatan Diandra.
"Pala gue... Haduuu... uhh... Palaa.."
"??!"
Diandra guncang-guncang bahu Jihan sambil manggil nama. Yang dibangunkan masih meracau, ngaco.
Jihan pun mendadak silent bagai mayat. Seolah sedang akting. Tapi Diandra tunggu-tunggu, sudah deg-degan malah, Jihan tidak respondible bahunya diguncang, ngeblank.
Gliitt!!
Ya, itu bunyi kursi. Diandra duduk, matanya tak mau lepas, terus-terusan lihat wajah Jihan. Dia selipkan rambut hitamnya ke telinga. "Han..??"
"Darr!!"
"Anj*ng! Astaghfirullah.. Hhhh!! Hhh!!" sebut Diandra bersamaan dengan suara tawa di belakangnya. "Hhh..! Hhh.. Duh, ya Allah, Vit.."
"Ngapain sih? Serius amit."
"Gue.. kaget, *nj*ng," tekan Diandra, serak berat.
"Dih, kok gitu doang marah? Khan gue iseng."
"Kaget!!" teriak Diandra.
"Iya, iyaaa.. Maaf," kata belia ini, agak pendek tinggi-badannya dari gadis yang tadi pergi. "Ada perkembangan gak?"
"Liat sendiri."
"Ogah. Jahat..."
"Vita! Udah nih. Ayo!" ajak anak lelaki di ambang pintu kapal. Diandra turut menoleh. "Bisa dimakan. Langsung kenyang."
"Dah suster!" ucap Vita, segera meninggalkan Diandra.
Jihan mengigau. Dia begitu lagi setelah ada yang pergi dari kamar, mengaduh.
"Ck.." Diandra berdecak gelisah, raut wajahnya sedih dan minta Jihan berhenti. "Iya udah, Han, stop.. ihh."
"Palaaa... aduuhh... pala gue."
"Ck! Udah atuuh, ih. Gue bingung Han. Please. Bangun.. Nih gue.."
"Ughh..."
"Iya. Iya nih Dian. Manusia juga. Gue orang, kayak elo, Han."
Jihan diam. Diandra betulkan tangan pasien sebab Jihan selalu pijat-pijat dahi tiap mengigau, selimut pun Diandra rapikan.
"Sabar ya Han. Giga udah cerita soal kondisi lo. Tapi tetep gue bingung. Dia gak ngerinci, gimana cara ngerawat elo."
"Eh, Dian, kamu udah makan belum? Ada tembok aneh deket monitor noh. Si Rombeng yang buka. Isinya supermarket njrit.. Ambil sono."
Krauukh! Krauukh..
"Dih, gak ah Vit. Diem di sini deh. Gak usah mencar."
"Heu? Emang napa?"
Setelah nanya, Vita kembali santai dengan camilannya. Kraukh! Kraukh!
"Duh, kalo ada hape sih gue rekam. Aneh aja."
"Iyaa. Aneh kenapa, Sus?"
"Habis Giga ilang, Nina terus pergi, terus tadi lu juga pergi, dia kayak keganggu. Pala gue, pala gue, gitu. Gue pikir ada maunya ke kalian bertiga."
"Gak ngerti ah. Biarin aja. Dia juga gitu pas gue muntah ditendang. Malah ngeludahin, bukannya ditolong."
"Gue serius, Vit. Please."
Krauukh.. krauuk...
"Sejam doang. Sambil nungguin tamu aja."
__ADS_1
"Males ah. Dadah."
"Eh, Vita! Tolong sekalian panggil yang lain!"
"Ogah!" suara di balik kamar, sudah jauh dan hening kunyahan.
"Vita!!" teriak Daindra meninggikan suara.
"Ugh.. Aduh... Sshhh, palaa... gue..."
"..!!!"
Diandra amati, Jihan memijat-mijat kepala dalam ringisnya, terjadi apa yang disangka-sangkanya.
"Han? Lo denger gue?" ragu Diandra.
Jihan terus meringis. Diandra memandang penuh harap. Setelah ditunggu-tunggu, jihan tidak juga membuka mata.
Mungkin kini, bila terkena cahaya, mata Jihan akan sangat perih melebihi efek gas air mata.
Saking resah, akhirnya Diandra guncang-guncang bahu Jihan. "Han? Bangun Han! Please, gue gak tega liat lo sakit-sakitan gini. Yang mana Han, yang sebelah mana sakitnya?"
Jihan meraung-raung, mungkin sedang menolak diajak ngobrol. Wajah Diandra sayu demi kondisi tersebut, merasa bersalah.
"Haduuuh.. Palaa... Huuu huuu... pala gueee... Aduuuh.."
"Is... is.. istighfar, Han. Hiks! Please."
Lessh.. Jihan lemas, kembali tidur di saat Diandra terisak-isak.
"Hiks! Huuu.. uu-u," Diandra mengusap dua pipinya bergantian, namun air matanya terus mengalir. "Hiks.. huuu.. uu-u. Hiks! Hiks!"
"Kamu..! Sih."
"Elo makan terus.."
"Katamu gak papa!"
"Sst! Udah sih, malah ribut, ih."
"Hiks.. hiks.." Diandra mendapati tiga temannya di belakang. "Hiks!"
"Diem coba.." gadis ini menyemprot Vita. Namanya Nina.
Srekh! Suara camilan dirampas.
"Iya. Ini juga diem, ih."
Diandra luruskan tangan Jihan. Kali ini sengaja tidak ditutup selimut karena tadi Jihan kesulitan memijat, terhalang kain.
Diandra menyeka wajah dengan lengan baju. "Hiks.. Ma..makasi yaa.. ka... kalian. Huuu...uu-u.."
Salah satu teman Diandra menempelkan jari ke bibir. Yang disuruh menunduk patuh. Satunya lagi mengangguk.
Pandangan Diandra buram. Air matanya kembali mengalir. Dia seka, lengan satunya memegang tangan Jihan.
Diandra gerak-kan tangan Jihan. Tapi sia-sia, yang dipanggil-panggil membisu. Diguncang-guncang sekali lagi, Jihan masih tak sadar.
"Haan..!!" Diandra tambah tenaga guncangannya. "Jihaan!!"
Tak ada respon. Diandra lanjut menangis sambil mencium tangan sahabatnya. "Huuu.. Uuu... Uuu... Banguuun.. Huun.. hiks!"
Diandra peluk tubuh Jihan, kini dia yang meraung sejadinya.
"JI.. HAAAN!!!"
Wajah manis yang diseru belum membuka mata. Dengan jerit pilu pun, Jihan diam.
Beberapa jam kemudian, Diandra duduk melamun. Kursinya masih sama, Kursi Kursian. Di ruangan ini pun masih ada Jihan yang terbaring tidur.
Tak.. tek.. Tak.. tek.. Benda ini dilihat pemakainya, milik Diandra sendiri. Entah siapa yang beri, entah mungut di mana, sebelumnya polos, tak ada aksesoris.
Diandra menghela nafas. Dia pun menutup nganga kantuknya dengan tangan. Nah, di lengan belia ini terlingkar Tek-tak gitulah, kemudian...
Nuit! Nuuutt...!!
Mata Jihan terbuka, dadanya lebih mengembang seperti orang kembali bernafas.
"Ya Allah. Alhamdulillah.. Gue bingung."
Set! Jihan pun bangkit, namun masih di ranjang.
"Ck! Apa nih?" tanya Jihan, batang lengannya tiba-tiba dipasangi gelang aneh.
"Will temporer. Jam tangan tadinya."
"Jam tangan?"
"Iya. Udah sadar, lo wajib pake."
"Emangnya?"
"Jangan tanya gue. Sentuh aja layarnya."
"..??"
Jihan memandangi gelang. Mau bertanya lagi, Diandra sudah bangkit pergi.
Diandra juga mengatakan sesuatu, tapi entah apa, keburu jauh saat Jihan fokus melihat jam tangan.
Syuut! Gelang ini berbunyi, menyusut hilang.
"Sentuh apaan.. Gak ada apa-apa."
Tangan Jihan ternyata putih mulus dibolak-balik.
Tapi kemudian Jihan tertegun. Dia abaikan pergelangannya yang memang tak ada, karena baru sadar, ada benang glowing melingkari kepala, menggelangi dahinya.
__ADS_1
Bedanya, Saturnus tepat di tengah, Glow-yard agak tinggi, tapi bukan di atas ubun-ubun, melingkari dahi. Ikat kepala masa depan mungkin.
Ketika diraba, 'cincin laser' ini eksis tidak tersentuh, malah tembus dan 'jinak' tak membakar.
"Hhh. Apa, ya?" lamun siswi ini.
Jihan beranjak turun dari kasur apung. Dipanggilnya Diandra sambil meninggalkan ruangan. "Diaaan..!! Diandraaa! Kita di manaaa?"
"Betul. Kami golongan yang disebut qorin. Cara kami mengamat seperti orang sedang mengingat-ingat. Apa yang terbayang maka itu yang kami inderai..." terang mbak berbaju lab ini. Jasnya warna putih. "Ini bukan dunia atom seperti alam semula. Tapi bagaimana bisa kalian sebut bahwa ini alam mimpi?"
"Yan??"
"Ouh. Hai Jihan. Sudah mendingan?"
"Anda siapa ya?" tanya Jihan di tempatnya, belum mau bergabung.
"Ada planet berjalan," bisik Vita.
"Saya Clone. Dari komunitas Snail. Giga yang minta saya datang ke mari."
"Buat?"
"Silaturahmi."
"Jadi kalo kita udah gabung di komunitas, qorinnya diapain, Mbak? Aku takutnya malah disiksa, terus kitanya ikutan sakit."
"Ah. Ini dia. Sinkronis dan waving.
Komunitas mengayom. Tidak bertindak bebas. Tidak menganiaya. Sekalipun ada, pemantau akan melapor.
Saya hari ini bisa memancarkannya. Kapan pun bisa berbagi emosi dengan inang saya. Tapi ini pelanggaran.
Mengapa?
Saya tak bersertifikat. Tidak akan bisa pergi ke dunia luar. Saya bisa tapi tidak ada ijin berbagi frekuensi jenis neuron.
Qorinmu sudah tahu apa yang tidak disuka tuannya. Santailah. Kamu akan baik-baik saja ketika saya teriris pisau di dapur. Saya akan ber-asma padaNya mungkin."
"Kalian beli snack di mana?"
Semua melirik Jihan. Diandra segera melempar kaleng minuman.
"Udah nih. Buka aja."
Wers!!
Tap! Jihan tangkap dan dapat. "Makasih."
"Terus qorin kita yang asli di mana ya, Mbak?" sambung anak laki-laki ini, membetulkan kacamata tebalnya.
"Kamu tidak punya."
"Artinya kita juga mahluk buatan, Mbak?"
Si Mbak Lab mengangguk.
Glakh! Glukhh.. glakh...glukh!
Srrllupp!
Jihan menyeka bibir setelah menenggak habis softdrink milik Diandra. Semua mata tertuju melihatnya, sebab Jihan mendesah.
Jihan bersandar lemas. "Lagi dong Yan."
"Oke, gue bawain banyak. Tunggu di situ," Diandra bangkit dari duduk. Dia menghilang di lawang berikon sendok-garpu, pergi ke supermarket rahasia.
"Bagus juga tuh alatnya Mbak. Aku mau!"
"Elo mah pake panci aja mending. Khan otaknya mentah!"
"Njir! Apa?!"
"Saya boleh tanya Mbak?" buka Jihan tanpa memandang lawan bicara, menatap langit-langit kapal. "Berapa lama lock head terjadi?"
"Ah. Ini dia. Interview. Library sengaja pisahkan kalian berdua. Jihan satunya yang minta ini.
Giga yang beritahu saya. Menurut penilaian Libra, didikanmu terlalu keras padanya. Dan saya rasa begitulah bila kami bosan, kami curhat."
"Curhat..? Maksudnya?"
"Qorinmu sedang diwawancarai sekarang. Saya tahu kamu belum mengerti siapa kami ini. Kamu tak perlu tergesa-gesa."
"Gue ngerasa.. aneh. Kayak udah putus, ditinggalin. Sekarang gue tuh siapa, apa?"
"Orang-orangan," sosor Nina. "Kurasa kita lagi diawasi. Gue milih hadir sebagai manusia di sini. Tapi elo udah beda, Kak. Kasar. So soan, kayak firaun."
"Dah lah, Nin. Gue minta maaf. Kiraen lo anak Libra. Risih aja didongengin."
"Serahin gue ke mereka. Tapi kalo sasaknya, jembatannya gak ada, gimana bisa pergi? Elo ngerti time-line gak sih, Kakak Judes? Siapa yang datang lebih dulu, dia bisa nguasain dan nandingin power anak sesudahnya. Biarkan kita ini nginjak elo, sebenarnya kami lewat gitu loh. Simple penjelasanku."
"Heh. Gak tau caranya! Lagian siapa mau direndahin sama elo semua."
"Telat!" balas Nina, sengit. "Jins Kakak lagi di sana. Bisa apa sekarang? Ayo! Bay wan!"
"Dah lah.. Iya! Iya!" tekan Jihan. "Trus.. Kalian gak niatan nyari jalan keluar? Bangun dong. Heuh."
"Mas Giga udah bilang belum sih? Kakak baru maen. Sekalipun sudah lamaan ngabisin umur di sini, Kakak ga bakalan paham kalo terus mokus diri ke jalan pulang. Kita gak bakal bisa balik Kakak Judes."
"Dah lah. Kalo mau ke Libra, pergi sana, Nin. Gue gak akan nyerah," tekad Jihan.
Lagi tenang-tenangnya, khusyuk dengan tekad itu, Jihan diganggu.
"Terlambat su-dah, terlambaaat sudah.." dendang si Kacamata.
"Heh. Diem lo bangs*t!!"
"Kamu jin..!! Jin jadi-jadian!" kutuk Nina. "Kita semua udah mati! Tau gak?!"
__ADS_1